Partner Ranjang My Uncle

Partner Ranjang My Uncle
Partner Ranjang Chapter 23


🌹 Happy Reading ya Gengs 🌹


Saat ini Vita dan yang lainnya baru saja selesai membereskan diri mereka, dan bersiap untuk pulang. Vita terlihat acuh, dan masih terus membawa salad buah di tanganya.


Sedari tadi dia sama sekali tidak bisa memberhentikan mulutnya, dia selalu saja ingin makan,makan dan makan. Apa lagi dia ingin makanan seperti salad yang mempunyai kombinasi asam,manis dan gurih yang bersatu padu.


"Aku tunggu kalian di luar ya," ucap Vita, pada Melly dan Julia.


Kedua sahabatnya itu tidak lagi heran jika Vita meninggalakan mereka lebih dulu, karena itu setiap saat pasti terjadi.


Vita berjalan dengan santainya ke lantai bawah, untuk segera masuk ke mobilnya yang sudah menunggu di luar.


Dia berjalan dengan pelan, sambil makan dan memainkan ponselnya. "Hey Vita," sapa suara dari belakang, yang sangat dikenali Vita, hingga dia harus memutar bola matanya malas.


"Kenapa kamu sendirian? Manager sama asisten kamu mana?" tanya Mezty, sambil melihat ke arah kanan dan kirinya.


Vita tersenyum, dan langsung memasukan ponselnya ke dalam tas. "Mereka masih di dalam," jawabnya singkat.


"Ohh gitu, ya udah bareng yuk keluarnya," ajak Mezty, dan langsung dianggukan kepala oleh Vita.


"Memangnya kamu pulang naik apa?" tanya Vita penasaraan.


"Ehhm, aku sudah pesan taxi online sih, tadi aku ada download karena dikasih tahu sama crew di dalam," jawab Mezty, lalu menunjukan aplikasinya yang sedang menunggu sebuah kendaraan yang sudah dia pesan.


Vita menganggukan kepalanya pelan, dan terus kembali makan buahnya. "Oh iya Vit, kamu sama pacar kamu-."


"Mezty stop! Aku gak ingin membahas masalah ini," sentaknya, membuat Mezty terkejut mendengar itu.


"Ehhm, maaf Vita, aku hanya ingin menjadi teman yang baik untuk kamu," lirihnya pelan, merasa menyesal dengan apa yang sudah dia katakaan.


"Ya sudah, aku tungguin kamu, sampai mobil itu datang," balas Vita, memilih untuk stop membahas masalah yang tidak penting.


Lalu keduanya berdiri di depan pintu keluar, sambil menunggu gocar yang Mezty pesan datang.


Di saat mereka sedang santai, tiba-tiba, sosok yang tidak ingin Vita temui, sosok yang meninggalkan dirinya dan juga bayinya. Kini muncul tanpa perasaan bersalah sama sekali.


Vita memasang wajah angkuhnya, dia melihat Brio yang sedang berjalan ke arahnya. Jujur saja Brio juga sama terkejutnya melihat keberadaan Vita di sini.


Namun dia sadar, bahwa Mezty adalah seorang model papan atas, yang juga bekerja bersama dengan Vita.


"Dasar pria labil, lihatkan sekarang dia pasti akan kembali meminta maaf dan memohon agar aku mau kembali sama dia, tidak semudah itu bambang," batin Vita, yang begitu yakin jika Brio datang kemari untuknya.


"Sayang," panggil Brio, dan itu membuat Vita membuang pandanganya ke arah lain, merasa bahwa dirinyalah yang dipanggil oleh pria laknad itu.


Sedangkan Mezty terlihat merasa gugup, dia tidak tahu kenapa Brio tiba-tiba ada di sini. Padahal dia sudah mengatakan bahwa dia akan pulang dengan kendaraan umum.


Cuuuppp, Brio mengecup singkat kening Mezty, dan itu membuat wanita yang dulu selalu dia abaikan itu merasa bingung melihat sikap Brio yang seperti itu.


"Sayang, ayok kita pulang, mommy dan daddy sudah menunggu kita," ajak Brio pada Mezty. Membuat Vita menatap tak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini.


Namun, karena dia adalah seorang aktris, secepat kilat dia menyembunyikan perasaan sakit di hatinya.


"Kakakmu ya Mez?" tanya Vita memberanikan dirinya untuk menegur.


"Sayang dia siapa?" tanya Brio, membuat Vita tersenyum getir mendengarnya.


'Baru semalam kita bersama untuk mengugurkan kandunganku, sekarang kamu sudah bersikap seolah-olah kamu tidak mengenaliku, luar biasa sekali pria ini," batin Vita, yang ingin sekali membunuh pria dihadapannya ini.


