
Pukul delapan malam, Vindra mendapat telepon dari Tiffani jika Sifa berada di rumah sakit, dan segera saja Vindra pergi untuk melihat kondisi Sifa.
Sesampainya di koridor, Vindra melihat Gultom, Miranda, dan Tiffani sedang menunggu dengan cemas di depan pintu ruang gawat darurat.
"Kakak ipar." Tiffani langsung menyapanya saat melihat keberadaan Vindra, "Kamu ada disini?"
"Tiffani bagaimana kondisi Sifa?" tanya Vin sambil berjalan mendekati.
"Bajingan, kamu tidak tahu malu, masih berani datang kemari." teriak Miranda dengan marah. "Jika kamu tidak membuat masalah, keluarga Gultom tidak akan celaka, dan membuat Sifa menderita."
Tiffani buru-buru menenangkan ibunya. " Ibu, ini semua tidak ada hubungannya dengan kak Vindra. Itu semua terjadi karena aku, Bu."
"Kenapa kamu masih membela bajingan ini?"
"Kelompok orang itu pasti sedang bermasalah dengan Vindra. Mereka tidak menemukan Vindra jadi datang ke rumah Gultom untuk mengancam Sifa. Brengsek, kamu memang brengsek dan selalu membuat masalah, bahkan saat kamu keluar dari keluarga Gultom kamu masih saja membuat masalah dan membuat keluarga Gultom menderita."
"Vindra, jika terjadi sesuatu pada Sifa, aku tidak akan membiarkan kamu." Miranda sangat marah. Dia tidak bisa bertemu dengan langsung dengan mereka untuk mendapatkan keadilan jadi dia melampiaskan semuanya pada Vindra.
Vindra hanya bisa menghela nafas panjang." Jangan khawatir, Sifa akan baik-baik saja."
"Sudah jangan bertengkar, ini rumah sakit." Gultom mencoba melerai mereka.
Vindra sangat terkejut dengan sikap yang di tunjukkan mantan ayah mertuanya itu.
"Vindra jangan salahkan ibumu, dia peduli dengan Sifa, jadi dia tidak memikirkan kata-kata yang keluar itu bisa menyakiti orang lain."
Vindra mengangguk, "Aku mengerti."
Setengah itu Gultom menatap istrinya. "Sudah sangat jarang merasakan kedamaian di keluarga Gultom, jangan membuat masalah lagi." tegurnya.
Mendengar kata-kata suaminya, Miranda pun berhenti memarahi Vindra, namun tatapannya pahit, seolah ingin melanjutkan masalah ini di kemudian hari.
"Bagaimana kondisi Sifa sekarang?"
"Kami baru pulang, dan kami mendapati Sifa dalam keadaan yang buruk, tangannya di ikat, wajahnya di pukuli hingga bengkak dan membuat hidung dan mulutnya mengeluarkan darah."
Wajah tua Gultom memiliki perubahan. “Pihak lain memukulinya seperti tahanan. Jika kami tidak datang tepat waktu, sesuatu yang buruk pasti akan terjadi pada sifa.”
Kedua orang tua itu terlihat sedih, dan merasa kasihan dengan nasib putrinya.
Vin memandang Tiffani." Apakah Glenn dan yang lainnya pelakunya?”
“Itu kelompok mereka,” Tiffani menganguk membenarkan, “ hanya saja pihak kepolisian tidak bisa menangkap mereka dan tidak bisa mencari keadilan untuk kakak perempuanku."
“Bukankah kamu sangat mampu? Bukankah kamu memiliki banyak hubungan? Pergi dan bunuh mereka. Jika kamu membunuhnya, masalahnya akan selesai.” teriak Miranda..
“Jangan khawatir aku akan mengurus mereka. Masalahnya akan selesai paling lambat besok.” Jawab vin.
Pada saat ini pintu ruang gawat darurat terbuka dan beberapa dokter keluar. Berjalan di depan adalah dokter Mega.
“Kondisi pasien tidak mengancam jiwa, tapi kondisinya tidak baik.”
