Menantu Hina Menjadi Penguasa

Menantu Hina Menjadi Penguasa
Bab 43. Niat baik tak dihargai


Miranda memarahi Vin karena ingin ikut campur. Miranda merasa Vin hanya berbual dan tidak mungkin bisa membantu karena sangat mustahil Vin mengenal orang-orang penting tersebut.


Vin tak banyak bicara, jika orang lain tak percaya dia tidak akan repot-repot menjelaskannya. Selama itu tidak menyangkut nyawa seseorang. Selain itu Sifa melarang Vin untuk tidak memperkeruh suasana dan menyuruh Vin untuk tetap diam.


Di tengah perbincangan yang sedikit panas Gultom pun muncul setelah kembali dari pekerjaannya dan langsung bertanya saat keluarga mereka berkumpul.


"Ada apa ini?" tanya Gultom yang langsung duduk di sofa, dia hanya ingin melihat saja tanpa ingin ikut campur. Karena Gultom tau watak dari Adik istrinya itu.


"Dian dan putrinya datang kemari untuk meminta bantuan agar bisa memasukkan Naura ke perusahaan DAK dengan alasan karena aku buka klinik, tapi aku tidak bisa membantu karena aku tidak memiliki akses dengan perusahaan DAK, Papa tahu kan aku membuka klinik dengan jalur depan bukan jalur belakang. " Jelas Miranda agar suaminya tidak salah paham.


"Bi, Aku tau kalau bibi sangat menginginkan kalau Naura bisa masuk perusahaan itu. Tapi kami tidak bisa bantu karena akses yang kami yang terbatas, tapi aku akan berusaha menghubunginya." Saut Sifa.


Bukannya memahami maksud penolakan Miranda dan Sifa. Bi Dian malah marah-marah kepada mereka.


"Hanya masalah sekecil ini saja kalian tidak bisa bantu keluarga. Kalau kalian tidak mau ya sudah tidak perlu mencari banyak alasan." sindir Bi Dian ditambah Naura yang terus mengompori ibunya membuat Dian semakin panas.


"Sepertinya mereka tidak ingin aku bekerja disana ma, makanya Mereka tidak ingin membantu kita, atau mereka tidak ingin aku sukses di sana." Saut Naura membuat semuanya semakin panas.


Miranda tidak terima jika dirinya dan putrinya di hina begitu saja, karena penolakan mereka ada alasannya. Namun Bi Dian yang keras kepala itu tidak mau mencerna setiap alasan yang diberikan.


Suasana pun semakin panas, adu mulut pun tak terelakan antara dua bersaudara, hingga akhirnya Sifa mencoba untuk menghentikannya.


"Berhenti!!! Tidak bisakah kalian menyelesaikannya dengan kepala dingin?! Bi Dian, kalau bibi masih ingin memasukan Naura lewat jalur belakang, bibi bisa minta tolong pada Vin." Jelas Sifa membuat Miranda melotot, tak percaya putrinya itu malah melimpahkan masalah tersebut kepada Vin yang malah tak tau apa-apa.


"Sifa, tidak perlu menjadikan Vin sebagai alasan. Karena mama juga tau Vin tidak bisa melakukannya dan untuk apa membantu bibimu ini yang tidak tau berterimakasih." Saut Miranda dengan kesal.


"Ma, dengarkan dulu penjelasan aku. Vin punya hubungan baik dengan nyonya Ambar dan nyonya Ambar berhubungan baik dengan kakek Dewa yang merupakan kakek dari Direktur Susi dan itu artinya Vin bisa meminta bantuan pada nyonya Ambar agar Nyonya Ambar membantu dan menyampaikannya kepada kakeknya Susi. Begitu kan jalurnya." Jelas Sifa.


"Apa itu benar Vin? Kenapa tidak bilang dari tadi." tanya Miranda.


Vin hanya mengerutkan kening, karena sedari tadi dirinya tidak di izinkan untuk bicara, bagaimana ia bisa menjelaskan.


"Vin coba tolong kamu hubungi nyonya Ambar dan minta dia untuk membantu!" perintah Sifa.


" Baiklah aku akan mencobanya." Jawab Vin namun bukan menghubungi nyonya Ambar Vin langsung menghubungi Susi yang saat ini menjadi pelayannya itu. Vin sedikit menjauh dari mereka sebelum panggilan Vin di angkat oleh Susi.


" Aku ingin minta bantuan. Ada sepupu istriku yang ingin bekerja di perusahaanmu dan aku ingin minta tolong masukan dia ke perusahaan. Tolong rekrut dia sesuai kemampuannya dia sudah mengajukan lamaran kerjanya." jelas Vin.


" Baiklah tuan saya akan meminta mereka untuk memeriksa nya dan akan menghubunginya segera mungkin." jawab Susi.


"Terimakasih, bantuannya."


"Sama-sama tuan. Bukankah tuan sendiri yang meminta saya untuk mematuhi semua perintah tuan." Sindir Susi.


"Apa kamu menyindir? Kalau begitu aku tidak akan membantu mengobati mu lagi." Ancam balik Vin.


"Tidak tuan. Jangan lakukan itu. Aku minta maaf. Baiklah kalau begitu aku tutup teleponnya karena masih ada pekerjaan yang harus aku selesaikan." Susi pun segera mematikan panggilan telepon Vin dan Vin pun segera menghampiri bibi Dian.


"Aku sudah menghubungi mereka dan semua sudah beres, tinggal menunggu panggilan dari perusahaan DAK saja." Jelas Vin.


Bukannya berterima kasih, Bibi Dian lagi-lagi menyindir keluarga Miranda.


"Aku tidak yakin kalian benar-benar niat membantu. Kalian terlalu gengsi untuk meminta bantuan pada mereka padahal itu untuk keluarga kalian juga." Sindir Dian.


"Dian. Tidak bisakah mulutmu itu di jaga? masih untuk kamu mau berusaha, tapi kamu malah membuat kami seakan-akan tidak berguna." Saut Miranda.


"Tapi memang benar kan. Kamu tidak membantu kami sama sekali, kalau saja dari awal kamu mengatakan iya, kama semuanya tidak akan jadi begini."


"Sudah bi. Aku sudah katakan padamu kalau semuanya sudah di urus dan aku yakin sebenar lagi juga pihak perusahaan akan menghubungi Naura. Tidakkah bisa bibi bersabar sebentar." Saut Vin yang sudah mulai muak dengan ocehan Bibi Dian.


"Hai kamu, Jangan mencoba menipuku. Aku tau kalau kamu tidak serius dan ingin membantu kan, jangan sok jadi pahlawan."


Sikap dan tutur kata Bi Dian membuat mereka semua geleng kepala.


Tak lama kemudian ponsel Naura berdering dan ternyata itu panggilan dari perusahaan DAK.


To Be continued ☺️☺️☺️