
πΉ Happy Reading ya Gengs πΉ
Saat ini terlihat keluarga besar Jonathan tengah melakukaan makan malam bersama. Tak ketinggalan Mezty yang juga berada di antara mereka.
"Brio, Mezty, pertunangan kalian sudah lama berlangsung, kapan kalian akan menikah?" tanya Mario yang penasaraan dengan jawaban putranya, setelah perselingkuhaanya sudah terendus oleh Mario dan Eden kemarin.
Brio hanya diam, karena enggan untuk menjawab pertanyaan yang sama sekali tidak berniat dia lakukan.
Sedangkan Mezty kini juga ikut diam membisu, tanpa tau nasib dirinya kedapan nanti.
"Brio," tegur Eden, agar anaknya itu segera menjawabnya.
"Aku gak berminat untuk menikah," jawabnya dengan santai. Membuat Eden dan Mario hanya bisa menghela nafasnya panjang.
"Kalau begitu, biarkan mommy yang mengatur pernikahaan kalian, dua minggu lagi, pernikahaan itu harus terjadi," tegas Eden tanpa ingin dibantah.
Lagi dan lagi, Brio tidak menanggapinya, dia hanya sibuk dengan makanannya dan ponselnya. Yang diketahui dia sedang chatinggan bersama dengan Vita.
"Brio, bisakah kamu bersikap sopan dengan mommymu?" seru Mario, selalu merasa kesal dengan putranya ketika mengabaikan kalimat istrinya.
Dengan gerakan santai, Brio mengambil minumnya, membuat Eden dan Mario menunggu jawaban putranya yang sangat susah diatur ini.
Selesai minum, Brio kini mulai terlihat fokus menatap mommy dan daddynya. "Kalau kalian bisa mengambil keputusan sendiri, lalu kalian tanya aku untuk apa?" ucapnya membuat kedua orang tuanya terdiam seketika.
"Aku sudah memiliki kekasih, dan dia jauh lebih baik dari pada Mezty," ungkapnya jujur, tanpa perduli dengan perasaan wanita yang berada di sebelahnya itu.
Mezty yang sedari tadi berada di sebelah Brio itu, kini tersenyum kecut mendengar penuturan dari tunanganya itu. Sebegitu rendahnya harga dirinya hingga dipermalukan seperti ini.
Kalau masalah perasaan, jujur Mezty sama sekali tidak mencintai Brio, hanya saja mahkota kehormatan yang telah diambil oleh pria ini, apakah tidak ada harganya sama sekali.
"Daddy tidak tahu siapa wanita itu Brio, karena Daddy sudah berusaha mencari tahu tentangnya, namun sepertinya janu begitu cerdik, hingga lebih dulu menyembunyikan identitasnya." Sindir Mario, namun sama sekali tidak membuat Brio gentar dengan keputusaan yang dia ambil.
Seketika terdengar ponsel Brio yang berdering, Dan pria itu langsung mengangkatnya.
Membuat Eden dan Mario saling menatap satu sama lainnya melihat sikap Brio yang berubah.
Pasalnya ketika mereka menelpon, Brio tidak akan pernah mau mengangkatnya, dan membuat mereka harus menelpon Andrew asisten putrnya. Sedangkan ini baru pertama kali mereka melihat Brio memainkan ponselnya selain game. Dan parahnya pria itu mengangkat panggilan telpon yang baru saja bardering.
"Brio kamu mau kemana," teriak Eden, dan langsung menarik tangan putranya agar tidak pergi.
Brio mengusap wajahnya kasar, dan menatap ke arah mommynya dengan bingung. "Mom, aku harus pergi sekarang, aku ada urusan mendadak mom," izinya pada mommy Eden.
"Tidak Brio, kamu harus tetap di sini! Mommy dan Daddy tidak datang ke sini setiap hari, tetapi sekarag kamu lebih mementingkan wanitamu itu."
"Lihat! Di sebelah kamu saat ini adalah tunangan kamu, calon istrimu, tetapi kenapa kamu malah bersikap seperti itu," bentak Mario, yang masih harus terus berusaha menahan kesabaraan menghadapi putranya ini.
Brio menggaruk kepalanya pusing, masalahnya ini bukan hal sepele yang harus dia urus. Tetapi ini adalah masalah Vita yang menurutnya sangat penting.
"Mom, Dad, please, nanti aku akan menjelaskan kepada kalian, tapi sekarang biarkan aku pergi dulu," pintanya untuk dimengerti.
Seminggu belakangan ini, hubungan antara Brio dan Vita memang mulai membaik. Walaupun Vita masih acuh kepadanya, setidaknya Brio masih ingin menunjukan jika dirinya tidak lagi akan menyiksa Vita.
