
🌹 Happy Reading Gengs 🌹
flash Back Part II
“Oh My God, sepertinya Vita ini hanyalah cucu kamu seorang saja ya,” seru Dyzon, yang merasa bahwa istrinya ini terlalu saja tidak memberikan dirinya maupun Jendra kesempataan untuk menyapa gadis kecil kesayangan mereka.
Sontak saja Vita dan Vina langsung tertawa ketika mendengar kalimat yang dilontarkan oleh Dyzon.
“Ahh, opa Vita kangen banget, sama opa, sama papah juga,” seru Vita, yang langsung memeluk tubuh Dyzon dan Jendra secara bergantian.
“Sudah yuk, kita makan malam dulu saja ya,” ucap Vina, yang segera mempersilahkan cucunya untuk duduk terlebih dahulu.
“Ahhh iya oma, Vita sudah sangat lapar ini,” sahut Vita, yang merasa begitu rindu dengan makanan masakan omanya, padahal dia baru hanya pergi dua hari saja di luar, tetapi kerinduanya itu tetap saja selalu menggebu – gebu.
***
Di sisi lain, Langit yang baru saja pulang ke rumahnya, tidak jauh berbeda dengan Vita. Karena mungkin memang sudah waktunya jam makan malam, sehingga keluarga ini juga terlihat sedang melakukan makan bersama.
“Assalamualaikum Mah, Pah, kakak pulang,” seru Langit, yang langsung masuk ke dalam rumahnya dengan mengucapkan salam.
“Walaikum salam kak,” jawab Yanto dan Dahlia secara bersamaan.
“Kamu baru pulang Kak?” tegur Dahlia, mamah dari Langit.
“Ahh, iya Mah,” jawab Langit gugup, sambil mengecup punggung tangan kedua orang tuanya untuk melakukan tradisi salim.
“Sudah sholat kak?” tanya Yanto pada putranya.
“Sudah pah, tadi kakak mampir dijalan terlebih dahulu,” jawab Langit dengan lembut. Beginilah Langit, walaupun dirinya terkenal dengan sebutan nakal ataupun playboy, tetapi dirinya tidak pernah sekalipun melupakan kewajibanya sebagai seorang umat muslim dalam menunaikan sholat lima waktunya.
“Oh ya sudah, kalau begitu ayo kita makan sama – sama saja, mamah bosan maka berdua terus dengan papah kamu,” seru Dahlia, membuat tawa Langit langsung pecah, apa lagi ketika dia melihat wajah papahnya yang cemberut akibat kalimat mamahnya.
“Hahhahha, mamah papah ini, masih saja terus menggemaskan,” seru Langit, yang merasa bahagia ketika masih melihat canda tawa dari kedua orang tuanya ini.
“Sudah – sudah, kita langsung makan yuk, sebelum makananya dingin.” Ujar Dahlia.
“Kakak, pimpin doanya ya,” pinta Yanto pada putranya.
“Baik papah.” Langit dan kedua orang tuanya sontak mengadahkan tanganya untuk berdoa kepada Allah SWT, untuk berterima kasih atas rezeki berlimpah yang masih diberikan untuk keluarganya.
“Bismillahirrahmanirrahim. Allahumma baarik lanaa fiimaa rozaqtanaa wa qinaa 'adzaa bannar. Artinya “Ya Allah, berkahilah kami dalam rezeki yang telah Engkau berikan kepada kami dan peliharalah kami dari siksa api neraka.”
“Aminnn,” jawab mereka dengan serempak. Lalu ketiganya terlihat mulai menyantap makan malam mereka dengan diam dan tenang, karena mereka selalu saja tidak memperbolehkan berbicara ketika sedang berhadapan dengan makanan, apa lagi sambil mengunyah, itu sangat dianggap tidak sopan. Walaupun riwayat nabi mengatakan kebiasaan makan sambil bicara ini bukanlah sebuah adab yang tercela seperti yang diatur dalam budaya barat. Tetapi tetap saja, bagi Yanto, alangkah lebih baik jika mereka berbicara setelah mereka semua menikmati rezeki dari Allah SWT terlebih dahulu.
**
“Vita, sudah lama Vita tidak memimpin doa untuk kita semua,” seru Dyzon, meminta agar cucunya membimbing doa, atas ucapan terima kasihnya kepada Tuhan yang sangat baik.
“Vita opa?” tanya Vita, meyakinkan bahwa permintaan Dyzon itu tidak salah.
Jendra dan Vina ikut tersenyum dan juga ikut mendukung apa yang dikatakan oleh Dyzon.
“Baiklah,” jawab Vita dengan penuh kegembiraan.
“Bapa di Sorga, Tuhan Yesus, kami datang kepadaMu, Mengucap syukur dan terima kasih untuk kesehatan dan penyertaanmu hingga saat ini. Terima kasih juga untuk makanan dan minuman yang telah Engkau sediakan untuk kami makan.”
