
πΉ Happy Reading ya Gengs πΉ
Sinar pagi hari membangunkan insan yang tengah menikmati tidur nyenyaknya. Hari ini dia mempunyai jadwal penerbangan ke Italia untuk mengunjungi mamahnya.
"Vit,,Vita, bangun sayang, pesawat kamu nanti jam 10 loh, dan sekarang udah jam 7.30. Ayo bangun nanti kamu telat," panggil Jendra, yang sudah ke-delapan kalinya mengetuk pintu kamar putrinya.
Tadi malam, Vita yang mengatakan kepada Jendra untuk membangunkannya jam 6 pagi. Namun sekarang, sudah satu setengah jam Jendra berulang kali mengetuk pintu dan membangunkan putrinya itu. Sama sekali tidak terlihat jika putrinya itu akan bangun.
Dengan pasrah, Jendra menghembuskan nafasnya kasar, memilih untuk memberikan lagi waktu 15 menit untuk Vita melanjutkan tidurnya.
"Masih belum bangun?" tanya Vina, sembari menyiapkan sarapan pagi untuk keluarga.
Jendra menggelengkan kepalanya pelan, lalu duduk di sebelah papahnya untuk menikmati sarapaanya lebih dulu.
"Vita kenapa ya? Ini pertama kalinya dia sulit dibangunkan, biasanya sekali ketuk pintu dia udah bangun, tapi ini udah delapan kali, masih belum bangun juga." ucap Dyzon menatap ke arah putra dan istrinya.
Dia yang juga begitu menyayangi cucunya sehingga dirinya tahu bagaimana dan kapan cucunya itu akan bersikap aneh.
"Pah, udah deh, jangan berpikir macama-macam, mungkin saja putriku lelah," balas Jendra, menolak hal buruk yang terjadi dengan putrinya.
Sejenak semuanya terasa hening dan menikmati kegiataan mereka masing-masing.
***
Sedangkan di dalam sana, Vita yang sebenarnya sudah bangun sedari tadi, kini hanya memilih untuk bermalas-malasan di bawah selimut.
"Good morning sayang," sapanya pada baby V.
"Good morning juga mommy," balasnya sendiri, dengan mengikuti suara khas anak kecil.
Lalu dia kembali terdiam sejenak, dengan memikirkan segala hal. Hingga tanpa terasa air matanya kembali terjatuh, menahan sesak di dalam dadanya.
"Aku harus bagaimana sekarang? Tidak mungkin aku selamanya menyembunyikan tentang kehamilanku ini, pasti suatu saat dia akan membesar dan aku harus memberitahu mereka. Tapi aku takut," ucapnya pelan, sambil terus memikirkan apa yang akan terjadi dengannya.
Vita menghela nafasnya kasar, merasa bingung dengan jalan hidupnya. Dia sangat rindu dengan masa lalunya sebelum dirinya bertemu dengan Brio.
Dia yang setiap harinya merasakan bahagia tanpa harus memikirkan pasangan, tapi kali ini dia harus menderita karena sebuah hubungan yang tidak dia ciptakan.
Seketika dia teringat kembali pada Emma, dia masih tidak habis pikir, kenapa wanita yang dia anggap sahabat, bisa berbuat sejahat itu kepadanya? Mengkhianatinya bahkan menjualnya.
"Sudahlah Vit, kamu tangisin juga semua gak akan pernah berubah, yang ada sekarang kamu hanya harus memikirkan bagaimana cara memberitahu keluargamu," lirihnya lagi, menyemangati dirinya sendiri.
Lalu setelah itu, Vita yang tidak mau terus menerus mengingat masa lalu, kini bergegas untuk bangun dan bersiap-siap untuk ke bandara nanti.
Dia sangat membutuhkan refreshing untuk menenangkan pikiraanya, dan juga masih butuh waktu untuk bisa menemukan jawabaan dari pertanyaan.
*****
Berbeda di sisi lain. Brio yang baru saja pulang dari kantor, kini mulai ingin mengistirahatkan tubuhnya sejenak.
Tiba-tiba saja dia kembali teringat pada Vita, wanita yang saat ini tengah mengandung bayinya.
"Vita, maafkan aku," ucapnya pelan, walaupun tidak akan ada yang bisa mendengarnya, tetapi dia mengucapkannya dengan tulus.
Brio kini terdiam, sambil terus memandang ke arah langit-langit malam yang bisa dia lihat dari balkon kamarnya.
"Aku tidak tahu, takdir apa yang sedang berjalan saat ini, aku berniat hanya untuk mempermainkanmu, tetapi sekarang semuanya berbanding terbalik jadi mempermainkaanku." lirihnya lagi pelan.
