Partner Ranjang My Uncle

Partner Ranjang My Uncle
Partner Ranjang Chapter 77


🌹 Happy Reading Gengs 🌹


Setelah perdebatan antara Khanza dan Brio berlangsung, kini akhirnya perdebatan dimenagkan oleh Brio yang sejak tadi memaksa Khanza untuk ikut bersamanya.


Namun dengan syarat, Brio harus menyelesaikan cucian piringnya selagi menunggu Khanza selesai bersiap - siap.


**


“Khanza,” teriak Brio, memanggil wanita itu, yang masih sibuk saja dengan dandannya.


“Iya sebentar,” sahut Khanza dari dalam kamarnya.


Brio merasa begitu kesal, karena tadi Khanza duluan yang masuk dan bersiap - siap, bahkan dia sudah begitu lama menghabiskan waktu untuk mencuci piring, namun tetap saja dirinya yang duluan siap.


“Ayo, aku sudah siap.” Ajak Khanza yang baru saja keluar dari kamarnya.


Brio yang sebenarnya sudah malas berangkat, kini terpaksa mengikuti langkah Khanza yang sudah berada di pintu.


“Ayo cepat Brio! Ini sudah jam 2 siang, aku tidak mau terjebak macet nanti ke arah Bogor!” Maki Khanza, ketika melihat langkah Brio begitu lambat mengikutinya.


“Cikh, padahal dia yang menghabiskan waktu banyak untuk berdandan tadi.” Batin Brio bertambah kesal, karena seolah - olah, Khanza malah menyalahkannya.


****


Dua puluh menit mereka melakukkan perjalan, sampai Khanza meminta Brio untuk stop sejenak di sebuah toko bunga.


“Apa yang mau kamu lakukkan di sini?” Tanya Brio, ketika dirinya mengikuti Khanza masuk ke dalam toko bunga.


“Khanza, kamu bilang tadi tidak mau kemalaman sampai di Bogor, lalu apa yang kamu lakukkan di sini?” Tanya Brio lagi, ketika tidak mendapatkan jawaban apapun dari wanita ini.


Khanza menghela nafasnya kasar, karena merasa sekarang Brio mulai banyak bicara.


Sedangkan Brio yang mendengar helaan nafas Khanza, kini memilih untuk diam saja, dan hanya melihat apa yang akan dilakukkan oleh wanita ini.


Khanza tersenyum manis, ketika melihat seorang pelayan mendatanginya. “Ah, berikan aku bunga yang besar itu!” Pinta Khanza, menunjuk ke arah bunga mawar putih yang mungkin ada 100 tangkai di dalamnya, serta dedaunan yang hijau, membuat bunga itu terlihat begitu cantik dipandang.


Tetapi, kenapa bunga sebesar itu Khanza beli? Untuk apa?


Brio lagi - lagi berpikir keras menemukan alasan apa yang membuat Khanza membeli bunga sebesar itu.


“Langsung taruh saja di mobil yang ada di depan sana,” pinta Khanza, setelah mereka melakukkan pembayaraan.


Brio terus saja mengikuti langkah Khanza, sampai mereka berhasil kembali lagi ke dalam mobil. “Kamu itu kenapa sekarang banyak bicara sih? Berbeda dengan pada saat kita bertemu kamu yang terlihat begitu cool dengan sikap yang dingin.” Seru Khanza, memaki Brio, ketika mereka sudah duduk tenang di mobil.


“Aku hanya ingin tahu, kamu membeli bunga untuk apa Khanza, itu saja.” Bela Brio tidak ingin disalahkan dan dimarahi oleh Khanza.


“Kita itu mau jenguk orang sakit Brio, setidaknya kita harus membawa buah tangan.” Jawab Khanza, yang akhirnya membut Brio mengerti.


“Baiklah - baiklah,” sahut Brio, yang lalu kemvali mengarahkan mobilnya mengikuti maps yang sudah Daddynya berikan tadi.


Selama dua jam setengah perjalan mereka ke Bogor. Brio dan Khanza terlihat berganti - ganti dalam mengendarai mobil.


Jalan yang terlalu panjang, sebenarnya bagi mereka belum terlalu terbiasa mengendarai mobil selama ini.


Hingga akhirnya meraka sampai di sebuah rumah sakit, tempat Vita dirawat.


Diparkiran, lagi - lagi Brio masih termenung, merasa tidak yakin dengan apa yang akan di lakukkan saat ini.


“Yakinlah Brio, semua akan baik - baik saja.”


“Kamu datang ke sini untuk minta maaf, bukan untuk membuat keributaan, jadi menurut aku semuanya ini adalah sah - sah saja.”


