Partner Ranjang My Uncle

Partner Ranjang My Uncle
Partner Ranjang Chapter 61


🌹 Happy Reading Gengs 🌹


Setelah membicarakan hal yang unfaedah, kini Vita hanya bisa melihat para pelayan yang sedang membereskan bekas makan mereka tadi.


Vita yang mengingat samar - samar kejadian beberapa waktu lalu, yang membuat dirinya kembali depresi, kini beralih membuka lemarinya. Di sana terlihat ada sebuah box bewarna merah, yang di gembok dengan rapat.


Perlahan Vita mengambilnya, dan meletakannya di atas tempat tidur. “Langit,” gumanya pelan, dan meyakinkan dirinya untuk membuka kembali isi di dalam Box itu.


Vita membuka kalung yang sejak dulu dia gunakan, banyak yang tidak tahu, bahwa kalung yang dia gunakan itu adalah kunci untuk membuka box yang di dalamnya banyak kenangan dari Langit.


Tak ayal juga, kalung berliontin kunci itu adalah pemeberian dari Langit sebelum perpisahaan itu terjadi.


Vita berulang kali menarik nafasnya lalu menghelanya dengan pelan, untuk meyakinkan dirinya bahwa dia akan baik - baik saja, ketika dia membuka kenangan Langit lagi.


Dengan perlahan dirinya membuka gembok dan box itu. Di dalamnya terdapat banyak sekali foto mereka berdua, kemesraan yang terjalin pada masa remaja, tidak menutupi bahwa ke duanya memang saling mencintai.


Tanpa terasa air mata Vita menetes begitu saja, sungguh dia benar sangat merindukan Langit, sampai kapanpun hanya Langit yang menempati hatinya.


“Kuat Vita, kuat,” ucapnya pelan, meyakinkan dirinya sendiri, sembari menghapus air mata yang terus membasahi pipinya.


Vita mengambil buku diary, yang sudah lama dia tutup, karena tidak ingin terus mengenang kepergiaan Langit yang begitu meyisihkan Luka.


Setiap lembar di dalamnya, adalah sebuah kalimat rindu, yang sulit dia ungkapkan kepada siapa saja yang membuat dirinya terasa seperti bersandiwara.


“Apa yang harus aku lakukkan sekarang?” Tanya pada diri sendiri.


Hatinya goyah, di saat dia ingin berusaha mencintai suaminya, tiba - tiba saja Langit datang dan sekali lagi meluluh lantahkan hatinya.


Vita yang merasa tubuhnya sudah begitu lelah, kini tertidur tanpa membereskan terlebih dahulu isi dari dalam box itu, meskipun di dalam tidurnya, Vita tetap saja meneteskan air matanya.


Rindu yang paling sulit, adalah ketika merindukan seseorang yang bahkan raganya saja tidak pernah bisa lagi digapai.


******


Ke - esokan paginya, Vita sudah terlihat rapi dengan celana jeans serta Tshirt crop yang membuat dirinya terlihat begitu elegant dan sexy.


“Oma, Papah kemana?” Tanya Vita, ketika ke dua matanya itu, tidak melihat sosok Papahnya sejak tadi.


“Papah kamu sedang dalam perjalanan ke rumah sakit.” Ucap Vina dengan begitu malas.


“Rumah sakit?” Tanya Vita lagi.


“Lalu Opa?”


“Sama,” jawab Vina dengan begitu santai.


Seketika Vita mendadak bingung dengan jawaban Omanya ini. “Mereka berdua ngapain ke rumah sakit Oma?” Tanya Vita begitu penasaraan.


“Oma juga tidak paham sayang, tadi di saat Sarapan, Papah kamu tiba - tiba mendapatkan telpon dari seorang wanita, katanya sih Urgent sekali, dan Opa kamu yang penasaraan memaksa untuk ikut.” Jelas Vina pada cucunya.


“Kamu mau kemana pagi - pagi? Kamu masih belum sehat sepenuhnya.” Vina berganti bertanya pada cucunya yang sudah terlihat rapi di pagi hari.


“Ah, Vita ada urususan sebentar ya Oma, bye Oma,” dia tergesa - gesa tidak ingin menjawab pertanyaan omanya itu. Dia juga ragu jika dia menjawab Omanya terlalu banyak, yang ada dia tidak di izinkan untuk keluar.


****


Karena merasa kurang yakin bisa menyetir sendiri, kini Vita memilih untuk memesan Gocar yang mengantarnya ke tempat tujuan.