"bayi kita, aku bukan bermaksud tidak menginginkaanya, tetapi aku-," ucapnya terhenti, ketika dirinya mendapatkan bayangan seorang wanita yang sedang mendekat.
Sontak saja, Brio menutup mulutnya, dan segera membalikkan tubuhnya untuk melihat siapa wanita itu.
Plaaaaakkkk, satu tamparan yang cukup keras, menyambutnya ketika dia baru saja menolehkan kepalanya.
Eden yang tadinya hanya ingin mengantarkan vitamin ke dalam kamar putranya, kini dikejutkan dengan satu kenyataan bahwa putranya telah menghamili seorang wanita, dan lalu meninggalkannya begitu saja.
"Jangan panggil mommy, jika kelakuaanmu seperti itu Brio." Tegas Eden, kepada putrnya.
Brio tersenyum, lalu menggelengkan kepalanya pelan, "mom, ini itu bukan yang seperti mommy bayangkan, aku hanya sedang menghafal dialog mom," jawabnya bohong, merasa bahwa mommynya akan begitu bodoh untuk dibodohi.
Plaaakkkk, Eden kembali melayangkan sebuah tamparan pada putranya, dia bukan type ibu yang suka memukul, tetapi kalau dia sudah marah besar, pasti dia akan memberikan anak-anaknya sendiri pelajaraan.
"Kamu pikir mommy adalah orang bodoh yang bisa kamu bohongi seperti itu Brio, ha?" sentaknya sambil terus memukuli putranya dengan keras.
"Arrggh mom, sakit," keluhnya, ketika Eden benar-benar lepas kendali.
Merasa tidak puas jika hanya memukul dengan tangan, akhirnya Eden berjalan mendekati walkclosed milik putrnya, dan mencari sebuah hanger kosong untuk membantunya memberikan pelajaraan pada Brio.
"Katakaan! siapa wanita itu?" tanya Eden dengan mengancam menggunakan hanger baju.
Brio menggelengkan kepalanya kuat, enggan untuk memberitahu mommy siapa wanita itu. Karena jika mommynya sampai mengetahuinya, maka akan dipastikan, hidupnya akan kelar saat itu juga.
Plakkk,,plakkk,,plakkk, "mommy sudah pernah bilang sama kamu kalau-,"
"Kalau tidak boleh menyakiti hati seorang wanita," sahut Brio yang begitu ingat dengan kalimat mommynya.
Eden benar-benar tidak menyangka, jika malam ini dia mendapatkan kenyataan bahwa putranya sendirilah yang menghancurkan hidup seorang wanita.
Merasa lelah karena Brio tidak juga kunjung menjawabnya, bahkan tidak bergerak sama sekali ketika merasaakan sakitnya pukulan mommynya.
Eden menangis, dan kini terduduk lemah di sofa kamar Brio. "Apakah kamu tidak pernah berpikir dulu sebelum kamu melakukaanya? Apakah kamu tidak berpikir bahwa dia juga memiliki orang tua yang pasti akan sangat kecewa dengan keadaanya, apa lagi sekarang kamu meninggalkannya begitu saja dalam keadaan hamil." Eden lagi-lagi mengusap air matanya yang terjatuh dengan perlahan.
Brio juga ikut terdiam melihat mommynya yang seperti ini, dia baru mengingat tentang Alson yang merupakan papah tiri dari Vita.
Dia sudah pasrah saat ini, jika suatu saat semua keluarga besar tahu, dia harus bisa menerima konsekunsi akibat dari perbuataanya.
"Mom," lirihnya pelan, ingin mengenggam tangan mommynya, namun Eden segera menepisnya dengan kasar.
Obrolan mereka, kini terdengar hingga ke telinga Mario. Dia yang sedari tadi mencari keberadaan istrinya, kini mendapati istrinya itu sedang menangis di dalam kamar putranya. Dengan Brio yang berlutut dihadapaan mommynya.
"Ada apa ini?" tanya Mario, sontak menganggetkan mereka berdua.
Edeng menoleh sekilas ke arah suaminya, dan lalu menatap lagi ke arah putranya yang terlihat sedang menggelengkan kepalanya, memohon agar mommynya tidak memberitahu kepada daddynya.
"Kalian berdua kenapa? Mommy juga kenapa nangis? Lalu kenapa kamu memegang gantungan baju mom?" Tanyanya lagi merasa begitu penasraan dengan apa yang terjadi.
Namun, seperti membisu, mereka berdua terdiam tidak tahu cara memberitahu kepada daddy Mario.
"Katakaan sekarang! Atau aku akan-,"
"Putramu menghamili anak orang."
*To Be Continue. **
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***ππ»ππ»* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
*Dan Jangan lupa yah, dukunganyaπ₯° jangan Sinder.*
*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**π*
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **πLike,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****ππ
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***πππ*
*Terima kasih**ππ»ππ»*