Partner Ranjang My Uncle

Partner Ranjang My Uncle
Partner Ranjang Chapter 63


🌹 Happy Reading Gengs 🌹


Setelah kejadian kemarin, kini Vita hanya terus mendiamkan Papahnya, dia begitu kecewa dengan pria itu.


Seperti pagi ini, ketika mereka sedang berada di meja makan, hanya keheningan yang terjadi di antara mereka.


“Kenapa hawanya jadi sediningin ini?” Tanya Vina yang berusaha memecahkan keheningan yang terjadi saat ini. Karena dia memang tidak tahu, apa yang sebenarnya terjadi kemarin.


“Vita pergi dulu Oma, Opa,” pamitnya pada Vina dan Dyzon.


“Vita,” panggil Jendra, ketika putrinya itu baru saja mau melangkahkan kakinya pergi.


Namun, bukannya mendengat ataupun menjawab panggilan Papahnya. Vita malah asyik begitu saja pergi meninggalkan meja makan dan berjalan keluar.


Vina dan Dyzon melihat langkah Vita yang kian menjauh. “Sebenarnya ada apa ini Jend? Kenapa Vita terlihat begitu marah sama kamu?” Tanya Vina pada putranya.


Jendra yang terlihat kesal hanya menggelengkan kepalanya pelan, “aku tidak tahu Mah,” jawabnya enggan memberitahu kebenarannya.


“Kamu tidak tahu? Atau kamu tidak mau memberitahu, itu adalah dua hal yang berbeda Jend,” sahut Dyzon yang sedari tadi hanya mendengarkan saja apa yang dipertanyakan istrinya.


“Sudahlah, Mamah dan Papah, makin lama, makin ngelantur saja, Jendra pergi dulu ke Kantor, Mah, Pah,” ujarnya ikut juga berpamitan pada orang tuanya.


“Baiklah hati - hati,” jawab Vina, dengan penuh kelembutan, walaupun di dalam hatinya masih punya banyak pertanyaan yang belum sama sekali di jawab oleh putranya.


***


Sedangkan Vita yang baru saja masuk ke dalam Taxi, kini mengarahkan Taxi itu ke sebuah taman yang tak jauh dari rumahnya.


10 menit dirinya sampai, kini dirinya turun sembari terus memegang ponselnya untuk mengecek apakah ada pesan masuk atau tidak.


Dia berdiri di tengah - tengah, menunggu sesorang datang menghampirinya, Dengan hanya menggunakan dress mini, dengan warna abu - abu polkadot hitam. Membuat penampilannya begitu anggun saat ini.


“Vita,” tegur seseorang yang sejak tadi dia tunggu.


“Langit,” sahut Vita dengan full senyum di wajahnya.


“Sudah lama?” Tanya Langit dengan lembut.


Vita menggelengkan kepalanya pelan, “tidak, aku juga baru saja tiba.” Jawabnya begitu santai.


“Oke,”


“Ehmm, oh ya, karena inu masih jam 8 pagi, bagaimana kalau kita Breakfast dulu?” Tanya Langit pada Vita.


“Aku sudah Breakfast sih, tetapi aku akan menemani saja,” jawab Vita dengan segan.


“Itu tidak adil, ketika aku makan, kamu harus makan.” Ujar Langit, tidak ingin dibantah.


Vita tersenyum dengan ucapan itu, lalu dirinya menganggukan kepalanya sebagai tanda setujunya.


“Oke good, kalau begitu, yuk masuk dulu ke mobil, kita akan mencari tempat makan di sekitaran perjalanan saja.” Seru Langit lagi, yang lalu membukakan pintu mobilnya untuk Vita.


Dengan anggun Vita masuk ke dalam mobil, sambil menunggu Langit beralih ke kursi pengemudi.


“Oke, are you ready?” Tanya Langit, ketika mereka baru saja mengenakan Seat belt mereka.


“Hahahah, yes, iam ready.” Jawab Vita diikuti dengan tawanya.


Entah kapan dia terkahir bisa tertawa lepas seperti itu, rasanya sudah sangat begitu lama. Langit yang membawa kebahagiaan itu, membuat dirinya merasa sangat beruntung karena tetap menempatkan Langit di dalam hatinya.


Terjadi keheningan di dalam mobil tersebut, Langit sendiri tidak mengerti bagaimana cara memulai pembicaraan mereka.


“Eh, Vit, kamu masih suka sama Passenger tidak?” Tanya Langit, agar memulai pembicaraan mereka.


Vita dengan antusias menganggukan kepalanya, “masih - masih, kok kamu masih ingat saja sih, kalau aku suka dengan Pasengger?” Tanya Vita balik, tetapi hanya dibalas senyuman oleh Langit.


