
πΉ Happy Reading ya Gengs πΉ
Setelah seluruh rangkaian acara selesai, kini Vita dan Brio telah kembali ke kamar hotel mereka. Namun bedanya kamar ini telah dihias dengan sedemikian rupa.
Nampaknya di saat mereka melangsungkan acara tadi, para pelayan telah mempersiapkan ini semua, untuk mereka melakukan malam pertama.
"Brio, ini ada hadiah honey moon dari mommy dan daddy, apakah kamu ingin pergi?" Tanya Vita dengan lembut.
Brio yang kini sedang melepaskan jas yang sedari tadi dia kenakaan, langsung menatap Vita dengan tajam.
"What?" tanya Vita bingung, ketika mendapatkan tatapan seperti itu dari suaminya.
Vita yang merasa bahwa jawaban Brio pasti akan menolaknya, kini memilih untuk mengabaikan tatapan Brio, dan beralih untuk melepaskan semua riasan kepala yang berada di kepalanya.
"Aku sudah cukup sabar menahan semuanya Io, tapi ternyata kamu tidak bisa berubah," ucap Vita. Namun diabaikan begitu saja oleh Brio.
"Malam ini aku akan ke Jerman, kalau kamu mau ikut bersamaku, kita akan tinggal di Jerman," ucap Brio tiba - tiba, membuat Vita merasa terkejut, mendengar Brio yang tidak menepati perjanjian mereka untuk tinggal di Indonesia.
"Oh," jawab Vita singkat. Awalnya dia berharap untuk bisa mengambil hati Brio kembali. Namun sepertinya Brio benar - benar sudah menolak kehadirannya dengan bayinya. Maka untuk apa lagi mereka bersama?
"Aku tanya kamu mau ikut atau tidak?" sentak Brio, yang paling benci jika pertanyanyaan diabaikan begitu saja oleh Vita.
"Kita akan berpisah sekarang, aku mengambil jalanku sendiri, kamu mengambil jalanku sendiri, yang terpenting kita sudah menikah dan status anak aku juga sudah jelas, jadi kalau kamu mau pergi silahkan, mau tinggal ya syukur, karena aku gak akan pernah mau berbasa basi lagi dengamu," jawab Vita, sontak membuat Brio membulatkan matanya besar.
Dia mengira bahwa Vita sudah berubah menjadi gadis yang akan selalu tunduk dengan perkataanya, tetapi pada kenyataanya, Vita tetaplah Vita yang tetap keras bagaikan batu.
"Wow, ternyata kamu licik juga ya, di depan semua orang kamu bersikap ramah dan baik, ternyata sekarang kamu kembali seperti dulu," tawa Brio kini mulai terdengar dipendengaran Vita. Membuat Wanita itu merasa merinding dengan keadaan saat ini.
"Aarrgghhh," jerit Vita, ketika Brio tiba - tiba mencengkram keras lehernya hingga dirinya tidak bisa bernafas sama sekali.
"Io-Io," lirih Vita, sambil memukuli tangan Brio agar terlepas darinya.
"Hahahahah, apakah kamu pikir, akan begitu mudah untuk lepas dariku ha?" Brio benar - benar murka, di saat mendengar kalimat Vita yang mengajaknya untuk berpisah.
"Io, ak--ak-aku ham--il Io," lirihnya mengingatkan suaminya jika dia sama sekali tidak bisa bernafas begitu juga dengan bayinya.
Akhirnya Brio tersadar dan langsung melepaskan cengkramaanya begitu saja. "Siapkan barang - barangmu, aku ingin kita menetap di Jerman, dan malam ini juga kita akan berangkat," perintah Brio, dan segera melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Sedangkan Vita, yang merasa begitu sakit dengan perbuatan Brio yang semakin lama semakin kelewatan batas.
"Kuat sayang, kuatkan mommy," ucapnya sambil mengusap lembut perutnya.
Namun, mau sekuat dan seberusaha apapun dia menahan luka di dalam hatinya, air mata yang memaksa untuk keluar itu, kini menjadi saksi betapa hancurnya kehidupan indah yang dia miliki.
Entah apa sebenarnya dosa yang dia lakukaan di masa lalu, hingga Tuhan memberikannya cobaan sedemikian rupa.
Menyadari tangisnya yang sudah begitu lama, Vita segera menghapusnya dan beranjak berdiri dari posisinya. "Aku harus cepat membereskan barang - barang sekarang, aku tidak ingin dia marah lagi dan malah akan menyerang baby V," lirihnya pelan, dan bergegas untuk menyiapkan barang miliknya dan juga milik suaminya.
