
"Bu jangan khawatir, ada banyak saksi disini dan bukti rekaman itu, Vindra tidak akan bisa melarikan diri." Mateo menunjuk kamera itu. "Serahkan ke polisi dan Vindra akan berakhir."
"Ibu, kakak ipar, tidak seperti itu..." Tiffani merasa tak berdaya untuk membela Vindra.
"Kamu adalah anak kecil, tidak tahu apa-apa. Vindra adalah penjahat yang penuh nafsu, berbanding terbalik dengan Fendi." Saut Mateo.
"Aku sudah melihatnya," ucap Miranda yang tengah memutar ulang video rekaman itu.
Saat mereka semua melihat, mereka terkejut. Ternyata Fendi lah orang yang menjebak Sifa.
Mereka melihat bagaimana Fendi melakukan kekerasan, menampar Sifa berkali-kali dan mencoba memfitnah dan mengancamnya saat ingin memanggil polisi. Mereka pun akhirnya tahu siapa sebenarnya penjahatnya.
Sebaliknya, Vindra adalah penyelamat. Dia menyelamatkan Sifa dari jurang tepat waktu, dan dia mengalahkan Fendi untuk melampiaskan kemarahan Sifa.
Walaupun bagian akhir adegan hilang dan keberadaan Fendi dan para pengawalnya tidak terekam sampai akhir, tapi rekaman itu sudah bisa menjelaskan keseluruhan cerita.
"Apakah kalian sudah melihatnya?" tanya Tiffani memecah kesunyian. "Kalian selalu berfikir Fendi selalu melakukan hal baik pada kak Sifa, tapi kalian tidak pernah memandang kak Vindra. Bahkan dia tidak pernah mengeluh saat melindungi putri kalian."
Tiffani awalnya bingung Kenapa Vindra tidak ragu untuk menceraikan Sifa, tapi sekarang dia paham setelah melihat orang tuanya yang keterlaluan malam ini. Jika dirinya menjadi Vindra, dia pasti akan bercerai dalam waktu kurang dari sebulan.
"Tiffani apa yang kamu katakan? Bagaimana kamu bisa bicara begitu pada ayah dan ibu," tegur Tania.
"Jangan memaksaku untuk berbicara hal buruk tentang kalian. Lebih baik kalian bergegas mencari kak Vindra."
Mateo mengerutkan keningnya." Untuk apa kita mencarinya?"
"Dia menyelamatkan kakakku, tidakkah kalian perlu mengucapkan terimakasih? Ibu salah paham dan menamparnya. Apakah tidak bisa mengatakan permintaan maaf? Tidak perduli apakah itu benar atau salah. Jika kalian tahu kesalahan kalian tapi tidak mau minta maaf dan berubah, kalian bukan manusia. Kanapa keluarga Gultom menjadi seperti ini?"
Tiffani sangat tertekan saat melihat Vindra disalahpahami, yang telah berusaha menyelamatkan kakaknya dan malah ditampar ibunya, membuat Tiffani semakin putus asa ditambah melihat sikap Vindra yang tidak melawan. Tiffani memikirkan sorot mata Vindra saat pergi, tatapannya membuatnya bergetar dan merasa sedih.
"Cukup." Miranda tidak mau ditegur oleh putri kecilnya.
"Terimakasih dan permintaan maaf untuk apa? Sifa adalah Istri Vindra, suami yang harus menyelamatkan istrinya. Aku tidak menyalahkannya karena gagal melindunginya, justru kamu malah memintaku untuk berterimakasih padanya?" Meski Miranda tahu dia salah tapi dia tidak mau menundukkan kepalanya.
Tiffani tertawa dalam kemarahannya." Ibu, mereka sudah bercerai. Itu bukan masalah hukum lagi, Kak Vin menyelamatkan kak Sifa itu bukan tugas, melainkan mereka masih memiliki cinta... mengerti?"
"Terlepas dari apakah Vindra menceraikan kakakmu atau tidak, dia wajib menyelamatkan wanitanya."
"Jika ibu tidak mau berterimakasih, tapi ibu masih harus minta maaf, kan? ibu menyalahkan orang lain dan menamparnya, ibu harus minta maaf." Tiffani tidak sabar untuk menghakimi ibunya.
"Tiffani cukup, dia ibumu, perhatian sikapmu."Teriak Gultom.
"Aku hanya memiliki sikap benar dan salah disini. Jika kalian melakukan kesalahan kalian harus minta maaf."
