Menantu Hina Menjadi Penguasa

Menantu Hina Menjadi Penguasa
Bab 200. Tidak Bisa Dibiarkan


"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah"


Tidak hanya Morgan dan Dara, tapi semua anak Redblack yang melihat tongkat keagungan itu hanya bisa menghela nafas dengan penuh keterkejutan.


Tidak ada yang mengira jika Vindra memiliki tongkat pemukul yang sangat di takuti seluruh Redblack.


Awalnya Morgan tidak perduli dengan apa yang di keluarkan Vindra, namun saat melihat tongkat yang menyilaukan dan ukiran Naga dan burung Phoenix yang terlihat begitu hidup, tubuhnya seketika menjadi kaku dan senyumnya membeku.


"Kakek, ada apa denganmu?"


Melihat ekspresi Kakeknya yang berubah, Glenn mengetahui jika ada sesuatu. "Apa yang terjadi?"


Morgan mengabaikan pertanyaan cucunya dan dia berjalan mendekati Vindra. "Nak, darimana kamu mendapatkan tongkat ini?"


Vindra tersenyum tipis, "Sepertinya kamu mengenali benda ini?"


"Jangan bicara omong kosong, dari mana kamu mendapatkan tongkat ini? Jika kamu tidak mengatakannya, kamu tidak akan selamat," tanya Morgan dengan serius.


"Beberapa hari yang lalu aku bergabung dengan Redblack sebagai konsultan seni bela diri. Ini adalah hadiah yang diberikan ketua Tiger Wang padaku."


Wajah Morgan sedikit berubah, dia akhirnya ingat jika Tiger Wang memiliki tingkat itu. Dia tidak berharap tongkat tersebut diberikan kepada Vindra. Tapi saat ini Vindra adalah bagian dari Redblack, itu artinya Vindra mendapatkan tongkat itu secara legal dan dia punya wewenang untuk menggunakan tongkat tersebut.


Glenn tidak tahan untuk tidak berteriak. "Vindra apa yang kamu ingin lakukan dengan tongkat itu, itu sama sekali tidak berguna."


"Benarkah? Bagaimana kalau aku mencobanya." Vindra mengangkat tangannya dan mengarahkan tongkat tersebut ke salah satu anak Redblack, dan seketika suara teriakan menggema. Dari wajahnya mengeluarkan darah segar yang membuat anak Redblack itu kesakitan.


Vindra mencobanya lagi dan lagi pada anak Redblack, dan pada akhirnya membuat anak-anak Redblack berteriak kesakitan. Hanya dengan tongkat pemukul di tangannya dan beberapa pukulan, Vindra berhasil melumpuhkan anak-anak Redblack dengan cepat.


Semua yang menderita, dan mereka ingin mundur, tidak ingin lagi berurusan dengan Vindra lagi, jika masih ingin hidup.


"Jangan bergerak." Saat kata itu jatuh, semua tidak ada yang berani melangkahkan kakinya lagi, dan mereka tetap diam ditempat dengan tubuh gemetar, penuh kesedihan dan kemarahan.


"Ternyata tongkat ini berguna juga," ucap Vindra lalu memberi menghajar anak-anak Redblack yang tersisa.


Ben dan yang lainnya tercengang, mereka tidak menyangka tongkat yang dipegang Vindra begitu berwibawa, hingga semua anak-anak Redblack tidak ada yang berani untuk melawan.


"Vindra, jangan keterlaluan." teriak Morgan dengan wajah suram.


Vindra tidak bicara omong kosong." Berlutut."


Mata Morgan melebar karena marah. " Vindra, cukup!"


"Berlutut!"


Vindra menatap Morgan dan berkata. "Apakah kamu akan melanggar aturan Redblack?"


"Berlutut." perintah Vindra dengan acuh tak acuh.


Morgan akhirnya menundukkan kepalanya dengan arogan, mengatupkan giginya, mengepalkan tinjunya, sedikit gemetar, perlahan mulai menekuk lututnya, dan akhirnya jatuh berlutut didepan Vindra.


