Partner Ranjang My Uncle

Partner Ranjang My Uncle
Partner Ranjang Chapter 16


🌹 Happy Reading ya Gengs 🌹


Hati Jendra semakin memanas, ketika putrinya dibawa masuk ke dalam toilet wanita yang terlihat di rekaman CCTV bandara.


"Apakah kalian lihat! Aku akan membunuh pria itu," yakin Jendra, tanpa rasa takut jika kalimatnya itu didengar oleh polisi-polisi sekitarnya.


Dia langsung beranjak ingin keluar untuk mencari putrinya sendiri.


"Pak, tenanglah terlebih dulu pak, kita pasti akan bisa menyelamatkan putri Anda." Sungguh polisi itu terlihat sangat khawatir jika sampai Jendra akan bertindak gegabah.


Bukan karena alasan apapun. Tetapi Ini semua adalah ketentuan hukum, takutnya Jendra malah akan membuat semuanya menjadi tidak terkendali. Karena mungkin bisa saja nanti Jendra akan gelap mata dan membunuh atau menganiaya pelaku, dan itu akan membuat masalah kasus hukum baru nantinya.


"Bagaimana bisa tenang? Anak saya adalah korban kekerasaan dan kalian bilang saya harus sabar. Apakah ini yang kalian bilang hukum yang adil? Apa ini yang disebut Indonesia Negara Hukum? Tetapi dengan keadaan ini semua kalian tidak ada yang bisa bertindak cepat!"


"Apakah kalian bisa membayangkan, bagaimana jika pria itu membunuh putriku?" semua bayangan-bayang jelek seketika muncul di dalam pikiraanya.


Buggghhh, Jendra meninju dinding dengan sangat keras. Dia marah pada dirinya sendiri, dia kecewa pada dirinya, lagi-lagi dirinya gagal menjaga putri kesayanganya.


"Aaarrggghhhh, Jendra,hisk,hisk, kenapa kamu begitu bodoh? kenapa kamu tidak bisa menjaga dan mengawasi anak kamu sendiri? Sekarang apa yang harus aku lakukan ya Tuhan, bagaimana jika Vika mengetahui ini semua." Jendra benar-benar lemah saat ini. Dia sama sekali tidak bisa membayangkan bagaimana jika sampai Vika tahu jika anaknya mengalami semua kejadian ini.


Sangat jelas jika dia akan kehilangan hak asuh anak, sudah jelas jika Vika akan mengambil lagi Vita dari sisinya.


****


Sedangkan di sisi lain, Vita dan Brio yang baru saja sampai di sebuah pulau, kini terlihat memasuki sebuah vila mewah yang berada di pulau tersebut.


"Aku belum menelpon papah, aku harus menghubunginya," gumam Vita, dan langsung mengambil ponsel yang berada di dalam tasnya.


Di saat dirinya baru saja memegang ponsel, tiba-tiba saja Brio datang dan mencengkram kuat tanganya, "apa yang mau kamu lakukan? Apa kamu mau memberitahu semua orang tentang keberadaanmu ini ha?" bentaknya sama sekali tidak beralasan.


Vita menatap Brio dengan tatapan benci, dan menepiskan tangan kekar pria itu dari lengannya.


"Bukan urusanmu," tegas Vita, dan langsung pergi begitu saja meninggalkan Brio lalu masuk ke dalam salah satu kamar yang berada di sana.


Melihat kepergian Vita, membuat Brio tertawa sendiri, "baiklah baby, aku akan memberikanmu waktu untuk beristirahat, tetapi setelah ini, kamu harus kembali melayaniku sampai pingsan.


"Dia itu kenapa sih? Apa tidak ada wanita lain yang bisa dia gunakan? Aku merasa seperti akan hancur suatu saat nanti." Vita tidak ingin ambil pusing lagi.


Dia langsung mengcharger ponselnya dan segera melihat semua pesan masuk di dalam sana.


Namun baru saja ponselnya menyala, panggilan masuk dari papahnya terlihat hingga membuatnya gugup dengan perasaan yang tidak menentu.


Dengan mengumpulkan keberaniannya, Vita mencoba mengangkat panggilan tersebut, "hallo," jawabnya gugup.


"Kamu di mana Nak? Kasih tahu papah! Siapa yang memukul kamu? Kenapa kamu tidak memberitahu papah Vita?" Suara Jendra terdengar menangis di ujung panggilan telpon.


Jantung Vita terasa seperti dihantam oleh ribuan balok, tidak tahu harus bagaimana menjelaskannya.


"Vita sayang, jangan takut Nak, sekarang jelaskan semua pada papah, dari awal sampai detik ini," pinta Jendra pada putrinya.


Sudah tidak ada lagi yang perlu ditutupi saat ini, Vita mencoba untuk menjelaskan kepada papahnya, mulai dari awal penjebakaan Emma, hingga seluruh ancaman Brio.


"Hisskk,,hiskk, maafkan Vita pah, karena sudah gagal menjaga kepercayaan papah, Vita sudah hancur pah, sekarang Vita adalah wanita yang tidak berharga," tangisnya meluapkan segala emosi dan rasa sakitnya.


Dia merasa malu dengan papahnya, dia malu karena sebagai wanita dewasa, dia sama sekali tidak bisa melindungi kehormataan yang dia punya.


