Menantu Hina Menjadi Penguasa

Menantu Hina Menjadi Penguasa
Bab 161. Properti Tuan Tritan


Vindra mengikuti Raditya dibelakang. Dia memperhatikan area toko yang semakin luas dan di bagi beberapa bagian untuk tempat menaruh batu-batu kasar yang sepertinya baru di tambang.


Mengetahui kedatangan Raditya, Jessie segera menemui dan menyambutnya.


"Tuan Raditya, anda kembali lagi?" tanya Jessie sambil berjalan menghampiri Raditya. "Mengapa tuan membuat kegaduhan di sini? Apakah penyambutnya kurang atau ada yang telah menyinggung mu?"


"Kamu jangan berpura-pura." Raditya menepuk pelan wajah cantik Jessie sambil menyeringai. "Apa yang sudah kamu lakukan, apakah kamu tidak punya perasaan?"


Wajah Jessie berubah sedih," Tuan Raditya, aku selalu memperlakukan kamu dengan baik. tolong beritahu aku jika aku melakukan kesalahan?"


Raditya sangat marah saat mengingat tumpah ruah itu. Jika tumpah ruah itu tidak diberikan pada Vindra tetapi diberikan kepada ayahnya, dia tidak bisa membayangkan konsekuensinya. Jika mengatakan Jessie tidak mengetahui itu sangat tidak mungkin.


"Aku akan memberimu kesempatan satu kali lagi. Kamu akui apa yang sudah kamu lakukan dan aku akan memberimu jalan keluar. Jika tidak aku akan menghancurkan toko ini dan kamu akan menanggung konsekuensinya."


Jessie merasakan permusuhan diwajah Raditya, wajah cantiknya menjadi serius namun dengan cepat berubah dan tertawa." Aku benar-benar tidak tahu, aku melakukan kesalahan apa. Tuan Raditya tolong katakan padaku dengan jelas."


Raditya menjentikkan jarinya dan bawahannya segera menuangkan di atas meja kayu, serpihan tumpah ruah dan juga abu boneka.


Semua orang yang ada di toko itu terkejut saat mereka melihat.


"Apa yang ingin kamu katakan? Aku membeli barang antik dari kamu. Sekarang kamu harus memberi kompensasi lima ratus juta atau aku akan menghancurkan tempat ini. Aku membeli tumpah ruah pagi ini. Tidak hanya palsu tapi didalamnya ada kutukan yang akan melenyapkan Keluarga Santoso ku."


Mata Jessie melebar, kemudian dia tersenyum. " Tuan Raditya mungkin ini salah paham. Aku tidak pernah ada maksud untuk menyakitimu."


"Jangan bicara omong kosong!" Raditya menyela begitu saja. "Aku bukan anak kecil yang mudah kamu tipu, jadi jangan di tutup-tutupi. Aku memang tidak tahu ada hal macam itu di tumpah ruah dan aku tidak tau mengenai barang artistik. Tapi aku tahu siapa bosmu, Jessie? Dia seorang kolektor barang antik yang menyelundupkan barang curian, apa kamu akan mengatakan kamu juga tidak tahu?"


"Kamu merekomendasikan barang antik ini tiga kali berturut-turut, bahkan kamu bersumpah lagi dan lagi, untuk meyakinkan jika itu akan membawa kekayaan. Tidak ada gunanya kamu menyangkal sekarang. Kamu tidak perlu menutupi atau menjelaskan, aku hanya ingin tau apa tujuanmu sebenarnya." Saat bicara anak buah Raditya memutar lehernya dan siap menghancurkan toko kapan saja.


Melihat Raditya, Jessie tahu bahwa dia tidak bisa dibodohi, namun dia juga tidak memiliki rasa takut, sebaliknya dia menyipitkan matanya sambil tersenyum." Tuan Raditya maaf aku tidak bisa menjelaskan masalah ini. Satu-satunya yang bisa aku katakan adalah kamu kehilangan barangmu sekarang dan anggap dirimu tidak beruntung. Kami tidak bertanggung jawab dengan barang yang sudah rusak."


Sikap Jessie yang kuat dan tegas, membuat semua orang terkejut, hal tersebut membuat Vindra yang sedari tadi dibelakang menjadi tertarik, dia bertanya-tanya dari mana Jessie berani menentang Raditya Santoso.


Wajah Santoso menjadi padam dan berteriak." Tapi kamu mencoba membunuhku, siapa yang memberi keberanian untuk aku berfikir bahwa aku tidak beruntung. Cepat hancurkan toko antik ini untukku!" perintah Raditya pada bawahannya.


