
🌹 Happy Reading Gengs 🌹
“Aku akan menjawab, ketika kamu sudah menjawab aku, apa arti lambang cincin yang melingkar di jari kananmu itu?” Tanya Langit, langsung mengskak mati Vita.
“Ini?” Vita yang gugup, melihat ke arah cincin pernikahaannya yang masih melingkar di jari manis sebelah kanannya, sembari memutarinya.
Langit tersenyum kecut, mendapatkan Vita terdiam karena tidak mau menjawabnya. “Aku sudah kenyang, kamu bagaimana?” Tanya Langit, ingin mengalihkan saja pertanyaannya.
Karena pertanyaanya sudah tidak lagi menjebak, kini Vita menaikan kembali pandanganya, dan langsung menganggukan kepalanya pelan. “Iya, aku juga sudah kenyang,”
“Mungkin makanan ini dibungkus saja, biar aku bisa memakannya di jalan,” ujar Vita menjawab Langit.
“Baiklah, masih ingin melanjutkan perjalan untuk ke Taman Safari hari ini?” Tanya Langit, meyakinkan lagi jawaban Vita.
“Masih dong,” jawabnya tanpa keraguan.
“Baiklah, aku bayar dulu ini, dan lalu kita akan segera berangkat, agar tidak macet di jalan nanti.” Tungkas Langit, yang dijawab anggukan kepala oleh Vita.
Setelah kepergian Langit untuk membatar makanan mereka, Vita kembali termenung, melihat cincin yang berada di jarinya. Dia terlihat mempertimbangkan sesuatu, sebelum akhirnya dia melepaskan cincin itu dari jarinya, dan tidak lupa dia memasang kembali, kalung yang kemarin sempat dia lepaskan.
Ya, kalung berliontin kunci pemberian dari Langit.
****
Sedangkan di sisi lain, setelah mengudara selama 12 jam lamanya, kini Brio masih mendapatkan transit di Singapore. Dia memanfaatkan waktu 10 jamnya untuk berbelanja hadiah untuk sang istri.
Dia berjalan - jalan sendirian, ke Orchard yang merupakan pusat perbelanjaan di Singapore. “Sepertinya belikan tas dia akan suka.” Gumam Brio, ketika dia melihat gerai Louis Vuitton.
Brio memasuki gerai itu, dan melihat beberapa tas yang mungkin istrinya tidak akan menyukainya. “Sepertinya aku akan ke gerai lainnya.” Putusnya untuk meninggalkan gerai tersebut.
“Ada yang perlu kami bantu Tuan?” Tanya seorang pramuniaga kepadanya.
Tentu saja, Brio tidak akan mungkin keluar begitu saja, ketika sudah ditegur seperti itu dengan seseorang. “Saya ingin melihat sepatu untuk istri saya.” Pintanya kepada pramuniaga tersebut.
“Ah baik Tuan, kalau begitu, di sini kami mempunyai, produk terbaru yang datang, dan ini sangat Limited editions Tuan.” Ucap Pramuniaga tersebut, lalu mengeluarkan dua pilihan untuk Brio.
Brio menimbang - nimbang melihat mana yang akan dia pilih untuk istrinya. “Saya ambil dua - duanya, dengan ukuran 36!” Perintah Brio yang paling malas memilih.
Dengan sangat bahagia pramuniaga itu membungkuskan barang yang diminta oleh Brio. “Baik tuan, totalnya menjadi $2500, Anda mau membayar dengan Chas atau debit?” Tanya wanita itu lagi.
“Debit,” jawab Brio singkat. Lalu wanit itu mulai membungkuskannya.
Brio melihat - lihat lagi barang - barang yang ada di sana, “saya ingin melihat sepatu untuk laki - laki, saya ingin melihat dompet couple itu, saya ingin melihat ikat pinggang wanita dan pria itu!!” Perintahnya yang semakin membuat beberapa pramuniaga itu sibuk untuk melayaninya.
Hingga tanpa terasa dia sudah menghabiskan uang sebesar, $15000 dollar Singapore, yang setara dengan 150 juta.
Sekitar ada 5 kantong belanja LV yang dia tenteng keluar, lalu dia kembali berjalan untuk ke kedai Hermes yang tidak jauh dari posisi gerai Lv tadi. “Permisi Tuan, ada yang bisa saya bantu?” Tanya pramuniaga yang ada di dalam Gerai Hermes.
“Saya mau Tas yang ini, tas yang itu, dan sepatu itu, dan sendal yang itu.” Tunjuknya pada beberapa barang. Hingga belanjaanya senilai, $8000 atau setara dengan 80 juta uang Indonesia.
Selesai berbelanja, Brio masih merasa jika kado untuk istrinya kurang, lalu dia pergi ke Gerai Dior, untuk berbelanja Make up yang cocok untuk Vita.
