
🌹 Happy Reading Gengs 🌹
Setelah mendapatkan gambar gembira ini, Vita kembali terlihat murung. “Ada apa sayang?” Tanya Brio pada Vita, yang terlihat sedih.
“Kita sudah 8 bulan menikah lagi, dan aku juga sedang hamil, tapi kita berdua apa tidak ada niat gitu bilang sama orang tua kita, kalau kita bahagia dengan hidup kita sekarang.” Ucapnya, memberitahukan suaminya atas apa yang sedang dia khawatirkan saat ini.
Brio menganggukan kepalanya paham, atas apa yang sedang dikhawatirkan oleh istrinya ini. “Tapi sayang, dalam kehamilan muda ini, aku juga tidak akan membiarkanmu untuk melakukkan perjalanan jauh sayang,” balas Brio, membuat kebimbangan di dalam hatinya.
Vita paham, jika Brio sangat menyayanginya, makanya Brio tidak mau sampai terjadi apa - apa, pada dirinya dan juga Babynya.
“Tapi aku kangen Papah, tidak bisakah kamu mencari kerja di Jakarta saja? Aku ingin di masa - masa kehamilan ini, aku berkumpul dengan Papah, Oma dan Opaku,” pintanya lagi pada Brio.
Tentu saja permintaan Vita ini, pasti membuat Brio merasa kepikiran. “Ehm, baiklah sayang, bagaimana kalau kamu memberikan aku waktu lagi dua bulan, termasuk Beverly, biarkan dulu dia bekerja setahun dengan kita, baru kita putuskan kontraknya, dan untuk rumah ini, mungkin kita bisa menyewakannya dengan orang lain. Bagaimana?” Brio mencoba untuk bernegosiasi dengan istrinya.
Vita berpikir untuk sejenak, dia juga sebenarnya tidak boleh egois, kasihan Beverly yang sudah pastinya ingin menabung banyak uang dengan bekerja dengannya. “Baiklah kalau begitu, dua bulan lagi ya.” Tawar Vita, yang di jawab dengan anggukkan kepala oleh Brio.
“Pasti sayang, aku janji dua bulan lagi.” Balas Brio, lalu memeluk kembali istrinya.
Cupppp, “terima kasih karena kamu masih mau mengandung anakku,” ucapnya dengan tulus.
Mendengar hal itu, tentu saja Vita langsung menguraikan pelukkannya dari tubuh Brio. “Apa yang sedang kamu bicarakan? Tentu saja aku mau, dan lagi pula ini juga anak aku.” Ujar Vita, merasa tidak senang dengan apa yang dikatakan oleh suaminya.
Brio tersenyum melihat Vita yang kembali menampilkan wajah kesalnya. Muaaachh, Sejenak Brio mendaratkan sebuah kecupan di wajah cantik itu. “Aku mencintai Vita, aku sungguh mencintaimu.” Ungkapnya dengan perasaan yang begit tulus.
“Aku juga mencintaimu,” balas Vita yang langsung Luluh lagi, karena kalimat ungkapan cinta dari suaminya.
Krucukk kruccukkk, suara perut Brio, membuat Vita tersenyum sembari menatap suaminya lekat. “Bukan Baby yang lapar, ternyata Daddynya.” Seru Vita dengan di iringi tawanya.
“Iya sayang, aku sudah sangat lapar.” Tandas Brio, terus menerus membuat Vita tidak bisa menahan senyum karenanya.
“Baiklah - baiklah, ayo kita makan.” Ujar Vita, mengajak suaminya untuk menikmati Breakfast mereka.
***
“Beverly, siapkan breakfast sekarang ya!” Perintah Vita pada pembantunya.
“Baik Nyonya,” sahut Beverly dari dalam, dan lalu mengeluarkan makanan yang tadi sudah dibeli oleh Brio.
“Kamu sudah Breakfast?” Tanya Vita pada Beverly.
“Sudah Madam, tadi Sir sudah memberikan kepada saya.” Jawab Beverly, yang lalu pamit ke belakang.
“Beb,” panggil Vita, ketika melihat Brio terlalu fokus dengan ponselnya.
Brio yang dipanggil, kini tersenyum, lalu meletakan ponselnya di atas meja.
Vita menatap Brio dengan rasa yang begitu penasaraan.
Tringgg, suara pesan masuk di ponsel Brio, namun lebih cepat Vita yang mengambilnya lalu mengeceknya.
