
πΉ Happy Reading ya Gengs πΉ
Setelah melewati Drama yang cukup panjang, saat ini terlihat Vita yang telah siap dengan gaun kebayanya yang mempunyai panjang hingga 5 meter ke belakang, dan dipenuhi oleh diomand asli setiap detail manik - maniknya.
Baju kebaya Jawa yang digunakaan oleh Vita ini dibeli khusus oleh Eden dengan harga 2,3 Triliun rupiah.
Sedangkan Brio, kini terlihat begitu tampan dengan menggunakan jas bewarna brown yang begitu cocok dipadukan dengan gaun kebaya milik Vita.
"Sudah saatnya," panggil Vita, kepada Brio yang masih asik dengan gamennya.
"Tunggu," jawab Brio, menolak itu pergi sebelum gamenya selesai.
Vita yang sudah terlalu letih melihat sikap Brio yang seperti ini, memilih untuk melangkahkan kakinya pergi dan meninggalkan Brio begitu saja.
"Kalau semua keluarga besar tahu, aku pergi ke balroom sendirian, aku tidak tahu apa yang akan kamu dapatkan dari mereka," Vita memberikan peringatan kepasa Brio, yang sedari tadi hanya berpikir tentang dirinya.
Kalau bisa menangis, saat ini Vita rasanya ingin sekali menangis, dia benar - benar letih menghadapi sikap Brio yang seperti ini.
Sebagai wanita biasa, jujur dia juga bisa merasakan sakit atas sikap Brio yang sama sekali tidak menganggapnya ada.
Padahal jelas - jelas minggu lalu dia sudah meminta maaf terhadap Vita, dan berjanji unyuk tidak mengulangi perbuataanya, tetapi sekarang, setelah Vita memberikaan kesempataan padanya. Brio malah semakin acuh dan bersikap seolah - olah semua baik - baik saja.
Brio yang mendengar kalimat dari Vita, kini langsung mematikan ponselnya dan memasukannya ke dalam saku jasnya.
"Kamu memang brisik," ucapnya, lalu berjalan dengan cepat, dan sengaja menabrak bahu Vita, agar istrinya itu terjatuh dan keguguran.
Braaaakkk, Brio membanting semua pintu yang ada, membuat Vita hanya bisa mengelus dadanya dan melatih kesabaraan dihatinya agat lebih setia tumbuh dan menemaninya menghadapi sikap Brio.
Dengan memaksakan agar senyumnya bisa kembali merekah, akhirnya Vita turut mengikuti langkah Brio yang sudah berjalan lebih dulu.
"Brio, tunggu dulu." Panggil Vita, sambil terus berusaha lari untuk mengimbangi langkah suaminya.
Brio menghela nafasnya kasar, merasa muak melihat langkah Vita yang begitu lambat. "Kamu itu kenapa jalan lambat sekali sih? Kam kamu sudah biasa jalan di catwalk, kenapa sekarang kaya wanita yang baru belajar jalan," ucap Brio, tanpa pernah berfikir tentang keadaan Vita yang sedang kesusahaan berjalan karena hilss dan juga gaun yang memperlamabatnya, hingga nyaris terinjak dan membuatnya jatuh.
Tadi dirinya memang sengaja meminta untuk para pelayan yang ingin membantunya berjalan, namun karena dia begitu hafal sifat Brio yang tidak ingin orang lain mengetahuinya. Akhirnya dia memilih untuk tidak memanggil pelayan untuk membantunya.
"Brio, tidak bisakah kamu memberiku sedikit saja pengertianmu?"
"Aku lelah kamu selalu seperti ini denganku, ini adalah hari pernikahaan kita, hari bahagia kita," Vita yang sudah tidak tahan lagi, kini memilih untuk mengeluarkan segala uneg - uneg yang ada di dalam hatinya.
Brio menatap Vita dengan lekat, dia sendiri tidak mengerti kenapa dirinya merasa muak melihat Vita ada di dekatnya.
Seandainya saja, Vita lebih dulu mau menerimanya, pasti semua kejadiaanya tidak akan seperti ini.
Semua keluarga besar tidak akan pernah tahu kelakuaan bejadnya, namun masih beruntung ketika Vita tidak mengatakan soal kekerasan yang biasa dia lakukaan.
Kalau itu sampai terjadi, mungkin nyawa Vita dan bayinya akan benar - benar dia lenyapkan.
"Kamu mau tahu kenapa?" tanya Brio lirih.
Vita menganggukan kepalanya pelan, dan mendekati Vita yang saat ini sedang menundukaan kepalanya takut melihat mata Brio yang menampilkan kemarahaan.
Brrraakkk, Brio meninju sisi dinding tepat di dekat wajah Vita, membuat wanita itu tersontak kaget, bahkan langsung menutup wajahnya takut. "Harusnya semua ini tidak terjadi Vita, harusnya aku tidak menikah dengan kamu."
