
🌹 Happy Reading Gengs 🌹
“Memangnya aku harus izin dan bicara sama kamu jika aku sholat?” Pertanyaan Langit, yang berhasil membuat Vita salah tingkah. Benar yang dikatakan oleh Langit, bahwa tidak semua kegiatan yang laki – laki ini lakukan, harus mendapatkan izin darinya, dan dia juga tidak wajib mengetahuinya.
“Maaf,” ucap Vita dengan lesuh, karena dia tahu, bahwa dirinya tidak bisa terlalu banyak ikut campur di dalam kehidupan Vita.
“Enggak apa – apa Vita, lagian sekarang kamu sudah tahukan, kalau kita itu berbeda.” Ucap Langit dengan begitu lembut pada Vita.
Dengan anggukan kepalanya yang begitu lemah, Vita tersenyum sinis menatap ke arah Langit yang mulai menggengam jemarinya.
“Langit, malu ihh, diliatin orang,” seru Vita, dan segera ingin menarik tanganya dari gengaman Langit.
Namun bukannya melepaskan, Langit malah terlihat lebih mengeratkan gengaman tersebut.
“Kamu tidak akan menjauhi akukan Vita?” tanya Langit dengan serius.
Vita tidak tahu apa yang jawaban yang tepat untuk pertanyaan dari crushnya ini.
“Vita, aku tahu, mungkin saja benteng penghalang kita terlalu besar dan kuat untuk bisa aku hancurkan. Tetapi aku yakin kita pasti akan mampu melewatkannya,” seru Langit kembali.
“Aku percaya Tuhan itu memang hanya satu, dan dengan keyakinan kita yang berbeda ini, kita akan tahu caranya untuk bagaimana kita mempertahankan hubungan kita, sampai suatu hari nanti akan ada yang mengalah di antara kita ini.” Sambungnya lagi.
Vita merasa sedikit ragu dengan kalimat yang dikatakan oleh Langit, “bagaimana, jika hati kita sudah terikat satu sama lain, tetapi masih tidak ada yang mau mengalah di antara kita?” tanya Vita pada Langit. Dia ingin tahu, apakah laki – laki ini benar – benar mencintainya, dan siap mengalah untuk hubungan mereka? Atau malah dia akan meninggalkan Vita demi keyakinannya.
“Hal yang belum terjadi, jangan pernah langsung menebak hal ke depannya nanti akan seperti apa, kita jalani saja semuanya sampai takdir Tuhan benar – benar akan menyatukan kita.” Jawab Langit. Yang sekaligus menjadi akhir dari pembahasaan mereka.
Dan mulai sejak saat itu, hubungan mereka terlihat baik – baik saja, hingga di saat mendekati tahun kelulusan barulah hubungan mereka terhendus oleh Jendra, yang sudah lebih dulu mencari tahu tentang Langit.
***
“Tidak boleh!” Sentak Jendra dengan begitu lantangnya, ketika Vita kembali meminta izin untuk mendaki lagi dan lagi.
“Pah, kenapa tidak boleh pah? Selama ini Vita mendaki aman – aman aja, dan papah pun juga mengizinkannya, lalu kenapa sekarang papah berubah pikiran pah?” protes Vita, yang paling tidak menyukai, ketika papahnya harus menghalangi kegiatan yang dia sukai.
“Oma, jangan diam saja oma, bilang sama papah untuk mengizinkan Vita pergi oma,” pintanya pada Vina, agar mau membantunya untuk membujuk Jendra.
“Vita,” bentak Jendra untuk yang pertama kalinya. Dia terlalu marah dengan putrinya yang terus saja memaksakan kehendaknya.
“Papah tahu, tujuan kamu itu sebenarnya bukanlah karena sebuah hobby melainkan karena pria yang bernama Langit itukan,” seru Jendra tepat sasaran.
Vita sendiri tidak menyangka kenapa papahnya ini bisa tahu tentang Langit, padahal selama di sekolah, Vita dan Langit tidak seberapa memperlihatkan kedekataan mereka.
“Papah tau dari mana tentang Langit?” tanya Vita dengan mulai merendahkan suaranya. Dia merasa takut jika papahnya mengetahui semua tentang pria itu.
“Tidak penting papah tahu dari mana Vit, yang jelasnya satu yang harus kamu tahu, jika papah tidak mau kamu dekat dengan dia apa lagi sampai jatuh cinta dengannya.” Tegas Jendra yang membuat Vita langsung membulatkan matanya besar.
“Papah Jahat,” lirihnya dengan pelan.
“Jendra, sebenarnya apa yang terjadi, kenapa kamu sampai harus membentak Vita seperti itu?!” Seru Vina, yang merasa tidak terima ketika Jendra telah melukai perasaan cucunya.
“Mah, mamah tidak akan pernah tahu, kenapa sampai aku melarang dia berteman dengan si Langit – Langit itu,” seru Jendra yang sedikit memegang kepalanya yang terasa mulai pusing.
“Karena apa? Kalau kamu tidak memberitahu mamah, bagaimana bisa mamah tahu semuanya.” Tanya Vina lagi.
“Itu karena mereka berbeda keyakinan mah,”
“Terus masalahnya di mana Jendra? Begitu banyak teman Vita yang muslim dan bahkan dari agama lainnya, dan kenapa baru sekarang kamu mempersalahkannya? Jangan jadi Rasis kamu Jendra.” Sahut Vina, merasa tidak mengerti dengan arah pembicaraan putranya.
“Mah Jendra bukan Rasis, dan Aku sendiri tidak akan pernah melarang Vita untuk berteman dengan siapapun dan dari agama manapun, jika tidak Vita jatuh cinta dengan pria itu.” Tungkas Jendra dengan sedikit meninggikan kembali suaranya.
“Mamah tahukan, Vita tidak akan pernah bermain – main di dalam kehiduapannya. Mereka sudah lama menjalin hubungan walaupun itu tidak pacaran, tetapi jika terus dibiarkan, aku takut jika Vita lebih memilih pria itu dibandingkan keluarga dan Tuhannya sendiri mah.” Vina terdiam sejenak memikirkan apa yang baru saja disampaikan oleh putranya.
Dan barulah kali ini dia mengerti jika apa yang dilakukan oleh Jendra saat ini pastilah yang terbaik untuk mereka semua.
***
“Papah sudah menyiapkan berkas – berkasmu, besok lusa kamu akan pindah dengan papah ke Jerman,” ucap Jendra di saat mereka tengah melakukan makan malam bersama.
Vita sudah tahu bahwa hal ini pasti akan terjadi, sehingga dia lebih baik memilih diam dari pada papahnya ini harus memberikan sebuah pilihan yang tidak akan pernah dia bisa menjawabnya.
“Apakah keputusanmu sudah yakin Jendra?” tanya Dyzon. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana kehidupan mereka jika Vita benar – benar tidak tinggal dengan mereka.
“Pah, ini adalah yang terbaik untuk kita semua, dan kalau papah dan mamah mau bertemu dengan Vita, kalian bisa datang ke Jerman,” ucap Jendra lagi, membuat Dyzon dan Vina hanya bisa terdiam mendengar keputusan dari putra mereka.
Sedangkan Vita, lagi – lagi langsung menghentikan kegiatan makannya dan pergi meninggalkan meja makanya begitu saja.
Jendra sampai harus menghela nafasnya kasar, ketika dirinya terlibat perang dingin dengan anaknya seperti saat ini.
*To Be Continue. **
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*
*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*
*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*