Menantu Hina Menjadi Penguasa

Menantu Hina Menjadi Penguasa
Bab 153. Masalah Datang


Beberapa pria masuk kedalam bar dan langsung membuat keributan, mereka menghajar teman-teman Johan yang mencoba menghadang.


"Brengsek... berani sekali kamu bermain liar disini dan menghajar teman-temanku." teriak Johan. Didepan para gadis, dia ingin menjadi pahlawan yang pemberani, menunjukkan jika dirinya tidak mudah di gertak.


Johan ingin menghajar pria yang menjadi pimpinannya, namun saat Johan ingin melawan, mereka lebih dulu menendang Johan hingga terjatuh kelantai.


"Sebenarnya siapa kamu? Kenapa membuat keributan disini?"


"Aku Raditya Santoso," ucapnya.


Mendengar nama itu semua yang ada terkejut, mereka tidak menyangka akan berhadapan dengan putra dari Piter Santoso yang sama sekali tidak mereka harapkan. Karena itu sama saja mencari kematian.


Tiffani memegang erat tangan Vindra seakan ada ketakutan, sedangkan Vindra menatap tenang Raditya Santoso dengan penuh minat. Dibandingkan dengan ayahnya yang tertutup dan rendah hati, Raditya Santoso lebih terlihat arogan.


Pada saat ini Johan menggelengkan kepalanya, "apakah kamu putra Santoso?"


"Tanpa diduga kamu tahu siapa aku. Tapi sayangnya sudah terlambat, berani menyinggung ku dan teman-temanku harus membayar sangat mahal."


"Tuan Raditya, beri kami kesempatan, Arif yang melakukan kesalahan dan semuanya tidak ada hubungannya dengan kami." Johan berulang kali memohon dan melimpahkan semua masalah pada Arif. Fani dan yang lain mengangguk tidak ingin terlihat dalam masalah.


Ternyata saat Arif diminta untuk mengambil sebotol anggur oleh Fina, dia tidak sengaja telah melakukan kesalahan dengan menyinggung salah satu teman Raditya. Hal itu terdengar di telinga Raditya, dia tidak terima hingga akhirnya datang untuk menyelesaikan masalahnya.


"Dasar bodoh! aku baru saja berkata dan aku yang memiliki keputusan terakhir." Raditya tidak memandang Johan sama sekali, dia menendangnya lagi hingga Johan sekali lagi jatuh ketanah.


"Tuan Raditya, ayahku adalah wakil presiden Federasi Industri dan Perdagangan." Johan mencoba menggertak dengan kekuasaan ayahnya, namun Raditya hanya menyeringai dengan sombong.


"Jika kamu tidak ingin orang tuamu mendapatkan masalah, sebaiknya jangan sebut mereka."


Raditya kembali menampar Johan, "Jika tidak, kamu bisa memanggil bos besar yang kamu kenal dan kita lihat, apakah dia mau mendukung mu?"


Kata-kata Raditya membuat Johan bungkam dan tubuhnya gemetar. Siapa yang tidak tahu dengan kekuasaan Piter Santoso, mendengar namanya saja membuat orang ketakutan.


Pada saat ini mata Raditya tiba-tiba menyala saat melihat Tesa yang terlihat cantik dan menggoda saat mabuk.


Dia melambai ke Johan untuk mendekat. " Aku beri satu kesempatan, tapi dengan syarat biarkan wanita-wanita itu tinggal bersamaku."


Hal tersebut membuat Selena dan yang lain panik, tatapan Raditya sangat menakutkan dan aura kebrutalan terlihat jelas. Sedangkan Johan tercengang, mendengar Raditya menginginkan kekasihnya.


"Jangan bertindak terlalu jauh." tiba-tiba salah satu teman Johan bangun dan tidak sabar untuk tidak berteriak demi melindungi Selena." Kami juga tidak mudah diganggu..."


Belum selesai bicara, Raditya meraih botol anggur dan langsung memukul kepala teman Johan. Setelah itu teman-teman Raditya maju untuk menghajar mereka, Johan pun tak luput dari sasaran mereka saat berusaha membela diri.


Setelah merobohkan semuanya, Raditya berjalan mendekati Tesa dan mengulurkan tangannya untuk mencubit pipi Tesa.


Tesa menggelengkan wajahnya dan mundur, dalam amarah Tesa masih menatap Johan yang terduduk di lantai. Sebagai seorang wanita Tesa tetaplah wanita lemah yang hanya bisa mengandalkan pada pria yang melindunginya, namun kekecewaan terlihat jelas, saat Johan tidak bisa berbuat apa-apa lagi untuk melindungi dirinya.


