
🌹 Happy Reading Gengs 🌹
Saat ini, Langit tengah menyuapi Vita makan malamnya, pria itu seharian ini memang begitu ahli dalam merawat Vita penuh dengan kelembutan. Sehingga Vita, malah jauh lebih merasa nyaman dan seperti mendapatkan sebuah perlindungan.
“Apakah kamu membutuhkan sesuatu lagi?” Tanya Langit, ketika melihat Vita kini hanya menatapnya terus menerus, bahkan sepertinya tanpa berkedip.
Vita yang tersadar mendapatkan teguran dari Langit, kini terlihat bingung, dengan sedikit menampilkan senyumnya.
“Tidak, tidak ada,” jawab Vita, dengan ekpresi yang begitu gugup.
“Baiklah, jika butuh sesuatu, langsung beri tahu aku saja, aku siaga di sini untuk kamu.” Balas Langit, yang membuat Vita semakin merasa salting dibuatnya.
Vita tertawa kecil menanggapinya, yang lalu kembali menerima suapan dari pria itu. “Langit,” panggilnya pelan.
“Yes, Vita,” sahut Langit, dengan arah tatapn yang kini juga fokus pada wanita itu.
“Kalau kamu pada saat ini selamat, kenapa kamu tidak langsung mendatangiku?” Tanya Vita, yang sebenarnya dari kemarin begitu penasaraan.
Seharusnya, kalau memang Langit selamat, kenapa pria itu begitu tega membiarkan dirinya harus merasakan trauma atas kehilangan dirinya.
Langit terlihat diam sejenak, lalu kemudian dia meletakan piring yang sejak tadi dia pegang ke atas meja.
Setelah itu dia berdiri, dan membuka baju serta celananya tepat di depan Vita, sehingga saat ini, dirinya hanya menggunakan celana pendek serta Kaus sebagai dalamnya.
Betapa terkejutnya Vita, melihat tubuh Langit, dipenuhi dengan luka bekas operasi, hingga di kakinya.
“Langit,” gumamnya pelan, tidak bisa membayangkan betapa sakitnya Langit pada saat ini.
“Pada saat jatuh dari gunung itu, tubuhku yang sebelah kiri, hancur,” ungkapnya, dengan menunjukkan tubuh bagian sisi kirinya, yang walaupun sudah di operasi pelastik, tapi masih meninggalkan bekas yang berbeda dengan bagian sebelah kanan.
“Kaki ku dua - duanya patah,” tambahnya lagi.
“Pada saat itu, sebenarnya aku bingung, aku lebih baik mati atau hidup.” Langit kembali mengenakan pakaianya, karena dia merasa tidak enak, dengan berdiri tanpa pakaian seperti itu di depan Vita.
Dan takutnya lagi, ada seseorang yang akan tiba - tiba masuk ke kamar Vita, dan melihat hal yang tidak seharusnya mereka liat, dan kembali akan menimbulkan fitnah lagi.
Vita menutup mulutnya dengan ke dua tangannya, dia benar - benar shok melihat tubuh Langit yang seperti itu. Dia bahkan bisa merasakan ngilunya luka jahitan di perutnya saat ini. Apa lagi Langit yang mengoperasi sebagian tubuhnya.
“Pada saat itu, aku merasa begitu sangat tidak berguna.”
“Tangis orang tuaku, tangisanku, terdengar seperti ratapan kesedihan yang tidak ada ujungnya.”
“Bahkan aku selalu meminta kepada Tuhan, untuk mengambil nyawaku saja yang hilang, dari pada aku harus melihat tangisan ke dua orang tuaku.”
“Aku merasa sangat tidak berdaya, aku merasa harapanku sudah pupus, aku merasa tidak akan lagi ada masa depan untuk aku pada saat itu.”
“Biaya operasi yang begitu mahal menambah pupusnya harapanku untuk kembali normal.” Ungkapnya semua pada Vita.
Tanpa dijelaskan lebih lanjut, Vita sudah tahu, kenapa Langit tidak mendatanginya pada saat dulu.
“Lalu, apakah kamu ada ke Germany dekat - dekat ini?” Tanya Vita lagi, begitu penasaraan untuk memastikan, jika pengheliatannya itu sama sekali tidak salah.
