Partner Ranjang My Uncle

Partner Ranjang My Uncle
Partner Ranjang Chapter 60


🌹 Happy Reading Gengs 🌹


Malam ini, semuanya telah berkumpul menikmati makan malam mereka, tetapi ada yang berbeda di malam ini.


Makan malam yang biasanya dilakukkan di ruang makan, di atas meja makan. Kini berubah menjadi di dalam kamar Vita, meskipun juga tetap di atas meja makan.


Jendra sengaja meminta pelayan untuk meletakan meja yang cukup ukuran masuk ke dalam kamar putrinya. Dia tidak mau putrinya yang baru saja sembuh, harus turun naik tangga yang akan membuat putri cantiknya itu merasa lebih lelah lagi.


“Baru pertama kali ini, Mamah tahu ada orang makan di dalam kamar,” ejek Vina, yang merasa putranya ini sedikit berlebihan.


“Anggap saja kita adalah orang baru Mamah,” sahut Dyzon yang membuat Vita yang duduk tepat di sebelahnya tersenyum.


“Oma, opa, Vita -,”


“Kita akan terus begini Mah, Pah, sampai Vita melahirkan dan dirinya sudah kuat naik turun tangga.” Tegas Jendra, yang membuat Mamah Papahnya seketika diam.


“Papah, Vita ini bukan Princess Aurora yang terus menerus tidur, Vita ini adalah Princessenya Papah, Vita kuat kok Pah.” Protes gadis cantik yang sebentar lagi akan menjadi ibu itu.


“Ya seperti itulah Papah kamu Vit, lebaynya tidak ter tang guh kan,” seru Vina, yang membuat putranya seperti tidak memiliki kewibawaan sama sekali.


Vita tersenyum melihat Omanya yang suka sekali menggoda Papahnya, suasana seperti inilah yang sebenarnya sangat Vita rindukan. Suasana kebahagiaan sedia kala, sebelum Brio meluluh lantahkan semuanya.


“Papah,” panggil Vita pelan kepada Jendra.


“Papah udah usia berapa sih Pah?” Tanya Vita dengan begitu polos.


Dyzon dan Vina tersenyum mendengar pertanyaan cucu mereka itu. “Kenapa Vita? Apakah Papah kamu ini terlihat tua?” Tungkas Dyzon yang malah ikut menggoda putranya.


“Bukan Opa,” balas Vita.


“Lalu apa yang kamu inginkan sayang? Sampai menanyai Umur dari Papahmu itu?” Tanya Vina dengan serius.


“Aku ingin -“ ucap Vita terhenti, tidak tahu apakah keinginanya ini akan membuat Papahnya senang, atau malah sebaliknya.


Semua orang menunggu Vita menyelesaikan kalimatnya, kecuali Jendra, yang masih sibuk dengan sendok dan garpunya. “Aku ingin, Papah mencari pasangan hidup dan menikah dalam waktu dekat.”


“Uhhhuuukkk,,uhhhukk,,uhhukkk,” Jendra tersedak ketika mendengar keinginan putrinya itu.


Vina yang duduk di sampingnya, langsung segera memberikan air minum kepada putranya dengan ekspresi bingung. “Apa yang sedang kamu bicarakan Vita?” Tanya Vina, sembari membiarkan Jendra mengambil gelas itu sendiri.


Vita tersenyum tipis, lalu meletakan sendok garpu yang ada di tanganya tadi, dan memperbaiki posisinya. “Selama ini Papah hanya mengurusi aku terus, Papah selalu sibuk dengan urusan aku,”


“Sekarang aku ingin Papah mencari pendamping hidup, untuk menemani Papah di kemudian hari Pah.” Vita beralih menggengam tangan Jendra yang terulur ada di depannya.


“Bukan Vita bermaksud untuk tidak mau mengurus Papah, tetapi, sekarang Vita sudah menikah Pah, Vita tidak bisa selalu ada di samping Papah, karena Vita juga berada di tengah Papah atau suami Vita -“


“Papah sudah mengajukan pembatalan pernikahaanmu.” Tegas Jendra, agar putrinya berhenti untuk berandai - andai.


Vita yang baru mengetahui hal itu, kini menyeritkan keningnya bingung. “Kenapa Papah melakukkan itu?” Tanyanya sedikit kesal.


“Ya tidak kenapa - kenapa, kamu sendiri pasti tahu alasannya kan.” Jendra malas sekali untuk membahas masalah itu saat ini.


“Tapi Pah, Brio itu sudah berjanji ingin berubah, dan Vita yakin bahwa dia akan menjadi suami yang bertanggung jawab.” Vita membela suaminya, karena memang waktu tinggal di German, Brio sudah memperlihatkan hal itu.


Jendra perlahan menghela nafasnya kasar. “Kamu tidak tahukan apa yang Papah alamin kemarin di sana, bagaimana Papah bisa mengambil keputusan seperti itu.” Jendra menatap putrinya dengan lekat, membuat Vita tidak ingin membahas hal itu saat ini.


