Partner Ranjang My Uncle

Partner Ranjang My Uncle
Partner Ranjang Chapter 57


🌹 Happy Reading Gengs 🌹


Mendengar kalimat pembatalan nikah yang terlontarkan dari Jendra, siapa sangka kalau Brio akan beraksi dengan begitu marah.


“Apa kamu bilang?” ucap Brio bertanya dengan ekspresi tertawa.


“Pembatalan Nikah?” Timpalnya lagi.


“Brio, kamu sabar dulu!” Tegur Eden, yang merasa bahwa anaknya mulai kurang sopan saat ini.


Brio menggelengkan kepalanya pelan, dengan perlahan terdengar tawa yang menggelegar.


Sedangkan Jendra, kini hanya diam saja, tidak mampu berpikir hal lain selain kebahagiaan putrinya.


“Dari awal, pernikahaan antara kamu dan putri saya memang salah,” lirih Jendra pelan, tapi masih berhasil membuat tawa Brio terhenti.


“Salah?” Brio bertanya kembali, meyakinyan apa yang dia dengar itu tidak salah.


“Dari awal, kamu hanya menyiksa putriku, baik Hati dan fisiknya, lalu kalian menikah karena ada insiden hamil.”


“Kalian tidak saling mencintai, lalu dari semua kejadian ini, di mana letak benarnya?” Tumpasnya, menatap Eden dan Mario secara bergantian.


“Tidak ada orang tua yang mau jika putrinya di perlakukkan seperti itu, baik Anda Tuan Mario tentu saja tidak mau bukan?” Jendra kini bertanya pada Mario.


Mario yang mendapatkan pertanyaan seperti itu, menjawab dengan anggukan kepalanya pelan, “Maafkan Brio Jendra, tapi saya yakini -“


“Kenapa Daddy harus meminta maaf Dad?” Putusnya pada kalimat Mario.


“Karena kamu bersalah dari awal Nak,” sahut Eden, yang membuat Brio kembali tertawa.


“Hahahahahha, kamu!!!” Tunjuknya pada Jendra.


“Kalau kamu mau ajukan pembatalan pernikahaan, silahkan!! Aku tidak akan mencegahmu, wahai Papah Mantan Mertua.” Brio berkata tanpa memperlihatkan bebannya sama sekali.


Membuat Eden dan Mario sontak menatap ke arahnya tajam. “Anak ini sudah terikut gila rupanya,” batin Mario menatap putranya.


“Sepertinya aku harus memberikan pelajaraan kepada anak kurang ajar ini.” Batin Eden.


“Jika Anda menganggap ini semua salah, pergi dan bawa anakmu itu dari hidupku!!!”


“Karena aku tidak mau mengurus orang gila seperti putrimu,” kalimatnya terakhir sebelum Jendra benar - benar breaksi.


Jendra seketika berdiri di saat mendapatkan kalimat jika putrinya dikatakan gila oleh suaminya sendiri. “Jangan sampai kamu menyesal telah berprilaku seperti ini kepada putri saya!” Jendra memberikan peringatan kepada pria yang mungkin bisa dibilang mantan menantu saat ini.


“Jendra, jangan seperti itu, kita di sini ingin berbicara baik - baik, kita ingin mencari solusi atas sakitnya Vita, kenapa malah jadi seperti ini?” Seru Mario, ingin memadamkan api yang membara akibat kalimat dari putranya.


“Iya benar, kamu itu sudah tua, kenapa kamu harus mendengar kalimat ngelantur anak tidak jelas ini,” timpal Eden, yang masih berusaha menyelamatkan rumah tangga putranya.


“Aku akan membawa putriku terlebih dahulu, sembari kalian didik anak kalian itu, menjadi laki - laki yang baik dan bisa bertanggung jawab atas istrinya, tetapi sebelum itu, saya mohon pastikan anak kalian tidak menganggu putri saya!” Tegasnya untuk terakhir kali, sebelum dia melangkahkan kakinya masuk ke dalam untuk menyiapkan keberangkataan putrinya.


Melihat Jendra yang tetap kekeh dalam pembatlan nikah untuk Brio, Eden dan Mario kini kembali menatap Brio dengan lekat. “Kamu!!” Tunjuk Eden dengan emosi.


“Pergi kamu dari rumah!! Daddy akan menarik semua fasilitas kamu! Dan tidak ada seperspun kamu akan mendapatkan uang apa lagi bantuan!! Jadi gembel kamu di luar sana!” Tegas Eden, tidak main - main dalam menghukum putranya.


