
Setelah kembali, Dewi segera melakukan meeting darurat untuk mengatasi masalah perusahaan yang sedang melanda. Semua petinggi perusahaan berkumpul, mereka membahas masalah tersebut.
Dewi bersandar dengan tangan terlipat. Memperhatikan setiap orang yang ada di dalam ruangan." Apa kalian semua bodoh? Mencari jalan keluar saja tidak ada yang punya solusi." Bentak Dewi.
Semua terdiam, mereka sudah kehabisan ide untuk mengatasi masalah tersebut. Dewi menatap setiap bawahnya yang tertunduk lesu. Semua usaha mereka selama ini akan hancur dalam sekejap saat resep perusahaan telah di ambil pesaing.
"Bagi siapa saja yang bisa mengatasi masalah ini, aku akan memberikan hadiah sebesar empat Milyar. Tapi jika tidak ada yang bisa menyelesaikannya masalah ini, lebih baik kalian semua tinggalkan perusahaan ini." Ancam Dewi dengan tegas. Dewi tidak mau di bantuin bayang-bayang kegagalan dan tidak ingin kali ini Wiliam menang di atas dirinya.
Semuanya terdiam tak ada yang berani menyanggah ataupun menentang Dewi sebagai pimpinan Farmasi Star grup dan merasa kecewa dengan kinerja mereka di saat genting seperti ini.
Setelah menelan kekecewaan karena tidak bisa mengandalkan mereka, Dewi pun menatap Ronald yang merupakan ahli ramuan. Selain itu Ronald dipercaya perusahaan sebagai konsultan untuk semua produk perusahaan. Dan kali ini satu-satunya harapannya hanyalah tuan Ronald.
"Tuan Ronald, Apa yang bisa kamu lakukan sekarang? Saat ini perusahaan bergantung padamu." tanya Dewi.
"Nona Dewi, situasi sekarang benar-benar tidak memungkinkan. Perusahaan Moon pasti sudah merencanakan sesuatu. Jalan satu-satunya menghancurkan resep itu atau mengeluarkan produk baru."
"Tapi kedua jalan itu tidak memungkinkan, tidakkah ada cara lain selain itu?"
"Saya sudah meminta bantuan kepada rekan-rekan yang berpengalaman dan ahli dalam ramuan, namun semuanya tidak bisa membantu, tidak ada yang bisa menemukan formula yang lebih baik dari yang sudah kita produksi. Tak hanya itu saja Nona, saya juga sudah berusaha keras sampai mengobrak-abirik perpustakaan buku ramuan kuno namun tidak satupun saya menemukannya yang cocok."
"Maafkan aku Nona, kemungkinan buruk saat ini adalah menghentikan produksi dan menarik kembali semua produk yang ada di pasaran, dan mengumpulkan dana yang ada agar kerugian tidak terus meningkat. Perusahaan Moon menghemat banyak dana karena dia tidak repot-repot mengeluarkan biaya untuk penelitian, dan Farmasi Moon tinggal memproduksi sebanyak-banyaknya dengan harga jauh lebih murah. Sedangkan perusahaan kita tidak mungkin mengimbangi harga mereka." Imbuh Ronald.
Mendengar jawaban tuan Ronald, Dewi menjadi sedikit pesimis kali ini. Tak tau lagi bagaimana mengatasi dan mencari jalan keluar untuk mempertahankan perusahaan.
"Nona Dewi, untuk produk kecantikan memang kita tidak punya jalan keluar lagi, tapi tenang saja saya sedang mengembangkan ramuan untuk penyembuhan luka dan saya rasa ini lima belas sampai dua puluh persen akan lebih efektif di banding dengan obat penyembuh luka yang ada di pasaran. Untuk saat ini ramuan itu dalam tahap uji coba, jika berhasil akan langsung saya berikan resepnya untuk perusahaan ini."
Ucapan Ronald memberi secercah harapan untuk para anggota lainnya yang sudah pesimis sebelumnya. Begitu juga dengan Dewi, ia merasa sedikit lebih lega, setidaknya masih ada harapan untuk kedepannya. Membayangkan William tertawa di atas penderitaannya membuat Dewi merasakan sakit di kepalanya. Namun dia masih tetap ingin mencari solusi terbaik dan tidak akan mudah menyerah dengan mudah.
Selain itu Dewi tidak ingin meminta bantuan kepada Robert Pattin yaitu ayah mertuanya, sebelum dirinya bisa hamil yang ada mertuanya itu akan memarahinya habis-habisan. Oleh sebab itu Dewi tidak ingin menggangunya dan berusaha menyelesaikan masalah ini tanpa bantuan mereka.
