Menantu Hina Menjadi Penguasa

Menantu Hina Menjadi Penguasa
Bab 95. Jimmy Wiston terluka


"Anna, jaga dia baik-baik. Nanti aku akan menghubungi keluarga Gibson dan mengatakan pada mereka kalau Sifa mabuk dan tidur di rumahmu.


"Aku akan ke kantor polisi untuk laporan dan setelah itu aku akan pergi sebentar." Sebenarnya Vindra ingin mencari Wiliam Wells.


"Kak, Vin kamu tidak bisa pergi sekarang." Tanpa sadar Anna memegang lengan Vindra.


" Jika kamu pergi, kamu mungkin tidak akan bisa kembali."


Romi juga mengangguk lagi dan lagi." Iya tuan Vin, lebih baik kamu jangan pergi. Karena menyakiti orang lain di depan umum itu akan menjadi kejahatan yang serius." Romi nampak khawatir jika Vin pergi semuanya akan semakin rumit.


"Karena aku tau, itu kejahatan yang serius makannya aku berinisiatif bekerja sama dengan pihak penyelidik. Jangan khawatir aku akan baik-baik saja." Vin pun menepuk pundak mereka berdua.


Anna dan Romi ingin mengatakan sesuatu tapi terhenti Vindra dengan lambaian pelan. " Besok pagi, kamu akan bertemu denganku lagi."


Vin tidak terkejut, Dia sudah tau konsekuensinya jika menikam dengan pisau. Dia tidak bisa mundur, tapi dia yakin tidak akan masuk penjara.


Setelah bicara Vin segera mengambil mantelnya dan ingin pergi, saat sampai di lantai satu, Vin melihat sebuah Seorang pria yang berada di atas brankar, yang tengah terluka. Mengenakan masker oksigen dan tubuhnya penuh dengan darah.


"Cepat, cepat, dokter, dokter, tolong selamatkan saudara keduaku."


Para perawat segera mendorong brankar itu sesegera mungkin menuju ruang gawat darurat.


Vindra memperhatikan mereka dan akhirnya mengenali salah satu diantara mereka yang tengah mengikuti pasien dan sambil p


berteriak panik, dan ternyata itu adalah Jhonatan Wiston.


" Tolong bantu saudaraku, tolong selamatkan saudaraku." Teriak Jhonatan pada dokter.


Vin terkejut mendengar hal itu.' Apakah mungkin itu Jimmy Wiston?'


Tim medis segera mengambil tindakan untuk menyelamatkan Jimmy dan membawanya ke ruang darurat.


Diluar ruangan gawat darurat, Jhonatan terus mondar-mandir dengan cemas.


"Bajingan, Bajingan." Jhonatan menunju dinding untuk melampiaskan kemarahannya.


"Opsir Jhonatan, apa yang terjadi? Apa yang terjadi dengan tuan Jimmy?" tanya Vin sambil berjalan mendekati.


"Kamu Vindra? kamu dokter?" Jhonatan awalnya ingin mengusir orang yang bertanya padanya, namun saat menyadari yang bertanya itu adalah Vindra, Jhonatan langsung mengurungkan niatnya.


Jhonatan meraih tangan Vindra dan berteriak ," Tolong selamatkan saudaraku, selamatkan saudaraku."


Vin menepuk pundaknya, " Apa yang sebenarnya terjadi?"


Ada memar di wajahnya dan darah di tulang rusuknya, tapi dia tidak perduli. Dia tetap memegang tangan Vindra dengan erat.


" Dokter Vindra, aku tau kamu sangat kuat, pasti ada cara untuk menyelamatkan saudaraku. Tolong selamatkan, dan biarkan dia hidup. Aku akan berlutut di depanmu." Saat ini Jhonatan berlutut, walaupun Jhonatan sangat sulit di atur, tapi demi kakaknya dia pun berlutut di depan Vin.


"Jangan berlutut." Vin membantu Jhonatan bangkit berdiri.


"Dokter sedang berusaha menyelamatkannya. Mereka para dokter berpengalaman, mereka pasti berusaha menyelamatkan tuan Jimmy."


Jhonatan menggelengkan kepalanya dengan putus asa, air matanya terus mengalir, dia tau senapan sniper dengan baik, dan dia juga tau akibatnya jika peluru sniper itu mengenai tubuh. Kekuatannya terlalu besar, jika tidak langsung membunuhnya, setidaknya akan merusak organ tubuhnya.


Pertolongan dokter hanyalah untuk kenyamanan dan keengganan diri untuk menghadapinya, dalam pandangan Jhonatan kali ini yang bisa menyembuhkan saudaranya hanyalah Vindra, dan dia yakin Saudaranya bisa diselamatkan oleh Vindra.


"Baiklah, aku akan melihat tuan Jimmy nanti."


Pada saat ini, pintu ruang darurat di buka dan dokter wanita membawa beberapa orang yang ikut membantunya keluar dengan kesedihan dan permintaan maaf.


"Opsir Jhonatan, cedera tuan Jimmy sangat serius. Maaf, kamu sudah mencoba yang terbaik..." Dokter wanita itu menundukkan kepalanya.


"Tidak, tidak, saudaraku tidak mati, saudaraku tidak mati, saudaraku tidak akan mati. Tolong coba sekali lagi, tolong selamatkan saudaraku." Rengek Jhonatan yang sudah kehilangan akalnya.


Dokter wanita itu menggelengkan kepalanya, "Maafkan aku tuan Jhonatan. Ada luka tembus di peluru dan punggung..."


"Limpa rusak, dan ada hematoma ( Penumpukan darah abnormal di luar pembuluh darah) beberapa sentimeter di belakang peritoneum..." Pada saat ini, suara tenang tapi jelas berasal dari ruang gawat darurat. Jhonatan dan yang lain menoleh. Mereka melihat Vindra memeriksa denyut nadi.


Semua staf medis terkejut, karena Vindra berani menyentuh Jimmy Wiston tapi juga vin memberitahu cidera yang dialami Jimmy.


"Siapa kamu? jangan main-main, cepat keluar!" teriak dokter wanita itu.


"Jangan bicara lagi." Jhonatan menghentikan dokter itu, lalu berteriak kepada Vindra. "Dokter genius, apakah saudaraku masih bisa diselamatkan?"


"Vin mengeluarkan jarum peraknya, "Tujuh puluh persen aku bisa menyelamatkannya."


Sebenarnya, Jimmy Wiston masih berada di ambang kematian, dan dalam situasi ini akupuntur tidak ada gunanya, namun Vindra bisa mencoba memperbaikinya.


Vindra mengumpulkan tujuh cahaya putih yang sudah terkumpul kembali dan meletakkan tangannya di tubuh Jimmy.


Memperbaiki atau menghancurkan?


Tanpa ragu, pikiran Vin memutuskan untuk memperbaiki, dan berlahan tujuh cahaya putih itu tenggelam di dalam tubuh Jimmy Wiston.


To Be continued ☺️☺️☺️