Partner Ranjang My Uncle

Partner Ranjang My Uncle
Partner Ranjang Chapter 46


🌹 Happy Reading ya Gengs 🌹


Setelah melewati drama pagi yang cukup panjang, saat ini Brio dan Vita tengah berada di sebuah rumah sakit untuk menunggu giliran antri mereka untuk bertemu dengan dokter.


Di karenakan hari ini adalah hari libur, terlihat banyak sekali suami yang sedang mengantarkan istrinya. Brio bisa melihat sendiri beraneka ragamnya ibu - ibu yang hamil, ada yang hamil besar, ada yang masih kecil, dan ada beberapa yang masih rata seperti istrinya.


"Sayang, butuh berapa lama sampai harus sebesar itu?" tanya Brio, sambil menunjuk ke arah wanita yang sedang duduk bersama suaminya.


Melihat Brio yang se-enaknya menunjuk orang lain, Vita langsung menepis tangan suaminya, sebelum orang yang ditunjuk itu melihat. "Io, kamu gak boleh nunjuk - nunjuk orang seperti itu, gak sopan tahu," seru Vita, sambil memegang tangan suaminya, agar tidak menunjuk sembarangan lagi.


"Hanya tunjuk saja, kalau marah tinggal marah balik, tidak terlalu susah," jawab Brio dengan santai.


Vita hanya mampu menghela nafasnya panjang, karena percuma bicara dengan Brio tidak akan pernah ada ujungnya. "Kenapa kita lama sekali dipanggil sih? Apa yang mereka semua lakukan di dalam?" Brio sedari tadi terus saja mengeluh tidak sabaran.


Sebenarnya dia oke - oke saja, namun saat ini Vita sedang menyita ponselnya dengan alasan suami harus fokus dengan kehamilan istrinya. Membuat Brio mau tidak mau harus menyerahkan ponselnya kepada nyonya utama.


"Vit, kembalikan ponselku ya," mohonnya pada Vita, namun bukannya dikasih Vita malah berpura - pura asik dengan membaca buku tentang kehamilan.


"Vita, janji deh habis dari sini aku belikan apapun yang kamu mau," timpalnya lagi, berusaha membujuk istrinya agar mau memberikan nafas keduanya.


"Aku sedang tidak mau apa - apa," jawab Vita dengan singkat. Semakin membuat Brio merasa frustasi.


Namun dia sama sekali tidak menunjukan rasa kesalnya di depan orang lain, dia hanya diam dan tidak mau bersuara. Akan tetapi Vita sangat tahu jika suaminya itu sedang marah saat ini.


"Alvita Natalie," suara suster telah terdengar memanggilnya.


"Iya Sus," sahut Vita, dan langsung beranjak sambil menarik tangan suaminya.


Dan dengan malas Brio berusaha bangkit dan mengikuti kemanapun istrinya membawanya.


"Silahkan Tuan, Nyonya," ucap sang dokter yang menggunakan name tag Anna.


"Terima kasih dok," balas Vita, lalu menyerahkan buku catatan yang memang dia bawa dari Indonesia.


"Apa ini nyonya?" tanya dokter tersebut yang tidak pernah melihat buku KIA yang dimiliki oleh Indonesia.


Vita langsung teringat, bahwa dia sedang berada di Negara yang berbeda, "oh,iam so soory, buku ini adalah catatan pemeriksaan pertamaku di Indonesia," jawab Vita sembari mengambil kembali buku tersebut.


"Apakah kalian akan menetap di Negara ini?" tanya dokter Anna lagi.


Dengan ragu Brio dan Vita menganggukan kepalanya pelan, "saya tahu, Anda adalah nyonya Vita, aktris dan model Internasional itukan," sontak saja Vita tersenyum tipis, dan langsung menggengam tangan suaminya, agar tidak terpancing dengan pertanyaan itu.


Vita sangat paham, jika dari awal hubungan mereka, Brio sangat tidak menyukai jika dirinya menjadi seorang aktris maupun model. Maka dari itu setelah Brio menikahinya, dengan sikap tegasnya Brio melarang Vita untuk kembali bekerja, ataupun ada orang lain yang mengenalinya.


"I-iya dok," jawab Vita dengan gugup. Dia juga tidak bisa berbohong, karena nama lengkapnya memang sudah tersebar diberbagai belahan dunia.


"Saya adalah salah satu fans berat Anda," seru dokter itu lagi.


Brio menatap Vita dengan lekat, namun Vita hanya tersenyum sambil mengatakan, semua akan baik - baik saja, lewat gerakan bibirnya.


"Nanti saya minta foto dan tanda tangan ya," sambung dokter itu lagi.


Vita hanya menganggukan kepalanya pelan, dan lalu tersenyum dengan tipis.


"Jadi kapan tanggal terakhir Anda halangan?"


"Saya lupa dok," jawab Vita.


"Kemarin periksa di Indonesia, katanya sudah berapa bulan?" Tanya dokter itu lagi.


Vita mengingat - ingat hasil pemerikasaan terakhirnya dan ditambahkan dengan masa yang sekarang. "Ehm, mungkin sekitar delapan mingguan dok," jawab Vita dengan ragu.


