
🌹 Happy Reading Gengs 🌹
Saat ini Brio dan Vita terlihat sedang jogging bersama di pinggir Kali Marina Bay Sands. ( anggap aja Kali ya )
Setelah seharian menghabiskan waktu bersama, menikmati kebersamaanya berkeliling Singapore.
Dan karena dari kemarin mereka sudah makan terlalu banyak, kini Brio memaksa Vita untuk mau Jogging bersamanya.
“Huhuhuhu, capek Beb,” Vita berhenti sejenak, karena tidak mau berlari lagi. Membuat Brio juga berhenti sejenak.
“Heheh, masa capek? Baru juga lari 600 meter, udah capek.” Ujar Brio, membuat dirinya mendapatkan tatapan sinis dari Vita.
“Kamu tanya? Kok bisa capek?” Seru Vita dengan emosi.
“Aku wanita dan kamu pria, kita beda kekuatan.” Sambungnya lagi, dan lalu berdiri dan berjalan lebih dulu dari pada Brio.
“Kan aku hanya bertanya saja, kenapa sekarang dia yang emosian?” Gumam Brio, mengangaruk kepalanya yang tidak gatal.
Dan lalu Brio mengikuti langkah Vita yang sudah lebih dulu berjalan di depannya. “Sayang kenapa marah sih?!” Panggil Brio, takut jika Vita akan marah lama dengannya.
“Gendong,” pinta Vita, membuat Brio menyeritkan keningnya bingung, dan lalu melihat sekelilingnya.
“Sayang malu, banyak orang.” Tolaknya, karena khawatir akan menjadi pusat perhatian orang - orang.
“Ya sudah, kalau begitu aku ngambek,” ujar Vita, yang kembali membuang pandangannya ke arah lain.
Brio terpaksa menghela nafasnya, karena mau tidak mau dia menurut menggendong Vita.
Beruntungnya tubuh Vita itu mungil, hingga dirinya tidak merasa keberataan jika menggendong Vita meskipun lama - lama.
***
15 menit mereka jogging bersama, akhirnya Brio sudah merasa lelah, “hufft, kita istirahat sebentar ya, baru kita akan mencari makan malam, dan lalu pulang.” Ucap Brio pada Vita.
Vita menganggukan saja kepalanya pelan, menurut apa yang dikatakan oleh suaminya. Karena sejujurnya dia memang begitu lelah hari ini.
Seharian penuh mereka berjalan keluar tanpa ada berisitirahat, ada pulang hanya untuk mengganti baju saja, lalu mereka pergi lagi ke Marina untuk berjalan - jalan.
Mereka ber dua terlihat duduk di pinggir kali dan melihat matahari terbenam yang terlihat begitu indah.
“Apa harapanmu ke depannya?” Tanya Vita tiba - tiba pada Brio.
Brio menatap sejenak ke arah Vita, lalu kembali menatap ke arah Langit Jingga.
“Aku tidak tahu, yang jelas aku hanya beringinan untuk selalu bersamamu hidup bahagia bersama dengan anak - anak juga.” Ucap Brio penuh dengan rasa keyakinan.
“Di saat mendengar anak pertama kita sudah tidak ada? Apa yang ada di dalam pikiranmu?” Tanya Vita lagi. Karena memang dia belum tahu sama sekali apa reaksi Brio pada saat itu.
“Tidak ada yang bisa tahu, apa yang sedang aku rasakan, dan akan percuma juga jika aku mengungkapkannya.” Jawab Brio, yang memang sebenarnya tidak tahu apa yang bisa dia ungkapkan.
“Tapi ya sudahlah, tidak apa - apa, mungkin itu juga karena kesalahan kita yang pada awalnya juga tidak menginginkannya, tapi jujur aku merasa bersalah pada saat itu.” Sambungnya lagi, dengan menatap wajah Vita lekat.
Vita yang merasa di tatap, kini memilih untuk menyenderkan kepalanya di bahu Brio dan melingkarkan lengannya di tangan Brio.
“Untuk berita yang beredar? Apa kamu tidak marah sama sekali denganku? Karena jujur, ketika aku melihat kamu datang bersama dengan Khanza, itu sangat - sangat menyakitkan menurutku.” Ucap Vita lagi.
Mungkin memang inilah saatnya mereka berbicara deep talk, untuk mengetahui satu sama lain.
