Partner Ranjang My Uncle

Partner Ranjang My Uncle
Partner Ranjang Chapter 6


🌹 Happy Reading ya Gengs 🌹


Keesokan harinya, Jendra dan Vita yang sudah berada di rumah, karena ingin bersiap-siap dengan kegiataan mereka masing-masing, kini terlihat sedang sarapan pagi bersama.


"Pah, Vita akan ke rumah sakit dulu untuk mengantarkan Oma makanan, ya," pamit Vita, sambil menyiapkan rantang makanan.


Jendra tersenyum dan menganggukan kepalanya singkat, "Oh ya, Sayang, Papah ada sesuatu untuk kamu. Kemarin Papah belikan waktu ada perjalanan ke Singapore," seru Jendra, yang kini terlihat beranjak berdiri dari duduknya.


"Apa itu, Pah?" tanya Vita dengan perasaan bahagianya.


Jendra kembali tersenyum dan mendekat ke arah putrinya, "Tutup mata, Vita," pinta Jendra, sebelum mengeluarkan hadiahnya.


Akan tetapi, di saat Jendra belum sempat mengeluarkan hadiahnya, terdengar suara satpam rumah mereka yang berteriak, serta segerombolan orang yang masuk dengan paksa ke rumah Jendra.


"Permisi, Tuan Jendra, kami dari kepolisian datang dengan membawa surat penangkapan terhadap Anda, atas penggelapannya dana pajak. Mohon ikut kami segera ke kantor sekarang," tegas polisi itu, dan yang lainya terlihat langsung mengunci Jendra untuk dibawa paksa.


"Loh apa-apain ini, Pak! Saya nggak merasa bersalah apa pun. Bapak salah orang, Pak," bantah Jendra, meronta dalam gengaman polisi-polisi itu.


"Om, Papah saya salah apa, Om? Jangan bawa Papah saya! Hiks... hiks.... Papah," tangis Vita pecah, berusaha meghalau polisi-polisi itu membawa Jendra pergi.


Namun polisi-polisi itu terlihat hanya diam saja, dan tidak ingin mengatakan apa pun, "Pak, lepasin saya, Pak. Saya tidak bersalah, saya tidak tahu kenapa kalian membawa saya, Pak. Lepasin!" bentak Jendra, terus berusaha lepas dari kuncian polisi-polisi tersebut.


Vita yang tidak terima Papahnya dibawa seperti itu langsung menatap polisi utama dengan tajam, "Om, kenapa tangkap Papah saya, Om? Salah Papah saya apa? Kenapa Om tidak mau jelasin, Om, salah Papah saya apa?" tanya Vita berulang-ulang, namun polisi-polisi itu masih bungkam dan terus melanjutkan aksinya.


"Hiks.... Papah," tangis Vita histeris, ketika Papahnya sudah berhasil dibawa ke kantor polisi.


Merasa tidak terima Papahnya diperlakukan seperti ini, Vita langsung menyusul Papahnya dengan mengendarai mobilnya sendiri.


"Aku tahu ini pasti perbuatan kamu, Mr. White. Papah aku tidak bersalah dan aku yakin ini adalah ulah kamu," gumam Vita, merasa sangat marah dengan semua tindakan pria itu.


Namun Vita tidak akan menyerah begitu saja, dia pasti bisa membebaskan Papahnya tanpa harus mengikuti permintaan dari White.


Sesampainya di kantor polisi, Vita langsung berlari dan mencari keberadaan Papahnya.


"Di mana Papah saya, Om? Tadi dia dibawa ke sini, sekarang di mana Papah?" tanyanya dengan berteriak, karena dia benar-benar merasa muak saat ini.


Vita benar-benar gegabah saat ini, dia lupa jika dirinya adalah seorang publik figure yang ketika dirinya melakukan tindakan seperti ini, maka dengan cepat berita dirinya, kebangkrutan perusahaan keluarganya, serta berita penangkapaan Papahnya langsung viral begitu saja, bahkan kini menjadi trending topik berita panas di dalam negara maupun berbagai negara lainnya.


"Papah Anda sedang berada di dalam ruangan penyidik, Nona. Anda tunggu saja, karena Papah Anda saat ini dalam posisi tersangka," sahut salah satu inspektur kepolisian itu.


"Om, Papah saya tidak mungkin bersalah, Om. Ini pasti ada kesalahanpahaman," sahut Vita, benar-benar merasa frustrasi dengan keputusan sepihak seperti ini.


