
πΉ Happy Reading ya Gengs πΉ
"Papah mau bagikan bunga sama semua pasangan di kota ini?" tanya Vita, meyakinkan sedikit perintah papahnya itu.
Jendra menganggukan kepalanya pelan, karena dirinya begitu yakin.
"Inikan bukan hari valentine pah," protes Vita, merasa sangat aneh dengan keinginan papahnya.
"Memangnya di dunia ini kalau mau bagi bunga, harus hari valentine saja?"
"Itu buktinya gebetan kamu bisa ngasih bunga sampai sedemikian rupa banyaknya, gak pakai hari valentine tuh," sindir Jendra, yang seketika membuat Vita terdiam.
Vina dan Dyzon sudah lebih dulu melangkahkan kakinya untuk pergi ke meja makan, entah sudah berapa kali pelayan mereka memanaskan makanan tersebut karena menunggu mereka yang begitu lama.
Bahkan Jendrapun terlihat menyerahkan semua keputusan pada putrinya, mau dibawa kemana semua bunga-bunga itu.
Merasa terdesak, akhirnya Vita memilih untuk menyerahkan keputusan pada papahnya lagi. Dia tersenyum lalu menghela nafasnya panjang di depan papahnya.
"Hufft, okelah pah, terserah papah saja, mau berbuat apa dengan bunga-bunga ini," ujarnya, sambil terus memperhatikan bunga-bunga tersebut. Tak lupa dirinya mengambil satu untuk menjadi bukti pada pria gila itu.
Setelah itu barulah keduanya ikut bergabung dengan yang lainnya untuk melakukan makan malam yang tertunda.
-
Ke-esokan harinya.
Vita yang dari semalam tidak bisa tidur, karena terus kepikiran dengan pesan-pesan Brio. Kini pagi-pagi sekali dia memilih untuk mengunjungi pria itu di kantornya.
Dengan menggunakan masker wajah, face slide dan juga kaca mata hitam, Vita memasuki kantor kekasihnya, ciee bilang aja gitu ya, biar dia senang.
Walaupun penuh drama yang sangat memuakkan ketika dirinya ditahan masuk oleh satpam yang berada di luar, Vita tetap saja menampilkan wajah dinginnya tepat dihadapan semua orang.
Bahkan aura dingin itu benar-benar terasa hingga sekelilingnya juga ikut merasakan takut dengan aura wanita yang tengah berjalan dengan angkuhnya.
"Kenapa wajahnya ditutup seperti itu? Apakah kekasih dari CEO kita ini cacat, hingga haru sedetail itu menutup wajahnya," bisik-bisik salah satu karyawan di sana.
Vita yang paling benci ketika ada yang menghina fisik seseorang, kini langsung menelpon Andrew untuk segera datang ke tempatnya saat ini.
Para karyawan yang tadi menghinanya itu terlihat kembali saling berbisik, dan bahkan memandang sinis ke arahnya.
Namun tatapan Vita kini jatuh ke arah pria yang saat ini tersenyum kepadanya. "Sayang," tegur Brio, ketika melihat Vita yang mengalihkan wajahnya ke arah lain.
Brio memeluk posessif pinggang ramping milik Vita, ingin mengatakan pada semua orang bahwa wanita dihadapaanya ini adalah kekasihnya.
Vita melihat ke arah Andrew yang sedang berdiri dibelakang tubuh Brio. "Andrew," tegur Vita, seakan-akan sudah biasa memerintahkan pria itu.
Tanpa bantahan, Andrew langsung menganggukan kepalanya hormat, dan mengikuti semua permintaan dari nona barunya tersebut.
Brio yang tidak tahan berlama-lama melihat wajah Vita yang tertutup rapat dengan semua atribut itu, terlebih lagi baju Vita yang mengekspos bahu mulus milik wanitanya, langsung mengendong Vita untuk segera masuk ke dalam ruanganya.
-
Sesampainya di ruangannya, Brio segera membantu Vita untuk melepaskan masker, face slide dan juga kaca mata hitam yang sedang digunakan oleh Vita.
Brio tersenyum puas, ketika sudah bisa melihat wajah cantik milik Vita, yang sudah hampir 83 jam ini dia tidak pernah melihatnya.
"Sayang," ucap Brio, sambil mengulur tanganya untuk menyentuh wajah cantik Vita.
Namun dengan gerakan kasar Vita menepisnya dan berusaha lepas dari pelukan Brio.
"Apa kamu pikir, setelah apa yang sudah kamu lakukaan kepadaku, dengan begitu mudahnya aku akan memaafkaan kamu."
"Semua yang telah kamu lakukaan itu bahkan tidak bisa dicerna oleh akal sehat manusia, kamu memakaiku di depan para pilot dan pramugari yang jelas bisa melihat tubuhku, kamu memukulku, kamu memenjarakan papahku hanya karena sebuah kasus yang tidak dia lakukaan, kamu membuat opa aku hampir meninggal, apakah menurutmu masih pantaskah kamu untuk dimaafkan?" Vita benar-benar tidak habis pikir dengan pikiran pria ini.
