
🌹 Happy Reading Gengs 🌹
Sudah tiga hari ini Vita terbaring di rumah sakit, setelah kejadian dirinya pulang dan selalu menangisi Langit.
“Vita, ayo makan yuk sayang, oma tadi sudah membuatkan makanan spesial untuk kamu, masa iya kamu suka sekali di Infus seperti ini terus Nak,” Jendra sudah sangat lelah membujuk putrinya untuk mau makan.
Tetapi Vita terus saja menolak, “Papah, Lidah Vita itu gak enak Pah, pahit, Vita gak bisa merasakan apa – apa,” lirih Vita pelan, meminta agar papahnya itu tidak lagi terus memaksanya untuk makan.
.
“Vita, jangan terus buat Papah sedih please, jadilah anak kebanggaan Papah seperti dulu, jika Vita seperti ini terus, maka Papah merasa telah menjadi orang tua yang gagal sayang, please,” Jendra, kini meneteskan air matanya dengan perlahan. Dia begitu paham ketika sebuah perasaan cinta harus diabaikan oleh seseorang yang kita cintai.
Vita yang melihat Papahnya akhirnya menangis karena dirinya, kini langsung berusaha bangkit dari posisinya, dan langsung membuka mulutnya.
“Aaaaaahhh,” ucapnya meminta Papahnya untuk menyuapinya.
Jendra yang mendapatkan hal itu, langsung tersenyum di dalam tangisnya, “Makan yang banyak ya Sayang, putri Papah ini pasti bisa bangkit dan menemukan pria yang sudah Tuhan siapkan untukmu sayang,” Ucap Jendra pelan, sambil terus menyuapi putri satu – satunya itu.
Vita menganggukan kepalanya pelan, dia tersenyum dengan mata yang sudah terlihat sangat bengkak, “Papah jangan nangis ya, Vita baik – baik saja kok,” lirihnya, sambil menghapus air mata yang mengalir di pipi papahnya.
Di saat suasana sudah mulai mencair, tiba – tiba saja, ada beberapa anak yang datang masuk ke dalam ruangan Vita.
“Hallo Paman, Hallo Vita,” sapa mereka dengan pakaian yang serba hitam.
Vita yang melihat teman – temannya datang itu, langsung tersenyum, “Hey, kalian sudah pulang dari mendaki? Yuk, duduk – duduk,” seru Vita, mempersilahkan ketiga temannya itu untuk duduk.
Vita sangat tahu, bahwa teman – temannya ini adalah teman yang sama dengan teman Langit.
“Kalian hanya bertiga saja?” tanya Vita, sembari menikmati makanan yang masih disuapkan Papahnya untuknya.
“Vita, sebenarnya kita ke sini ingin menyampaikan satu hal yang sangat penting,” ucap salah satu dari mereka.
Vita mengusap wajahnya pelan, sambil menganggukan kepalanya untuk mempersilahkan teman – temannya itu melanjutkan kalimatnya.
“Pada saat kita mendaki, Langit selalu saja hilang fokus, hingga kemarin di saat kita sudah sampai di atas tebing, dia jatuh dan jasadnya tidak dapat ditemukan Vit,” terang mereka dengan panik, mereka khawatir dengan keadaan Vita yang sedang sakit seperti ini, nantinya malah membuat wanita itu semakin drop.
“Hahahahhahahahaha,” Vita tertawa dengan begitu keras, lalu dia mengabaikan hal itu, dan terus saja menerima makanan yang disuapkan kepadanya.
“Mungkin memang dia sudah memilih jalan yang seperti itu,” balas Vita, dengan senyum manis di wajahnya, namun air mata yang keluar tidak bisa membohonginya.
Hati Vita terlalu sakit untuk mengungkapkan semuanya dengan kata – kata, dijelaskanpun akan percuma nantinya. Tidak akan pernah ada kata yang bisa mengungkapkan perasaannya saat ini.
( FLASHBACK OFF )
***
“Sejak saat itulah, Vita hanya berdiam, tersenyum namun selalu menangis.” Terasa berat Jendra mengungkapkan semuanya saat ini.
“Saya sudah siap menerima apapun konsekuensinya, jika memang kamu tidak menyukai Vita dan ingin melepaskannya, katakan saja kepada saya, dan saya akan kembali menerima putri kecil saya,” Jendra mengatakan hal itu dengan sangat bersungguh – sungguh tepat dihadapan Brio.
