Partner Ranjang My Uncle

Partner Ranjang My Uncle
Partner Ranjang Chapter 72


🌹 Happy Reading Gengs 🌹


Satu jam setengah lamanya, keluarga Vita menunggu Vita keluar dari ruang operasi.


Dan kini Vita sudah berada di ruang perawatan dengan di dampingi oleh Papah dan Oma Opanya.


“Papah,” lirihnya pelan, ketika dirinya baru sadar, dan masih merasakan pusing, karena obat bius yang diberikan tadi.


“Iya sayang, Papah di sini.” Sahut Jendra dengan penuh rasa kehangatan.


“Apakah Brio dan orang tuanya sudah mengetahui jika aku keguguran Pah?” Tanya Vita pada Jendra.


Tadi sebelum operasi, Vita memang sudah diberi tahu tentang kondisinya yang tengah mengalami keguguran.


Vita tidak marah atau menyalahkan siapapun, wanita yang dikatakan tidak dewasa itu, menanggapinya dengan ikhlas, jika harus kehilangan buah hatinya.


“Belum sayang, Papah belum memberitahu mereka, tapi Papah rasa, mereka sudah tahu. Karena meskipun tidak terlihat, tapi Papah yakin jika anak buah Mario ada yang mengikuti kita.” Jawab Jendra, memberikan penjelasan kepada putrinya.


“Lalu Langit, di mana Pah?” Vita sejak tadi mencari sosok pria yang menemaninya sejak semalam.


Jendra menghela nafasanya kasar, ketika Langit sedari tadi mendapatkan telpon dari orang tuanya, yang memaksanya untuk pulang.


“Sebenarnya Langit masih ingin berada di sini sayang, tapi, orang tuanya terus menelpon, untuk segera pulang dan menyelesaikan masalah yang ada.” Ujar Jendra, memberikan pengertian pada putrinya, jika Langit juga tidak selamanya bisa menenamni dia.


Vita menganggukan kepalanya pelan, dia sadar jika Langit juga mempunyai kehidupannya sendiri.


“Aku merasa bersalah pada Langit Pah, sepertinya karena dekat dengan Vita, semua masalah ini terjadi,”


“Hidup tenang yang dia miliki selama ini, kini hancur hanya karena semalam bersamaku.” Vita menatap ke arah langit - langit plafon.


Dia memikirkan bagaimana nasib Langit menghadapi keluarganya, dan menjelaskan segalanya pada orang tuanya.


“Jendra.” Suara Dyzon tiba - tiba mengejutkan Jendra yang sedang menatap putrinya.


Sedangkan Vina yang terlelap tidur di sofa, membuat dirinya terbangun karena panggilan Dyzon yang terdengar seperti teriakan.


“Ada apa sih Pah? Teriak - teriak. Ini rumah sakit Pah,” Tegur Jendra, mengingatkan Papahnya, jika mereka sedang berada di tempat layanan masyarakat.


Dyzon memperlihatkan ponselnya pada Jendra, yang terdapat sebuah email dari Pengadilan. “Pembatalan Nikahnya di setujui, dan sudah ketok palu.” Gumam Jendra, membacakan hasil persidangan yang diwakilkan oleh pengacaranya, karena Jendra tidak bisa ke Luar Negara untuk mengurusnya, sesuai Negara tempat pemberkatan pernikhaan mereka berlangsung.


Vita yang mendengar itu, kini terlihat bingunh, bagaimana menunjukan perasaanya. “Jadi sekarang aku bukan lagi suami istri dengan Brio.” Lirihnya pelan, membuat Jendra menggelengkan kepalanya pelan.


“Kenapa secepat ini Pah?” Tanya Jendra pada Dyzon.


Dia mengira jika proses persidangan akan dibuat susah oleh Mario, mengingat bahwa besannya itu sempat meminta dirinya untuk tidak mengajukan pembatalan nikah ini.


“Mungkin Mario yang juga ikut campur tangan atas masalah ini, sehingga persidanganya dengan sekali keputusan.” Jawab Dyzon, membenarkan kemungkinan, adanya kekecewaan di hati Mario, atas berita perselingkuhan Vita yang tersebar.


“Dia padahal bisa menanyakan dulu kepada kita, apakah berita yang beredar itu benar atau tidak.” Sesal Jendra, atas sikap Mario yang tidak ingin tahu kebenaraanya.


“Jendra, terlepas dari hal itu benar atau salah, di saat status Vita masih menjadi istri dari Brio. Dia tidak boleh jalan apa lagi berpelukan dengan laki - laki lain di muka umum.”


“Tentu saja, jika hal ini terjadi denganmu, kamu pasti akan marah juga ketika melihat Brio memeluk wanita lain di luar sana.” Jelas Dyzon pada putranya.