"Apakah nantinya Perusahaan Moon akan menyerah?" Dewi mengambil cangkir teh dan menyeruputnya kembali untuk mendinginkan otaknya sejenak. Setelah itu Dewi merogoh kain tisu yang ada di sakunya untuk melap sudu bibirnya.
"Tunggu jangan bergerak Nona Dewi!" Ronald berteriak, membuat Dewi terkejut begitu jaga dengan yang lainnya.
"Jangan bergerak dulu Nona!" ucapannya sekali lagi dan segera memindahkan kursi yang ia duduki lalu segera menghampiri Dewi untuk mengambil tisu yang ada di tangannya.
Ternyata tanpa sengaja, Ronald melihat beberapa baris tulisan yang berisi sebuah formula. Dengan gemetar dan seakan tidak percaya, Ronald mengambil tisu tersebut dan membukanya untuk memastikan.
Dewi tercengang, dia linglung kanapa dia bisa mengambil tisu yang diberikan Vin padanya, padahal di atas meja ada banyak tisu.
"Jangan bicara!"
Dewi pun mengurungkan niatnya dan memilih diam dan menunggu apa yang Ronald lakukan pada tisu itu.
Setelah membaca dengan cermat setiap kata yang tertulis, mata Ronald langsung melebar, kebahagiaan pun langsung terpancar.
"Ini benar-benar resep Putri Malu. Iya ini benar-benar formula Putri Malu. Aku tidak menyangka jika aku masih memiliki kesempatan untuk melihat resep kecantikan yang digunakan Selir Miranda. Mungkin setelah aku meninggal nanti tidak akan ada penyesalan karena sudah mengetahui resep yang sudah sangat lama menghilang." Ronald Sangat bahagia dengan apa yang dia lihat.
"Nona Dewi, darimana Nona mendapatkan formula ini?" tanya Ronald penasaran. " Aku ingin bertemu dengan orang hebat ini, dia sudah membuat resep Putri Malu dengan lengkap. Apa kamu tau Nona? Didalam buku kuno yang ada dan yang pernah aku baca, hanya tertulis sepersepuluh dari semua resep yang ada. Ini benar-benar hebat."
"Nona Dewi, aku akan berlutut di depanmu dan juga aku akan bekerja secara cuma-cuma, Asalkan kamu mau membawaku menemui si pembuat resep ini." Ronald pun mengiba.
Seluruh dewan redaksi saling menatap dalam kebingungan. Mereka tak menyangka jika tisu yang di gunakan untuk menyeka sudut bibirnya ternyata ada sebuah resep berbagai yang tak ternilai harganya dan bisa membangkitkan kembali perusahaan.
"Tuan Ronald, apakah itu benar-benar formula rahasia kecantikan yang dibuat hanya untuk selir Miranda?" Tanya Dewi memastikan.
pertanyaan Dewi membuat tuan Ronald terkejut.
" Apakah Nona Dewi benar-benar tidak tau?"
" Resep itu di tulis oleh adek angkat ku dan dia mengatakan kalau resep itu memiliki efek sepuluh tahun lebih muda setelah memakainya."
dan ingin minta maaf pada Vindra karena sudah meremehkannya.
Dewi menjadi malu telah meremehkan Vindra Dewi merasa dia ingin minta maaf karena sudah meremehkannya. Namun untuk meyakinkan Dirinya sekali lagi Dewi pun kembali bertanya.
"Tentu saja, bahkan aku bisa mempertaruhkan hidup ku dan juga reputasiku untuk formula ini. Aku yakin setelah produk ini dibuat akan segera membabat habis produk di pasaran karena formula ini jauh lebih efektif dari formula yang pernah di teliti sebelumnya."
"Kira-kira berapa lama peluang untuk menguasai pasaran setelah formula ini di produksi?"
"Paling lama satu tahun, perusahaan Star akan mampu menguasai pasaran dan perusahaan akan mendapatkan keuntungan yang berlipat-lipat." jawab Ronald menyakinkan, hal tersebut membuat dewan redaksi kembali bersemangat.
" Tapi, sayangnya bagian akhir tulisan ini tidak terlihat, karena terkena gosokan bibir Nona hingga bagian akhir tidak terlihat."
"Maafkan aku, aku akan segera meminta Vin untuk memberitahu resep bagian akhir itu." Jawab Dewi sedikit malu jika bertemu dengan Vin.
To be continued ☺️☺️☺️