Mario dan Eden kini tidak mempunyai pilihan lain, ini sangat-sangat membuatnya begitu penasaraan apa yang tengah disembunyikan oleh Brio.
Setelah mendapatkan izin dari orang tuanya, Brio langsung bergegas untuk keluar rumah untuk menemui Vita.
Sedangkan Vita yang sedari tadi berada di lokasi syuting, kini meminta izin sebentar untuk keluar bersama dengan Brio.
"Aku di depan," ucap Brio pada panggilan telpon.
Sesampainya di dalam mobil, Vita langsung memeluk Brio begitu saja. Hilang semua rasa amarah yang bersarang di dalam dirinya karena ini semua.
"Kita tes ulang, mungkin saja hasilnya salah, aku tadi di jalan sudah membeli sepuluh brand yang berbeda, kamu bisa mencobanya," pinta Brio yang terdengar lembut namun tegas.
Vita menatap mata Brio dengan menampilkan rasa lukanya, dia tidak tahu harus bertindak apa saat ini.
"Aku tadi sudah tes Io, dan semua hasilnya sama, kamu pikir aku bohong? Tadi aku juga sudah foto dan kasih tunjuk ke kamu Io, aku hamil," tangisnya kembali pecah, dan membuat keadaan semakin kacau.
Terlebih lagi dengan Brio, dia yang mengaku ingin berubah, sangat tidak mungkin jika dirinya menolak kehamilan Vita. Yang ada bukannya membaik hubungan mereka malah semakin hancur.
"Gak ada salahnya kita coba lagi Vit, bisa jadi aja semuanya rusak," sahutnya santai. Vita tidak habis pikir dengan apa yang ada di dalam otak Brio.
Rasa acuh di dalam dirinya bahkan kembali terulang pada darah dagingnya dia sendiri.
"Oke, kita lakukan tes lagi dan aku akan melakukaannya di depan mata kamu," balas Vita, merasa muak dengan tuduhan Brio yang sama sekali tidak beralasan.
Mereka berdua turun dari mobil, dan mengarah ke dalam toilet di dekat sebuah hotel besar.
Brio dengan sabar menunggu Vita yang sedang melakukaan tes di dalam.
Ckllleekk, pintu terbuka lebar dan menampilakan Vita yang tengah beruraian air mata lalu memperlihatkan semua alat testpack yang positif.
Brio menarik nafasnya dalam, dia memang ingin memperbaiki hubungan bersama dengan Vita, namun bukan berarti dia siap menjadi seorang ayah sebelum hubungan mereka sudah benar-benar membaik.
"Sekarang harus bagaimana? Aku harus mengatakaanya pada papah Io, aku takut," lirih Vita dengan pelan. Dia tidak tahu harus bagaimana sekarang.
Beruntung Brio berjanji akan berubah, membuat sedikit rasa takut di hatinya berkurang.
"Apa kamu bodoh? Ini adalah aib kita Vit, dari awal aku udah bilang jangan hamil kenapa kamu hamil,. Argghh," Brio terlihat sangat emosi, sehingga tanpa sadar dia melayangkan tangan dan ingin sekali menampar Vita lagi. Namun dia berusaha menahaanya agar tidak membuat suasana semakin runyam.
"Kamu mau apa? Mau tampar, silahkan tampar aja, aku dari awal itu udah yakin kalau kamu gak akan pernah berubah, apa lagi sampai tanggung jawab," tandas Vita, merasa muak karena terbodohi oleh Brio.
"Enggak gitu Vit, aku hanya ingin memperbaiki hubungan kita bukan berarti aku harus menerima bayi ini," sahutnya lagi tanpa perasaan bersalah sama sekali.
Vita memandang benci ke arah Brio, merasa sangat percuma dia memberitahu Brio tentang masalah ini. Karena sekali pecundang tetaplah pecundang, Brio tidak akan pernah mau tanggung jawab atas janin yang ada dikandunganya.
"Terserah kamulah Brio, ini anak kamu dan aku, jadi semua adalah keputusan kamu ingin mempertahaankan bayi ini atau tidak," tegas Vita lagi, dan membuat keadaan semakin tidak terkendali.
"Aku mau bayi ini hilang, aku tidak mau bayi ini, kita harus menggugurkannya, itu harus," keputusan Brio sudah matang.
Sontak saja Vita terdiam mendengar keputusaan Brio terhadap bayi mereka, Akan tetapi ini adalah jalan terbaik untuk mereka, dari pada harus terikat dalam sebuah hubungan yang tidak pernah mereka inginkan.
**To Be Continue. *
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***ππ»ππ»* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
*Dan Jangan lupa yah, dukunganyaπ₯° jangan Sinder.*
*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**π*
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **πLike,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****ππ
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***πππ*
*Terima kasih**ππ»ππ»*