
πΉ Happy Reading ya Gengs πΉ
Sudah 270 kali Brio mencoba menghubungi Vita, namun sama sekali tidak bisa tersambung.
Hampir satu hari ini, Brio merasa frusatasi dengan Vita yang menghilang seperti ini.
"Andrew, siapkan jet sekarang! Aku ingin pergi ke Indonesia, untuk melihat Vita," perintah Brio pada asistennya.
"Baik Mister," jawab Andrew, sambil menundukan kepalanya hormat, setelah itu barulah Andrew melangkahkan kakinya pergi untuk menjalankan perintah dari bosnnya.
Namun, belum jauh Andrew melangkah, terlihat sesosok pria tampan,manis dan berkharismatik berjalan mendekat ke arah ruangan Brio.
"Hallo dude," sapanya dengan senyuman manis di bibir.
Brio menghela nafasnya panjang, ketika melihat sahabat sekaligus direktur di kantornya itu kini mulai lagi menganggunya.
"Haish, Apa ini? Bukankah kamu sudah mau menikah? Kenapa wajahmu masih cemberut seperti itu." Goda Max, sahabat Brio sedari kecil.
"Aku gak jadi nikah," jawab Brio dengan santai.
Max yang sedang mencomot kue dari atas meja Brio, kini terdiam dengan mulut yang terbuka. "Tutup mulutmu! Nafasmu bau tau," ejek Brio, pada Max yang selalu saja bisa membuat suasana hatinya kembali damai.
Tanpa memperdulikan imagenya, dengan santai Max memakan kue yang belum sempat dia makan itu.
"Memangnya kenapa kamu tidak jadi menikah?" tanya Max, sembari melangkahkan kakinya duduk di sofa besar dalam ruangan Brio.
"Mezty selingkuh," jawabnya asal, hingga membuat Max hampir saja mati karena tersedak.
"Uhuk,,uhhukk,,uhhukk," Max terbatuk, dan segera berlari mengambil gelas air minum yang berada di atas meja Brio.
Hanya dialah satu-satunya orang yang paling berani mempermainkan emosi si babang Angry Brid.
"Kenapa?" tanya Brio, di saat Max sudah kembali normal.
"Sejak kapan, alasan Mezty selingkuh kamu menggunakannya untuk pembatalan nikah? Bukankah Mezty sudah berhubungan sama pria itu semenjak enam bulan yang lalu?" balas Max, yang juga mengetahui tentang itu semua.
Sontak saja Brio terkejut, dan kehabisan kata untuk membalas kalimat temannya ini.
"Oh iya, tadi aku mendengar kamu menyuruh Andrew untuk menyiapkan jet. Memangnya kamu mau kemana lagi?" tanya Max, menatap wajah Brio dengan intens.
"Indonesia, karena ada temanku yang sedang meminta bantuan, untuk menemukan kekasihnya yang sedang hamil," jawab Brio asal. Dia tidak mau rahasia tentang dirinya menghamili perempuan diketahui oleh sahabat gilanya ini.
Antara bingung dan tidak percaya, itu yang ada di dalam benak Max saat ini. Bahkan dia sampai tersenyum karena kebohongan yang telah dibuat oleh Brio.
"Pasti temanmu itu meninggalkan wanita itu saat hamilkan?" singgung Max, yang sebenarnya sudah tahu tentang maksud Brio.
"Dia tidak meninggalkan, dia hanya butuh waktu untuk berpikir," belanya pada diri sendiri .
Max menganggukan kepalanya pelan, mengiyakan apa saja yang dikatakaan oleh si Angry Bird.
"Kalau begitu, sampaikan pesanku kepada temanmu itu, cepat tanggung jawab sebelum wanita dan bayinya direbut oleh pria baik," ucap Max, sebelum melangkahkan kakinya keluar, meninggalkan Brio yang sedang mencerna baik-baik maksud dari kalimat sahabatnya itu.
"Apa? Apakah yang dia maksud aku adalah pria tidak baik?" Gumam Brio bermonolog sendiri.
Karena malas untuk berpikir lagi, akhirnya Brio memilih untuk segera berangkat ke Indonesia untuk menemui Vita dan bayinya.
***
Sedangkan di sisi lain, terlihat Vita yang baru saja sampai di Mansion Italia. Melihat-lihat ke sekelilingnya, sambil terus melangkahkan kakinya masuk ke dalam.
"Tempat kecil yang sudah begitu lama aku tinggalkan," gumam Vita, merasa nyaman dengan kenangan masa kecilnya sebelum dirinya diambil oleh papahnya.
"Vitaa sayang," tegur suara seseorang dari dalam. Suara yang menandakan kebahagiaanya ketika melihat putri yang begitu dia rindukan kini sudah ada di depan matanya.
Vita menolehkan pandanganya, dan melihat mamahnya yang tengah berdiri di sana, dengan seorang pria yaitu papah Alson.
