
🌹 Happy Reading Gengs 🌹
Sesaat mereka diam, sambil menunggu Vita dan Jenni turun dari kamar.
Melihat ketegangan yang ada, Jenni paham jika pasti saat ini Arvan tengah melampiaskan kemarahaanya.
“Vita!” Panggil Arvan dengan suara yang tegas.
“Iya Grandpa,” sahut Vita dengan suara yang begitu pelan.
“Kamu merasa tindakanmu ini benar tidak?!” Arvan meminta jawaban dari Vita.
Vita terdiam, karena dia sendiri sampai saat ini masih bingung, apakah ini termasuk tindakan benar atau tidak.
“Kira - kira benar tidak, seorang perempuan yang sudah menikah, sedang hamil, sakit di rawat keluarga suaminya, tiba - tiba datang keluarganya dan tanpa sebab mengajukan pembatalan Nikah, dengan alasan tidak becus merawat, lalu perempuan itu meskipun masih ada ikatan pernikahaan dia jalan bersama laki - laki lain, berpelukan tertawa bersama, dan bahkan dengan tegas mengatakan mencintai laki - laki itu.”
“Coba kamu tanya sama Mamahmu, atau sama semua perempuan di dunia ini, kira - kira salah tidak perbuatanmu itu?!” Arvan mengambil garis besar dari permasalahan Vita dan Brio.
Dia tahu apa yang dirasakan oleh Mario dan Eden, siapapun yang berada di posisi mereka juga akan sangat marah, ketika mereka mendapatkan bahwa anak mereka tidak dihargai seperti itu.
Vita kembali diam dan sama sekali tidak bisa memberikan jawaban apa - apa. Tetapi siapapun orangnya pasti tahu bahwa tindakan itu semua adalah salah.
“Vita minta maaf Grandpa,” hanya kalimat itu yang dia bisa ucapkan saat ini.
Membuat Arvan semakin bertambah kesal, “bukan itu yang saya tanyakan, saya tidak meminta kamu untuk meminta maaf, tetapi saya bertanya kepada kamu, apakah ini tindakan benar atau tidak?” Tekannya semakin kesal.
Arvan sama sekali tidak mendengar jawaban apa pun dari siapapun, sehingga dirinya langsung beranjak dari duduknya dan langsung melangkahkan kakinya keluar.
“Kasih aku jawaban, jika kamu merasa bahwa semua tindakan kamu itu benar, maka aku pasti akan memberikan pelajaraan berarti untukmu.” Ucap Arvan dengan serius, lalu melangkahkan kakinya keluar meninggalkan keluarga itu menyelesaikan urusannya sendiri.
Jenni paham posisi ini, “Alson, ayo kita pulang,” ajaknya pada putranya itu.
“Tapi Mah?” Alson merasan enggan untuk balik, apa lagi istrinya masih ada di sini.
Jenni menghela nafasnya kasar, “ini Masalah keluarga mereka, dan kita tidak berhak ikut campur di dalamnnya, terlebih Vita itu bukan anak kandung kamu, dan Vika dan Jendra juga merasa sudah bisa mengambil keputusannya sendiri.” Jelas Jenni pada Alson.
“Tapi Mah, aku menikah dengan Vika, berarti Vita juga anak aku mah.” Tegas Alson pada Mamahnya.
“Oh ya?” Tanya Jenni menyindir.
“Memangnya, waktu mereka membuat keputusan sepihak seperti itu, kamu ada diberitahu?” Tanya Jenni, kini semakin membuat keluarga itu terpuruk. Terutama Vika, merasa bingung sendiri atas situasi ini.
Plaaakkkkkk, Vika yang pusing secara langsung menampar wajah putrinya.
“Vika?!” Teriak Jendra, merasa tidak terima ketika anaknya di tampar seperti itu.
“Diam kamu!” Pekik Vika, menatap tajam ke arah Jendra.
“Kamu tuh bego atau tolol! Kamu dan keluargamu dari dulu memang selalu berbuat kesalahan, dan sekarang kalian mau bertingkah seolah - olah tindakan kalian benar?!” Serkasnya pada Jendra dan keluarganya.
“Dan Kamu Vita! mamah tidak pernah melajarkan kamu jadi seorang wanita murahan dengan bersama laki - laki di saat kamu masih status istri orang!” Teriak Vika, merasa malu dengan kelakukaan putrinya sendiri.