“Berkatilah makanan dan minuman ini untuk kami yang memakannya menjadi kebaikan bagi tubuh kami dan mengenyangkan kami. Terima kasih juga untuk mereka yang membuatkan atau menyediakan makanan ini, kiranya kasih, penyertaan, dan semua berkat boleh tercurah atas hidup mereka. Tuhan lebih lagi kami juga berdoa bagi mereka yang belum bisa makan seperti kami dan berkekurangan. Biarlah berkat jasmani terbaik boleh, makanan dan minuman yang baik dan sehat boleh datang atas mereka, seperti kepada kami. Kiranya mereka bisa makan dan minum, tercukupi dan terberkati segala keperluan hidupnya dengan baik olehMu. Kasih dan penyertaan Tuhan kiranya selalu memenuhi setiap kami semua. Dalam nama Tuhan Yesus Kristus yang berkuasa di bumi dan di Sorga, kami berdoa, aminn.”
Selama mereka berada di meja makan, suasana terasa begitu ramai, mulai dari Vita yang menceritakan tentang perjalanan campingnya, hingga seluruh kenangan memori yang dia dapatkan di sana. Bahkan sampai malam larutpun Vita terus saja bercerita. Namun melihat Vita yang begitu cerewet seperti ini adalah salah satu bentuk kebahagiaan keluarga Adriano tersebut.
**
Ke – esokan harinya, seperti yang sudah dijanjikan oleh Langit, saat ini mereka berdua tengah berada di sebuah cafe yang terletak tidak jauh dari sekolahan mereka. Langit dan Vita, memang kerap kali menghabiskan waktu untuk belajar bersama di cafe ini.
“Mau pesan apa Vit?” tanya Langit dengan lembut.
“Seperti biasa aja,” jawab Vita cuek.
Langit tersenyum melihat sikap Vita, yang seperti kembali ketika diawal mereka bertemu.
“Baikah, aku pesan ke mbaknya di depan dulu ya.” Langit berucap sangat sopan pada Vita, benar – benar membuat kesan manis di mata wanita yang saat ini sedang berpura – pura galak itu.
- Tidak menjelang menit yang lama, akhirnya Langit kembali lagi ke meja mereka, dengan membawa dua gelas hazelnut creame ice, dengan cemilan dimsum kesuakan Vita.
Mereka berdua terlihat hening sejenak, sambil menikmati minum mereka dulu masing – masing, “jadi bagaimana? Katanya kamu janji mau menceritakaanya?” Tembak Vita langsung to the point. Bahkan dia seakan tidak perduli dengan Langit yang masih menyeeddot coffenya.
“Kamu rupanya sudah benar – benar tidak sabar mendengar penjelasanku, hem?” Langit tersenyum, ketika dia melihat wajah kepo dari Vita.
“Langit serius,” tungkas Vita lagi. Karena saat ini memang dia sedang tidak ingin mengikuti Langit yang selalu saja bercanda dalam setiap pembahasan.
Langit menghela nafasnya kasar, karena dia merasa sebenarnya tidak tahu apa yang ingin diketahui oleh Vita.
“Penjelasaan apa yang ingin kamu ketahui?” tanya Langit, dengan wajah yang serius.
“Semuanya, tentang siapa diri kamu dan dari keluarga mana sebenarnya kamu berasal.” Tegas Vita lagi, menekan semua kalimat pertanyaan yang harus dijawab oleh Langit.
“Semuanya apa? Aku rasa semua teman – temanku sudah mengetahui tentangku, agamaku dan kehidupan hari – hariku. Aku tidak pernah menutupi apapun karena aku selalu terbuka dengan siapapun.” Ucap Langit dengan penuh penekanan.
“Tapi aku tidak mengetahui sama sekali,” balas Vita tidak kalah tegas.
Langit kembali tersenyum, “itu semua karena kamu tidak mencintaiku.” Langit membuat lidah Vita terasa sangat keluh dan tidak bisa berkata apa – apa lqgi.
Padahal sudah jelas Vita yang merasa dibohongi oleh Langit, tetapi kenapa sekarang Vita yang merasa bersalah dengan keadaan ini.
“Langit, please, aku mau kamu jujur! Karena selama kita dekat, aku tidak melihat kamu pergi beribadah,” protes Vita lagi.
“Memangnya aku harus izin dan bicara sama kamu jika aku sholat?” Pertanyaan Langit, yang berhasil membuat Vita salah tingkah. Benar yang dikatakan oleh Langit, bahwa tidak semua kegiatan yang laki – laki ini lakukan, harus mendapatkan izin darinya, dan dia juga tidak wajib mengetahuinya.
“Maaf,”
*To Be Continue. **
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*
*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*
*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*