
Keesokan harinya saat Vindra hendak membuka klinik, dia menerima pesan teks penarikan uang dari rekening ibunya. Vin mengetahui ibunya mengambil uang dua puluh juta pagi ini.
Meskipun Vindra tidak akan menggangu pengeluaran uang ibunya, tapi Vindra penasaran untuk apa ibunya mengambil uang sebanyak itu dalam satu kali penarikan, karena tidak seperti biasanya ibunya menarik uang sebanyak itu.
Setelah memikirkannya sebentar, Vindra memutuskan untuk berkunjung ke rumah kontrakan ibunya. Alasan pertama karena dia ingin menjenguk ibunya dan alasan kedua dia ingin membujuk ibunya untuk tinggal bersama di paviliun klinik. karena saat ini dia sudah bercerai dengan Sifa, jadi dia tidak perlu memikirkan perasaan keluarga Gultom lagi.
"Tuan Vindra, selamat pagi."
"Halo tuan Vindra."
Sebelum Vindra bisa pergi, Dara dan Marcel tiba-tiba muncul dan keduanya menyapa Vindra dengan hormat.
Vindra terkejut untuk sementara waktu, Dara datang untuk melakukan pekerjaan setelah siap mental, tapi kenapa Marcel juga ikut datang?
"Tuan Vindra, maaf aku terlambat." Dara minta maaf setelah itu dia bergegas mengambil sapu dan menjalankannya pekerjaan untuk bersih-bersih.
"Tuan Vindra, apa yang harus aku lakukan sekarang?"
Marcel mendengar dari pamannya Rahendra kemarin, bahwa Vindra telah menyempurnakan beladiri TriNam. menyembuhkan kaki ayahnya dan membuat keduanya kini bersaudara, jadi membuat Marcel panik.
Marcel menyadari kekuatan Vindra, dan menangkap seberapa penting Vindra bagi ayahnya. Marcel tahu bahwa dia tidak bisa balas dendam atau menggulingkannya. Bahkan ayahnya secara pribadi mengingatkannya, tidak perduli seberapa berani dia memprovokasi Vindra, ayahnya mengancam akan membuatnya cacat bahkan masuk penjara. Hal ini membuat Marcel ketakutan dan tidak bisa tidur sepanjang malam.
Dia tidak tahu bagaimana memperbaiki hubungan dirinya dengan Vindra, tapi setelah mendengar Dara ke klinik CRISHAN untuk bekerja dia akhirnya mempunyai ide dan mengikuti Dara pergi ke klinik.
"Tuan muda Marcel, ada apa datang kemari?"
"Tuan Vindra, aku terlalu bodoh, berperilaku buruk dan menyinggung perasaan mu, tolong maafkan aku. Aku tahu itu tidak cukup mengatakan meminta maaf saja, jadi aku memutuskan untuk pergi ke klinik untuk melakukan pekerjaan sebagai bentuk ketulusanku. Aku harap tuan Vindra memberiku kesempatan."
"Aku tidak punya banyak pekerjaan untuk mu disini..." Vindra melambaikan tangannya. "Pulanglah, aku tidak menyimpan dendam, aku sudah melupakan semuanya."
"Tidak."
"Tuan Vindra aku benar-benar tulus, jadi biarkan aku melakukan beberapa pekerjaan. Kalau tidak aku tidak akan bisa tenang. Aku bisa menyapu dan mengelap meja."
"Baiklah, aku akan memberimu pekerjaan padamu. Sekarang duduk di kasir dan kumpulkan uang."
Vindra ingin segera bertemu ibunya, jadi dia tidak bisa memikirkan hal yang lain. "Tunggu kakimu sembuh dan aku akan memberikan pekerjaan lain untukmu."
"Terimakasih tuan Vindra." Marcel sangat senang.
Vindra tersenyum sambil menggelengkan kepalanya ringan. Dia memberitahu Billy dan yang lainnya, kemudian meminta Romi menggentarkan dirinya menemui ibunya.
Dalam perjalanan Vindra pun menghubungi ibunya.
"Ibu, kamu ada dimana? Aku ingin bertemu denganmu." Vindra bertanya pada ibunya apakah ada di rumah atau di pasar.
"Katakan padaku, ibu ada dimana sekarang. Aku akan datang mencari mu."
