Partner Ranjang My Uncle

Partner Ranjang My Uncle
Partner Ranjang Chapter 78


🌹 Happy Reading Gengs 🌹


“Brio,” lirih Jendea pelan, membuat Vita langsung menoleh ke arah sosok pria itu.


“Brio.” Gumam Vita, diikuti dengan rasa tidak percaya bahwa pria beneran ada di depan matanya.


Brio yang baru saja melangkahkan kakinya mendekat ke arah Vita, kini langsung dihalangi oleh Jendra.


“Mau apa kamu datang ke sini?!” Tanya Jendra tidak ingin berbasa basi.


“Saya datang ke sini dengan niat baik Om,” jawab Brio dengan begitu enteng.


“Baik apa?! Tidak ada yang baik jika itu berkaitan dengan kamu.” Tegas, Jendra, yang tidak mau lagi sedikitpun percaya dengan kata - kata dari Brio.


Memang dari awal Jendra itu sudah sangat curiga pada Brio, anak itu terlalu memiliki sebuah aura gelap, yang membuatnya percaya bahwa anaknya pasti akan tersiksa jika bersama dengan pria semacam itu.


Dan terbukti sekarang, di saat putrinya ada masalah apa lagi sampai keguguran, Brio malah baru datang apa lagi dengan seorang wanita.


“Saya ingin meminta maaf dengan Vita om.” Ucap Brio, terlihat menatap ke arah Vita yang sedang menundukkan kepalanya saat ini.


Jendra tertawa mendengar penuturan Brio yang mengatakan ingin meminta maaf. “Hahahhahah, siapa yang akan percaya dengan semua kalimatmu itu!” Tekan Jendra, sama sekali tidak membiarkan dirinya ataupun keluarganya percaya akan dengan kata - kata pria satu ini.


“Saya memang datang ke sini untuk meminta maaf om, meskipun saya sudah tidak memiliki hubungan apa - apa dengan Vita, setidaknya saya masih mempunyai perasaan yang bisa membuat saya menyesali perbuatan saya terhadap Vita.”


“Saya tahu selama ini saya salah om, tapi saya datang ke sini dengan tulus.” Ujarnya, dengan terlihat raut wajah yang bersungguh - sungguh.


Tetapi, mau berkata setulus apapun dirinya saat ini, itu sama sekali tidak membuat Jendra luluh dan memperbolehkan dirinya mendekat ke arah Vita.


“Kamu tau, saat ini, saya ingin sekali rasanya menampar dirimu, tetapi saya sadar, jika saya menyentuhmu, akan ada masalah yang lebih besar nantinya untuk putri saya.”


“Maka dari itu, saya meminta kamu pergi dari sini, sebelum tangan saya benar - benar menampar wajahmu yang tidak tahu malu ini!!” Jendra meluapkan semua amarahnya, membuat Brio yang tidak pernah merasakan terhina seperti ini langsung menatap ke arah Jendra balik dengan tajam.


“Kamu -,” Brio ingin melontarkan kata - kata kasarnya, namun semua itu tertahan, ketika Khanza menyentuh pundaknya, mengingatkan dirinya jika dirinya harus belajar sabar untuk memendam emosinya.


Jendra semakin tertawa melihat reaksi Brio yang seperti tunduk akan Khanza. “Hahahahaha, jadi kamu sudah menemukan tambatan hatimu, sampai kamu tunduk pada wanita ini.” Ucap Jendra, menunjuk ke arah Khanza.


Khanza tersenyum manis, lalu menundukkan kepalanya sopan. “Saya bukanlah tambatan hati dari Brio, Pak Jendra.”


“Saya adalah teman yang bertemu dengannya di bandara kemarin.”


“Saya datang ke sini, untuk menemani pria malang ini untuk mengakui kesalahaannya serta penyelasaanya terhadap Vita.” Tandas Khanza, yang lalu maju melangkah untuk mendekat ke arah Jendra.


“Mungkin Brio pernah melakukkan kesalahan Fatal, bahkan sangat - sangat fatal menurut kalian,”


“Dan sekarang, saya meminta salah satu di antara kalian yang mengaku tidak pernah membuat kesalahan di hidup kalian untuk membunuhnya!” Perintah Khanza dengan serius.