Semua orang yang melihat menggosok matanya dengan tidak percaya. Seseorang yang berkuasa di kota M, dan memberikan kekuasaan pada Glenn, tiba-tiba berlutut di depan pria tidak berguna.


Bang...


Bang...


"Tongkat ini sebagai hukuman karena kamu tidak bisa membedakan mana yang benar dan salah."


Bang...


"Tongkat ini untuk menghukum mu, karena menindas yang lemah dan tidak bersalah."


Vindra tidak berhenti begitu saja, lebih dari selusin pukulan tongkat mengenai punggung Morgan. Bunyinya sangat keras dan darah pun menempel di tongkat.


Walaupun Morgan adalah master, tapi dia tidak bisa melawannya. Semua orang dapat melihat jika Morgan sangat marah, namun dibawah kekuasaan tongkat, Morgan tidak berani untuk melawan.


Saat ini sudah terlihat siapa yang kuat dan siapa yang lemah. Melihat Morgan yang saat ini berlutut tak berdaya, membuat semua yang awalnya mendukung Glenn berkeringat dingin, dan perlahan mereka melangkah mundur dan berusaha menjaga jarak dengan Glenn.


"Sudah mendapat selusin hukuman, apakah kamu masih ingin melawan?"


Morgan terlihat sangat kesal dan marah. Tapi menghadapi Vindra dia hanya bisa menggelengkan kepalanya. "Lakukan saja."


Vindra menatap Morgan dengan tersenyum. "Aku tidak berpikir kamu begitu yakin, dan di saat ada kesempatan kamu pasti akan membalas ku.


Morgan mengepalkan tinjunya dan berteriak sambil mengeluarkan kalimat, "Ambillah apa yang kamu inginkan dariku."


Vindra tersenyum, "Baiklah aku akan menghapus kamu."


Tiba-tiba Vindra memukul pusat energi Morgan dengan tendangan. Secara naluriah Morgan ingin menghindar, namun posisinya yang berlutut membuatnya tidak bisa berkutik dan membuatnya terbang beberapa meter.


Morgan berusaha untuk bangkit, namun dia merasakan pusat energinya bergetar, seolah-olah ada palu yang menghantamnya dan seluruh kekuatannya lenyap dan dia kembali ambruk.


"Vindra, apa yang kamu lakukan?" teriak Morgan dengan marah.


"Tidak ada. Aku baru saja menghapuskan pusat energimu." Nada bicaranya acuh tak acuh." Aku hanya ingin memastikan kamu tidak akan membalas untuk selamanya."


Vindra yakin seratus persen, setelah masalah ini, lelaki tua itu pasti akan balas dendam cepat ataupun lambat. Jadi dia mengambil kesempatan untuk menghapus pusat energinya. Baginya lebih mudah berurusan dengan para sampah ketimbang dengan seorang master.


"Bajingan." Morgan meraung dengan marah, mencoba meronta, namun dia sadar tidak memiliki kekuatan bahkan membuat nafasnya terengah-engah. Semakin lelaki tua itu berusaha malah membuatnya muntahkan seteguk darah. "Kamu benar-benar bajingan."


"Marcel, kamu urus Glenn, patahkan kaki dan tangannya, dan usir dia dari kota SB." Perintah Vindra, lalu berbalik tanpa melihat Morgan lagi.


Marcel sudah lama ingin menghancurkan Glenn, jadi dia segera bertindak saat mendengar perintah dari Vindra.


Sedangkan Morgan hanya bisa jatuh ke tanah dan matanya hanya bisa menatap langit. Dia sangat putus asa. Dibandingkan dengan kemarahannya dengan Vindra, dia hanya bisa meratap, karena seorang master yang kehilangan pusat energinya itu sama saja kehilangan segalanya.


...****************...


#Akan update 2x sehari siang dan malam# untuk jam update tidak di tentukan. 🙏Tidak bisa balas komentar satu persatu.