Vika merasa begitu stress saat ini, “pulanglah jika kamu mau pulang, aku akan mengurus masalah putriku terlebih dahulu.” Ucapnya pada Alson.
Awalnya Alson merasa ragu untuk meninggalkan Vika di sini, tetapi sepertinya memang saat ini dia harus pergi dulu. Apa lagi memang dirinya sebagai Ayah Tiri, memang tidak mempunyai hak apapun dalam menasehati Vita.
“Baiklah,” balas Alson, yang akhrinya kini melangkahkan kakinya keluar bersama dengan Mamahnya Jenni.
Mereka ber dua menyusuli Arvan yang sudah lebih dulu ada di dalam mobil, untuk menuju kediaman Lesham.
***
Selama di dalam mobil, Alson terus memperhatikan pintu rumah Jendra, namun Jenni berusaha menenangkannya dengan cara menoleh ke belakang lalu menggengam tangan putranya itu.
Arvan sebenarnya mendengar kalimat istrinya, tetapi memilih untuk tidak mengatakan apa - apa. Karena sejujurnya dia begitu lelah saat ini.
****
Sedangkan di sisi lain, Brio terlihat baru saja pulang dari kantor, dengan perasaan lelah dan campur aduk.
“Tuan, makan malam sudah siap.” Ujar pembantu yang tadi pagi sudah dipekerjakan Khanza.
Brio menganggukan kepalanya pelan, lalu langsung masuk ke dalam kamarnya.
Dia merasa begitu lelah, ketika dirinya harus bekerja sebagai bawahan orang lain. Membuatnya sedikit geram namun dirinya harus ingat, untuk selalu menahan rasa amarahnya.
Tokkk,,tokkk,,tokkk, suara ketokan pintu kamar membuat Brio bangkit untuk membuka pintu kamarnya.
“Kenapa?” Tanya Brio, ketika melihat pembantunya ada di depan pintu kamarnya.
“Maaf Tuan, di luar ada tamu,” ucap Beverly pembantu rumah tangganya.
Brio tertegun, mendengar kata tamu, pasalnya dia adalah orang baru di Negara ini, dan masih belum memiliki seorang teman. “Siapa?” Tanya Brio, yang lalu melihat ke arah luar.
“Tapi tidak ada siapa - siapa,” ucapnya lagi.
“Maaf Tuan, tapi saya tidak memperbolehkan mereka masuk karena masih harus konfirmasi dulu dengan Anda,” balas Beverly.
“Briooo,” teriak seseorang dari luar, membuat Brio membulatkan matanya sempurna.
“Daddy,” gumamnya pelan, dan langsung lari keluar.
“Daddy,” ucapnya lagi, ketika dirinya melihat sosok Mario yang berada di depan pintu pagar dan sama sekali tidak diberikan celah oleh Beverly untuk masuk.
Mario sudah menahan rasa kesalnya, ketika dia sudah mengatakan bahwa dia adalah orang tua dari pemilik rumah, tapi Beverly sama sekali tidak percaya dan malah pergi untuk menanyakannya terlebih dahulu.
Sebenarnya ini adalah hal bagus, karena Beverly cepat tanggap pada orang asing, tapi dengan keadaan Mario yang begitu lelah, karena penerbangan dari Paris membuat dirinya tidak ingin bersahabat oleh siapapun.
“Lama sekali kamu Brio!!” Bentak Mario, memang sudah merasa kesal.
“Brio juga baru pulang kerja Dad,” ucap Brio dengan begitu lelah.
Mario tahu, di mana anaknya bekerja, Mario tahu berapa gaji yang akan didapatkan putranya, Mario juga tahu, rumah dan negara di mana Brio menetap.
“Baiklah, sana lekas mandi, Daddy juga ingin mandi dulu, lalu makan malam.” Ucap Mario, ketika melihat makan malam sudah tersedia di meja.
Brio hanya mampu menghela nafasnya kasar, ketika melihat Daddynya yang tanpa mengabari sudah ada di sini. Brio juga sadar, siapa Daddynya ini, namun dia tidak menyangka bahwa akan secepat ini dirinya ketahuan.
Tidak ingin membuang waktu, apa lagi membiarkan makanan itu dingin. Baik Brio dan Mario bergegas untuk membersihkan tubuh mereka agar segera bisa mendapatkan makan malam.
*To Be Continue. **
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*
*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*
*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*