“Lagian, ini juga menunjukkan bahwa kamu bukanlah berhati batu yang tidak perduli dengan keadaan Vita saat ini.” Khanza tidak hento - hentinya memberikan nasehat kepada Brio. Agar pria itu mengerti, bahwa di dunia ini, jika melakukkan sebuah kesalahan, maka kamu wajib untuk meminta maaf.


Brio terlihat berulang - ulang kali mengatur nafasnya, hingga dia menganggukan kepalanya, merasa yakin untuk bertemu dengan Vita dan keluarganya.


Dia keluar dengan membawa Bucket bunga yang dibeli oleh Khanza tadi, sedangkan Khanza keluar dengan membawa sekeranjang buah lengkap yang sempat mereka beli tadi saat di jalan.


Khanza berjalan duluan, karena tanganya masih bisa memegang ponsel untuk melihat nama kamar dari Vita. Sedangkan Brio, ke dua tanganya penuh karena memegang bucket bunga yang memang sangat besar.


Khanza menghentikan langkahnya, ketika dia merasa telah berdiri tepat di depan ruangan Vita.


“Ini,” tunjuk Khanza pada ruangan Vita.


Pintu yang terbuka membuat Khanza langsung melirik ke dalam kamar, dan berdiri di depan pintu.


“Hallo, permisi,” sapa Khanza, pada orang - orang yang ada di dalam.


Sontak saja, Vita, Langit, Jendra dan Vina langsung menoleh secara bersamaan.


“Iya, ada apa ya?” Tanya Vina dengan lembut pada Khanza.


“Saya ingin menjenguk Vita oma,” jawab Khanza dengan begitu sopan.


“Vita.” Ulang Vina, lalu menoleh ke arah Cucunya yang juga sedang melihat ke arah Khanza.


Jendra melirik ke arah purtrinya, “apakah dia temanmu sayang?” Tanya Jendra pada Vita.


“Bukan Pah, Vita tidak mengenalnya,” jawab Vita juga dengan kebingungan.


“Maaf, Nak, mungkin yang kamu maksud adalah Vita yang lain, mungkin kamu salah kamar.” Seru Jendra memberitahu Khanza, bahwa putrinya juga tidak mengenal wanita itu.


“Tidak, saya benar, dia Alvita Natasya Fortuta kan.” Tegas Khanza, bahwa dia tidak mungkin salah kamar.


Vita tersenyum heran mendengar kegigihan Khanza yang ingin menemuinya. “Tapi maaf mbak, saya tidak mengenalmu.” Ucap Vita, membuat yang lainnya semakin merasa bingung.


Khanza tersenyum, lalu meminta izin untuk masuk. “Maaf,” ucapnya lalu meletakan keranjang buah yang dia bawa tadi ke atas meja.


Khanza sebenarnya sangat gugup menghadapi orang - orang asing ini, tapi ya sudahlah, dirinya juga sudah terlanjur terjun.


“Ah, sebelumnya perkenalkan nama saya Khanza Gerlicek,” ucapnya memperkenalkan namanya.


“Mungkin kalian tidak mengenalku,” sambung Khanza lagi, yang kini mulai merasakan sekujur tubuhnya benar - benar dingin.


“Tapi saya datang bersama dengan seseorang yang kalian juga pasti mengenalinya.” Khanza, menatap penuh harap kepada mereka, untuk mereka bisa mempercayai Khanza, bahwa dia sama sekali tidak berniat jahat.


Jendra tersenyum sambil menggelengkan kepalanya pelan, “seorang teman? Dan kami mengenalinya?” Tanya Jendra lagi memastikan.


Khanza menganggukan kepalanya pelan, sebelum akhirnya dia kembali ke pintu dan menarik Brio untuk masuk.


“Khanza, sepertinya aku merasa senggan,” bisik Brio, enggan mengikuti tarikan Khanza yang ingin membawanya masuk.


“Masuk. Aku bilang masuk!” Perintah Khanza tegas, dia tidak mau pekerjaanya tadi merasa sia - sia.


Menahan rasa gugup itu bukanlah hal mudah, dan sekarang Brio malah tidak lagi ingin masuk.


“Baiklah - baiklah.” Ucap Brio lagi, akhirnya kalah dengan keputusan Khanza.


Dengan mulai kembali mengatur nafasnya, Brio akhirnya mulai memberanikan diri untuk masuk bersama dengan bucket bunga yang dia bawa.


Betapa terkejutnya semua orang yang ada di dalam situ, terkecuali Langit, yang memang belum mengetahui wajah dari Brio.


“Brio,”


“Brio.”


*To Be Continue. **


**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.


*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*


*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*


Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘


**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*


*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*