
πΉ Happy Reading ya Gengs πΉ
Saat ini Vita tengah merasa bosan karena sudah dua jam lamanya Brio masih tidak ingin menjalankan mobilnya dan terus bermain game untuk mengajarkan cara bermain judi pada baby mereka.
"Apakah masih belum?" tanya Vita dengan raut wajah yang sudah menahan kesal.
Brio hanya menjawab dengan menggelengkan kepalanya singkat, lalu terus kembali fokus kepada ponselnya.
Dan tiba - tiba saja tatapan Vita melihat seseorang menjual sosis bakar dipinggir jalan sana. "Io," panggilnya, sambil memukul pelan pundak suaminya.
"Hemm, apa sih Vit, aku tuh lagi serius," merasa sudah terlalu lama diabaikan, kini Vita memilih langsung keluar begitu saja dari dalam mobil, meninggalkan Brio yang terus saja sibuk dengan kegitaanya.
"Eh Vit, mau kemana," panggil Brio, namun terus saja fokus di layar ponselnya.
Vita yang kesal, kini ingin segera melangkahkan kakinya untuk menyebrang agar bisa membeli sosis dan es krim itu.
"Tuan, sosis dan es krim rasa vanilanya 1 ya," pesanya, ketika sudah berhasil menyebrang.
"Pak, berikan saya juga satu ya," ucap salah seorang yang berada dibelakangnya.
Deeggg, jantung Vita terasa ingin sekali lepas dari tempatnya, entah ini adalah sebuah kebetulan atau bagaimanan, yang terpenting, Vita sangat tidak ingin melihat wajah pria ini lagi.
"Vita," panggil pria tersebut, ketika pandangan mereka bertemu.
"Vita, itu kamu kan," serunya lagi, namun Vita berpura - pura seolah - olah itu bukanlah namanya.
"Vita, aku tahu ini kamu, Vita, aku sudah lama sekali ingin menemuimu, tetapi papah kamu selalu menghalangiku Vit."
"Vita, kamu gak lupa sama aku kan Vit?" Pria itu terus menerus menggengam tangan Vita agar mau mengingat dan menjawab kalimatnya.
"Maaf, aku gak kenal sama kamu, nama aku Natalie," jawab Vita bohong. Dia ingin sekali pergi saat ini juga, terlebih dia tidak ingin sampai Brio melihat keberadaan dirinya bersama dengan pria lain.
"Vit, ini aku, Langit," ucap pria itu kembali memperkenalkan dirinya.
Vita benar - benar tidak percaya, pria yang sedang berada dihadapannya ini, adalah kekasihnya yang sudah meninggal tiga tahun yang lalu. Dan sekarang dia kembali terlihat, bahkan menganggap jika semuanya baik - baik aja.
"Enggak, aku bukan Vita, kamu salah orang," tegas Vita, lalu mendorong tubuh Langit, pria yang berhasil mengambil seluruh cintanya di masa lalu.
"Vit, aku ingin menemui kamu, tetapi papah kamu melarang Vit, aku ingin menjelaskan semuanya, tentang apa yang terjadi dengan aku dulu," ucap Langit, tidak berhenti berusaha untuk mendapatkan pengakuan dari Vita.
"Enggak, Langit kekasihku udah gak ada, dia udah meninggal, dan bahkan jasadnya -,"
"Belum ditemukan, benarkan?!" Sambung Langit, menghentikan segala peresepsi dari Vita.
"Vit, aku masih hidup, aku Langit, kekasihmu, cintamu, dan sampai detik ini aku berharap Tuhan mempertemukan kita kembali," ungkap Langit.
Dengan nafas yang memburu, Vita menggelengkan kepalanya dengan keras, sembari kedua tanganya menjambak keras rambut itu, sepertinya depresi akan kehilangan sosok Langit, kini kembali lagi merasukin ingatanya.
"Vit. Aku sayang sama kamu, kasih aku waktu sedikit saja untuk menjelaskan semuanya." Langit mengungkapkan semua perasaanya dengan tulus. Namun dengan segera Vita berlari menyebrang untuk masuk ke dalam mobil Brio.
"Vitaaa," teriak Langit, sembari mengejar langkah Vita, akan tetapi jalannya terhenti karena banyaknya mobil yang sama sekali tidak berhenti.
"Vita, dengarkan aku dulu Vit." Langit masih berusaha keras memanggil Vita. Namun wanita itu malah terlihat menangis dan terus memegangi kepalanya yang sakit.
"Aaahhhrgghh, damn it!" Umpat Langit, ketika dirinya kembali kehilangan langkah Vita.
Baaaanggg, Vita menutup pintu mobil Brio dengan sangat keras, dirinya membanting pintu tanpa ada rasa takut sedikitpun.
"Kita pulang sekarang!" Perintah Vita, tanpa memperdulikan Brio yang kini sedang menantapnya bingung.
Melihat Vita yang masuk tanpa membawa apapun, serta rambut dan penampilan yang berantakan. Membuat Brio merasa sangat ingin tahu apa yang telah terjadi di dengan istrinya tadi.