Dokter mega terkejut saat melihat vindra, dia segera menganguk dan melanjutkan ucapannya, ”tiga belas jaringan lunak terluka, kepalanya dipukul sangat keras, tangannya di ikat kuat dengan tali. Cidera paling serius adalah tendangan di perut yang telah mematahkan tulang rusuknya dan melukai organ dalam, saat ini aku hanya membantunya menstabilkan cideranya, dan saya tidak tahu kapan dia akan bangun dan masih perlu diobservasi. Aku akan memindahkannya ke ruang intensif nanti, saat ini nyonya bisa mengirim seseorang untuk mengurus formalitas.”
"Jangan khawatir, aku akan mengatur perawat untuk menjaganya.”
“Terimakasih dokter Mega, terimakasih banyak.” Ucap Gultom berulang kali.
“Jika kalian ingin memastikan, kalian bisa meminta Vindra untuk melihatnya.” Mega terkekeh pada vindra. “ dia sangat hebat, orang mati saja dapat dibangkitkan, sangat mudah untuk menyelamamatkan nona Sifa.”
Mega benar-benar percaya dengan kemampuan Vindra. Selain dia melihat Vindra menyelamatkan Jimmy Wiston dan yang lainnya dengan matanya sendiri, juga tentang penyakit kulitnya yang bisa disembuhakn Vindra hanya dengan beberapa ramuan tradisional.
Tiffani buru-buru berkata, “ kakak ipar, pergilah temui kakakku.”
Gultom pun mengangguk, “ vindra pergilah...”
“ Tidak!”
Wajah Miranda tenggelam dan dia menatap Vindra lalu mendengus, “aku tidak percaya padanya. Sifa sudah cukup dengan dokter Mega dan yang lainnya. Bajingan ini tidak perlu ikut campur.”
“Baiklah, kalau begitu dokter Mega akan membantumu, telpon aku jika Sifa ada masalah.” Vin tidak memaksakan diri untuk merawat Sifa. Dari ucapan dokter Mega, dia tahu bahwa kondisi Sifa dapat dikendalikan, dan dia tidak perlu buru-buru untuk merawatnya sekarang.
Kemudian Vindra tidak tinggal terlalu lama, dia ngobrol sebentar dengan Tiffani lalu pergi meninggalkan rumah sakit.
Setelah vin pergi, Tiffani mengikuti dokter Mega untuk mengurus berkas untuk rawat inap.
Setelah semuanya pergi, Miranda melihat putrinya dari jendela dan mengutuki suaminya yang ada disampingnya itu karena telah membela Vindra.
"Kenapa kamu memarahi dan menampar Vindra?”
“Keluarga Gultom saat ini mendapat masalah, semua karena dia yang melakukannya, jadi aku harus memberi dia sedikit pelajaran.
"Vindra hanyalah kedok.”
Gultom menghela nafas, “Pihak lain melakukan nya dengan sengaja.”
Miranda terkejut. “apa maksudmu?”
“ Jika itu gangster jalanan, atau gangster yang diasingkan, meneriaki keluarga Gultom, mengggangu untuk intimidasi, dan melakukan pembobolan di rumah keluarga Gultom itu masih bisa di mengerti, tapi ini Reni dan yang lainnya yang berasal dari kota K dan terkait dengan keluarga Tritan. Bagaimana mereka yang tidak biasa dengan lingkaran elit. Bagaimana mereka tidak tahu jika keluarga Gultom adalah keluarga elit? Dibawah keagungan sikte Gultom, kita tidak bisa di injak-injak dengan mudah atau masuk ke rumah Gultom untuk menyakiti orang dengan sangat buruk, kecuali ada seseorang yang secara sengaja menghasut mereka...”
“Maksudmu mereka sengaja datang untuk menggangu kita?”
Gultom tidak bicara dan dia berjalan keluar koridor dengan tangan di punggungnya, namun bayangan di lantai berangsur-angsur seperti pisau tajam.
...****************...