Setelah itu, dia pergi ke Gerai, Massimo Dutti untuk membelikan Jendra dan Kakek Mertuanya.
Hingga dia rasa tangannya sudah sangat penuh dengan belanjaan, sampai - sampai dia harus membeli koper yang begitu besar, agar bisa menampung semua barang belanjaanya itu.
“Aku rasa sudah cukup, dan aku butuh makan saat ini, sebelum aku pergi kembali ke Bandara.” Gumamnya, lalu mencari Kedai makanan terdekat untuk mengisi perutnya yang sedari tadi sudah keroncongan.
Brio sebenarnya begitu malas sekali, karena harus kejar - kejaran dengan jam terbang pesawat. Seumur - umur, baru kali ini dia naik pesawat bersama dengan orang asing, walaupun itu sudah kelas bisnis.
Brio berjalan - jalan lagi di dalam Mall Somerset yang menampilakan begitu banyak barang - barang brand terkenal, sampai tatapannya jatuh pada sebuah Berlian yang begitu indah dengan kilauan yang menawan. “Wuaaahhh, Indah sekali,” gumamnya pelan, dari luar Gerai.
Dia terus terpaku menatap berlian itu, sampai salah satu petugas dari dalam mendatanginya. “Apakah Anda meninginkan barang itu Tuan?” Tanya pria itu.
Brio menoleh dan langsung menganggukan kepalanya dengan senyum. “Bungkus ini untuk saya, please,” pintanya dengan sopan, dan kembali lagi menatap berlian itu.
“Apakah Anda tidak ingin melihat - lihat terlebih dahulu Tuan?” Tawar pria itu, karena barang kali, Brio akan tertarik dengan yang lainnya.
Brio dengan begitu polosnya menggelengkan kepalanya pelan. “Tidak, aku mau yang ini,” tegasnya kekeh dengan pilihannya.
“Baik Tuan, harga Berlian ini $15000, apakah Anda masih berminat?” Tanya Pria itu meyakinkan Brio kembali, bahwa harganya sangat mahal.
Merasa marah karena terus menerus di tanya, Brio langsung mengeluarkan kartu dari dompetnya. “Ketika aku suka, jangan pernah bicara masalah harga denganku! Ambil dan bungkus itu untuk ku!” Perintahnya tegas, penuh tekanan.
“Ba - baik Tuan, akan kami bungkus terlebih dahulu,” pria itu menjadi gugup, karena tatapan Brio yang sungguh menyeramkan, membuat mereka langsung bergegas untuk membungkus barang yang di minta oleh Brio.
Brio yang masih kesal, kini menunggu dengan Aura yang begitu mencengkram, dia paling benci ketika orang lain merasa bahwa dia tidak bisa membeli barang yang dia incar.
“Ini Tuan, barang yang Anda inginkan, dan ini kartu Debit Anda,” ucap Pria pelayan itu.
“Maafkan saya Tuan, karena ucapan saya mungkin menyinggung Anda.” Timpalnya lagi.
Brio sama sekali tidak ingin mengeluarkan suaranya lagi, kini dia langsung mengambil kartu debit dan Berlian yang sudah dia beli dari tangan pelayan tersebut, lalu dirinya tersenyum meremehkan.
“Masih pelayan saja sudah tidak punya Attitude.” Ujarnya sebelum dirinya beranjak dari Gerai tersebut.
Hari ini dia sudah benar - benar begitu lelah, “Sebaiknya aku langsung ke Bandara saja, aku takut jika aku berkeliling lagi, akan banyak sekali barang yang akan aku beli nantinya.” Lirihnya pelan, merasa bahwa dirinya harus hemat, untuk membeli rumah dan mobil nanti di Indonesia.
Dengan langkah yang sebenarnya sudah malas, Brio akhirnya telah sampai di Bandara Changi Singapore, dia melakukkan chek in terlebih dahulu, sebelum akhirnya dia mencari makanan di dalam sana.
“Sepertinya aku memakan ini saja,” ujar Brio, ketika dirinya melihat sebuah gerai yang menyediakan Pop mie beserta air panas yang tersedia.
Brio lupa jika dirinya mempunyai asam lambung, dan seharian ini dia belum ada makan sama sekali karena asyik berbelanja hadiah untuk Vita. Saat ini dia sudah merasakan lambungnya yang nyut - nyut akibat Magg kronis yang mulai menyerangnya.
Tubuhnya bahkan gemetar ketika memegang pop mie yang berada di tangannya. “Hufftt, yuk sebentar lagi kamu akan sampai di Indonesia Brio.” Ucapnya menyemangati dirinya sendiri.
Visual Gabrio Jonathan
*To Be Continue. **
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*
*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*
*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*