“Ehmm, Okey, Pah, apa pun yang Papah putuskan, Vita harap Papah memikirkannya terlebih dahulu.”


“Tetapi, Keinginan Vita tetap kekeh untuk meminta Papah mencari pasanga hidup dan Menikah.”


“Jika Papah bisa mengambil keputusaan sepihak dalam hidup Vita, maka Vita juga bisa mengambil keputusan di dalam Hidup Papah.” Putuanya Final, membuat Jendra hanya bisa terdiam dan tidak bisa membantah apa - apa lagi.


Membuat dirinya merasa kesal, dan langsung meninggalkan meja makan begitu saja.


“Bagus Vita, paksa terus Papah kamu untuk menikah, sudah tua tidak mau menikah, mau jadi bujang lapuk dia.” Bisik Vina pada cucunya. Membuat Vita tersenyum karena keinginannya ternyata mendapatkan dukungan dari Omanya.


“Opa juga ikut dalam kubu kalian, okey,” ikut Dyzon, mengacukan jempolnya tanda Okey kepada dua wanita yang berbeda generasi tersebut.


Vina tersenyum bahagia, “sepertinya Oma sudah harus menghubungi WO dan cetring,” serunya begitu bahagia.


Vina menggelengkan kepalanya pelan, lalu melirik ke arah Dyzon suaminya. “Kenapa kamu menatapku seperti itu?” Tanya pria tua itu, merasa serem dengan lirikin istrinya.


“Kamu yang seharian full bersama dengan putramu di kantorkan.” Ucap Vina pada suaminya.


“Tidaklah, kitakan beda ruangan.”


“Tetapi tetap satu kantor.”


“Lalu kamu mau apa?” Tanya Dyzon pasrah.


“Apakah kamu tidak melihat putramu itu dekat dengan seorang wanita?” Tanya Vina penuh dengan rasa penasaraan, diikuti oleh lirikan Vita yang juga menunggu jawaban dari Opanya.


Dyzon merasa bahwa dirinya sedang diintrogasi, membuatnya mau tidak mau berpikir dulu sejenak, tentang kejadian - kejadian di kantor.


“Sepertinya ada,” gumamnya pelan, tetapi dia tidak tahu, bahwa dihadapannya dua wanita ini bisa berubah menjadi apa saja.


Bisa menjadi Harimau, Singa, Ular, dan sekarang mereka tengah Cosplay menjadi Kelinci bertelinga panjang.


“Sekertarisnya di kantor.”


“Tetapi aku tidak yakin,” jawabnya dengan wajah yang datar.


“Kenapa tidak mungkin Opa?” Tanya Vita antusias.


“Papah kamu itu, Friendly ke semua staf cewek di kantor, tetapi galak dengan sekertarisnya.”


“Jadi jika dipikir - pikir, apakah wanita itu mau menikah dengan orang yang suka memarahinya?” Tanya Dyzon balik kepada dua wanita itu.


Vita dan Vina menganggukan kepalanya, dengan berpikir keras. “Iya juga ya.”


“Ada satu lagi.” Seru Dyzon dengan buru - buru.


“Tapi kayanya ini juga tidak mungkin,” timpalnya lagi.


“Pah, kamu kalau mau bicara ya bicara! Jangan sepotong - sepotong, membuat orang penasaraan saja.” Sentak Vina kesal, jika suaminya berada dalam mode seperti ini.


“Akhir - akhir ini, aku pernah tidak sengaja memergokin Jendra satu mobil dengan seorang gadis yang masih terlihat sangat remaja, sepertinya juga di bawah umur kamu Vit.” Jelas Dyzon pada Vina dan Vita.


“Gadis remaja Opa?” Vita meyakinkan bahwa penjelasaan Opanya ini tidak salah.


Dyzon menganggukan kepalanya dengan yakin, karena dia sering memergoki putranya itu berdua dengan gadis itu. “Opa juga pernah bilang ke Papah kamu, jika kamu akan disebut dengan pedofil jika kamu khilaf pada gadis itu.”


“Tetapi, Papahmu kamu cuman menjawab, jika gadis itu bukan typenya, dan gadis itu hanya magang di kantor.” Jelasnya lagi.


“Gadis remaja?” Gumam Vita, merasa merinding dengan persoalan Papahnya jatuh cinta pada gadis remaja.


“Papah umur berapa sih Oma? Serius deh? Vita nanya nih.” Vita rasanya tidak terima akan hal ini.


“Sekitaran 46 sih sepertinya.” Jawab Vina.


“Sudahlah Vit, siapapun yang dipilih Papahmu, pasti itu adalah sebuah keputusan yang akan membuatnya jauh lebih bahagia.


“Iya Oma, tapi tidak dengan cabe - cabean.” Sahut Vita dengan ketus.


*To Be Continue. **


**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.


*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*


*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*


Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘


**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*


*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*