"Minta maaf? Bisakah aku disalahkan dalam situasi saat itu? Hanya ada mereka berdua di kamar, pria kesepian dan janda, dengan pakaian acak-acakan. Kakakmu terluka dan Vindra tidak mau menjelaskan. Bisakah kamu menyalakan aku karena menganggap dia sebagai penjahat? Selain itu, dia datang untuk menyelamatkan kakakmu sangat terlambat, yang menyebabkan kakakmu sangat menderita. Tamparan itu hanya sebagai pengingat."
"Kalian begitu brengsek, aku tidak akan kembali ke rumah kalian lagi." Teriak Tiffani lalu pergi keluar menyusul Vindra.
Tak butuh waktu lama untuk menemukan sosok Vindra yang sudah ada diluar hotel.
"Kak Vindra aku minta maaf." teriak Tiffani saat Vindra hendak membuka pintu mobilnya. Tiffani berlari dan langsung memeluknya dari belakang.
"Aku salah, aku hanya perduli menyelamatkan kakakku. Aku tidak memberitahu orang tuaku kalau kakak mengirim pesan dan membuat mereka salah paham. Maafkan aku kak, aku benar-benar minta maaf. Aku salah, orang tuaku juga salah. Aku minta maaf dan aku juga minta maaf untuk mereka, jangan marah kak."
Tiffani sangat sedih, menyalahkan diri sendiri dan juga penyesalan, semua perasaan bercampur aduk. Ditambah dengan kesombongan orang tuanya membuat hatinya sangat sakit. Dia mencoba yang terbaik untuk memeluknya dan tidak membiarkan Vindra melepaskan diri.
Teffani merasa saat Vindra melepaskan pelukannya dia tidak akan kembali lagi. Tidak hanya kakaknya yang tidak bisa berdamai dengannya, dia juga tidak akan bisa melihatnya lagi.
"Aku tidak menyalakan kamu." Vindra berhenti menarik pintu mobilnya, dengan lembut memisahkan jemari Tiffani lalu berbalik dan tersenyum padanya.
"Kamu adalah kamu dan orang tuamu adalah orang tuamu, aku tidak akan mencampuradukkan. Kembalilah dan jaga kakakmu, jangan biarkan dia terluka lagi." Vindra begitu ramah dengan Tiffani, tapi tidak dengan keluarga Gultom yang lainnya.
"Kak Vin, apa ini sakit?" Tanpa ragu-ragu Tiffani menyentuh pipi Vindra dan membelainya yang terdapat bekas tamparan. "Aku akan mencari es untuk meredakan rasa sakit mu."
"Tidak, ini hanya hal kecil, Aku sudah terbiasa."
"Kak Vin, aku minta maaf." Tiffani tetap mengusap pipi Vindra dan tidak membiarkan Vindra meletakkan tangannya.
"Kak Vin, bisakah kakak kembali ke rumah Gultom? Bisakah kakak kembali dengan kak Sifa? Apa kakak tahu, kak Sifa sangat merindukan mu, dia selalu duduk di balkon dengan linglung setiap malam. Lagipula masakan ibu juga tidak terlalu enak, aku masih suka masakan kak Vindra."
"Kak Vindra apa kakak bisa kembali?" tanya Tiffani berulang kali, berusaha membujuk Vindra untuk kembali.
"Aku tidak bisa kembali. Banyak hal yang tidak bisa dijelaskan. Jika aku kembali itu akan menambah beban diriku sendiri dan juga orang tuamu.
Tiffani mengerucutkan bibirnya dan bersenandung. "Apakah kamu tidak memiliki sesuatu untuk dilewatkan dikeluarga Gultom?"
Vindra tidak menjawab lalu berbalik.
"Apakah aku tidak bisa membiarkan kamu merindukan aku, gadis kecil ini?" ucap Tiffani dan langsung membuat wajahnya merah.
"Nona kecil, jangan terlalu khawatir. Pulanglah, aku akan mengundang mu makan malam beberapa hari lagi."
"Aku tidak bisa pulang." jawab Tiffani lalu menarik ujung baju Vindra, menurunkan alisnya dan bicara dengan lemah. "Aku keluar dari rumah Gultom."
"Maksudmu?" Vindra terkejut.
"Kak Vindra harus mengurusku." Tiffani sudah bertekad akan mengikuti Vindra, jadi dia memaksa Vindra untuk membawanya pulang bersamanya.
To be continued 👍👍👍