
πΉ Happy Reading ya Gengs πΉ
Setelah sekian lama menunggu, akhirnya pintu ruang tindakan itu terbuka, dan menampilkan dokter yang sedari tadi di tunggu oleh Brio.
"Lama banget kamu bekerja? Apa aja sih yang kamu kerjakan di dalam ha?" bentak Brio, dengan penuh emosi kepada dokter tersebut.
"Maaf tuan, saya-," ucapnya terhenti ketika Brio mengangkat tanganya dan tidak ingin mendengarkan penjelasaan apapun.
"Bagaimana keadaan mereka?" tanyanya langsung to the point.
"Keadaan mereka berdua sudah stabil tuan, ibu dan janin yang dikandungnya selamat, walaupun sempat melemah, dan tidak ingin berkembang lagi, tetapi dengan kehendak Tuhan, janinnya tetap kembali hidup dan berkembang," jelas dokter tersebut, sontak membuat Brio menatap ke arah Andrew dengan tajam.
Dia ingin sekali bertanya kenapa janin itu tetap hidup? Padahal dia melihat jelas bagaimana Vita kesakitaan. Dan darah yang terlihat keluar dari jalan rahimnya. Tetapi kenapa tetap bertahan?
Brio mengusap wajahnya kasar, dengan nafas yang sudah tidak bisa terkontrol lagi.
"Aku rasa kamu adalah orang bodoh! Kamu jelas tahu kalau keadaan kekasihku seperti itu karena kami ingin menghilangkan janin itu, tetapi kenapa kamu menyelamatkaanya, aarrgghhh bodoh," emosi Brio benar-benar sudah bisa di atasi lagi.
Bahkan dia dengan berani menarik kerah baju dokter wanita tersebut, tanpa takut adanya hukum yang akan mencengkramnya.
"Sekarang aku minta, kamu bunuh janin itu, dan hilangkan dia dari tubuh kekasihku sekarang!" Perintah Brio, dengan sedikit mendorong tubuh dokter tersebut.
"Tidak tuan, saya sebagai dokter sudah bersumpah bahwa tidak akan pernah saya melakukaan hal yang buruk seperti itu," tegas dokter tersebut dan langsung berlari meninggalakan Brio dan Asistennya begitu saja.
"Aaarrhhgghhhhh, siall," umpat Brio merasa jika jalannya sudah buntu saat ini.
Namun tiba-tiba saja hal gila seketika muncul dibenak Brio, dan langsung berlari masuk ke dalam untuk melihat keadaan Vita.
"Mister,,Mister," teriak Andrew, merasa ketakutaan sendiri.
Dan dia melihat Brio mendekat ke arah Vita yang masih memejamkan matanya. Brio menatap wajah itu dengan teliti, lalu beralih ke arah perut Vita.
"Aku baru saja ingin memperbaiki hubungan kita, tapi kenapa bayi ini hadir di tengah kita?" Lirihnya pelan, dan kini beralih mengambil pisau yang berada di atas meja.
Andrew yang tahu pergerakaan tuannya itu, lansung menarik tubuh Brio untuk menjauh dari Vita. "Mister, cukup, jangan membuat keadaan semakin rusak Mister," ucap Andrew memberikan peringataan kepada Brio.
"Lepaskaan aku Andrew, aku menginginkan Vita tetapi aku tidak menginginkan bayi itu." Tegasnya tanpa perduli dengan sekelilingnya.
Andrew tidak sama sekali mengindahkan perintah Brio, dia terus menarik tuannya untuk segera masuk ke dalam mobil.
Sesampainya di dalam mobil, Brio mengumpat dengan sejadi-jadinya. Berteriak dan melampiaskan semua emosinya.
"Kenapa sih tidak membuat semuanya jadi mudah, hanya tinggal terima anak yang kamu buat sendiri, kenapa semuanya dibuat susah?" Batin Andrew, yang merasa bingung dengan jalan pikiran tuannya ini.
Kenapa hal yang begitu mudah menjadi sulit baginya? Kenapa harus menyiksa diri sendiri karena sebuah ego yang besar.
Dendam yang terjadi seharusnya telah usai dijalani, Vita sudah menderita dan tujuaanya sudah tercapai, sekarang apa lagi? Jika masalah pertunangan antara dia dan Mezty. Bukankah dia sendiri yang bilang bahwa tidak akan pernah ada pernikahaan antara mereka. Lalu sekarang apa yang membuat Brio tidak mau menerima bayinya sendiri.
"Kita pulang sekarang," titah Brio, di saat perasaanya mulai membaik.
"Sampaikan pada Vita, jika aku akan menikah dengan wanita lain minggu depan," tandasnya lagi, sebelum mereka benar-benar pergi.