Cklekkk, pintu kamar mandi terbuka, dan memperlihatkan Brio yang baru saja selesai dengan ritual mandinya, "di mana pakaianku?" tanya Brio pada Vita. Tanpa memperlihatkan raut wajah bersalah dengan apa yang terjadi tadi.
"Pakaian?" tanya Vita bingung.
Brio yang tidak ingin berdebat, kini beralih ke arah kopernya dan mengambil bajunya sendiri. "Lain kali mata kamu gunakaan untuk melihat!" Ujarnya dengan sinis.
Vita kembali menundukan kepalanya takut, dia sangat merasa takut kepada Brio saat ini, mengingat perbuatan yang tadi dilakukaan oleh pria yang berstatus suaminya ini.
***
Setelah kurang lebih memakan waktu hingga dua jam lamanya, akhirnya pasangan pengantin baru itu terlihat telah siap untuk berangkat pindah ke Jerman.
Namun yang ditanya hanya diam saja, tanpa ingin mejawab apapun.
"Brio," panggil Vita lagi.
"Brio, bisakah kamu menjawabku?" tanya Vita untuk ke sekian kalinya. Akan tetapi Brio terus saja diam sambil menatap layar ponselnya.
"Selama di Jerman, jangan pernah menggunakan nama Vita!" Ucapnya pada Vita.
"Maksud kamu apa?" sahut Vita, sama sekali tidak mengerti arah pembicaraan dari suaminya.
"Aku sudah membatasi semua pergerakan kamu Vit, kita akan pergi dari keluarga besar, dan hidup sendiri di Jerman! Jangan pernah kamu menghubungi keluarga dan terutama papah kamu! Apakah kamu mengerti?!" Tegas Brio pada Istrinya.
Vita tertawa mendengar kalimat perintah yang dikeluarkan Brio. Semua permintaan pria ini terdengar sangat - sangat tidak masuk akal.
"Kamu pikir kamu siapa bisa memerintahku seprti itu! Aku punya keluarga, aku punya papah dan aku punya mamah, aku bukan anak yang tega meninggalkan orang tuanya dan membuat mereka khawatir," Dengan tegas Vita menolak keinginan Brio yang tidak akan pernah dia turuti.
Dengan perasaan kesal, Vita berganti jalur, dan berlari menjauh dari Brio. "Kejar dia!" Perintah Brio kepada seluruh anak buahnya.
Vita begitu berusaha berlari dengan kencang, bahkan dia meninggalkan kopernya begitu saja, dia takut jika dengan pelarian mereka ke Jerman, Brio akan nekad kembali membunuh bayinya.
"Vita," teriak Brio, yang ikut mengejar istrinya.
Vita terus berlari dengan kencang, dia tidak ingin sampai benar - benar dibawa pindah oleh Brio.
Jika awalnya dia mengira jika Brio akan membawanya hidup bahagia di Jerman, maka semua itu salah. Karena jika Brio ingin hidup dengannya secara baik - baik, maka suaminya itu tidak perlu sampai harus menyembunyikaan identitas apa lagi harus mengganti nama.
Apa lagi, Vita jelas mengingat bahwa mereka berangkat tidak menggunakaan pasport. Karena di saat sebelum pernikahaan Vita menitipkan semua dokumen pentingnya pada mamahnya.
"Damnn it! Vita kembali kamu!" teriak Brio lagi. Dia begitu khawatir jika Vita malah akan berlari pulang ke rumah ataupun ke hotel, tempat semua keluarga mereka berkumpul.
"Aarrggghhh," teriak Vita, ketika Brio berhasil mendapatkan tanganya.
"Lepaskan aku!"
"Berani sekali kamu kabur dariku ha?!"
Plaaaakkkk,,plaaakkkk, Brino menampar Vita berulang kali, karena telah berani mempermainkan dirinya.
"Hiskkk,,hiskk, lepaskan aku Io, lepaskan aku!" Vita memohon dengan sangat kepada Brio, agar tidak membawanya pergi dari sana.
Bugghh, Brio memukul tengkuk leher Vita, hingga istrinya itu terjatuh pingsan dan memudahkaannya untuk membawa wanita yang sangat merepotkan itu.
"Siapkan perbangan sekarang! Kalian tunggu apa lagi!" Gertaknya pada seluruh anak buahnya yang sangat tidak berguna. Hampir saja dia kehilangaan jejak istrinya. Kalau tidak akan habis riwayatnya saat itu juga.
*To Be Continue. **
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***ππ»ππ»* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
*Dan Jangan lupa yah, dukunganyaπ₯° jangan Sinder.*
*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**π*
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **πLike,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****ππ
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***πππ*
*Terima kasih**ππ»ππ»*