“Hallo selamat siang,”


“Siang, mbak, Danau Cermin ya,” ucap pak Driver itu, meyakinkan tempat tujuan mereka.


“Benar Pak,” jawab Vita singkat.


Dan setelah itu, terlihat mobil yang telah memecah perjalanan, di tengah kemacetan, Vita tidak yakin dengan apa yang sedang dia lakukkan ini.


Tetapi dia Hanya sedikit ingin mengobati rasa rindunya dengan datang ke Danau Cermin. Tempat di mana dirinya dan Langit sering menghabiskan waktu bersama.


Tiga puluh menit perjalanan dirinya ke Danau, dan di sinilah Vita, dengan perasaan rindunya, dia hirup sejenak udara yang membuat dirinya merasa sedikit lebih tenang.


Dengan telaten Vita menyusun satu persatu makanan tersebut, dengan senyum yang terukir di wajahnya. “Ahhh selesai.” Lirihnya dengan begitu bahagia.


Namun, di saat Vita mulai merilekskan dirinya menatap hamparan air yang luas, ke dua matanya tidak sengaja menatap seseorang yang begitu dia kenali.


“Langit?” Tanyanya meyakinkan diri sendiri bahwa pengheliatannya itu tidak salah.


Ke dua matanya menatap sosok pria yang sedang tertawa bersama dengan teman - temannya, sepertinya mereka baru selesai jogging bareng dan sedang mengisi perut mereka dengan memakan Bubur ayam bersama.


Vita yang begitu penasaraan apakah benar itu adalah Langit, mulai memberanikan dirinya untuk bangkit dan mendekati sosok itu.


Perlahan namun pasti, Vita tengah berdiri di belakang pria itu dan teman - temannya, wajahnya memang begitu mirip dengan Langit, bahkan suaranya.


“Kamu habis ini akan ke kantorkan, Langit?” Tanya seorang temannya, yang memanggilnya Langit.


Membuat Vita kembali tersadar, bahwa pria ini adalah benar. “Iya, ini sudah mau pergi.” Jawab pria yang di duga langit tersebut.


Vita ingin sekali mendatanginya dan memanggil pria itu, tetapi, ketika dirinya baru saja ingin menggapai, Langit dan teman - temannya, bangkit untuk pergi.


“Langit,” panggil Vita, namun dengan suara yang pelan, jelas saja siapapun pasti tidak akan bisa mendengarnya.


Vita berusaha mengejar Langit yang telah berjalan jauh di depannya.


“Langit,” panggilnya lagi, dengan air mata yang ikut menetes membasahi pipinya.


“Langit,” teriaknya lagi, namun pria yang bernama Langit itu sama sekali tidak mendengarnya.


Vita yang kesal, terus saja mengejarnya, tanpa memperdulikan sekitarannya.


“Langit,” panggilnya untuk ke sekian kalinya, Namun Langit tetap saja tidak menoleh.


Tinttttttt, suara kelakson Mobil yang nyaris menabrak Vita, karena dirinya yang berdiri di tengah jalan, dengan pandangan yang terus keluar.


Vita yang kesal tidak sama sekali memperdulikan kelakson mobil tersebut, dan lalu menghapus air matanya dengan kasar. “Kosmos Bramantyooooo,” teriaknya dengan begitu kencang.


Membuat Langit dan teman - temannya menoleh seketika, mendengar suara perempuan yang berteriak dengan begitu nyaring.


Degggggggg, pandangan ke duanya bertemu, membuat ke duanya terpaku sejenak, tanpa ada bisa berkata apa - apa.


Tintttttt, suara klakson mobil itu lagi terdengar, dan seketika salah satu teman Langit menarik Vita dari tengah jalan, untuk menepi sejenak.


“Apakah kamu mengenalnya Bro?” Tanya temannya yang menolong dirinya tadi di pinggir jalan.


“Dia sampai mengetahui nama aslimu,” sahut teman yang lainnya.


Sedangkan Vita menatap Langit dengan air mata yang tidak hentinya menetes.


Begitu pula dengan Langit, menatap Vita dengan lekat, dengan tatapan yang sangat sulit diartikan.


“Langit.” Panggil temannya lagi, menyadarkan pria itu dari lamunannya.


Langit yang tersadar kini tersenyum kecut mengalihkan pandanganya ke teman - temanya. Lalu kembali melihat ke arah Vita.


“Tidak, aku tidak mengenalnya.”


*To Be Continue. **


**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.


*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*


*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*


Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘


**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*


*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*