“Mom?” Brio terkejut dengan apa yang dikatakan Mommynya ini, mau bujuk ke siapa? Apapun yang dikatakan oleh Mommynya adalah hal mutlak yang akan terjadi.


“Dad?” Bujuknya pada Mario.


“Kali ini Daddy setuju dengan Mommy, kamu jika tidak diberi pelajaraan, maka kamu tidak akan pernah berubah, dan selalu menyepelekan hal yang sebenarnya penting!”


“Terserah kamu mau berbuat apa, Daddy sudah tidak perduli sama sekali.” Mario menganggap bahwa hal ini pantas dilakukkan kepada putranya.


“Sudah cukup kamu membuat masalah selama ini, kamu selalu merepotkan orang tuamu, tidak lama mati orang tuamu baru kamu senang!”


Hanya Brio satu - satunya putranya, tetapi sifatnya benar - benar tidak bisa di kontrol sama sekali, padahal Briel dulu tidak pernah seperti itu.


****


Setelah membantu Jendra untuk memberangkatkan Vita dengan menggunakan Jet pribadinya, kini Mario dan Eden juga langsung bertolak pulang ke Paris.


“Apa kamu yakin dengan keputusan ini sayang?” Tanya Mario pada istrinya, di saat mereka masih duduk di dalam pesawat.


Eden menganggukan kepalanya pelan, “ini adalah hukuman untuknya, agar tidak semenah - menah terus sama orang lain.”


“Aku memintamu untuk berhenti dalam dunia gelapmu dulu, lalu kita ber dua sama - sama mendidik putra dan putri kita, tetapi kenapa rasanya begitu sulit sekarang?” Eden berucap dengan serius pada Mario.


“Kita sudah mendidik mereka dengan keras, tidak pernah dimanja, kita selalu mendidik mereka untuk selalu menghargai orang lain, tetapi kenapa di antara semua anak kita, hanya Briell yang bersikap baik, rasanya kepala ini mau pecah sekarang!” Eden mengusap wajahnya kasar, sembari mengusap rambutnya.


Mario yang melihat istrinya nyaris frustasi, kini dengan sigap memeluk tubuh yang sudah mulai rentah itu. “Sabarlah sayang, tinggal sedikit lagi, setelah Brio dan Brina kita pastikan hiduo bahagia, Aku janji bahwa kita akan hidup berdua menikmati masa - masa senja kita ini.” Ucapnya dengan penuh harapan.


“Dan untuk Briell, kita doakan terus semoga dia bahagia di sana, bahagia dipelukan Albert cintanya, bahagia dipelukan Tuhan.” Sambungnya lagi.


“Bolehkah kita mampir dulu ke rumah mereka?” Tanya Eden dengan suara yang lirih.


Mario menganggukan kepalanya pelan, sebagai tanda dia menyetujui apa yang diminta oleh istrinya.


“Aku juga merindukannya, kita akan ke rumahnya.” Ucap Mario lagi.


Hati orang tua mana yang tidak rindu kepada putri yang dulu menjadi kebanggaan untuk mereka. Di saat kerasnya hidup pembullyan sekolah, hidup dengan amarah dan bertanya di manna ayahnya? Hidup yang selalu ada pertengkaran dengan Mommynya, karena kesibukkan Eden yang sangat - sangat menguras waktunya untuk putrinya.


Anak perempuan yang karenannyalah Mario dan Eden bisa bersatu, anak perempuan yang begitu marah ketika Daddnya di maki - maki oleh Mommynya ataupun orang lain.


Tetapi, siapa sangka jika Tuhan lebih menyayanginya, sekarang kisah cinta Mario dan Eden di uji kembali dengan hadirnya Brio dan Brina, ke dua anak yang memiliki sikap sangat bertolak belakang.


******


“Aarrrgghhhhhhhh sial - sial - siall,” teriak seseorang yang berada di dalam rumah.


Dia mengamuk menghancurkan semua barang ketika mendapatkan semua orang pergi. “Ahhhhhhrrrrgggh,” tidak ada kalimat yang bisa dia ucapkan saat ini selain teriakan amarah.


Hidupnya benar - benar hancur sekarang, hancur karena sikap Jendra yang tiba - tiba saja mengajukan pembatalan nikah untuknya.


“Lihat saja, aku tidak akan tinggal diam.” gumamnya pelan, sembari memegang pecahan kaca yang sudah melukai tangannya.


*To Be Continue. **


**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.


*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*


*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*


Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘


**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*


*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*