Langit menganggukan kepalanya pelan, jika dia memang berada di German bulan kemarin, waktunya tepat pada saat Jendra memberitahu jika Deperesi Vita kambuh pada saat dirinya berada di German.
Vita terkejut mendapatkan kenyataan jika sosok yang dia lihat pada saat itu, memanglah Langit.
“Maafkan aku Vita. Tapi pada saat itu keramaian di sekitaraan kita, dan aku sama sekali tidak mendengar jika kamu memanggilku, karena kondisiku juga sedang menggunakan Earphones untuk mendengarkan orang yang sudah membayar hidupku.” Jelas Langit lagi, yang kini membuat Vita merasa memang semua hal yang terjadi, bukanlah salah dari Langit.
Vita terdiam sejenak, mendengar semua penjelasaan dari Langit, namun Langit langsung menggengam tangannya dengan penuh kelembutan.
“Maafkan aku Vit, atas semua yang terjadi selama ini, atas apa yang kamu alami, aku minta maaf,” ujarnya dengan tulus pada Vita.
“Tidak Langit, bukan salah kamu, tapi mungkin emang takdirnya saja yang harus seperti ini.”
“Kalau tidak seperti ini, kita tidak akan pernah tahu mana yang sayang benar - benar dengan kita, dan mana yang cuman ingin main - main bersama dengan kita.
Langit menganggukan kepalanya pelan, lalu mengingat jika dia ingin bertanya pada Vita tentang bagaimana dia bisa menikah dengan Brio.
“Ehm, Vit, boleh tidak aku juga bertanya? Langit meminta izin dulu kepada Vita, apakah dirinya boleh bertanya atau tidak.
“Boleh, memang mau tanya apa?” tanya Vita balik.
“Ehhmm, jika kamu memang benar sampai merasa deperesi karena tidak bisa mengikhlaskan kepergiaanku, itu berarti kamu juga tidak bisa melupakan aku.”
“Tapi kenapa kamu bisa menikah dengan laki - laki yang bernama Brio itu?” Tanya Langit penasaraan. Karena dirinya saja yang mengaku masih mencintai Vita. Tapi memang benar itu adanya.
Terbukti sampai saat ini dia belum pernah menjalin hubungan dengan wanita lain selain Vita dulu.
Vita terlihat menghembuskan nafasnya berat, ketika dirinya harus dipaksa untuk mengingat kejadian dulu di saat Brio memaksanya untuk melayani nafsu bejatnya.
“Temanku Emma menjualku padanya tanpa sepengetahuanku.” Jawabnya jujur, tidak ingin ada yang dia tutupin pada Langit.
“Dijual?” Tanya Langit dengan sedikit terkejut, lalu Vita menjawab dengan anggukan kepalanya pelan.
“Tunggu - tunggu - tunggu.”
“Maksudnya di jual seperti apa?” Langit memperbaiki kalimat tanyanya, agar lebih jelas lagi untuk Vita.
“Dia menjualku untuk melayani nafsu bejat dari Brio, tapi ketika aku ingin mengangganti uang itu, Brio menolak dan malah memberikan bunga yang sangat tidak masuk akal.” Ungkapnya lagi.
“Selama bersamanya, hidupku benar - benar tersiksa, seperti burung yang ada di dalam sangkarnya. Hubungan Toxic yang membuat diriku rasanya pengen bunuh diri aja, sampai detik ini masih mengganggu pisikisku.” Vita menjelaskan semuanya pada Langit, dengan memperlihatkan sorot mata penuh kebenciaan ketika dirinya menyebutkan nama pria itu.
Jujur Vita rasanya tidak tahu sekarang, apa bahagia ituc setelah Brio menghancurkan kehidupannya yang sangat sempurna. “Aku benci sekali sama dia, tetapi aku sudah terlanjur hamil, jadi aku tidak bisa menolak pernikahaan bersamanya.” Mendengar penjelasaan Vita, Langit merasa sangat begitu marah pada Brio.
Apa lagi melihat Jendra yang kemarin sempat pergi ke dokter Psikologi, sepertinya dia tahu bahwa saat itu Jendra ke sana untuk mendaftarkan nama Vita untuk konsulatsi kejiwaan dengan dokter tersebut.
*To Be Continue. **
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*
*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*
*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*