Menantu Hina Menjadi Penguasa

Menantu Hina Menjadi Penguasa
Bab 80. Membuat Masalah


Sekitar pukul lima sore. Mobil silih berganti keluar dan masuk perusahan SR. Di bawah pohon besar yang berjarak kurang lebih 35 meter, Vin duduk di atas sepeda motor miliknya sedang menikmati sekaleng cola sambil sesekali melirik lampu lalu lintas yang berada tepat tak jauh darinya.


Tak lama Vin melihat mobil BMW hitam melintas dan berhenti di lampu merah. Setelah Vin memastikan jika itu mobil Fendi, Vin segera meneguk cola tegukan yang terakhir lalu membuangnya ke sampah. Ia mengambil kantong kresek yang sudah disiapkan dan mengambil barang yang ada didalam tasnya, lalu dimasukkan ke dalam kantong keresek tersebut. Setelah memastikan barang yang ia bawa itu baik-baik saja dan kembali menggantungnya di stang motor dan segera mengenakan helm untuk bersikap.


Pada saat ini, mobil BMW bersiap akan berbelok ke kanan menuju perusahaan SR.


"Sepuluh, sembilan, delapan, tujuh, enam, lima ..." Vin menghitung waktu, hingga mencapai nol dan lampu merah di depannya berubah hijau. Mobil BMW yang dikendarai Fendi berbelok ke kanan dan disaat bersamaan Vin melepas pedal gas sepeda motornya dan segera melaju.


Detik berikutnya, Vin menabrak bagasi mobil. Sebuah lekukan seketika menghiasi bagasi mobil Fendi dalam sekejap. Sedangkan sepeda motor langsung terbalik, lampu depannya pecah, brankas hancur dan porselen ( kerajinan dari keramik yang di panaskan) yang ada di dalam kantong plastik juga pecah.


Sedangkan saat motor menabrak, Vin terpental, dan membuat dirinya selamat. Vin mengelus dada sebelum dia berteriak. "Brengsek, tau cara mengemudi tidak!" Teriak Vin.


Medina, tersulut emosi dan dia memaki balik Vin. " Kamu punya mata tidak dan menabrak dengan jarak jauh?"


Sifa, dan Fendi pun ikut keluar dari dalam mobil. Saat itu Vin membuka helmnya dan membuat mereka tercengang.


"Kamu." Medina menunjuk Vin.


"Mengapa kamu ada disini?" tanya Sifa saat menyadari keberadaan suaminya.


"Aku tidak di sini? Bagaimana aku bisa tau kalau kamu ada di dalam mobil ini?" tanya balik Vin.


Sifa kebingungan, mengetahui dirinya masih jalan dengan Fendi.


" Aku bertemu klien."


" Bertemu klien, selalu dengannya? Kamu memang tidak menganggap ku ada di hatimu," ucap Vin tanpa basa-basi.


" Apa maksudmu?"


" Tidak bermaksud apa-apa. Aku cuma ingin mengatakan jika kamu ingin berkencan dengan pria lain, lebih baik kita bercerai."


"Kamu..."


" Ternyata kamu. Si sampah. Tidakkah kamu punya mata? Aku sudah memberimu jalan yang lebar, tapi kenapa kamu masih menabrak. Apa kamu sengaja, karena kamu cemburu?


" Untuk apa aku cemburu padamu?"


" Fendi, aku akan membayar semua kerugiannya." Setelah itu Sifa berbalik dan menatap vin.


"Kamu, lebih baik kamu pulang dulu. Biar aku yang selesaikan!" Sebenarnya Sifa ingin menyalahkan Vin. Namun melihat ekspresi Vin yang terlihat kemarahan di wajahnya. Sifa urungkan niatnya.


Sifa juga berasa bersalah atas kejadian di rumah sakit, dengan menggunakan kenalannya untuk menyegel klinik. Namun setelah Sifa di selidiki dia mengetahui jika klinik itu milik dokter Wisnu. Dan tidak ada hubungan apapun dengan Vin. Karena alasan itu pula, mungkin yang membuat Vin marah padanya.


"Hati-hati saat mengendarai sepeda motor untuk kedepannya." imbuh Sifa.


"Ah, lupakan saja, masalah kecil bisa diselesaikan dengan asuransi. Selain itu aku tidak ingin Sifa membayarkan apapun untuk mu. Pergilah, lain kali berhati-hatilah. Asal kamu tau, jika kejadian seperti ini terulang lagi bersiaplah mengeluarkan uang jutaan." Fendi memilih mengalah kerena Sifa. Namun sayangnya Medina tidak terima dan dia pun menendang kotak hitam dengan tatapan menghina.


"Sungguh memalukan, mengandalkan wanita untuk lari dari tanggung jawab." hina Medina. Ketiganya pun memutuskan untuk kembali dan membiarkan Vin pergi.


Vindra hanya menyeringai sebelum berteriak." Siapa yang menyuruh kalian pergi?"


Sifa segera berbalik dan mengerutkan keningnya." Vin sudah aku katakan, aku akan menyelesaikan semuanya, Apa lagi yang kamu inginkan?"


"Apa kamu tidak bisa melihat mana yang baik dan yang buruk?" Saut Fendi yang mulai geram.


"Ini adalah sebuah kecelakaan mobil, jangankan mengganti rugi, minta maaf saja tidak kamu lakukan," ucap Vin dengan dingin.


"Vin! Sekali lagi kamu buat masalah, aku tidak akan perduli lagi padamu." Bentak Sifa.


"Kamu ingin minta maaf? Kamu ingin mengganti rugi? Uang jutaan, apa kamu bisa mendapatkannya untuk mengganti rugi? Tentu saja pasti menggunakan uang Sifa kan." Jawab Fendi dengan dingin.


Medina yang terlalu agresif berteriak, "Aku akan memanggil polisi." Medina pun langsung memanggil polisi lalulintas untuk menyelesaikan masalah yang dibuat Vin.


"Tuan Fendi, apakah anda tau lalulintas? Antara belok dan lurus. Kamu belok dan aku lurus. Kamu sudah menghalangi jalanku, hingga membuat kecelakaan ini terjadi, jadi ini sepenuhnya adalah kesalahanmu. Jadi seharusnya kamu yang harus memberi kompensasi untuk semua kerusakan yang aku alami."


"Kami bertanggung jawab penuh?" Hah, kamu yang menabrak kami, kenapa kami yang harus bertanggungjawab." Saut Medina yang benar-benar muak dengan Vin.


"Vin, apakah ini penting? Aku sudah katakan kalau aku hanya pergi untuk menemui klien. Apa lagi yang kamu inginkan?" Sifa merasa jika Vin melakukan itu karena dia cemburu padanya.


"Vin aku bertanya sekali lagi, Kamu ingin pergi atau tidak? Jika kamu tetap bertahan dan tindak ingin pergi. Aku tidak akan memperdulikan kamu lagi, aku akan membiarkan kak Fendi berurusan denganmu." tanya Sifa.


To be continued ☺️☺️☺️