Begitu Raditya menyentuh Tesa, dia melihat Tiffani yang berlindung dibalik Vindra dan membuat mata Raditya semakin berbinar. Dibandingkan Tesa dan yang lain, Teffani lebih baik dari segi tempramen dan juga penampilannya.


Raditya kembali melangkah untuk mendekati Tiffani dengan senyum jahat. "Minggir kamu." Raditya meminta Vindra untuk tidak menghalangi dirinya mendekati Tiffani.


Raditya memiringkan kepalanya menatap Tiffany yang sedikit takut.


Plakkkk....


Vindra mengangkat tangannya dan langsung menampar wajah Raditya.


"Aku tidak keberatan kamu menghajar semua orang yang tidak ada hubungannya denganku, lakukan saja. Tapi jika kamu berani menyentuh Tiffani aku tidak akan tinggal diam." Vin memandangnya dengan tenang, dia tidak marah tapi memberikan penekanan untuk tidak menyentuh wanita yang bersamanya.


Tiffani terkejut dengan apa yang dilakukan Vindra, namun akhirnya sedikit tersenyum melihat kakak iparnya berusaha melindunginya.


"Kau memukulku?" Raditya tercengang, melihat noda darah disudut bibirnya namun dia tidak bereaksi.


Selena, Tesa dan Fani menggosok matanya tak percaya, beberapa waktu lalu mereka melihat Vindra yang lemah, dan bersembunyi dibalik kerumunan, namun pada saat ini Vindra terlihat tajam dan kejam seperti seseorang yang memiliki kepribadian ganda.


"Siapa kamu?" tanya Raditya dan dia menghentikan beberapa temannya yang ingin menyerang untuk melindungi Raditya. "Berani sekali kamu memukul Raditya Santoso. Kamu adalah orang pertama yang berani melakukannya. Kamu harus mati dan namamu akan menjadi contoh bagi siapapun yang berani melawanku."


"Tuan Raditya dia adalah Vindra. Dia menantu tanpa latarbelakang. Dia datang kesini untuk minum bersama dengan Tiffani. "Johan bangkit untuk mengkhianati Vindra.


"Vindra, apa kamu tidak tahu tuan Raditya? Dia adalah putra Piter Santoso, seseorang yang tidak bisa kamu sakit. Jika kamu tidak ingin mati lebih baik cepat berlutut dan minta maaf pada tuan Raditya dan jangan libatkan kami dalam masalah ini."


"Johan, kamu bajingan." Teffani sangat marah saat mendengar kata-kata Johan yang menyudutkan Vindra.


"Menantu laki-laki. Sial aku baru saja di pukul pria yang tak memiliki latar belakang. Hai kamu apa kamu tahu apa yang akan terjadi padamu setelah ini?"


Teman-teman Raditya memutar lehernya dan berjalan mendekat untuk mengepung Vindra kapan saja.


Plakkkk...


Bukannya takut, Vindra kembali menampar Raditya." Katakan padaku apa yang akan terjadi."


Tubuh Raditya terguncang, mundur dua langkah dan menatap Vindra dengan tercengang.


Semua tercengang, mereka tidak percaya Vin bisa menjadi orang bodoh dengan menantang Raditya. Satu persatu mulai menjauhi Vindra karena tidak ingin terlibat. Namun tidak dengan Tiffani dia masih memegang erat tangan Vindra.


"Wah, kamu berani memukulku lagi. Ini sama sama sekali tidak sakit," ucap Raditya sambil memegang pipinya.


Vindra bicara dengan ringan. "Apa mau ditampar lagi?"


Setelah bicara, Vindra langsung menampar wajah Raditya Lang dengan renyah dan keras.


Melihat Raditya ditampar tiga kali oleh Vindra, Johan segera mengklarifikasi hubungan mereka.


" Tuan Raditya, kami benar-benar tidak terlalu mengenalnya. dia dibawa Tiffani dan tidak ada hubungannya dengan kita. Tuan ingin bertarung atau membunuhnya, bebas."


"Iya, kami tidak akrab dengannya dan kami membencinya." Selena mengangguk.


Tesa menunjuk Tiffani. "Dia adalah saudara ipar Tiffani. Ini benar-benar tidak ada hubungannya dengan kita."


Semua tahu, tidak tamparan yang diberikan Vindra sama saja membawa kematian dan mereka tidak menginginkan itu hingga akhirnya mereka memutuskan untuk menjauh dan tidak ingin terlibat.


To be continued 🙂🙂🙂