Partner Ranjang My Uncle

Partner Ranjang My Uncle
Partner Ranjang Chapter 82


🌹 Happy Reading Gengs 🌹


“Tidak, kamu salah.” Ucap Jenni menatap Vita dengan lekat.


Vita menyeritkan keningnya bingung, ketika Vita merasa bahwa tidak mungkin jawabannya salah, karena laki - laki yang sudah melakukkan hal keji pada seorang wanita. Itu akan sulit dimaafkan.


Jenni tersenyum ketika menanggapi ekspresi Vita yang seperti kebingungan.


“Menurut kamu, Grandpa itu gimana?” Tanya Jenni, kembali menanyakan sesuatu dari Vita.


Vita terdiam sejenak, untuk berfikir dan mengingat sikap Arvan padanya. “Grandpa, menurut Vita, Galak, pemarah, tetapi juga penyayang, dia sayang sama semua keluarganya terutama pada cucunya. Grandpa adalah orang yang bijaksana dan sangat derwaman, hemm, laki - laki sempurna menurut Vita.” Jawabnya, dengan ke dua mata yang berbinar mengartikan kekagumannya pada sosok Arvan.


“Jadi menurut kamu, jika Grandpa kamu itu adalah sosok yang sempurna?” Tanya Jenni kembali, memastikan bahwa itulah inti dari jawaban Vita.


“Iya, karena seperti itulah yang Vita rasa Grandma,” ucapnya lagi.


“Tapi bagaimana kalau kamu tahu bahwa sosok yang kamu pikir tadi jahat dan laki - laki yang tidak pantas itu adalah Grandpa?” Jenni memberitahukan kisahnya pada Vita, agar menjadi sebuah pelajaran untuk Cucunya itu.


Ke dua mata Vita membulat sempurna, masih merasa jika kalimat Jenni sangat terasa ambigu.


“Maksudnya seperti apa Grandma?” Tanya Vita, untuk memperjelas kalimat Jenni.


Jenni bangkit dari duduknya, lalu berdiri tepat dihadapan Vita, lalu memperlihatkan bekas rantai yang masih mencap di kakinya. “Kamu lihat ini,” Jenni menunjukkan bekas luka itu.


Jenni memang sengaja meninggalkan bekas luka itu di kakinya, dia menolak ketika Arvan ingin menghilangkannya, karena dia merasa jika ini akan menjadi kenang - kenangan jika dia pernah dikurung berpuluh tahun lamanya.


“Grandma, ini?” Vita terkejut melihatnya, dan langsung menutup ke mulutnya menggunakan ke dua tanganya.


“Vita, kita tidak pernah bisa merubah masa lalu kita yang buruk, tapi percayalah bahwa masa depan akan terlihat begitu Indah jika kamu bisa memulainya dengan saling memaafkan.” Jelas Jenni, mulai memberikan nasehat kepada Vita.


“Kalau dibilang, jauh mending kamu dari pada Grandma, dulu Grandma hamil bahkan masih disiksa, berbeda dengan kamu, ketika kamu hamil Brio masih mau bertanggung jawab.”


“Ingatlah, usia tidak menjadi sebuah ajang tolak ukur bagi sifat.”


“Grandma tidak meminta ataupun memaksa kamu untuk menerima Brio kembali, tetapi, maafkan atas semua kesalahannya, Grandma tahu, bahwa semua yang dilakukkan pada kamu itu semua karena hasutan dari Griffin. Anak itu mengancam Brio dengan menggunakan Brina, sehingga dirinya bisa melakukkan itu semua kepada kamu.”


“Dari kecil, Brio memang sudah sangat pemarah, dia membanting semua barang untuk meluapkan amarahnya, tetapi kami mengenalnya sebagai anak baik dan pemberani, karena sewaktu Grandma masih di sekap, dia juga ikut membantu.” Terang Jenni pada Vita.


Dia hanya berharap, permasalahan mereka akan segera selesai. Dan Jenni berharap bahwa ke duanya akan kembali bersama, seperti Janji mereka ketika menikah untuk saling bersama dalam keadaan apa pun.


***


Jika di dalam kamar, Jenni sedang memberikan nasehatnya kepada Vita.


Berbeda halnya di luar, ketika Vita, Alson, Arvan, Jendra, Dyzon dan Vika sedang berdebat.


