Partner Ranjang My Uncle

Partner Ranjang My Uncle
Partner Ranjang Chapter 29


🌹 Happy Reading ya Gengs 🌹


"Putramu menghamili anak orang," lapor Eden pada suaminya, karena dia tidak mau menutupi ataupun menyembunyikan kelakuaan bejad putranya.


"Apa?" tanya Mario, meyakinkan pendengarnya tidak salah.


Eden menghela nafasnya kasar menatap ke arah suaminya. Dia tidak mau sampai Mario malah membela apa yang dilakukaan oleh putranya.


Mendapatkan tatapan tajam seperti itu, Mario terdiam sejenak mendengar kalimat istrinya, dia tidak tahu ingin berkata apa. "Apakah kamu ingin membelanya?" tanya Eden dengan sinis.


Dengan cepat Mario menggelengkan kepalanya kuat, "aku tidak akan membela seseorang yang telah melakukaan kejahataan, karena aku memiliki anak perempuan dan aku tidak membenarkan apa yang telah Brio lakukaan saat ini." Tegas Mario, yang kini mulai menampakaan taringnya.


"Katakan! Siapa wanita itu Brio? Kamu jangan pernah, main-main dengan anak kamu sendiri," tandas Mario. Dia ingin segera meluruskan ini semua.


"Sayang, besok kita adakan pertemuan dengan keluarga Mezty, dan mau tidak mau pernikahaan ini harus batal." Mario memberikan perintah pada istrinya.


Eden menganggukan kepalanya pelan, tanpa penolakan dirinya segera keluar dari kamar Brio, untuk segera mengabari keluarga Mezty tentang pertemuan besok.


Saat ini, hanya tersisa Mario dan Brio yang berada di dalam kamar.


"Kamu yang mau mengatakaanya, atau daddy yang akan mencari tahunya?" tanya Mario sekali lagi, sangat nampak dari wajahnya jika dia sedang tidak bermain-main.


Brio menjadi gugup sejenak, dia merasa takut dengan daddynya, karena Mario tidak akan pernah mengampunin siapapun jika dia sedang marah.


"Dad, berikan aku waktu untuk mengatakan ini semua dad, please," pinta Brio, tetap memilih untuk tidak mau mengatakan siapa wanita itu.


Mario menggelengkan kepalanya pusing, merasa bodoh mempunyai anak seperti Brio.


"Daddy tidak akan pernah lagi memberikaanmu waktu Brio! Sudah cukup kamu membohongi kami selama ini, kamu pikir harga diri seorang wanita itu hanya untuk dipermainkan? Kamu pikir bayi yang dikandung oleh wanita itu tidak membutuhkan ayah? Atau kamu malah rela melihat anak kamu menganggap orang lain menjadi ayahnya? Begitu maksud kamu?" cerca Mario, yang terlah habis kesabaraan menghadapi putranya yang sangat kepala batu ini.


"Bukan begitu maksudnya dad-,"


"Lalu apa?"


"Intinya begini saja, daddy kasih kamu waktu satu minggu untuk membawa wanita itu ke sini, atau tidak bawa kami yang ke rumahnya, biar mommy sama daddy langsung melamarkannya untukmu." Ucapnya final. Tidak bisa diganggu ataupun dirubah.


Merasa sudah tidak ada lagi yang mau dibicarakan, Mario memilih untuk keluar dari kamar putranya, dan ingin melihat keadaan istrinya yang pasti saat ini sedang bersedih karena kelakuaan putranya.


****


"Kamu sudah menghubungi keluarga Meztykan sayang?" tanya Mario, ketika baru saja sampai di dalam kamarnya. Dan melihat istrinya yang sedang menatap sebuah bingkai foto besar yang terpajang di dinding kamarnya.


"Sudah 17 tahun Briell meninggalkan kita, coba saja dia masih ada di sini bersama kita, pasti dia yang akan memberikan pelajaran kepada adiknya yang begitu brengseek itu," lirih Eden dengan pelan, merasa sangat kecewa dengan prilaku putranya yang begitu menyakitkan harga dirinya sebagai seorang wanita.


Mario menghela nafasnya pelan, lalu mendekat ke arah istrinya kemudian memeluk tubuh mungil yang telah melahirkan tiga anaknya itu dengan begitu erat. "Sayang, semua kejadian ini, tidak bisa kita pungkiri, kecewa, marahpun sudah tidak akan pernah berguna, yang harus kita lakukaan sekarang adalah memaksa dan menuntu Brio agar mau tanggung jawab terhadap bayi yang dikandung oleh wanita itu, oke," ucapnya pelan, berharap istrinya itu bisa mengerti dengan keadaan yang sangat mengejutkan bagi mereka ini.