Brio menghela nafasnya, sembari mengusap lembut jemari Vita, lalu menggengam tangan lembut itu. “Kalau kamu tanya? Bagaimana perasaanku? Jujur saja aku merasa seperti -“
“Apa ya?”
“Berasa seperti menjadi laki - laki yang tidak berguna sama sekali, serasa selama kamu bersamaku itu tidak ada arti sama sekali, dan ternyata pria itu, siapa namanya?”
Dia adalah type orang yang paling tidak sama sekali perduli dengan apa pun. Tapi karena Vita adalah istrinya, ya tentu saja dia merasa perduli, terlepas dari Vita mencintainya atau tidak, seharusnya Vita lebih menghargainya.
“Maaf ya,” ujar Vita, merasa sangat bersalah dengan Brio. Kalau dipikir - pikir lagi, memanglah sangat tidak pantas dia berjalan dan berpelukan dengan Langit di tempat umum seperti itu.
“Tidak apa - apa, semua sudah lewat, lagian kamu bilang sendirikan kalau misalnya laki - laki itu sudah menikah dengan jodoh yang dipilihkan orang tuanya.” Ujar Brio, memaafkan istrinya yang bertindak semenah - menah kemarin.
“Tapikan kamu juga bersama dengan Khanza,” seru Vita lagi.
“Tidak mungkin kamu tidak berpelukan dengan Khanza,” tuduh Vita, merasa Brio juga bersalah karena sudah bersama dengan wanita lain.
“Seingatku memang tidak ada aku berpelukan dengan Khanza, kalau pegangan tangan mungkin iya, tapi pelukan tidak tuh.” Elaknya atas tuduhan Vita.
“Heleh,” ucap Vita tidak percaya.
“Memang, aku tidak ada, selama tinggal bersama dengan Khanza, aku dan dia juga tinggal di kamar yang beda, aku dengan dia hanya berbelanja bersama, lalu dikejar oleh anak buah Daddy, lalu makan bersama dan membersihkan rumah bersama itu saja, tidak ada lain.” Brio menjelaskan apa saja kegiatan dirinya bersama dengan Khanza kemarin.
Namun sepertinya Brio salah, karena wajah Vita saat ini malah terlihat sangat tidak enak.
“Kamu begitu happy sepertinya ketika bersama dengan Khanza ya.” Vita yang bete, lalu melepaskan tanganya dari tangan Brio, dan memilih untuk menyilangkannya.
“Apaan sih?” Tanya Brio bingung. Karena menurutnya kenangan bersama dengan Vita jauh lebih banyak.
“Kamu suka ya sama Khaza?!” Tuduh Vita, membuat Brio menatapnya dengan tatapan tidak percaya.
“Kamu itu tidak jelas, kalau aku suka dengan Khanza, ngapain aku ajak kamu nikah lagi.” Sahut Brio, yang mulai terpancing dengan tuduhan - tuduhan Vita.
“Lagian Khanza juga sukanya sama Papah kamu kok.”
“Apa?” Tanya Vita, ketika mendengar Khanza menyukai Papahnya.
Brio terkejut mendengarnya, dia tidak sengaja keceplosan mengatakan rahasia Khanza pada Vita, apa lagi Vita adalah anak dari Jendra.
“Tidak, kamu salah dengar.” Brio membenarkan kalimatnya, agar Vita tidak kembali menanyakan hal itu.
“Enggak, aku tadi dengar kalau kamu bilang Khanza suka sama Papah kok.” Elak Vita, menolak jawaban Brio yang ke dua.
Mau tidak mau Brio harus jujur mengatakannya, karena tidak mau dikira sedang berkonpirasi dengan Khanza.
“Iya - iya, Khanza memang menyukai Papahmu, tapi aku tidak tahu apakah dia suka dan ingin menjadikan papah sebagai suami, atau suka hanya kagum saja, karena Khanza tidak menjelaskannya secara detail.” Ungkap Brio lagi, membuat Vita kini terdiam.
Dia tidak tahu harus bagaimana menanggapinya, memang sih Khanza tidak bersama dengan Brio, tapi bersama dengan Papahnya.
Tapi bagaimana jika seperti kisah - kisah yang lain, suamiku selingkuh dengan istri Papahku. Kan sangat - sangat tidak lucu. Apa lagi jika di sandingkan dengan Khanza, wajah Khanza terlihat memang jauh lebih cantik dari padanya.
Sangat - sangat mengkhawatirakan.
*To Be Continue. **
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*
*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*
*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*