
🌹 Happy Reading Gengs 🌹
“30 Triliun?”
“Aku rasa telingamu tidak tuli dalam mendengar harga yang aku sebutkan.” Ucap Brio tanpa perduli dengan reaksi dari pembeli tersebut.
“Tidak, lebih baik saya menggunakan ini sendiri, kalaupun alat ini palsu, kami akan mengejarmu.” Putusnya final. Dia merasa bahwa Brio sedang mempermainkannya saat ini.
Brio menampilkan senyum kecewanya, “Yahhhh, mengecewakan sekali,” serunya dengan wajah yang cemberut.
****
Setelah mendapatkan uangnya, akhirnya Brio keluar dari gudang tua itu sendiri, dengan menatap gedung tua itu, dia terlihat menggelengkan kepalanya pelan. “Sayang sekali, padahal aku bisa mendapatkan 50 Triliun.” Lirihnya pelan. Tapi dia merasa jika 20 Triliun sudah cukup untuk melanjutkan hidupnya.
Sedangkan di sisi lain, Jendra dan orang tuanya kini tengah menunggu dengan harap cemas, melihat Vita yang masih mengikuti beberapa rangkain therapy.
“Mengapa lama sekali?” Seru Jendra, sama sekali tidak sabaran, untuk melihat putri semata wayangnya kembali seperti sedia kala.
Vina dan Dyzon menggelengkan kepalanya pelan, karena Jendra sama sekali tidak bisa menunggu ataupun sabar, jika itu membahas masalah putrinya.
Tidak lama kemudian, mungkin sekitar menunggu dua jam lamanya, kini terlihat Dokter Amer yang keluar dari kamar Vita dengan penuh senyuman. “Bagaimana keadaan putri saya Dok?” Tanya Jendra, langsung tanpa berbasa - basi.
“Sepertinya saya sudah harus mengemasi barang - barang saya, karena saya sudah tidak dibutuhkan lagi di sini.” Ucap Amer dengan penuh dramatis.
“Maksudnya apa Dok?!!!” Sentak Jendra, merasa sedang dipermainkan.
“Amer!! Jangan pancing emosi orang yang sejak tadi tidak sabaran,” tegur Amer, dengan senyum yang tampil di wajahnya.
Sebagai Opa yang masih bisa mencerna kalimat dokter itu, sudah mengerti apa yang di maksudnya.
Amer tersenyum mendapatkan teguran seperti itu, “hal yang wajar Tuan Dyzon,” balasnya pelan, tanpa perduli jika di hadapannya ada seorang pria yang sedang menumbuhkan tanduknya.
“Papah,” suara dari dalan terdengar, membuyarkan seluruh emosi yang tadi sedang dikumpulkan oleh Jendra.
“Vita,” gumamnya, mengenali suara yang sedang memanggilnya itu.
“Papah,” panggil Vita lagi. Dan dengan sigap Jendra berlari masuk ke dalam kamar putrinya.
Di saat dia masuk ke dalam kamar, betapa terharunya dia melihat putrinya yang sedang duduk bersandar di sisi tempat tidur, dengan menampilkan senyum yang begitu manis. Walaupun wajahnya masih terlihat sangat pucat, tapi sungguh itu tidak mengapa, asal putrinya baik - baik saja.
“Vita anak Papah,” Jendra berucao, sembari melangkah mendekati putrinya.
“Papah,” sahut Vita, tanpa terasa tetasan air mata mulai membasahi pipinya.
Jendra dengan cepat, menangkup wajah putrinya, wajah yang beberapa minggu ini tetap setia dengan mata yang tertutup, kini telah terbuka dan kembali bisa menatap wajahnya.
“Terima kasih Tuhan, karena Engkau kembali memberikan putriku kembali, terima kasih Tuhan, karena Engkau sekali lagi, memberikan kepercayaan kepada seorang ayah yang sangat tidak berguna ini, untuk kembali merawat putri cantiknya ini. Hisk.”
“Vita, Papah sangat mencintaimu, kamu tahu itukan?!” Vita menganggukan kepalanya pelan, dengan air mata yang terus saja mengalir.
“Vita, Papah rela mengorbankan nyawa Papah untuk Vita, asal Vita berjanji sama Papah, jika Vita tidak akan pernah lagi seperti ini, Papah sayang Vita, Papah mencintai Vita, Papah tidak bisa hidup dengan baik, jika Vita tidak baik - baik saja.” Jendra berkata tulus dari dalam hatinya.
Dia memang merasa tidak pernah baik - baik saja, memikirkan nasib putrinya yang berada di ambang kehancuran.