Ningrum ragu-ragu sejenak, kemudian dia mengatakan sebuah alamat." Aku sekarang sedang berada di kantor pemasaran Per Garden. Pamanmu dan keluarganya ingin mencari sesuatu dan memintaku datang untuk sesuatu."
Mendengar kata paman, hati Vindra langsung marah.
"Aku akan pergi kesana menemui mu." setelah bicara, Vin meminta Romi membawa dirinya ke alamat yang diberikan ibunya.
Sesampainya di tujuan, Vindra segera masuk ke dalam dan melihat ibunya sedang duduk di sofa yang berada disudut, selain itu dia juga melihat Paman Petrik, bibi Arum, dan sepupunya Alisa yang juga duduk di sofa.
Sambil melihat gambaran Villa di Per Garden, Petrik mengangguk pada Ningrum dengan acuh tak acuh.
Beberapa sales wanita memandang mereka dengan rasa ingin tahu. Tapi tidak mengatakan apa-apa.
Vindra tidak memiliki perasaan sama sekali pada paman dan keluarganya. Sejak awal keluarga mereka selalu mengusik dan selalu mengambil keuntungan dari keluarga ayahnya selama bertahun-tahun, dan selalu mengajak dirinya karena hanya anak angkat.
Selain itu saat ayahnya menghilang dan ibunya sekarat, keluarga pamannya dan yang lain tidak ada yang mengulurkan tangannya, malah mereka mengambil alih rumah peninggalan keluarga.
Hal ini membuat Vindra jijik saat melihat mereka. Vin menebak jika pertemuan mereka dengan sang ibu pasti ada sesuatu yang tidak baik. Dan benar saja, sebelum Vindra menyapa mereka, Petrik mengangkat kakinya dan menatap Ningrum.
"Ningrum, Alisa akan kembali sekolah dalam beberapa hari, apa kamu sudah lupa tanggalnya?"
Alisa adalah anak bungsu Petrik, waktu itu saat Alisa mulai masuk ke perguruan tinggi, Aryo dan Ningrum memberikan uang sebesar 20 juta. Namun Petrik mengira jika mereka akan membiayai Alisa dan setiap semester Petrik dan keluarganya datang dan meminta uang.
Ningrum yang baik hati dan tidak ingin mengecewakan keponakannya itu, menyetujui dan memberikan uang setiap semester.
Kemudian saat ayahnya menghilang dan ibunya dirawat, Petrik melihat tidak ada keuntungan, jadi dia berhenti meminta uang, tapi mengambil alih rumah peninggalan.
Sekarang Ningrum kembali sehat dan membuka usaha di pasar, Petrik datang lagi untuk meminta uang.
"Alisa kembali sekolah, bagaimana aku bisa melupakannya?" Ningrum tersenyum dan memberikan amplop pada mereka. Ningrum terlalu baik hati, bahkan jika harus memaksakan diri. Ningrum berfikir sekolah Alisa tinggal satu tahun lagi, itu artinya sebentar lagi dia akan bebas dari tanggungan ini.
Sebelum Petrik mengambil, Arum lebih dulu mengambil dan meremasnya dan berteriak." Mengapa hanya dua puluh juta? Seharusnya kamu memberi empat puluh juta."
Wajah Petrik menjadi suram dan mengambil amplop itu dan menghitung jumlahnya. Kemudian dia menatap Ningrum dengan wajah tidak puas." Ningrum kami melihatmu sakit beberapa waktu lagi jadi kami tidak meminta uang semester Alisa, dan terpaksa meminta Alisa melakukan pinjaman. Kami memperhatikan kamu, tapi kamu pura-pura tuli dan bisu. Seharusnya kamu memberi Alisa uang semester ini dan semester lalu yang belum kamu beri."
Ningrum hanya bisa tersenyum paksa. "Kakak, kakak ipar, saat ini aku hanya bisa memberikan segitu, tapi aku janji akan memberikan sisanya secepatnya. Uang yang aku miliki saat ini untuk Vindra karena dia masih belum memiliki pekerjaan. Setelah Vindra bekerja dan usahanya berkembang, aku akan memberikan Alisa amplop yang lebih besar. Aku janji." Ningrum tidak berharap jika keluarga iparnya itu mencatat semuanya bahkan menagihnya.
...****************...
(Keluarga Petrik bisa dibaca bab 1)