Pada saat ini suara wanita berteriak. "Siapa yang memberimu keberanian untuk menghancurkan properti tuan Tritan."


Vindra menoleh dan lihat Reni Rapunzel datang dengan beberapa orang. Vin terkejut dengan kedatangan Reni yang tak lain adalah teman Tiffani.


Begitu juga dengan Raditya, dia puluhan kali datang ke toko antik, tapi ini baru pertama kalinya dia melihat Reni


Dingin, kuat, mempesona, dan sombong, dapat dilihat jika dia memiliki peranan yang tidak kecil. Hal tersebut membuat Raditya tertarik untuk melihatnya.


Pada saat ini Jessie dan yang lainnya minggir, lalu memberi hormat. "Nona Reni."


Reni tidak menanggapi, langsung memimpin dan berjalan ke tengah, menatap dingin ke arah Raditya yang membuat masalah.


"Ya." Jessie menjawab dengan sederhana.


"Apakah kamu tahu konsekuensinya?" cibir Raditya.


"Tuan Raditya, aku tahu aku tidak bisa menggertakmu tapi kamu juga tidak bisa menggertak ku. Kamu mengandalkan ayahmu Piter Santoso, dan aku memiliki tuan dibelakang ku. Jika bukan karena tuan mudaku, status ayahku akan lebih tinggi dari ayahmu."


"Nona Reni." Raditya menahan emosinya. "Kamu terlihat sedikit arogan. Nona cepat jelaskan dengan detail latar belakangmu. Aku ingin melihat apakah kamu layak bermasalah denganku."


Raditya tidak ragu-ragu mengambil gambar Reni dan mengirimkannya ke kantor intelijen untuk mencari informasi.


"Reni Rapunzel, wakil manager Dana Kuantum. Latar belakang ini tidak cukup untuk menentang ku ataupun mendukung Jessie. Tidak cukup untuk menghentikan aku menghancurkan toko antik ini."


"Lucu sekali, apakah kamu tidak tahu Dana Kuantum? Tapi seharusnya kamu tahu Grup Tritan? Kalau Grup Tritan juga tidak tahu, Tuan muda ke empat kota K tahu, kan?" Jelas Reni dengan tatapan penuh penghinaan.


"Barang antik Tritan, Dana Kuantum, Grup Tritan, tuan muda ke empat, berada di jalur yang sama. Jika kamu masih menjadi katak dalam tempurung, seharusnya kamu tahu tantang keluarga Tritan. Jika kamu masih tidak tahu apa-apa, lebih baik kamu hubungi ayahmu dan bertanya." Reni mencemooh Raditya dengan rasa bangga.


Diam-diam akhirnya Vindra mengerti dari mana kepercayaan diri Jessie berasal, ternyata di dukung oleh keluarga Tritan dan mengapa Jhonatan Wiston tidak bisa memusnahkan toko antik.


"Tuan Tritan." Raditya menyipitkan matanya dan menatap Reni.


"Alexander Tritan, salah satu tuan muda dari kota K. Jika kamu memiliki pengetahuan, kamu tidak akan begitu bodoh, jika tidak tahu apa-apa. Barang antik Tritan adalah salah satu properti Alexander Tritan. Kamu ingin menghancurkannya, menyegelnya, apa kamu ingin mati?"


"Siapa yang memberimu keberanian untuk melakukan ini? Apakah ayahmu?"


Raditya membalasnya dengan senyuman, lalu berkata, "Kamu menggunakan tumpah ruah untuk menggangu keluarga Santoso, aku tidak bisa terima hal itu."


"Aku sudah katakan, aku tidak tahu tentang tumpah ruah itu." Saut Jessie.


"Sepertinya kamu berfikir dengan dukungan keluarga Tritan, aku tidak berani menggertakmu?"


"Aku tahu tuan Raditya mampu melakukan. aku tahu kamu adalah ular kota SB, dan kamu bisa menghancurkan toko antik kapan saja. Hanya untuk tumpah ruah, kamu akan merusak reputasi mu sendiri didepan tuan Tritan bahkan sampai mati." jawab Reni sambil mendengus.


"Maksudmu aku hanya bisa menelan tumpah ruah itu?" tanya Raditya dengan lelucon.


"Kamu bisa menghancurkan toko antik ini, jika kamu mampu menanggung konsekuensinya?"


Raditya tersenyum, "Kamu sudah membuatku tidak senang. Aku sudah tidak tahan. Aku akan menghancurkannya." Raditya menjatuhkan tangannya memberi isyarat.


"Berhenti."


Kali ini bukan Jessie ataupun Reni untuk menghentikan, tapi Vindra maju dan mengehentikan semua orang.


To be continued 🙂🙂🙂