“Lagian sekarang bukannya kamu harusnya senang Jend,” seru Vina, yang akhirnya mengeluarkan suara, setelah perasaannya kembali baik, karena habis bangun tidur.


“Kamu yang mengajukan pembatalan nikah ini, agar putrimu terbebas dari Brio, dan sekarang semua sudah terjadi, dan bagusnya baik Brio maupun keluarganya sama sekali tidak mempersulitnya.” Ucap Vina, yang sebenarnya memang adalah sebuat kebenaran.


“Dan kamu tahu, bahkan surat hasil persidangan ini sudah terbit di dunia maya, yang membuat kasus Vita lebih meredup, dan membuat isu perselingkuhaab Vita kini menghilang, karena masyarakat akhirnya tahu, bahwa Vita dan Brio sudah bukan suami istri lagi, jadi sah - sah saja Vita bergandengan dengan laki - laki lain.” Dyzon terus memberikan kabar bahagia untuk anak dan cucunya.


Setelah semua masalah yang mereka lalui selama ini, kehidupan mereka bisa kembali tenang, Vita masih bisa melanjutkan kontrak - kontrak pekerjaan yang dulu tidak dia selesaikan.


Jendra menganggukan kepalanya pelan, membenarkan setiap apa yang dikatakan Mamah dan Papahnya ini. Dia kembali menoleh ke arah Vita, yang saat ini tengah termenung memikirkan nasib ke depannya.


“Sayang, apakah kamu Happy dengan keputusaan ini?” Tanya Jendra pada Vita.


Vita terdiam sejenak sebelum akhirnya dia menganggukan kepalanya pelan. “Vita happy Pah,” jawabnya singkat, namun berhasil membuat Papah, Oma dan Opanya tersenyum bahagia.


Walaupun di dalam hatinya masih merasa ganjal, tetapi ketika melihat senyum orang - orang yang berharga di sekitarnya karena kebebasaan ini, Vita merasa bahwa itulah keputusaan yang terbaik.


***


Sedangkan di sisi lain, Brio dan Khanza yang berhasil kabur dari kejaran anak buah Mario. Membuat pria itu kini merasa sedikit legah.


“Siapa sebenarnya tadi mereka?” Tanya Khanza, menuntut penjelasaan dari Brio.


“Mereka adalah anak buah dari Daddyku. Entahlah aku juga tidak mengerti, setelah Daddy menarik semua fasilitasku, dan sekarang dia mau aku kembali.” Jawab Brio, dengan tatapan kosong ke depan.


Drettt,,dreettt, suara ponsel Brio berdering, menandakan sebuah email masuk yang tertuju pada Emailnya.


Brio membuka Email tersebut, dan memperlihatkan nama Daddynya Mario.


Brio melihat pesan dari Daddy, yang menunjukan sebuah surat keputusaan Pengadilan hari ini.


“Ternyata, pengadilan telah memutuskannya.” Batin Brio, yang terlihat terpaku dengan surat itu.


“Brio,” tegur Khanza, karena pria itu sama sekali tidak mendengarnya.


“Ada apa?” Tanya Khanza lagi, ketika melihat wajah Brio kini murung, setelah mendapatkan pesan itu.


Brio terlihat mengatur ulang nafasnya, sembari menggelengkan kepalanya pelan. “Tidak, tidak ada.” Ucapnya bohong.


“Aku sekarang begitu lapar, bisakah kamu memasak makanan untuk kita siang ini?” Tanya Brio dengan wajah yang sedikit memohon.


“Makanan?” Gumam Khanza mengulang kalimat dari Brio.


“Iya makanan, bukankah kita tadi tidak jadi makan karena kejadian ini?” Timpal Brio lagi, mengingatkan Khanza bahwa sebelum anak buah Daddynya datang mereka memang merasa sedang sangat lapar.


Khanza menganggukan kepalanya pelan, antara terpaksa dan juga memang kewajiban, “baiklah aku akan memasak apa adanya dulu sekarang, karena perutku juga memang sangat lapar.” Khanza berdiri dari duduknya, lalu melangkah kakinya ke dapur.


“Belanjaan mingguan yang tadi dibeli, kapan mau kamu bawa ke atas?” Tanya Khanza pada Brio.


Karena tadi mereka meningglkan barang belanjaan mereka di mobil dan belum di bawa naik ke atas.


“Sekarang, ini mau diambil.” Jawab Brio, lalu berdiri dari duduknya berjalan ke lantai bawah parkiran untuk mengambil barang belanjaan mereka tadi.


*To Be Continue. **


**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.


*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*


*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*


Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘


**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*


*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*