
πΉ Happy Reading ya Gengs πΉ
"Tenang saja Mezty, meskipun kamu melihat wajahnya, aku juga tidak perduli," jawab Vita dengan acuh.
Mezty dan yang lainnya kini tersenyum kikuk mendengar jawaban ketus dari Vita.
"Kamu kenapa ada di sini Mez? Bukankah kamu sudah dikontrak permanen oleh management Paris? Lalu kenapa bisa ada di sini?" tanya Vita, yang terdengar begitu sinis.
Membuat Julia dan Melly kini saling memandang bingung, pasalnya Vita tidak pernah berkata seketus itu pada orang lain.
"Vit, luu kenapa sih? Jutek banget hari ini," tegur Melly, yang selalu berbicara dengan blak-blakan.
Vita hanya menghela nafasnya kasar, dan lalu menggelengkan kepalanya pusing. "Aku tidak apa-apa Mel, aku hanya sedikit pusing saja." Vita memilih untuk memendam masalahnya sendiri. Dia sama sekali tidak ingin siapapun tahu dengan keadaannya saat ini.
Mezty sepertinya mengerti dengan keadaan Vita saat ini. 'Ahhh, sepertinya mereka sedang bermasalah, dan itu sebabnya kenapa Brio mau menerima pernikahaan kami,' batin Mezty, memandang sendu ke arah Vita.
"Aku ke sini karena ingin mengunjungi calon suamiku, dan kebetulan dia harus menyelesaikan pekerjaannya, dan itu membuatku merasa bosan, hingga aku mengambil beberapa pekerjaan di sini, tetapi aku tidak menyangka bahwa akan satu management kembali bersamamu," cicitnya, dengan senyum kepalsuaan.
Padahal semua pertemuan ini adalah rencana yang sudah dia atur. Entah apa yang dia pikirkan. Tetapi dia hanya ingin mengetahui tentang hubungan Tunangannya bersama dengan Vita.
Berbeda dengan Vita, dia memilih untuk acuh dengan ucapan Mezty.
"Vit, kamu kenapa sih? Sedari tadi kamu kok seakan tidak suka jika aku berada di sini?" singgung Mezty lagi.
Karena selama dia berteman dengan Vita, belum pernah wanita itu bersikap dingin seperti itu.
Vita memilih tidak menjawab sama sekali, jujur dia sangat enggan sekali bertemu dengan siapapun saat ini. Tetapi pekerjaannya lebih penting, hingga membuatnya harus menahan emosi dijiwanya ketika mendapatkan pertanyaan demi pertanyaan yang dilayangkan padanya.
Mezty menghembuskan nafasnya kasar, karena merasa bahwa dirinya tidak akan mendapatkan informasi apapun ketika Vita bersikap dingin seperti ini.
****
Sedangkan di sisi lain, Eden dan Mario telah bersiap untuk berangkat ke bandara.
"Mom,Dad, nanti kabarin kalau sudah sampai di sana," ucap Brio sambil menatap kedua orang tuanya yang sudah berada di depan pintu.
Eden menatap wajah putranya yang terlihat sendu, "Brio, apapun masalahmu, mommy harap kamu tidak mengecewakan mommy dengan membatalkan pernikahaan ini," pesan Eden sebelum dia meninggalkan putranya.
Brio menganggukan kepalanya pelan, saat ini dia tidak ingin membantah ucapan mommynya.
Seperti yang dilakukan oleh Vita, saat ini Brio berubah drastis dengan sikapnya yang kemarin.
Jika dulu dirinya acuh dengan hanya bermain game. Saat ini Brio lebih ke arah penurut. Dari semalam pria itu hanya diam dan mengatakan iya dan iya dengan semua yang dikatakaan oleh Mommy atau Daddynya.
"Oh iya, mommy sudah mengirimkan lokasi pemotretan Mezty, kamu harus menjemputnya sebelum kalian berangkat ke Paris," tandas Eden.
Lagi-lagi, Brio menganggukan kepalanya patuh, tanpa dia sadari. Jika sedari tadi Daddynya memperhatikan tingkah lakunya.
"Ya sudah sayang, sekarang kita pulang, kasihan sedari kemarin Brina sudah menunggu kita," ucap Mario, yang kini hanya menatap lekat ke arah putranya.
"Oke, kami pergi duluan ya sayang," pamit Eden sebelum melangkahkan kakinya pergi.
Sedangkan Brio hanya diam dan menatap punggung kedua orang tuanya yang perlahan hilang masuk ke dalam mobil.
"Jangan pernah menyesali apa yang sudah kamu lakukan Brio," gumamnya, menyemangati dirinya sendiri.
Lalu setelah itu, dia memilih untuk ke kantornya terlebih dahulu, untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan. Dan baru setelah itu dia akan menjemput Mezty sekaligus ke bandara.
*****
Di dalam kantor, Brio tidak hentinya mengumpat emosi, dia bahkan tidak mengerti dengan semua pekerjaannya.
"Andrew," teriaknya memanggil nama asistennya.
Dengan cepat, sang asisten itupun menghampirinya, "i-iya mister." Andrew terlihat gugup, ketika melihat bosnya yang sedang dilanda emosi seperti ini.
"Cepat tanyakan jadwal dari Mezty, aku sudah tidak tahan ada di sini, aku ingin segera pulang," perintahnya tegas.