Akan tetapi sepertinya tidak ada yang menanggapi kata-kata Vita, hingga gadis cantik itu, kini benar-benar mati langkah.


Namun detik selanjutnya, dia teringat akan satu hal, dan langsung cepat mengambil ponselnya.


Tut... tut.... Nada sambungan telpon terdengar.


"Hem," sahut seseorang di seberang sana.


"Kita perlu bicara," seru Vita langsung to the point.


"Baik, kamu datang saja ke kantorku di alamat zzz," ucap suara itu.


Dan tanpa bicara lagi, Vita langsung mematikan sambungan telpon itu, lalu berjalan keluar.


Sesampainya di luar, terlihat banyaknya wartawan yang sudah mengepung di depan kantor polisi, "Gawat, aku harus bagaimana ini?" gumam Vita, merasa tidak sanggup jika di saat seperti ini dia juga harus menghadapi pertanyaan wartawan.


"Butuh tumpangan?" tanya seseorang yang sedari tadi ada di belakangnya.


Vita menolehkan pandangannya melihat siapa yang sedang berbicara dengannya, "Anda berbicara dengan saya?" tanya Vita, karena dia tidak mengenali orang tersebut sama sekali.


Orang itu terlihat tersenyum menatap Vita, "Apa kamu tidak mengenaliku?" tanya orang itu, yang dijawab gelengan kepala oleh Vita.


"Aku adalah Karel, teman SMA kamu dulu," jawab pria itu.


Akan tetapi Vita tidak mempunyai banyak waktu untuk bicara saat ini, "Okey, Karel, aku mau menumpang denganmu, please, bawa aku," mohonnya pada pria itu.


"Baiklah, itu mobil aku, kamu masuklah dan bersembunyi di kursi belakang," seru Karel, menunjuk mobil yang berada di hadapannya yang sangat-sangat jauh dari wartawan.


"Ahhh baik, terima kasih, ya, Karel," sahut Vita.


"Sama-sama. Ya udah, yuk, kita pergi sekarang," ajak Karel, yang tau jika Vita saat ini buru-buru.


Vita menganggukkan kepalanya pelan, lalu segera masuk ke dalam mobil Karel, dia berusaha sembunyi untuk menghindari kejaran wartawan yang pasti akan menyulitkannya nanti.


"Kamu ada perlu apa ke kantor itu, Vita?" tanya Kerel pada Vita yang nampak gemeteran saat ini.


"Kantor mana?" tanya Vita bingung.


"Kantor polisi tadi. Aku dengar Papah kamu ditahan polisi, kenapa?" seru Karel yang juga ikut penasaraan dengan apa yang sedang terjadi pada Vita, teman masa kecilnya yang sekarang sudah menjadi artis besar.


Vita hanya diam tidak ingin menanggapi pertanyaan dari Karel yang bersifat sangat sensitif itu.


Membuat Karel yang tadi bertanya kini merasa canggung karena tidak mendapatkan tanggapan sama sekali.


Namun lagi-lagi Vita hanya diam dan menanggapi permintaan maaf Karel dengan anggukan kepala saja.


Sesampainya di depan sebuah hotel, Vita terlihat menatap bangunan yang merupakan tempat luknud.


"Kamu--," seru Karel yang ingin kembali membuka suaranya untuk bertanya. Namun Vita sudah lebih dulu membuka pintu mobil Karel.


"Terima kasih, ya, Karel, kamu sudah mengantarku ke sini, aku akan bertemu dengan teman aku di restoran dalam, jadi kamu pulang saja ya," ucap Vita, yang mencari alasan agar teman yang baru dia temui ini tidak terlalu banyak berpikir tentangnya.


Vita langsung memasang maskernya dan menggunakan kaca mata hitam agar tidak ada satupun yang mengenalinya. "Bye, Karel," pamitnya pada Karel.


"Bye, Vita," sahut Karel, dan melihat langkah Vita yang semakin menjauh masuk ke dalam hotel berbintang lima itu.


Sesampainya di dalam, Vita langsung segera mencari lift untuk menuju kamar yang di maksud oleh Mr. White.


"Kamar 0011," gumamnya memperhatikan lantai khusus kamar paling mewah yang berada di hotel itu.


"Cikhhh, mau morena aja pakai sewa kamar mewah segala, dia pikir akan memberikan kesan terbaik, gitu," gumamnya merasa kesal melihat tingkah Mr. White yang menurutnya sangat tidak bermoral.