"Vita sekarang di mana Nak? Apakah Vita bisa pulang? Kita bicarakan semuanya sama-sama ya, kita cari solusinya? Bisakan sayang?" tanya Jendra, meminta agar putrinya untuk segera pulang ke rumah.


Vita terlihat berpikir sejenak, dia tidak yakin jika Brio akan mengizinkannya. "Aku sedang bersama dia pah, dan aku seperti di sebuah kota kecil yang berada di pesisir pulau. Tetapi nanti aku akan mencoba untuk meminta izin pulang darinya."


"Biarkan papah bicara dengannya Vita, pap-"


"Pah, dia itu bukan pria yang baik, dia bahkan mempunyai tempramental pah, Vita takut, ketika papah marah denganya, dan dia marah denganku, dia pasti akan langsung membunuhku pah," ucapnya, sambil terus mengusap pusing keningnya.


Ckleek, terdengar suara pintu yang terbuka, dan menampilkan Brio di luar sana. "Ehemm, om, jangan khawatir om, pulang nanti akan aku pastikan Vita akan hamil om ahahah, hamil anak haram," seru Brio, yang semakin memancing kemarahan dari Jendra dan Vita.


"Apa maksudmu mengatakan jika aku akan hamil bayi haram? Kalaupun aku hamil itu adalah anak kamu Brio, bukan anak haram tapi anak kita," pekik Vita dengan segala tumpahan emosi.


Sedangkan Brio sama sekali tidak terlihat bersalah sama sekali. "Aku hanya mau tubuhmu, aku hanya mau menjadikanmu partner ranjang, bukan menjadi ibu dari anak-anakku." Setelah itu, Brio mendekat ke arah Vita, dan memaksa wanita itu untuk membuka mulutnya.


Cuuihhhhh, Brio meludahi mulut Vita dengan tersenyum dengan manisnya.


"Telan! Atau aku yang akan memaksamu," tegas Brio, tanpa perduli dengan suara Jendra yang berteriak-teriak di dalam panggilan.


Bruggghhh, Brio mendorong Vita begitu saja, hingga kepala Vita terkena ujung meja dan merobeknya sedikit.


"Kemana sifat angkuh yang selama ini kamu eluh-eluhkan? Sampah sepertimu tidak akan pernah menjadi sesuatu yang berharga! Ingat itu." Kecamnya pada Vita.


Dan lalu dia mengambil ponsel yang masih menyala, dan melemparnya hingga hancur tak tersisa.


Tak lama kemudian, terlihat seorang pria yang masuk ke dalam ruangan itu, "kamu bisa menggunakaannya sesukamu," ucap Brio, kepada sosok pria yang sepertinya masih muda, tetapi dia menggunakan topeng hingga Vita tidak bisa mengenalinya.


"Enggak Brio,kamu ingin apa? Jangan lakukan itu kepadaku Brio," elak Vita, ketika pria itu sudah mencoba untuk membuka paksa pakaiaanya.


"Bersenang-senanglah, aku akan membiarkan kalian berdua di sini, lalu setelah aku bangun, kita akan bermain bersama," ucap Brio lagi, sebelum akhirnya dia mengarahkan kakinya keluar.


"Briiooo," teriak Vita dengan sangat keras, namun sama sekali tidak diperdulikan.


Dia melihat ke arah pria tersebut mulai mengambil sebuah alat yang membuat Vita ketakutaan.


Namun belum saja pria itu memulai, tiba-tiba saja datang seorang wanita yang sepertinya juga seumuraanya.


"Apa-apaan kamu? Punya otak tidak! Kamu melakukan ini kepada dia, hey boy sadarlah, kamu-," ucap wanita itu terhenti, ketika pria bertopeng itu mengecup bibirnya secara kasar.


Vita meringis, ketika melihat permainan keduanya, bahkan pria ini terlihat bermain lebih kasar dari pada Brio.


"Aku tidak ingin bermain dengan wanita ini, aku hanya ingin memberikaanya sebuah pelajaraan yang berharga," ucapnya disela-sela kecupan panas mereka.


Wanita itu terlihat menghembuskan nafasnya kasar, "jika dia sampai mengenali kita, kamu jelas tahu akibatnya itu," balas wanita tersebut, lalu beralih menatap tajam ke arah Vita.


"Kamu boleh menyiksanya, tetapi tidak bermain dengannya. Cause you are my Partner Morena," gumam wanita tersebut.


"*** you want baby," balas pria bertopeng itu dengan santai.


Lalu wanita itu segera keluar dari kamar Vita, dan menyisahkan Pria bertopeng itu dengan Vita yang berdiri gematar di sana.


Pria itu tidak langsung bermain, dia hanya terlihat menyalakan rokoknya dan tersenyum manis sambil duduk di sebuah sofa yang berada di kamar tersebut.


"You wanna to play with me?" tanyanya dengan lembut.


Vita menggelengkan kepalanya pelan, dan langsung berlari ke dalam kamar mandi, lalu mengunci pintu agar pria itu tidak bisa masuk.


"Aku berada di dalam sebuah kematian saat ini," gumam Vita, menatap takut ke arah pintu.


**To Be Continue. *


**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.


*Dan Jangan lupa yah, dukunganyaπŸ₯° jangan Sinder.*


*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*


Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘


**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*


*Terima kasih**πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»*