"Lebih baik kamu menelpon Brina, pastikan pengaman terhadap putri kita itu lebih baik, aku tidak mau kejadian seperti Briell terdahulu terulang kembali, karena kecerobohaanmu," seru Eden, dengan wajah yang masih menampilkan emosinya.


Merasa enggan untuk berpikir lagi, Eden memilih untuk segera naik ke atas tempat tidur, lalu memejamkan matanya membiarkan Mario dengan segala kesusahaannya.


*****


Bandara Soekarno hatta


"Kamu sudah siap berangkat sayang?" tanya Jendra, yang terlihat mengantarkan putrinya ke bandara.


Vita menganggukan kepalanya pelan, sambil memeluk tubuh papahnya. "Ponsel kamu sudah mati?" tanya Jendra lagi, benar-benar ingin memastikaan keselamataan putrinya.


Jendra tersenyum bahagia, ketika putrinya sudah bisa kembali tersenyum dan bercanda seperti dulu, sebelum pria itu datang dan menghancurkan hidup putri kesayanganya.


Dan bahkan sampai saat ini, Jendra masih terus berusaha untuk mencari tahu di mana keberadaan pria dan sahabat Vita itu. Dia berjanji bahwa semua kesakitaan putrinya pasti akan dia balas.


"Ya sudah sayang, cepat berangkat gih, nanti kamu malah ketinggalan pesawat," ujar Jendra lagi, pada putrinya yang masih sibuk dengan barang-barang yang ada di dalam tasnya.


Vita mencari buku yang kemarin dia tulis dan mempunyai gambar usgnya. Dia tidak mau jika buku itu sampai tertinggal dan ditemukan oleh papah atau omanya. Karena jika itu sampai terjadi, pasti nasibnya akan tamat saat itu juga.


"Ahh,dapat." Batinnya bahagia, ketika melihat buku itu sudah berada di dalam tasnya.


"Kamu kenapa sih sayang? Sedari tadi mencari barang, dan sekarang senyum-senyum sendiri," tegur Jendra, merasa aneh dengan sikap putrinya sedari tadi.


Dengan cepat Vita menggelengkan kepalanya pelan, tidak lupa senyum indah yang selalu merekah di bibirnya, agar bisa menyembunyikaan kesedihaan di dalam hatinya.


"Vita tidak apa-apa kok pah, hanya tadi Vita mencari lipstik kesayangan Vita dan akhirnya ketemu deh," jawabnya bohong.


"Oh, ya sudah kalau begitu. Sekarang semua sudah lengkapkan, pasport, ktp, ponsel,ticket? semuanya sudah ada kan?" Jendra benar-benar ingin memastikan bahwa putrinya tidak akan mendapatkan masalah selama penerbangannya nanti.


"Sudah pah, semuanya sudah lengkap kok, aman," sahut Vita, dengan menunjukan semua barang yang tadi papahnya sebutkan.


"Baiklah, nanti sampai di sana kabarin papah ya sayang," pesannya lagi, sebelum putrinya itu pergi.


"Siap bos." Jawab Vita dengan mengedipkan salah satu matanya.


"Vita berangkat dulu ya pah, hati-hati selama Vita di sana, papah jangan dekat-dekat sama sekertaris papah yang genit itu, oke," kali ini giliran Vita yang meninggalkan pesan untuk papahnya.


Jendra tertawa melihat sikap putrinya yang selalu saja possesif, bahkan setiap wanita yang dekat denganya selalu melewati seleksi ketat dari putrinya sendiri.


"Iya-iya, papah janji, papah gak akan tergoda sama sekertaris papah, apakah sudah tenang sekarang tuan putri?"


"Oke pah, tuan putri sudah tenang," balas Vita dengan cepat.


Cuppp, Vita mengecup singkat pipi papahnya, dan lalu berlari kecil masuk ke dalam bagian boording pass, karena panggilan pesawatnya sudah beberapa kali berbunyi.


"Bye-bye pah, i love you," teriak Vita, sambil melambaikan tanganya ke arah Jendra yang kini sudah jauh darinya.


"I love you more-more, putri papah," balas Jendra dengan berteriak sangat kencang. Bahkan dia tidak memperdulikan tatapan orang-orang sekitar yang mungkin menganggapnya tidak waras.


Vita tersenyum bahagia, lalu membalikkan tubuhnya dan kemvali berlari mengejar yang lainnya sebelum boording passnya ditutup.


*To Be Continue. **


**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.


*Dan Jangan lupa yah, dukunganyaπŸ₯° jangan Sinder.*


*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*


Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘


**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*


*Terima kasih**πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»*