Ting-tong, Vita menekan bel yang ada di luar kamar, setelah berhasil menemukan ruangan laknud itu.


Ckleeeekkkk pintu kamar terbuka lebar, dan memperlihatkan sebuah ruangan yang sudah ditaburi oleh bunga-bunga mawar melati, dan lampu lilin-lilin yang mahal, sehingga seisi ruangan tercium sangat wangi sekali, membuat hati siapapun merasa tenang.


Di saat Vita melangkahkan kakinya perlahan masuk, tiba-tiba saja, Ada sosok pria yang memeluknya dari belakang, dan tidak usah ditebak lagi, karena hanya akan ada satu pria yang ada di dalam sini, yaitu biang kerok dari semua masalah yang Vita hadapi.


"Mr. White," panggil Vita yang begitu hafal dengan aroma tubuh White.


"Dunhill blue, itu aromamu, dan aku sudah menghafalnya mati," imbuh Vita, sedikit menyindir White.


Vita membalikkan tubuhnya, dan melepaskan pelukan White di tubuhnya.


"Aku tidak ingin bertele-tele, aku mau langsung pada intinya saja, bebaskan Papah aku sekarang juga dan kembalikan seluruh nama baik perusahaan Papah, NOW," tegasnya pada White yang terlihat seperti menganggap nyawa manusia adalah sebuah mainan.


Dan benar saja, di saat Vita sudah serius memikirkan nasib Papahnya dan juga perusahaan opanya, White justru malah tertawa dengan terbahak-bahak, bahkan pria itu terlihat mengambil laptopnya untuk bermain game sejenak.


"Mr. White," bentak Vita dengan penuh emosi.


Pria di hadapannya ini benar-benar menguji kesabaranya yang sudah berada di ujung batas.


"Kamu hanya perlu menandatangi dulu surat perjanjian yang sudah aku letakan di atas meja, tidak perlu berteriak," ucap White, tanpa mengalihkan pandangannya dari game yang sedang dia mainkan.


Vita langsung memijat keningnya merasa pusing dengan tingkah pria ini, "Aku hanya akan menjadi wanita penghangat ranjangmu, White, bukan istrimu," balasnya lagi-lagi dengan emosi.


White hanya diam tanpa menanggapi kalimat dari Vita, karena memang itulah kebiasaannya, ketika dia bermain game, tidak akan pernah dia peduli dengan sekitar, bahkan tsunami datang pun mungkin dia tetap akan bermain game-nya itu.


Merasa tidak ada tanggapan, akhirnya Vita pasrah dan segera menandatangi surat perjanjian yang berada di atas meja.


Namun dia bukanlah orang bodoh yang tidak membaca dulu isi surat itu, Vita terus membacanya sampai di poin paling terakhir.


"Apa ini? Kenapa di sini tertulis kalau aku tidak bisa menuntut apa-apa?" tanya Vita dengan ekspresi menyalang.


Akan tetapi, lagi-lagi White tidak mempedulikannya, hingga Vita merasa muak, dan merampas laptop milik White.


Bruuukkkkkkk Vita yang sudah terlampau emosi langsung membanting laptop milik White tanpa asa tasa takut sama sekali.


"Vitaaaa," bentak White, penuh emosi.


"Apaa," tantang Vita, benar-benar berani.


Plaaaaaaaaakkkk satu tamparan berhasil mendarat di pipi White.


Vita yang memang sedari tadi sudah menahan emosi, dan melihat wajah White yang sama sekali tidak menampilkan rasa bersalah dan itu benar-benar membuat Vita mendidih.


"Kamu nampar aku?" bentak White lagi, dengan senyum tipis di wajahnya.


"Iya, kenapa? Nggak suka? Silahkan kamu mau tuntut juga, biar aku sama keluargaku sekalian tamat dan semua karena ulahmu," sahut Vita.


Brio semakin tersenyum, dan bahkan langsung mendekap tubuh Vita dengan erat, "Kalau aku mau tuntut kamu, terus yang layanin aku di ranjang siapa?" bisiknya pelan ditelinga Vita.


Membuat sang empunyanya merasa jijik mendengar suara White yang seperti itu.


**To Be Continue. *


**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.


*Dan Jangan lupa yah, dukunganyaπŸ₯° jangan Sinder.*


*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*


Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘


**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*


*Terima kasih**πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»*