Vita terdiam, sambil mengalihkan pandanganya ke arah luar jendela. Sakit, itu yang dia rasakan saat ini.
Setelah tiga tahun lamanya dia berusaha melupakan sosok Langit, dan kini dengan tidak tahu dirinya pria itu datang lagi, dan merasa bahwa semuanya sedang baik - baik saja.
"Kenapa Tuhan menghidupkan arwahnya dia kembali," batin Vita, tidak tahu apa yang dia rasakan saat ini.
Jika ditanya, apakah dirinya masih mencintai Langit? Maka jawabanya iya, dia sangat mencintai pria itu lebih dari apapun, bahkan dulu ketika dia mendapatkan kabar kematian dari Langit, dia sempat mengalami depresi selama satu tahun lebih, dan papahnya berusaha menyembunyikan semua kejadian itu dari siapapun, termasuk mamahnya.
Jendra kembali memasang badan untuk melindungi kesehatan putrinya yang memang pada saat itu tidak bisa bertemu dengan siapa - siapa. Dia bahkan sampai rela dibenci oleh Vika, dituduh meracuni pikiran putri mereka agar tidak mau bertemu dengan mamahnya. Padahal pada kenyataanya, Jendra sedang membawa Vita ke rumah sakit besar di California untuk menyembuhkan kedepresian putrinya akibat ditinggal mati kekasihnya.
"Vita," panggil Brio dengan lembut, namun tidak ada sama sekali jawaban dari istrinya. Pandangan Vita kosong, sepertinya depresi atau penyakit kejiwaan yang dulu menghampirinya, kini kembali kambuh, dan Brio sama sekali tidak tahu apa penyebabnya.
"Vita, Vita, kita sudah sampai di rumah," tungkasnya lagi, namun lagi - lagi Vita sama sekali tidak merespon. Melainkan dia malah menangis tanpa bisa dihentikan.
"Hiskk ,, hisskk ,, hissk, kenapa kamu jahat ,, kenapa kamu pergi," tangis Vita sembari mengeluarkan kalimat yang Brio tidak mengerti sama sekali.
"Vita, kenapa kamu menangis Vit? Aku tidak melukaimu, aku bahkan tidak memukulmu," seru Brio, kembali berusaha mengajak Vita untuk berbicara. Namun hasilnya nihil.
Vita hanya diam dan terus menangis, namun dia tidak histeris, dan tidak juga menyerang, intinya hanya menangis.
"Hufftt, apa yang harus aku lakukan sekarang?" Batin Brio, sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Vita, sayang kamu mau apa? Siapa yang pergi? Aku tetap di sini Vit," ucap Brio lagi. Akan tetapi Vita kembali tidak meresponnya.
Ini adalah pertama kalinya Brio berada di situasi seperti ini. Dia bahkan bingung mau berbuat apa saat ini, tidak ada yang dia mengerti, apakah Vita tiba - tiba menjadi gila? Atau apa? Dia juga tidak tahu.
"Vit, apakah kamu tadi jatuh?" tanya Brio lagi, sambil terus menggoyangkan kepala Vita, dengan sedikit menoyornya, berharap jika Vita akan sadar setelah ini.
"Vit, jangan prank kamu ya, gak lucu Vit serius," Brio mulai merasakan panik yang menyeluruh.
Dia membuka pintu mobil dan mencari apa saja yang bisa menyadarkan Vita. Namun, sebelum itu dia melihat ke dalam mobil, apakah Vita ada meletakan kamera atau tidak? Apakah di dalam tas Vita menyalakan rekaman suara atau apapun? Tetapi hasilnya nihil.
"Vit, aku jeburin kamu ke dalam kolam renang loh ya, stop menangis! Kamu mau apa?" Kali ini sepertinya bukan hanya Vita yang mendapatkan depresi, melainkan Brio akan mendapatkan yang lebih parah dari Vita, yaitu frustasi.
Brio mencoba menepuk tanganya, memukul tangan Vita, menyiram Vita dengan air, tetapi hasilnya sama saja. Vita benar - benar sama sekali tidak menganggap keberadaanya. Malah saat ini Vita terlihat jatuh pingsan, karena mungkin terlalu lelah menangis.
"Ahhh, merepotkan saja, setelah ini aku pasti akan meretas semua CCTV di jalan, agar aku tahu, kenapa tiba - tiba istriku menjadi gila," Brio menggendong Vita untuk segera masuk ke dalam kamar, tidak lupa dia mengantikan baju istrinya yang basah karena ulahnya tadi. Setelah itu barulah dia duduk dengan membuka laptopnya, untuk meretas semua sistem CCTV untuk mengetahui apa yang sedang terjadi dengan istrinya.
*To Be Continue. **
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***ππ»ππ»* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
*Dan Jangan lupa yah, dukunganyaπ₯° jangan Sinder.*
*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**π*
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **πLike,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****ππ
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***πππ*
*Terima kasih**ππ»ππ»*