Bahkan Brio yang mendengar hal itupun juga ikut terkejut. “Apakah ada salah satu dari kalian yang tidak pernah melakukkan kesalahan sedikitpun di dunia ini.” Tanya Khanza lagi, dengan suara yang begitu lantang.


Tetapi tidak ada satupun dari mereka yang maju untuk merespon Khanza, bukan karena mereka mengabaikan kata - kata itu, tetapi itu karena mereka merasa bahwa mereka juga tidak suci dan sering kali melakukkan kesalahaan.


“Kalian bukan Tuhan, yang mempunyai sikap sempurna untuk menghakimi orang lain.”


“Mungkin, Brio pernah melakukkan kesalahan yang sangat fatal untuk Vita, tetapi apa kalian ingat, jika hampir sebulan Brio merawat Vita yang sedang kambuh dengan depresinya?”


“Apakah kamu ingat itu Vit?” tanya Khanza yang kali ini tertuju pada Vita.


“Apakah Tuan Jendra ingat? Jika selama hampir sebulan pria yang melakukkan dosa ini pernah merawat putri Anda dengan begitu tulus, tetapi Anda yang datang langsung menjudge jika Brio dan keluarganya merawat Vita dengan tidak baik, sehingga Anda mengambil keputusan sepihak dengan membatalkan pernikhaan mereka.” Khanza kini menatap ke arah Vita dan Jendra secara bergantian.


“Saya bertemu dengan Brio, pada saat dia di Singapore, berbelanja dengan gembira, dengan penuh harapan untuk melihat kembali istrinya yang sudah sadar.”


“Tanpa dia ingat, jika dia mempunyai penyakit Gastric, ketika saya bertemu dengannya kembali di bandara, apakah kamu pernah melihat Vit, apakah kamu pernah melihat tangannya bergetar hanya karena menahan sakit ketika memegang sebuah makanan?” Khanza sebenarnya tidak membela Brio, hanya saja, dirinya tidak suka jika ada seseorang yang mengintimidasi orang lain.


“Hanya kamu perlu berpikir saja, alasan apa sampai Brio berani menyiksamu.”


“Tetapi jika kamu sampai tahu, jika Brio mengaasingkanmu ke German dengan suatu alasan, dan menerima pembatalan nikah ini dengan suatu alasan. Maka kamu pasti akan merasakan penyesalaan itu.”


“Terserah kalian mau menganggap kalimat saya ini salah atau tidak. Tetapi orang yang tulus tidak akan datang di kemudian hari!” Tekan Khanza, sebelum akhirnya dia melangkahkan kakinya pergi.


Dia berlari keluar meninggalkan keluarga itu dan Brio di dalam ruangan itu dengan ekpresi yang masih terdiam.


“Khanza,” teriak Brio, memanggil wanita itu. Tetapi Khanza sudah lebih dulu keluar dan sepertinya sedang menangis.


Brio merasa bingung saat ini, tetapi dia juga sadar, bahwa kehadiraanya di sini tidak di anggap, maka dirinya memilih untuk lebih baik pergi.


Brio menyerahkan bucket bunga yang sejak tadi dia pegang ke arah Jendra yang masih berdiri dengan diam.


“Saya datang ke sini hanya ingin tulus meminta maaf pada Vita om, saya tidak ingin mengundang keributan, tetapi jika Om berpikir demikian, saya juga tidak bisa mencegahnya om.” Tungkasnya, serius pada Jendra.


“Tapi om pernah mendengarkan, 1000 kebaiakan akan kalah dengan satu kesalahaan. Mungkin saya menyadari jika kehidupan Vita hancur karena saya. Tetapi setelah saya mengucapkan janji di depan Tuhan, di situ saya berjanji dengan sungguh - sungguh, jika saya akan melindungi Vita meskipun dengan nyawa tukaran saya.”


“Tetapi, semuanya juga sudah lewat om, dan mungkin sekarang saya hanya bisa bilang, cepat sembuh Vita, dan semoga setelah terbebas dariku kamu mendapatkan sebuah hidup yang bahagia.”


“Maaf, karenaku, kamu harus melewati semua ini.” Ucapnya terakhir, sebelum dirinya memilih untuk melangkahkan kakinya pergi, meninggalkan keluarga itu dengan pemikiraannya sendiri.


*To Be Continue. **


**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.


*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*


*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*


Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘


**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*


*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*