Mendengar apa yang dikatakan oleh mertuanya, entah kenapa Brio merasa bahwa hatinya sangat panas ketika dirinya harus dipisahkan oleh istrinya.
“Biarkan mereka melewati ujian cinta mereka Jen,” seru Eden tiba – tiba muncul di belakang Jendra.
Eden tersenyum mendengar kekhawatiran putranya, walaupun di awal dirinya sempat ragu, tentang Brio yang menerima Vita dengan sungguh – sungguh, kini dia yakin, jika putranya itu telah dewasa dan mau menerima semuanya.
“Vita baik, dia sedang tidur saat ini, mungkin dengan beberapa therapy lagi dia akan sembuh, berjuanglah sayang,” jawab Eden, sambil mengusap lembut punggung putranya.
Sedangkan Mario yang baru saja keluar dari kamar Vita, langsung memasang wajah emosinya, “Ada apa Dad?” tanya Brio pada Daddynya.
“Daddy barusan mendapatkan informasi, bahwa pria yang bernama Langit itu, memang dinyatakan sudah meninggal dan bahkan sudah dikuburkan.” Jelas Mario kepada putra, istri dan besannya.
“Dan Daddy juga mendapatkan informasi bahwa Griffinlah yang menjadi dalang dari semuanya.”
“Anak itu sengaja, membayar orang lain untuk merubah wajahnya agar menyerupai Langit, dan akhirnya muncul untuk merusak jiwa Vita.” Terangnya lagi, Mario, Eden dan Brio sangat – sangat tidak menyangka jika Griffin sampai nekad seperti itu.
“Oh Tuhan, kenapa dengan cucu kita itu Dad? Apakah dia sudah gila atau bagaimana?” Eden memijat keningnya pusing, bagaimana bisa anak yang baru berusia tujuh belas tahun sudah melakukan hal itu.
Berbeda dengan Jendra, pria itu malah termenung, dan tidak mengerti dengan apa yang dikatakan tiga orang ini di hadapannya.
“Griffin tidak menyukai Vita Mom, dia merasa bahwa keluarga kita lebih menyayangi dan menganggap dia yang merupakan cucu tiri keluarga kita kenapa bisa disayang dan tinggal bersama dengan segala rasa cinta yang kita curahkan, sedangkan tidak dengan dia yang dari bayi sudah diasingkan.” Ucap Brio yang membuat Mario langsung menoleh ke arahnya.
“Awalnya aku juga tidak menyukainya Mom, Dad, maaf di awal pertemuanku dengan Vita memang juga hanya ingin membalaskan dendam keponakanku, Aku, Griffin dan juga Brina, sangat tidak menyukai kehadiran Vita ada di keluarga kita. Tetapi aku tidak menduga jika Griffin akan berbuat sejauh itu.”
Buuuggghhh,,,buggghhhh, tanpa berbasa basi Mario langsung menghajar putranya. Dia mewakilkan Jendra untuk memberikan pelajaran kepada pria yang tidak lain adalah anaknya ini.
“Dad, sudah, sudah, dia adalah putra kita,” pekik Eden, yang menghalangi langkah suaminya untuk memukuli anaknya terus menerus.
Brio terkapar dengan darah yang sudah bercucur di sudut bibirnya, dia benar – benar sangat pantas mendapatkan ini semua, mengingat perlakuan dirinya dulu kepada Vita.
Sedangkan Jendra sendiri, saat ini hanya diam membisu tanpa bisa berkata apa – apa.
Segitu bermasalahnyakah kehadiran putrinya sampai harus diperlakukan seperti layaknya binatang.
“Ini salahku, kesalahan di masa lalu kini harus menyakiti putriku, Vita tidak pernah memperlihatkan rasa sakitnya kepada siapapun, Vita juga tidak ingin dilahirkan seperti ini, dan Vita juga bukanlah seorang anak yang bisa meminta kepada siapa Mamahnya akan menikah, tidak ada sedikitpun niat Vita mengambil kasih sayang siapapun, dan itulah sebabnya Vita memilih untuk tinggal bersama saya, karena tidak ingin kehadirannya menjadi masalah untuk siapapun, termasuk kalian dan keluarga besar kalian,” ungkap Jendra, yang merasa sakit ketika putrinya diberlakukan seperti ini.
Dianggap pembawa masalah serta penghancur masalah bagi keluarga besar seseorang.
“Saya akan mengajukan pembatalan Nikah, untukmu dan juga putriku,”
*To Be Continue. **
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*
*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*
*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*