“Papah,” lirih Vita pelan.
“Sudah sayang, Papah tidak apa - apa, yang terpenting sekarang, Vita sudah sama Papah, dan Vita sudah baik - baik saja, itu sudah sangat cukup untuk Papah.” Balas Jendra lagi.
“Lihatlah, putra kita menjadi terlalu banyak bicara sekarang,” ejek Dyzon, yang merasa cukup untuk melihat ke duanya dari jauh. Dia ingin memberikan ruang terlebih dahulu untuk putra dan cucunya, melepaskan kerinduan yang baru sempat terobati.
“Papah, wajar saja jika Jendra seperti itu, karena Vita satu - satunya anak yang dia miliki, serta cucu satu - satunya di keluarga kita, kehilangan Vita adalah suatu hal yang paling berat untuk kita apa lagi Jendra.” Sahut Vina, mengingatkan suaminya ini.
“Iya Mah, Papah paham sekali akan hal itu, makanya, Papah juga sangat marah ketika mendengar Vita diperlakukan sedemikian rupa, Papah juga heran, apakah mereka itu Batu, sampai bisa seperti itu.” Dyzon memendam amarah pada keluarga yang telah memperlakukkan cucunya sedemikian rupa ini.
“Mamah juga bingung Pah, mungkin karena kesalahaan yang kita lakukkan pada Vika, sehingga mereka membalas kita lewat Vita,” tungkas Vina dengan suara yang terdengar begitu lelah.
Tidak bisakah mereka hidup dalam kedamaian?, tidak bisakah mereka hidup tanpa ada masalah?.
“Sudahlah, Mamah mau masak makanan kesukaan Vita dulu, sebagai ucapan selamat atas pulangnya Vita lagi.” Seru Vina dengan antusias, dan langsung segera berlari ke dapur untuk menyiapkan makan malam keluarga.
Dyzon yang mendapatkan istrinya pergi tanpa bilang apa - apa, itu hanya tersenyum, dan kembali mengucapkan syukur, karena telah senyum yang sempat hilang itu telah kembali.
Tanpa Dyzon sadari, jika dokter Amer masih berdiri di sampingnya, “ehemm, tuan Dyzon.” Tegur Amer, mengejutkan pria tua yang sedang melamun itu.
“Ehh, kamu mengejutkan saja!!” Sentaknya, dengan memegangi jantungnya yang nyaris copot karena pria itu.
“Hehhehe, maafkan saya tuan Dyzon, tapi saya hanya ingin memberikan nomor rekening saya untuk merima pembayaraan.” Ucap Amer dengan memberikan sebuah kertas yang berisikan nomor bank miliknya.
Dyzon kembali terkejut, ketika mendapatkan tagihan dari dokter ini. “Jendra belum membayarmu?” Tanya Dyzon dengan suara yang pelan, dan kembali dengan gelengan kepala oleh Amer.
“Hish, anak ini,” umpat Dyzon, yang langsung mengeluarkan ponselnya untuk mentransfer uang pembayaran dokter Amer.
“Berapa yang harus saya transfer?” Tanya Dyzon dengan memperlihatkan ponselnya.
Amer yang tadi sempat merincikan harganya, langsung memperlihatkan pada Dyzon. “Tagihan untuk 5 hari, dan semua rangkaian Therapy, total menjadi 827 juta Tuan, di luar uang Tiket saya untuk balik ke Negara saya.” Ucapnya, semakin membuat Dyzon, menggarukkan kepalanya yang tidak gatal.
“Baiklah saya transfer yang ini dulu, untuk tiket nanti Jendra yang akan membookinhkannya.” Dyzon menuliskan angka, 830.000.000.00. Di dalam Mobil bangking miliknya.
“Saya bonusin 3 juta, sebagai tanda ucapan terima kasih, karena telah menyelamatkan cucu saya.” Serunya, lalu mengklik tanda Send.
“Terima kasih banyak Tuan, saya harap kalian semua sehat - sehat selalu,” balas Amer, dengan begitu santun.
Tidak lama kemudian, ponsel Amer berbunyi, menandakan uang yang masuk. “Baik, Tuan Dyzon, uangnya sudah masuk, saya akan mulai berkemas sekarang Tuan,” Amer, menundukkan kepalanya singkat, sebagai tanda penghormatannya, sebelum akhirnya dia pamit untuk meninggalkan keluarga ini, karena tugasnya telah selesai dengan sempurna.
*To Be Continue. **
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*
*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*
*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*