Partner Ranjang My Uncle

Partner Ranjang My Uncle
Partner Ranjang Chapter 33


🌹 Happy Reading ya Gengs 🌹


Setelah mendapatkan izin dari papahnya, barulah Alson berangkat ke Paris untuk bertemu langsung dengan Brio agar mau bertanggung jawab dengan perbuatannya dengan apa yang terjadi pada Vita putrinya.


Hanya cukup satu jam setengah dia mengudara, karena jarak antara Italia dan Paris yang memang begitu dekat memudahkan langkahnya untuk tidak membuang waktu.


Sesampainya di Mansion Jonathan, Alson langsung masuk dengan membawa tongkat bisbol miliknya, dan berencana ingin memukul Brio yang sudah jahat terhadap Vita.


"Brio, keluar kamu!" pekiknya dengan keras, hingga membuat seluruh pelayan di rumah itu ketakutaan mendengar suara Alson yang sangat mengerikan.


"Brio," panggilnya lagi. Namun tetap saja tidak tanda-tanda jika anak itu akan keluar.


Dan kali ini bukan Brio yang keluar, melainkan Mario dan Eden yang terlihat berlari mendatangi Alson.


"Alson, kamu kenapa sih teriak-teriak pakai emosi gitu?" sentak Eden, tidak terima jika Mansionnya dianggap hutan oleh anak ini.


Sedangkan Mario, tetap berusaha bersikap tenang karena ingin mendengarkan alasan dari Alson.


"Di mana Brio Mom?" tanya Alson langsung to the point.


"Brio tidak ada di sini, dia sedang di Indonesia sekarang," jawab Eden, yang semakin bingung ketika Alson mencari putranya.


Ditambah lagi, Alson yang tidak pernah marah, walaupun hatinya merasakan sakit sebagaimanapun, namun kini dia marah sambil terus memanggil Brio, ada apa sebenarnya?


"Mom,Dad, aku hanya mau Brio tanggung jawab dengan apa yang sudah dia lakukkan terhadap putriku," terangnya pada Eden dan Mario.


"Maksudnya apa Alson? Kamu dari tadi ngomong itu tidak jelas, kami bingung," sahut Mario. Kalimat ambigu yang diucapkan oleh Alson sama sekali tidak bisa dicerna dengan baik oleh mereka.


Alson menarik nafasnya dengan dalam terlebih dahulu, sebelum dirinya mengungkapkan tentang semua kebenaraanya.


"Brio, harus bertanggung jawab terhadap putriku Vita. Karena dia sudah menghamili putrikuc," ucap Alson dengan pelan, dan berhasil membuat Eden dan Mario terdiam tidak mampu berkata apapun lagi saat ini.


"A-apa yang kamu katakaan Alson? Tapi bagaimana bisa wanita itu adalah Vita?" tanya Eden, dengan rasa tidak percayanya.


Lalu Alson mulai menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya, namun dia masih belum tahu kenapa Brio mau melakukaan itu pada Vita.


Setelah menjelaskaan semunya dengan kepala dingin, barulah Mario dan Eden membuat kesepakataan untuk bertemu dan melamar Vita langsung setelah Brio pulang dari Indonesia.


Dan di situlah baru Alson bisa tenang karena Mario yang mau bersikap adil dan bijaksana dalam permasalahaan ini.


"Kalau begitu, aku akan kembali ke Italia sekarang dad, dan aku tunggu kalian besok di sana," pamit Alson, dia tidak ingin berlama-lama minggalkan anak dan istrinya yang sedang ditimpa masalah seperti ini.


****


Sedangkan di sisi lain, Brio yang sedari tadi kembali mencoba menghubungi Vita sama sekali tidak bisa tersambung.


"Aaaargggh Vitaa," jeritnya merasakaan amarah yang tidak bisa ditahan.


Brukkk, dia menghempaskan ponselnya hingga hancur lebur begitu saja, bahkan laptop,ipadpun semua ikut terkena dampak dari kemarahaan Brio.


"Beraninya dia pergi dan tidak mau mengangkat telponku, aaarggghh," gumamnya dengan nafas yang memburu.


Namu dia ingat jika dirinya bisa melacak keberadaan Vita. "Andrew," teriaknya memanggil asistennya yang paling sabar.


"I-iya Mister," ucap Andrew yang sedari tadi berada di depan pintu apartemen Brio.


"Cepat ambilkan laptop baruku!" Perintahnya dengan tegas pada Andrew.