Berbeda dengan Mezty, yang merasa gugup dan bersalah dengan keadaan ini.


"Aku adalah calon suaminya." Bagaikan disambar petir, Vita mendapatkan kalimat yang sangat dia benci.


"Soory," ucap Vita, memastikan agar pendengaraanya tidak salah.


"Saya adalah calon suami dari Mezty, dan sebentar lagi, kami akan melangsungkan pernikahaan kami." Brio benar-benar mengucapkan dan membongkar hubungannya dengan Mezty. Bahkan tanpa rasa bersalah sama sekali, dia menatao mata Mezty seakan-akan mereka memang saling mencintai.


"Apakah tunanganku ini tidak memberitahumu?" Tanya Brio berbasa-basi.


'Bahkkan bayi di dalam perutku saja kamu tidak mau mengakuinya, apa lagi masalah pernikahaanmu ini, harusnya aku sadar bahwa sedari awal kamu hanyalah seorang pria berenggssekk yang tidak akan pernah bertanggung jawab atas apa yang telah kamu perbuat,' Gumam Vita bermonolog sendiri di dalam hatinya.


Vita mengalihkan kembali pandanganya, karena terasa ingin menangis. "Julia,Melly." Panggilnya pada dua sahabat yang sedari tadi dia tunggu.


"Ehmm, Mezty, Tuan, saya ucapkan selamat untuk persiapan pernikahaan kalian, nanti aku akan mengirimkan hadiah untuk kalian, saya permisi," pamit Vita, dan langsung berlari begitu saja.


Julia dan Melly, terus menerus memanggil Vita, namun yang dipanggil tidak mau menoleh ataupun menghentikan langkahnya. Dia tidak mau Mezty ataupun pria laknud itu melihat jika dirinya sedang menangis.


"Sakit Io, sakit, ketika kamu mencampakanku dan juga bayiku begitu saja, padahal kamu jelas tahu bahwa ini adalah anak kamu, darah daging kamu, tetapi kenapa kamu malah memilih untuk menikahi wanita lain," batin Vita, terus menerus mengutuk sikap Brio kepadanya.


Dia segera masuk ke dalam mobil, dan menutup wajahnya dengan jacket miliknya, tidak ingin sampai kedua sahabatnya itu melihat dan mempertanyakan kenapa dia menangis.


"Vit, loe kenapa sih? Kita panggil-panggil gak mau berhenti," Julia menatap ke arah Vita yang nampak jelas jika hanya pura-pura tidur.


"Sudahlah Jul, kenapa sih kamu dari tadi kepo sama kehidupan Vita," sahut Melly, merasa sangat pusing sekali mendengar Julia yang sedari tadi mengoceh tidak jelas.


Julia mengedikan bahunya singkat, merasa tidak perduli dengan pertanyaan Melly.


Vita membuka jacket yang menutupi wajahnya, dan memperlihatkan tangisnya pada kedua sahabatnya. "Ehm, Julia, tolong kamu atur keberangkataanku ke Italia, aku ingin mengunjungi mamah di sana," pinta Vita, dengan suara yang terputus-putus karena tangisannya.


Ketika Julia ingin membuka suaranya lagi untuk bertanya, Melly langsung menepuk pundak Julia, agar berhenti untuk bertanya pada Vita.


Dengan perasaan kesal, Julia menatap intens ke arah Melly. "Bisa tidak, kamu itu tidak mengacaukan aku sehari saja," geram Julia pada Melly.


"Sudah-sudah, kalian itu kenapa tidak pernah akur." Vita menegur mereka untuk yang ke sekian kalinya.


Sontak saja Julia dan Melly terdiam, saling menatap kesal satu sama lainnya.


Sedangkan Vita, kini mengalihkan pandanganya menatap tetasan hujan yang turun secara tiba-tiba, seakan mereka tahu bagaimana perasaan sakit dari seorang wanita yang dicampakkan itu.


Vita terdiam, menangis sambil menetesakan air matanya pelan, lalu dia mengusap perutnya yang masih sangat datar.


"Tidak apa sayang, jika daddy tidak menginginkan kamu, masih ada mommy," ucapnya dalam hati, berharap jika janinya akan mendengar suara hatinya yang terus merintih sakit akibat ulah dari pria yang tidak bertanggung jawab.


*To Be Continue. *


**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.


*Dan Jangan lupa yah, dukunganyaπŸ₯° jangan Sinder.*


*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*


Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘


**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*


*Terima kasih**πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»*