Dengan gerakan perlahan, Langit menyambungkan bluetoothnya ke mobil. Dan memutar lagu Favorite Vita saat zaman Sma.


“Langit,” lirihnya pelan, ketika mendengar inro masuk lagu ini.


Begitu dia ingat, lagu ini mereka sering sekali menyayikan, dan Langit sering meminta Vita memainkan Piano untuk mengiringi mereka bernyanyi.


“Masih ingat lagunya tidak?” Tanya Langit menantang ingatan Vita.


“Ya jelaslah,” sahut Vita dengan begitu bangga.


“Well she calls me up when she's broken, Says to leave my front door open.” Mereka menyanyikan lagu ini kembali bersama - sama.


“I come home to find her smoking, With her eyes all fragile and thin.”


“She's always been hopeless at hoping, Always coped badly with coping.”


“I know I'm a fool to let her run away with my heart, And she'll never tire of these games.”


“Loving her is like playing catch in the dark, I'm a tear drop in an ocean of flames.” Senyum ke duanya sama - sama mereka, mengikuti melodi yang mereka nyanyikan.


“And we'll drink too much for a wednesday, She'll ask me why none of her men stay.”


“I tell her just what her friends say, It never goes down too well.”


“And she'll stay hear til late in the evening, But she's always arriving or leaving.”


“She never decides to believe in, The people who know her so well.”


“I know I'm a fool to let her run away with my heart, And she'll never tire of these games.”


“Loving her is like playing catch in the dark


I'm a tear drop in an ocean of flames.”


“Well, she says if we're single at 40, We'll get married and move to the country, But I know she'll never want me.”


“Then it's five fifteen in the morning, I reach for her whilst I'm yawning, She leaves me with no warning.”


“Haahahahahahahahahah,” tawa mereka pecah, ketika lagu telah habis dinyanyikan.


“Keren banget tau masih lagunya, gak nyangka aku kamu masih ingat.” Seru Vita menatap Langit dengan senyuman manis.


“Aku masih mengingat setiap detail tentang kamu Vit,”


“Aku masih sayang sama kamu.” Ucap Langit secara spontan, membuat Vita seketika terdiam dan senyum yang sejak tadi merekah, kini berubah menjadi senyum kecut di wajahnya.


“Tadi kamu bilang mau Breakfast kan, coba deh di depan situ!” Tunjuknya pada sebuah warung makan, Vita sengaja menggunakan alasan ini untuk mengalihkan pembicaraan di antara mereka.


Langit yang tahu bahwa ini terlalu cepat, untuk mengungkapkan hal itu lagi, kini memilih untuk mengikuti alur permainan dari Vita.


“Suatu saat aku akan mendapatkan kamu lagi Vit,” batinnya, kembali menatap ke arah Vita yang sejak tadi terdiam di sampingnya.


Langit memilih menepi untuk ke sebuah warung yang tadi ditunjuk oleh Vita, untuk mengisi perutnya terlebih dahulu, sebelum mereka melakukkan perjalanan jauh ke bogor.


“Nasi pecelnya dua ya mbak,” pesan Langit pada mbak - mbak penjual yang masih terlihat repot itu, karena banyaknya pelanggan.


Vita menatap ke arah Langit, dan sedikit menggigit bibir bawahnya.


Kembali terjadi keheningan di antara mereka, sampai kemudian mbak yang tadi mengantarkan makanan pesanan mereka.


“Di makan Vit,” ujar Langit, mempersilahkan Vita untuk makan terlebih dahulu.


Vita menganggukan kepalanya pelan, lalu mulai mengaduk - aduk nasinya. Sedangkan Langit yang memang sudah lapar, langsung saja melahap makanan yang sudah ada di depannya.


“Bagaimana kehidupanmu selama kita pisah ini?” Tanya Vita tiba - tiba, membuat pergerakan Langit terhenti.


“Kenapa kamu ingin bertanya tentang itu? Bukankah kamu sudah mendengarnya kemarin?” Langit merasa begitu enggan untuk bercerita masalah yang membuat kelurganya jatuh - sejatuh - jatuhnya.


“Tetapi aku ingin mendengar semuanya secara detail!” Kekeh Vita, ingin mendegarkan semuanya secara langsung.


Langit hanya menjawab dengan anggukan kepalanya pelan.


“Aku akan menjawab, ketika kamu sudah menjawab aku, apa arti lambang cincin yang melingkar di jari kananmu itu?” Tanya Langit, langsung mengskak mati Vita.


“Ini?”


Visual Langit



*To Be Continue. **


**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.


*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*


*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*


Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘


**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*


*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*