"Tapi Mister, bagaimana dengan-,"
"Cukup Ndrew, aku tidak mau kita membahas hal ini lagi, oke," tuturnya, memutuskan sepihak hubungannya bersama dengan Vita.
*****
Sesampainya di rumah, Brio melihat semua keluarganya tengah duduk di ruang tamu, namun karena perasaannya yang sudah tidak teratur, Brio memutuskan untuk melewati mereka begitu saja.
"Brio, dari mana saja kamu?" tanya Mario, yang melihat penampilan putranya yang sangat berantakan. Terlebih lagi darah yang ada di pakaian putranya. Membuat kecurigaan Mario bertambah besar tentang apa yang sedang dilakukaan oleh putranya di luar sana.
Mendengar teguran itu, Brio seketika ingat pada rencananya, dan memberhentikan langkahnya sejenak.
"Besok kita pulang ke Prancis mom, dad, dan aku mau pernikahaan antara aku dan Mezty dipercepat dan menjadi minggu depan." Tegasnya sebelum dia benar-benar melangkahkan kakinya pergi, menyisahkan seluruh pertanyaan serta pemikiran yang menari di otak mereka masing-masing.
"Kenapa sih itu anak, pergi gak ada alasan, tiba-tiba pulang dengan penampilan seperti itu, dan parahnya anak itu mengganti haluan dengan apa yang dia komitmenkan selama ini," seru Mario, merasa ambigu dengan pemikiraan anaknya.
"Sudahlah dad, mungkin saja tadi dia keluar karena mendapatkan hidayah, hingga bisa mejadi anak baik," sahut Eden, dengan santainya merasa bahwa semua itu bukanlah masalah besar.
Berbeda dengan Mezty yang sedari tadi merasa bahwa ada yang tidak beres di antara Brio dan jangan-jangan Vita.
"Ehmm, tante, besok aku masih ada pekerjaan sedikit di sini, jadi mungkin besok, aku tidak ikut dulu dengan tante," ucap Mezty dengan sedikit menampilkan wajah memohonnya.
Eden menatap ke arah Mezty, dan kini menganggukan kepalanya pelan, "boleh dong sayang, besok Brio akan menunggu kamu selesai dengan urusan kamu, baru setelah itu kalian akan menyusul kami ke Paris." Balas Eden dengan lembut.
"Terima kasih tante," seru Mezty, yang merasa beruntung ketika mengenal Eden.
Mario ikut menganggukkan kepalanya pelan, mendukung keputusaan istrinya, walaupun otaknya masih traveling dengan apa yang dilakukaan oleh putranya di luar sana.
*****
Sedangkan di dalam kamar, Brio tidak henti-hentinya mengumpat kesalahaanya sendiri. Dia bukan tidak ingin melepaskan tanggung jawab. Tetapi dia hanya takut dengan mommy dan daddynya yang akan kecewa dengan apa yang dia lakukaan. Kecewa karena dirinya berani menyakiti hati seorang wanita.
Terlebih dia tidak akan pernah terima jika dirinya akan disebut sebagai seorang pengkhianat oleh pria bertopeng itu.
Brio tidak tahu harus bagaimana sekarang, ini tentu salah dia, kenapa dia harus menggunakaan perasaan. Kenapa awal yang dia hanya ingin mempermainkan dan membalas dendam pada Vita, kini berubah menjadi sebuah perasaan yang tidak bisa dihindari.
Terlebih kesalahaannya pada Vita, tidak mungkin jika Jendra akan mau menerimannya. Dan sekarang jalan satu-satunya adalah, mengakhiri semua perjanjian mereka, membiarkan Vita hidup dengan dunianya. Dan masalah janin itu.
Brio tidak akan pernah mau ikut campur di dalamnya, keputusan ada di tangan Vita, masih mau mempertahankan atau menggugurkaanya.
Walaupun sebenarnya, di dalam hati Brio yang paling terdalam, dia ingin sekali bayi itu. Tetapi ketakutaan pada dunia jauh lebih besar dari pada rasa sayang dirinya akan Vita dan bayi itu.
"Oke cukup Brio, bukankah dari awal kamu sudah mengatakaan pada Vita, agar tidak hamil, berarti bukan salah kamu, kalau kamu tidak menginginkan mereka," batin Brio yang menolak jika dirinya bersalah akan hal ini.
**To Be Continue. *
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***ππ»ππ»* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
*Dan Jangan lupa yah, dukunganyaπ₯° jangan Sinder.*
*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**π*
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **πLike,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****ππ
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***πππ*
*Terima kasih**ππ»ππ»*