Menantu Hina Menjadi Penguasa

Menantu Hina Menjadi Penguasa
Bab 193


"Apa yang terjadi dengan keluarga Gultom? Apakah Glenn dan Ben pelakunya?" tanya Vindra.


"Mereka mengusik dan meneror keluarga ku dengan darah. Saat orang tuaku pergi, mereka memukuli kakak Kania dan kakak ipar sampai pingsan. Saat mengetahui hal itu, aku segera pulang ke rumah orang tuaku, tapi ternyata sudah ada yang menungguku di pintu. Untung saja aku mengetahuinya lebih awal, jadi aku bisa bersembunyi." Jelas Tiffani dengan bibir bergetar.


"Glenn meminta Reni memberitahu ku untuk datang ke hotel Queen untuk melayaninya di tempat tidur besok malam. Jika tidak, mereka akan membuat keluargaku menderita. Juga mereka akan berurusan denganmu." Tiffani mengambil nafas panjang. " Kakak ipar, sebenarnya apa yang kamu lakukan pada mereka kemarin, sampai membuat mereka sangat marah?"


Mendengar pertanyaan Tiffani, Vindra pun ingat dan memikirkan apa yang terjadi pada mereka setelah Vin tinggalkan mereka di kamar.


"Tidak apa-apa, mereka kalah bertaruh denganku dan mabuk, mungkin itu alasan mereka ingin membalas ku. Jangan khawatir semua terjadi karena aku, dan aku yang akan menyelesaikannya."


Vindra sebenarnya sudah tidak memiliki perasaan dengan keluarga Gultom, bahkan menganggap apa yang terjadi itu sebagai pelajaran bagi mereka, namun saat dipikirkan lagi, semua terjadi karena dirinya, jadi dia yang harus menyelesaikannya untuk menjaga agar mereka tidak mencelakai Tiffani.


"Aku percaya padamu."


"Kakak ipar dengarkan aku, untuk sementara kakak jangan keluar, dan segera tutup klinik untuk sementara waktu, dan kak Vin segera bersembunyi. Aku yakin mereka akan mencari dan berusaha merusak apapun yang berhubungan dengan kak Vindra, tapi itu tidak akan lama, karena mereka harus segera kembali ke Kota K dalam beberapa hari. Setengah mereka pergi semuanya akan selesai."


Setengah bicara, terdengar raungan dari Miranda.


"Siapa yang kamu hubungi Tiffani? jangan bilang bajingan itu?" teriak Miranda.


Seketika Tiffani langsung menutup teleponnya. Sedangkan Vindra hanya bisa tersenyum tipis dan mengerutkan keningnya.


"Tuan Vindra apa yang terjadi?"


Melihat wajah Vindra yang berubah, Marcel memberanikan diri mendekati dan bertanya. " Tuan Vindra, apa semua ada hubungannya dengan Glenn?"


Marcel tidak menguping, tapi saat mendengar Vindra menyebut namanya, Marcel langsung berspekulasi jika semuanya berhubungan dengan Glenn, tuan muda dari kota K.


Vindra tidak menyembunyikan, dia mengangguk dan berkata, "Dia tidak bisa bermain-main sedikit dan sekarang dia mengancam keluarga Gultom."


"Serahkan semuanya padaku. Aku berteman baik dengan Glenn, aku akan berusaha membujuknya. Beri aku waktu satu hari, dan aku pastikan dia tidak akan menggangu mu dan keluarga Gultom," ucap Marcel dengan percaya diri.


"Kamu?" Vin sedikit curiga, namun pada akhirnya dia percaya. Selama bisa dilakukan dengan damai itu tidak akan menjadi masalah.


"Baiklah, aku serahkan urusan Glenn padamu."


Marcel sangat senang, saat Vindra mempercayainya. "Jangan khawatir, semuanya akan segera selesai."


****


"""""Kediaman Gultom """"


Sifa kembali ke rumah setelah selesai bekerja. Saat masuk, dia mendapati rumah dalam keadaan sepi, karena ayah, ibu, dan Tiffani sedang pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Kania dan juga Mateo.


Pada saat ini terlintas bayangan saat Vindra masih tinggal di rumah, dimana saat dia kembali bekerja, Vin selalu menyambutnya dan di atas meja makan selalu siap makanan hangat. Tapi semua itu sudah berlalu, dan Vindra tidak mungkin kembali. Ditambah saat Ambar mengakui hubungannya dengan mantan suaminya itu, membuat Sifa tidak punya harapan untuk membawa Vin kembali ke rumah.


Dengan malas Sifa melemparkan kunci mobil dan tasnya di atas sofa.