"Mamah," sahut Vita, sedikit merasa canggung.
Dengan bahagia Vika langsung memeluk tubuh putrinya, sudah hampir dua tahun ini mereka tidak pernah bertemu dengan alasan Vita yang selalu saja sibuk.
"Mamah kangen banget sama kamu sayang," lirih Vika dengan pelan.
"Vita juga kangen kok sama mamah," balasnya gugup.
Namun tidak lama kemudian, terlihat dua sosok pria dan wanita yang datang secara bersamaan. Vita menatap tajam kedua sosok itu, terutama si wanita.
"Sepertinya aku pernah melihatnya, tapi di mana?" batin Vita, sambil terus menatap ke arah wanita itu.
Bahkan sangkin lekatnya dia menatap, mamahnya sampai menyadari arah pandang putrinya yang tengah melihat ke arah Griffin dan juga Lyla.
"Vita," tegur Vika, pada putrinya yang begitu serius dengan pikiraanya dia sendiri.
"Eh, mah." Ucapnya terkejut, ketika dirinya ketahuan sedang menatap seseorang.
"Kamu gak kangen sama papah," seru Alson, yang sedari tadi dilupakan oleh ibu dan anak itu.
"Papah," ucap Vita kembali merasa canggung dengan kehadiran Alson di sekitarnya.
Alson tersenyum, lalu bergantian memeluk putri istrinya dengan erat. "Papah kangen sama kamu loh Vit, papah kira kamu sudah melupakan papah," Alson berusaha bersikap humble kepada Vita. Dia tahu jika saat ini putri tirinya itu sedang menjaga jarak dengannya.
Vita tersenyum sambil menggelengkan kepalanya pelan, dia tahu apa yang sedang dipikirkan oleh mamah dan papahnya saat ini.
"Sudah, sekarang ayo kita masuk dulu, kasihan Vita pah, baru juga sampai, udah kita buat bediri aja dari tadi," imbuh Vika, merasa kasihan melihat putrinya bediri dnegan wajah yang pucat.
Alson menganggukan kepalanya pelan, menyetujui apa yang dikatakaan oleh istrinya. "Sini papah bawakan koper kamu," tawarnya, melihat koper Vita yang besar.
Vita menggelengkan kepalanya pelan, merasa tidak enak dengan papahnya jika harus membawa barang-barangnya.
"Tidak usah pah, Vita bisa membawanya sendiri, terima kasih," tolaknya dengan halus, tidak lupa dirinya mengucapkan terima kasih sebagai rasa hormat pada papah tirinya itu.
Semenjak kehadiran adik twins, Vita memang mulai menjaga jarak dengan mamah dan papah tirinya. Dia tidak mau menganggu kebahagiaan mereka hanya dengan kehadiraanya yang tidak diharapkan.
Bukan Vita menolak untuk mempunyai adik, hanya saja, kehadiran twins memang sangat diharapakan oleh keluarga besar mereka. Sedangkan Vita terlahir dengan keadaan yang memaksa.
Tetapi dia bersyukur karena masih mempunyai papah yang begitu menyayanginya. Meskipun dia tahu, jika mamahnya pasti juga mencintainya, namun kasih sayang itu sudah terbagi dengan twins yang merupakan bagian dari keluarga besar ini.
Vita berjalan lebih dulu, meningglkan Vika dan Alson yang bingung melihat sikap Vita yang begitu dingin kepada mereka.
Mendapatkan tatapan aneh seperti itu dari suaminya, Vika memilih untuk mengedikan bahunya singkat. Karena pasti suaminya itu ingin bertanya tentang perubahan sikap putrinya yang semakin lama semakin terasa jika Vita sedang menjaga jarak dari mereka.
Vita berjalan menuju kamar yang dulu pernah dia tempati, dan tanpa sengaja dia melewati taman belakang lalu kembali melihat sosok wanita yang sedang berdiri merangkai bunga.
"Aku jelas pernah melihatnya? Tapi di mana?" gumam Vita lagi. Sambil terus mengingat di mana dia pernah bertemu dengan Lyla.
Hingga bayangan-bayangan ketika dirinya berada di sebuah vila kini terputar jelas, dan menjawab pertanyaan di mana dia pernah melihat Lyla.
"Bukankah dia wanita yang dulu pernah mengecupp pria bertopeng itu?" Vita begitu ingat jelas wajah Lyla yang manis namun licik.
"Apakah dia melupakkanku? Atau dia malah pura-pura tidak mengenaliku?" tanya Vita lagi, ingin menghampiri Lyla, untuk menanyakan niat dari pria bertopeng itu. Namun langkahnya tertahan oleh suara Vika yang terus memanggilnya.
*To Be Continue. **
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***ππ»ππ»* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
*Dan Jangan lupa yah, dukunganyaπ₯° jangan Sinder.*
*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**π*
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **πLike,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****ππ
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***πππ*
*Terima kasih**ππ»ππ»*