"Baik Mister," jawab Andrew, dan langsung pergi untuk mengerjakan tugasnya.
Brio seharian ini terlihat sangat berantakan sekali, otaknya yang genius sama sekali tidak bisa digunakan untuk berpikir apapun. Selain Vita, Vita dan Vita.
*****
Drrrttt,,ddrrttt,,ddrttt. Terdengar dering ponsel yang berbunyi, dan memperlihatkan nama mamahnya yang berada di sana.
"Hallo mah," Suara Vita yang secepat kilat mengangkat panggilan itu.
"Hemm, sepertinya ada yang lupa janjinya sama mamah karena terlalu sibuk nih," sindir mamahnya di seberang sana.
Vita terlihat berpikir sejenak, mengingat janji apa yang sudah dia ingkari.
"Oh ayolah Vita, dulu kamu berjanji bahwa pekan minggu kemarin, kamu akan ke Italia dan mengunjungi mamah di sini. Tetapi sampai minggu ini kamu belum juga bisa datang." Vika terlalu kesal pada putrinya, yang selalu saja mengingkari janji ketika ingin menemuinya.
Vita mengigit bibir bawahnya pelan, dia tidak tahu ingin beralasan apa lagi kali ini.
"Apakah papahmu melarangmu untuk mengunjungi mamah kandungmu sendiri?" tuduhnya pada Jendra yang sebenarnya tidak tahu apa-apa.
"Mahhh, kenapa sih harus menuduh seperti itu? Papah bahkan gak pernah bicara apapun apa lagi menjelekaan mamah." Vita tidak suka jika mamahnya itu selalu saja berprasangka buruk pada papahnya.
"Papah itu selalu mengurus Vita dengan baik mah, buktinya aja Vita bisa jadi seperti sekarang ini, semua karena papah," ucap Vita, yang selalu saja membela Jendra.
"Oke, kalau kamu lebih menyayangi papah kamu, mamah gak masalah, tapi kamu tidak pernah mengunjungi mamah di sini, kalau bukan mamah yang ke Indonesia dan mengajakmu bertemu, mungkin saja kamu sudah lupa jika kamu memiliki mamah." Suaranya yang terdengar sangat sedih.
Membuat Vita tidak ada pilihan lain, selain menuruti keinginan Mamahnya. "Oke mah, karena aku sudah sempat beberapa hari mengambil cuti, maka biarkan anakmu ini mengatur lagi cutinya ya." Vita berusaha memadamkan emosi mamahnya. Karena dia sendiri juga sadar, bahwa dia sudah sangat keterlaluan dengan mamah kandungnya sendiri.
Sudah begitu lama dia tidak berkunjung ke Mansion utama, karena merasa tidak enak dengan sang pemilik Mansion, ya itu Griffin yang selalu saja menghinanya bahkan berkata kasar padanya.
Namun demi mamahnya dia akan menahan semua itu. Dia akan berkunjung ke sana untuk melihat mamah dan adik-adiknya. Dan kalau memang di terima, dia akan menemui Oppa Arvan dan juga Omma Jenni.
"Kapan kamu akan ke sini?" tanya Vika untuk memastikan bahwa anaknya tidak akan ingkar lagi.
"Besok lusa ya mah, karena besok aku masih ada syuting take terakhir," balasnya, dengan tidak yakin.
Tetapi Vika juga tidak bisa memaksa, karena dia sangat tahu jadwal Vita sangatlah padat, dan bahkan membuatnya tidak pulang hingga beberapa hari.
"Baiklah, mamah tunggu ya," ucap Vika, sebelum panggilan itu terputus.
Vita menghela nafasnya kasar, lalu mengusap perutnya lembut. "Kita berjuang bersama-sama ya sayang, biarkan saja jika daddy kamu tidak menginginkan kamu, karena kamu masih punya mamah, be strong ya sayang, mommy mencintaimu." Batinnya yang berbicara sendiri dengan kandungannya. Tanpa membuat orang lain curiga, karena meskipun tanganya mengusap perut, tetapi pandanganya masih memperhatikan ke sekitaraanya.
"Ngapain luu Vit?" tegur Julia dari belakang.
"Aku lapar, belikan aku makanan ya," pintanya pada managernya tersebut.
"Vit elu baru saja selesai makan, masa mau makan lagi?" tanya Julia tidak percaya. Pasanlya Vita adalah wanita yang sangat memperhatikan berat badan dan kesehatannya.
"Aku tepatnya tidak ingin makan, tetapi pingin nyemil, belikan salad buah dong." Pintanya lagi, memperbaiki kalimatnya agar siapapun tidak heran melihatnya.
"Ohh salad buah, bilang dong," sahut Julia, yang merasa legah, karena ternyata aktrisnya masih memikirkan tentang kesehataanya.
Vita menganggukan kepalanya cepat, dan megeluarkan dua jempolnya, sebagai tanda bahwa dia setuju dengan apa yang diucapkan oleh Julia.
"Oke deh aku beli dulu, bye,"
"Bye,"
*To Be Continue. *
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***ππ»ππ»* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
*Dan Jangan lupa yah, dukunganyaπ₯° jangan Sinder.*
*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**π*
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **πLike,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****ππ
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***πππ*
*Terima kasih**ππ»ππ»*