Pada saat ini, beberapa lampu mobil menyorot ke dalam rumah, pintu di buka dan tujuh atau delapan pria dan wanita muncul. Di belakang ada seorang wanita berpakaian hitam memimpin, dan dia adalah Reni.


"Siapa kalian? Kenapa kalian masuk kerumah ku tanpa permisi?" tanya Sifa.


Reni tidak menanggapi, dia melambaikan satu jarinya untuk memerintah. Segera semua anak buahnya berpencar, mendobrak semua pintu yang ada untuk menemukan seseorang.


Merasa tak menemukan, mereka semua kembali sambil menggelengkan kepalanya.


"Apa yang kalian lakukan? memaksa masuk kerumah dan mendobrak semua pintu yang ada? siapa yang memerintahkan kalian?" teriak Sifa dengan marah.


"Kamu Sifa, kan?" Reni melirik Sifa, dan saat itu juga wajahnya tenggelam." Cepat ambil telepon, hubungi Vindra, dan minta dia datang sekarang!" perintah Reni.


"Siapa kamu? untuk apa kamu mencari Vindra?"


"Maaf, aku sudah bercerai. Aku tidak tahu dimana dia, dan aku tidak akan menghubunginya. Kamu cari saja dia jika kamu punya urusan dengannya. Jangan datang ke rumah ku dan bertindak liar." Sifa sangat marah dengan Reni, dia tahu mereka sedang ada konflik dengan Vin, jika dia memanggilnya dia khawatir mereka akan menyakiti Vindra.


"Aku sudah mencarinya, tapi sepertinya dia pandai bersembunyi. Jadi yang bisa aku lakukan hanya menemui mu, mantan istrinya." Reni memandang Sifa dengan dingin. "Sebaiknya cepat telepon dia, dan jangan buat kami marah."


"Apa kamu masih tidak mengerti? ini rumahku dan Vindra tidak ada disini lagi. Cepat pergi." teriak Sifa.


Reni menampar Sifa dengan begitu keras, merasa pihak lain menentang.


Sifa mendengus dan mundur dengan sidik jari di pipinya.


"Kamu tidak memiliki kualifikasi untuk menentang ku. Cepat berlutut dan suruh Vindra datang kemari."


Sifa menutupi pipinya sambil berteriak. " Ini rumahku, kamu tidak bisa memamerkan kekuatanmu di sini. Aku akan menelepon polisi, melaporkan kamu yang sudah masuk rumahku tanpa izin dan berani menyakitiku." Setelah bicara, Sifa ingin segera mengambil telepon.


"Seperti aku belum memberimu pelajaran, agar kamu tahu siapa aku."


Setelah suara itu jatuh. Beberapa wanita datang dan mengepung Sifa, dan menjatuhkan yang dipegangnya.


"Apa yang ingin kalian lakukan?" Sifa ingin melawan, namun segera di tangkap oleh mereka.


Tangan Sifa ditarik, rambutnya di Jambak, dan lehernya di cekik, dan langsung mengendalikan Sifa. Mereka menekan tubuh Sifa ke sofa, dan membuatnya tidak bisa bergerak.


Mereka mengikat tangan Sifa kebelakang dengan seutas tali, membuat Sifa tidak bisa membebaskan diri. Dia hanya bisa berteriak dengan marah. "Kalian benar-benar keterlaluan."


Salah satu dari mereka memberi perintah." Berlututlah."


Sifa mengangkat kepalanya. "Aku tidak akan berlutut."


Plakkkk...


"Berlutut."


Sifa menahan rasa sakit dan berteriak." Aku tidak akan berlutut."


Wanita lain langsung menjambak rambut Sifa hingga membuat Sifa berdiri, dan langsung menendang perutnya


Seketika Sifa merasakan sakit yang teramat dan juga pusing. Tiba-tiba wanita lain yang berada di belakang Sifa menendang tepat di belakang lutut Sifa.


Saat itu juga Sifa goyah dan langsung berlutut didepan Reni.


Reni mencibir dan tersenyum. "Bukankah kamu tidak ingin berlutut, tapi lihatlah sekarang kamu berlutut di depanku."


Sifa sangat marah. "Aku bisa pastikan kamu akan membungkuk di depanku."


"Berani sekali kamu berteriak." Salah satu wanita maju lagi dan langsung menendang Sifa.


"Beri dia pelajaran." Perintah Reni.


Anak buah Reni langsung melangkah maju, menampar dan menendang Sifa tanpa ampun.


Sifa hanya bisa merintih kesakitan, menahan kesedihan dan kemarahan tanpa bisa melawan. Setengah beberapa saat Sifa tidak mampu bertahan dan pada akhirnya membuatnya pingsan di tempat.


...****************...




Yuk gabung, yang punyak kritis saran, atau bertanya bisa langsung chat di grup. Otornya fast respon😉