Karena sedari tadi dia melihat wajah suami dari pasiennya ini hanya diam dan tanpa berkata apapun.


Vita membalas candaan dokter Anna dengan tersenyum lebar, "karena aku sedikit lupa dok," jawabnya dengan terkekeh.


Dokter Anna menggelengkan kepalanya gemas mendengar jawaban dari pasien sekaligus idolanya ini.


"Ya sudah, kalau begitu mari kita lakukan pemeriksaan sekarang," ucap dokter Anna, mempersilahkan Vita untuk berbaring di atas tempat tidur.


"Bentar dok, ini tempat tidur semua pasien kamu tadi menidurinya, bisakah kamu membersihkan dan mensterilkan itu?!" Tanya Brio yang terdengar seperti memerintah.


"Eh, bisa - bisa Tuan, tunggu sebentar ya Tuan," ucap dokter Anna dengan gugup. Dia merasa baru kali ini dia merasa menjadi dokter yang tidak benar.


"Kenapa kamu bicara seperti itu?" tanya Vita, menggunakan bahasa Indonesia.


"Aku hanya ingin memastikan kenyamanan kamu saja sayang, bukan apapun," jawab Brio dengan santai.


"Dia adalah dokter Brio, kamu gak bisa bicara dan memerintah mereka seperti itu," ucapnya lagi. Namun Brio hanya cuek tanpa memperdulikan teguran dari istrinya.


***


Setelah suster tadi membersihkan tempat tidur khusus tersebut, barulah Dokter Anna kemabali mempersilahkan Vita untuk berbaring.


"Gel ini akan sedikit terasa dingin ya Nyonya," ucap dokter tersebut, di saat baru saja ingin menuangkan gel khusus itu ke atas perut Vita.


"Sudah siap liat janinnya?" Vita dan Brio dengan cepat menganggukan kepala mereka.


Dokter Anna mulai meletakan alat ultrasonografi di atas perut Vita, dan mulai menampilak sosok yang ada di sana.


"Ini ya, Tuan, Nyonya, usia kandunganya sudah memasuki minggu ke -9, di usia 9 minggu kehamilan, ukuran janin Tuan dan Nyonya sudah sekitar sebesar buah anggur, yang mempunyai berat sekitar 28 gram dan panjangnya sekitar 2,54 cm, ini termasuk normal ya," terang dokter tersebut, membuat Vita tersenyum bahagia melihat janin yang dulu sempat dia ingin gugurkan, sekarang sedang tumbuh dengan baik di dalam rahimnya.


Begitu pula dengan Brioa, dia merasa sangat menyesal karena pernah ingin melenyapkan darah dagingnya sendiri.


Teringat jelas bagaimana rasa sakit yang Vita rasakan dulu, akibat ke - egoisan yang dia miliki, bahkan sempat tidak ingin bertanggung jawab atas bayinya sendiri, dan memilih untuk menikahi orang lain.


Untung saja Tuhan lebih dulu menyadarkanya, sehingga kesempatan untuk menebus kesalahanya itu tidak akan pernah dia sia - siakan lagi.


"Di perkembangan janin 9 minggu kehamilan ini, ekor belakang punggung bayi telah menyusut dan hampir menghilang dalam minggu ini ya, Namun, kepala bayi terus tumbuh dan cukup besar dibandingkan bagian tubuh bayi yang lain. Dan pada perkembangan janin 9 minggu kehamilan ini kepala bayi kalian beratnya sekitar 3 gram. Hidung juga telah berkembang dan kulit di mata mulai membentuk kelopak mata. Bulan depan ini pasti sudah terlihat mulai ingin mirip ke siapa ya," jelas dokter tersebut.


"Dan Di 9 minggu kehamilan ini juga, sistem pencernaan bayi kalian akan terus berkembang, ususnya akan tumbuh lebih panjang dan terbentuklah sebuah organ yang dinamakan anus, tetapi itu juga aka. secara bertahap. Selain itu, organ reproduksi (testis atau ovarium) akan mulai terbentuk dalam pekan ini juga. Mengingat di fase ini otot telah tumbuh, kemungkinan dapat terjadi beberapa gerakan pertama bayi kalian dan semuanya akan terjadi pada minggu ini.


"Bayi akan bergerak secara spontan menari mengelilingi rahim dan mengajak ibunya bermain. Namun, Anda tidak bisa merasakan gerakan - gerakan ini secara langsung melalui perut, melainkan hanya dapat dilihat saat USG seperti ini.


"Jari-jari kaki sudah mulai terlihat jelas, termasuk organ penting bayi, seperti jantung, otak, hati, dan paru-paru. Ini adalah tanda bahwa perkembangan bayi kalian di usia 9 minggu kehamilan ini dalam keadaan baik. Detak jantung juga sudah sangat berkembang dengan baik. Apakah kalian ingin mendengarnya?" Dengan cepat Vita kembali menganggukan kepalanya pelan. Entah seberapa bahagianya dia bisa mendengar detakan jantung bayinya untuk pertama kali.


*To Be Continue. **


**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.


*Dan Jangan lupa yah, dukunganyaπŸ₯° jangan Sinder.*


*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*


Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘


**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*


*Terima kasih**πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»*