“Kamu sedang berkirim pesan dengan siapa -,” kalimat tanyanya putus, ketika dia melihat chat grup keluarga Jonathan.
Brio merasa begitu santai di saat Vita membuka ponselnya, karena memang dia tidak menyembunyikan apa - apa.
“Beb, kamu memberitahu keluargamu kalau aku hamil?” Tanya Vita merasa terkejut melihatnya.
“Foto testpack tadi juga kamu kasih liat mereka?” Tanya Vita lagi, lalu kembali mengembalikan ponsel suaminya.
Brio yang masih mengunyah makananya itu tersenyum, lalu kembali membuka ponselnya dan melihat pesan masuk. “Mommy, Daddy dan Hanna akan ke sini.” Ucap Brio memberitahukan pada istrinya.
“Hanna? Siapa?” Tanya Vita, karena memang dia tidak mengenali nama Hanna.
“Loh, Brina sudah punya anak? Aku pikir waktu pernikahaan kita dia masih kuliah, kapan nikahnya?” Tanya Vita dengan bingung.
Karena seingatnya, waktu pesta pernikahaannya, Brina sama sekali tidak menggandeng siapa - siapa, dan bagaimana bisa sekarang anaknya berusia dua tahun.
Brio mengedikan bahunya singkat, “entahlah, aku juga bingung, namanya juga pergaulan remaja ya begitulah, pulang - pulang bawa anak.” Jelas Brio lagi.
Dia memang ingat, pada saat dia baru mengenal Vita, di situ juga Brina pulang dan mengatakan kalau dia sudah punya anak. Membuat Eden dan Mario cukup terkejut mendengarnya. Tapi ya sudahlah, mau diapakan juga, semuanya sudah terjadi.
Lagian Hanna juga sekarang sudah tumbuh menjadi gadis yang begitu cantik.
“Kenapa hanya Hanna yang ikut? Memangnya Brina tidak ikut?” Tanya Vita pada suaminya.
Brio menggelengkan kepalanya pelan, “Mommy bilang, di sana sudah waktunya liburan, makanya Mommy dan Daddy ingin membawa Hanna pergi liburan, sedangkan Brina, masih sibuk dengan pekerjaanya.” Jawab Brio, dengan menjelaskan apa yang ingin diketahui istrinya.
“Emangnya tidak apa - apa, masih baby begitu sudah dibawa keliling - keliling?” Tanya Vita lagi, merasa khawatir tentang Hanna yang baru berusia 6 bulan tetapi sudah jauh dari Mommynya.
“Tidak apa - apa, lagian kata Mommy, Brina sudah Mempump Asinya banyak kok, jadi tidak perlu khawatir.” Ujar Brio lagi.
Dan setelah mendengar penjelasaan itu semua, Vita kembali menganggukan kepalanya pelan.
“Nak, nanti kalau sudah besar, Michel harus jadi pelindung untuk Kakak Hanna ya.” Ujar Brio, replek meletekkan tanganya di perut istrinya.
“Kok Michel?” Tanya Vita menatapnya penuh rasa bingung ke suaminya.
“Michel itu nama yang netral tau,” sahut Brio membela diri.
“Netral seperti apa?” Tanya Vita lagi.
“Ya kalau laki - lakikan penyebutannya jadi Maikel, kalau cewek penyebutannya jadi Michel, gitu,” jelas Brio, memberikan penjelasaan untuk istrinya.
“Cuman beda dipenyebutan aja sayang, tapi tulisannya tetap Michel,” timpalnya lagi.
“Terus kok kamu mau anak kamu jadi pelindungnya Hanna? Memangnya anak kita sudah pasti laki - laki?” Tanya Vita lagi.
Brio menganggukan kepalanya pelan, “Aku pengen Laki - laki sih untuk yang pertama.” Jawab Brio penuh harap.
“Tapi kalau yang lahir perempuan gimana?” Tanya Vita kembali.
“Ya sudah, kita tinggal buat lagi, sampainya dapat laki - laki.” Jawab Brio dengan penuh rasa enteng.
“Kalau anak ke dua dan ke tiga juga bukan laki - laki gimana?” Tanya Vita lagi dan lagi. Membuat Brio menghentikan sesi makannya.
“Kalau begitu ya bikin terus sampainya dapatkan, mau ke tujuh atau sepuluh, tetap akan berusaha dapat laki - laki.” Jawab Brio dengan penuh yakin. Membuat Vita sontak mengedikan bahunya merasa merinding dengan jawaban suaminya ini.
*To Be Continue. **
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*
*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*
*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*