“Aku sudah bilang, bahwa dari awal Brio itu hanyalah seorang bajingan yang sengaja menikahi putriku!” Tekan Vika yang sedari tadi menyuarakan suarnya. Membuat Arvan yang berada di hadapannya kini mulai merasa emosi.


Praangggg, sebuah gelas pecah akibat lemparan Arvan. “Kalau kamu dan putrimu ingin yang terbaik, maka jangan pernah kalian dekat dengan kami orang - orang yang berasal dari dunia gelap!” Tekan Arvan, membuat Vika terdiam seketika.


Arvan paling benci ketika ada seseorang yang saling memojokkan tanpa mendengar dari sisi yang lain.


Alson yang merasa Papahnya sudah sangat emosi kini, menyenggol lengan istrinya, agar istrinya itu tidak terus menantang dan bersuara keras. Karena sudah dipastikan jika Arvan akan sangat marah.


Dari awal Vika dan Arvan memang tidak pernah cocok, Arvan yang paling tidak suka ditantang apa lagi ketika dia mendapatkan orang berani beradu Argumen dengannya. Dia akan sangat - sangat membenci orang itu.


Dan Vika sudah berulang kali dikasih tahu oleh Alson, tetapi, sepertinya peringatan itu hanya bisa keluar masuk dari pikiran Vika. Terbukti saat ini kembali diulang, apa lagi Vika terus menerus menjelek - jelekan Brio di depan Arvan.


“Kalau kamu belum tahu apa - apa tentang silsilah keluarga, cukup tutup mulutmu itu! Dan Diam!” Arvan kembali memberikan peringatan kepada Vika, membuat Alson sedikit khawatir, jika Arvan akan kembali menyekap Vika seperti dulu.


Begitupula Jendra, Dyzon dan Vina, mereka sama sekali tidak berani menguarkan suara mereka.


Hingga Akhirnya terlihat Arvan yang kini sedang berusaha menghubungi Mario untuk meminta penjelasaan dari kubu Brio.


“Ya,” jawab Mario, ketus pada Arvan.


Mendengar dari suaranya, terlihat bahwa Mario sedang sangat marah saat ini.


“Siapa yang mengajukan pembatalan Nikah?” Tanya Arvan langsung to the point.


“Tanya pada Ayah dari Vita!” Tegas Mario, yang langsung menutup panggilan telpon mereka.


Arvan seketika langsung menatap ke arah Jendra. “Kamu dan orang tuamu bahkan bisa kembali membangun perushaan karena bantuan dariku dan Mario.” Tegas Arvan kepada Jendra.


Tidak lama masuk sebuah pesan ke dalam ponsel Arvan, yang memperlihatkan bahwa Mario sudah mencabut sahamnya pada perusahaan milik Dyzon.


“Lihat!” Tunjuknya pada Jendra dan Dyzon.


“Kalian yang memohon pada Mario untuk menyuntikan Dana ke dalam perusahaan kalian yang hampir Colebs, Mario tidak pernah meminta apa pun, selain jaga nama baiknya!”


“Kamu hanya terfokus dengan kesalahan Brio bukan pada kebaikananya!”


“Fucccckkkkk!!!” Arvan benar - benar marah saat ini.


Buggghh, secara sepontan dia langsung memukul Jendra dengan begitu keras.


“Kamu tidak melihat Brio yang merawat anakmu ketika koma, dan kamu datang langsung mengajukan pembatalan Nikah?” Arvan yang marah kembali menendang Jendra, hingga terlempar jauh.


“Jenndraaa,” teriak Vina yang lalu dihalangi oleh Dyzon untuk menolong putranya, sehingga Alson lebih dulu berdiri untuk menolong Jendra.


“Kalian tahu tidak? Kalau Mario bolak balik meninggalkan pekerjaanya demi mencari dokter dan informasi untuk putrimu? Kalian tahu tidak bahwa Brio dan Eden kadang sama - sama tidak tidur untuk menjaga putri kalian.”


“Kurang apa mereka? Terus kamu datang - datang merasa bahwa salah mereka yang tidak becus merawat Vita.” Arvan menatap ke arah mereka satu persatu, tapi tidak ada yang berani mengeluarkan suaranya.


“Panggil Vita suruh turun ke sini!” Perintahnya pada salah satu anak buahnya.


“Kalian hanya memperdulikan kesakitan kalian tanpa memikirkan kesakitan orang lain.” Ketus Arvan pada semuanya.


*To Be Continue. **


**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.


*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*


*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*


Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘


**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*


*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*