"Mister, tadi Tuan Mario menelpon dan menyuruh Anda untuk balik sekarang juga ke Paris, karena mereka sudah tahu siapa yang tuan hamili," jelas Andrew, menyampaikan pesan pada asisten putranya itu.


"Apa?" tanya Brio,merasa kurang jelas dengan kalimat dari Andrew.


"Semua sudah tahu Mister, jika yang Anda hamili itu adalah Vita, keponakaan Anda sendiri, dan Tuan Mario sudah membuat kesepakaatan untuk melamarnya setelah Mister pulang balik ke Paris." Terangnya, membuat amarah di hati Brio semakin mencuat.


"Kita pulang sekarang!" Titahnya lagi pada Andrew. Dan langsung begitu saja melangkahkan kakinya keluar menuju bandara.


Kali ini dia bagaikan seorang nelayan yang telah kehilangan kompas. Dia tidak tahu bagaimana jalan keluar dari masalah ini. Tetapi demi memperbaiki hubunganya dengan Vita, mungkin ini adalah jalan terbaik untuknya dengan menikahi Vita dan mempertanggung jawabkan perbuatannya.


***


Berbeda dengan Vita, yang saat ini tidak tahu harus berbuat apa. Karir yang sudah dia bangun dengan susah payah, dengan setiap tetes keringat, dengan setiap rasa kantuk yang kerap kali dia tahan ketika dirinya sedang bekerja.


Saat ini semua terasa seperti percuma. Arvan lagi-lagi meminta agar Vita mau keluar dari dunia hiburan, karena menurut Arvan, semua kejadian yang terjadi atas Vita itu karena pekerjannya yang tidak mendidik.


Di saat Vita sedang duduk termenung, memikirkan nasibnya. Vika sebagai ibu kini terlihat masuk berjalan ke dalam kamar putrinya.


Dia membawakan susu khusus ibu hamil yang dia dapatkan dari supermarket keluarga yang berada di pavilion.


Mansion Arvan memang sangatlah lengkap, karena banyaknya pelayan dan kebutuhan mereka yang lainnya. Arvan menciptakan hypermat khusus di Mansionnya. Sehingga semua orang tidak perlu harus keluar atau ke Mall jika menginginkan barang yang mereka mau.


Melihat mamahnya yang datang, dengan cepat Vita langsung menghapus air matanya.


"Mamah," lirihnya pelan, sambil berusaha tersenyum agar mamahnya itu tidak lagi mengkhawatirkanya.


Vika balik tersenyum, sambil mengusap lembut kepala putrinya, "sayang, kamu minum susu ini ya, ini bagusloh untuk perkembangan janin kamu," ucap Vika, lalu memberikan gelas yang berisikan susu kepada putrinya.


Vita memandang sejenak ke arah mamahnya, "mah, maafin Vita ya mah," serunya, kembali dengan diiringi air mata yang tidak bisa dia tahan.


Rasa penyesalaan yang ada di dalam dirinya, tidak bisa dia hapuskan. Terlebih ketika dia melihat mamah dan papah tirinya kini sibuk membelanya agar mendapatkan keadilan, itu membuat Vita semakin merasa bersalah dengan semua ini.


Hingga kata maaf tidak bisa berhenti terucap, sebelum dia benar-benar bisa mendapatkan maaf dari mamahnya.


"Vita, mamah sebenarnya tidak tahu mau bilang apa, hanya saja mamah kecewa-"


"Mah, please maafkan aku mah," lirihnya pelan, namun dijawab dengan anggukan kepala dari Vika.


"Tidak ada seorang ibu yang tidak mau memaafkan putrinya sayang, walaupun rasa kecewa, marah,sedih semua bercampur aduk jadi satu di hati mamah. Namun, mamah tetap berusaha memahami semuanya, karena mamah juga pernah ada di posisi kamu ini,"


"Mamah hanya tidak menyangka, entah ini adalah karma dari perbuatan papah Jendra kamu dulu terhadap mamah, atau ini adalah takdir yang tertulis untuk nasib yang tidak bisa ditentukan," tungkas Vika lagi. Dia benar-benar tidak bisa menyangka bahwa hal seperti ini terjadi lagi, dan menimpah putri kesayangannya.


"Mamah,"


*To Be Continue. **


**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.


*Dan Jangan lupa yah, dukunganyaπŸ₯° jangan Sinder.*


*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*


Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘


**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*


*Terima kasih**πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»*