Bagaimana tidak? Apa bisa seorang pria toxic yang bahkan selalu menggunakan kekerasaan setiap memarahinya, kini berubah drastis hanya karena tiga hari tidak bertemu. Memang masuk akal jika dipikir, tetapi berbeda dengan Vita yang merasa bahwa ini adalah bagian dari permainan Brio.
"Vita, aku tahu aku banyak sekali kesalahaan, dan mungkin kamu gak akan pernah maafin aku, tapi gak ada salahnya jika kamu memberikaanku satu saja kesempatan aja, aku janji akan berubah, aku akan menjadikanku kekasihku bukan hanya sekedar partner ranjang."
"Karena apa?" tanya Vita, mencela kalimat Brio.
"Maksudnya?"
"Karena apa kamu mau melakukaan ini semua sama aku? Untuk apa kamu memintaa maaf dengan aku setelah kejadiaan ini semua," sentak Vita dengan penuh emosi. Dia ingin meluapkan segala emosi dan amarahnya karena ulah Brio selama ini.
Brio langsung menggenggam tangan Vita dengan erat, lalu mengcup punggung tangan itu dengan lembut.
"Aku tau aku salah, dan aku janji aku berubah Vita, kesalahan tidak akan pernah bisa kita sadari sebelum kita tahu, jika kita tidak mendapatkan teguran atas rasa kehilangan serta penyesalaan, Vita-."
"Cukup Brio! Kamu sangat tahu, aku bukanlah sebuah sepatu yang kamu bisa pakai dan menggunakaanya kapanpun dan di manapun kamu mau, sedangkan di saat kamu bosan, kamu memilih menggunakan sepatu atau sendal lainnya dan menyimpanku begitu saja."
"Aku wanita, juga mempunyai perasaan, kamu gak pernah mikir, bagaimana perasaan papah aku atau mamah aku, ketika kamu memperlakukaanku seperti seekor binatang yang tak pantas-" Brio langsung meletakaan jarinya di bibir sexy milik Vita. Dia tidak ingin jika wanita itu terlalu berpikir panjang saat ini.
"Vita, setiap manusia pasti pernah melakukaan kesalahaan, contohnya papah kamu."
"Bukankah, papah kamu itu pernah meningglkan dan bahkan menyuruh mamah kamu untuk melenyapkan kamu di saat masih dalam kandungan, lalu membiarkan kalian hidup tanpanya hingga sepuluh tahun lamanya, aku rasa setiap manusia, berhak mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki diri untuk menjadi keperibadian yang lebih baik. Dan jika kamu saja bisa memaafkan papah kamu, gak ada salahnya jika kamu juga memaafkan aku Vita." Brio benar-benar menggunakan kelemahaan rahasia keluarga Vita untuk memperdaya wanita itu lagi.
Dia sendiri tidak bisa memahami, apa keinginan dia saat ini, entah itu perasaan cinta maupun perasaan sayang yang tumbuh di dalam hatinya. Yang dia tahu saat ini hanyalah keinginannya untuk bersama dengan Vita, menjadi satu untuk selamanya.
Vita terlihat berpikir sejenak, untuk menimang-nimang keputusaan apa yang akan dia ambil. Memang tidak salah jika dia memaafkan Brio, hanya saja dia masih belum yakin dengan ketulusaan pria yang sedang berlutut dihadapannya saat ini, mengingat betapa kejamnya perlakuaan Brio kepadanya kemarin.
"Pleasee Vita, satu kali aja kesempatan, aku janji akan menggunakan kesempataan ini dengan sebaik mungkin dan gak pernah mengecewakan kamu," Janji Brio pada Vita.
Dan di saat dirinya tengah berpikir, dua mahluk ajaib itu kembali muncul lagi tanpa tahu dari mana.
Iblis : Vit, kamu jangan mau diperdaya lagi sama cowok brenggseek itu. Serius deh dia itu hanya mau mempermainkan kamu aja.
Malaikat : Vita, gak ada salahnya kamu memberikan kesempataan untuk memperbaiki semua. Ingat Tuhan saja maha pemaaf masa kamu enggak sih.
Iblis : ehh Vita, serius deh, jadi cewek itu jangan mau lemah, tunjukan bahwa kamu juga bisa menjajah laki-laki. Jangan digoda dikit udah meleleh.
Malaikat : Vit, udah gak usah dendam-dendam, lebih baik saling memaafkan, untuk urusan hati, itu akan berjalan dengan sendirinya.
-
Vita terus menimang-nimang pendapat dari mahluk astral tak kasat mata, namun bersuara itu.
"Baiklah, aku akan memaafkanmu, tapi jika kamu ulangin lagi, maka sudah tidak ada kesempataan untuk kamu. Ingat itu!" jawab Vita dengan menggunakan seribu ancaman pada Brio.
Cuuup, Brio langsung mengecup singkat bibir tebal dan sexy itu. "Terima kasih sayang, aku janji gak akan mempermainkan kamu ataupun bertindak Toxic sama kamu lagi." Janjinya untuk kesekian kali.
Flashback off
*To Be Continue. *
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***ππ»ππ»* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
*Dan Jangan lupa yah, dukunganyaπ₯° jangan Sinder.*
*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**π*
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **πLike,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****ππ
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***πππ*
*Terima kasih**ππ»ππ»*