"Aku bisa bertanggung jawab tanpa harus menikahi, kalau saja kamu paham posisiku dan menerima penawaranku kemarin, jika begini siapa yang malu? Kamukan? Aku juga Vit."
"Lain kali, kalau berpikir itu pakai otak, jangan pikir isi yang ada di perutmu ini terus." Brio benar - benar sudah keterlaluan. Bahkan meskipun mereka sudah menikah, tetap saja Brio tidak mau mengakui bayi yang ada di dalam kandungannya.
Di saat Vita baru saja ingin membuka mulut dan membantah perkataan dari Brio, tiba - tiba saja, dari belakang terlihat Vita dan Alson yang baru saja keluar dari kamar mereka.
Mendapatkan tatapan lekat dari papah Alson, Vita langsung mengalihkan pandanganya ke arah lain, dan secepat mungkin menghapus air mata yang berada di pipinya.
"Vita, kamu nangis sayang?" tanya Alson, yang lebih dulu menangkap pergerakaan putrinya.
Brio melirik tajam ke arah Vita, menunggu jawaban dari istrinya ini, apakah dia berani mengakui semua di depan mamah dan papahnya, atau malah memilih untuk tetap bungkam.
"Ahhh, enggak kok pah, ini itu dari tadi Soflens aku ganjal banget, gak nyaman dipakai, jadi aku suruh Brio untuk baikin, tapi sama dia mata aku malah dicolok," balasnya bohong pada Alson.
Membuat Brio seketika menggelengkan kepalanya pusing, menganggap betapa bodohnya wanita yang sudah berstatus istrinya ini.
"Ya ampun Brio, kenapa sih kamu tidak bisa pelan - pelan, kalau Vita buta bagaimana?" cerca Vika, yang segera mengecek keadaan mata putrinya.
Berbeda dengan Brio yang hanya memilih diam tanpa ingin berkata apapun. Karena sedari awal dirinya memang tidak menyukai Vika ada dikeluarga mereka.
"Udah dramanya?" tanya Brio tiba - tiba membuat Alson, Vita dan Vika menoleh menatapnya dengan bingung.
"Kita udah telat 15 menit, dan kalian masih mau berdrama dengan meniup - niup mata yang sudah tidak sakit seperti itu?"
"Pantas saja posisi otak kalian minus," sindir Brio dengan begitu berani. Dia sama sekali tidak takut pada Alson maupun Vika.
"Brio jaga bicara kamu ya, kamu itu sekarang adalah menantu saya," sentak Alson, yang merasa paling tidak terima jika keluarga terutama istrinya dihina seperti itu.
Bukannya merasa takut dengan tampang Alson, Brio malah tertawa mendengar kalimat dari Mantan kakak iparnya itu.
"Hahahhah menantu?" tanya Brio lagi.
"Bukankah kalian dan terutama kamu Vika, memang sangat menginginkan Vita menjadi istriku, sok - sok baik di depan umum, namun ternyata busit, picik banget otak kalian."
"Kamu menikahi Kak Alson, demi bisa menjadi keluarga terkaya, dan di saat kamu tahu bahwa kak Alson bukanlah pewaris utama melainkan Griffin keponakaanku. Kamu merasa bahwa harapaan kamu sudah sia - sia, dan sekarang setelah kamu mengetahui bahwa anak kamu ini mengandung anak aku, dengan seberusaha mungkin kamu meminta kak Alson untuk melabrak Daddy dan Mommy, lalu memintaku untuk bertanggung jawab, cikhh, benalu."
"Gabrio!" Vita benar - benar tidak menyangka semua tuduhan penghinaan itu diarahkan kepada mamahnya.
Padahal dia sangat tahu jelas, bagaimana semua ini terjadi. Bagaimana dia bisa terikat menjadi seorang partner ranjang pamannya sendiri, itu semua karena Brio sendiri, dan tidak ada sangkut paut mamahnya di dalam.
"Apa? Kamu berani bentak aku? Ingat aku adalah suami kamu sekarang! Apapun yang aku katakan kamu harus mematuhinya!" Tegas Brio, dan langsung menarik tangan Vita pergi dari hadapan dua orang yang membuatnya muak.
Hari ini, hari yang seharusnya menjadi hari kebahagiaan untuk mereka semua, dalam seketika semuanya berubah menjadi malam penuh duka.
Sedikit demi Sedikit kebenaraan tentang kebencian Brio terhadap keluarga mereka kini mulai terungkap.
Namun, tetap saja Alson selalu ingin bertanya, apa salah dia? Kenapa Griffin, Brio dan Brina membenci dirinya bahkan keluarga besarnya. Padahal mereka sudah sering kali dijelaskan tentang keberadaan Vika dan Vita. Akan tetapi mereka tetap saja tidak mau mengerti.
*To Be Continue. **
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***ππ»ππ»* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
*Dan Jangan lupa yah, dukunganyaπ₯° jangan Sinder.*
*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**π*
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **πLike,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****ππ
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***πππ*
*Terima kasih**ππ»ππ»*