
Dokter Wisnu sangat terkejut saat mengetahui jika pengobatan teknik Sembilan jarum dengan jarum emas itu, dia pernah dengar dari kakeknya kalau pengobatan itu bisa membantu. Dengan semangat dokter Wisnu ingin meminta Billy mengobatinya namun Vindra datang lebih dulu membuat dokter Wisnu tidak enak.
Vin paham dengan apa perasaan dokter Wisnu, dan dia juga tau tentang teknik Sembilan jarum. Namun Vin tau jika teknik itu tidak sepenuhnya bisa membantu.
"Kok, jika memang dokter ingin dia mengobatinya silahkan, aku tidak akan mempermasalahkannya, yang terpenting Lusiana bisa sembuh," ucap Vin.
Mendapatkan persetujuan dari Vin. Dokter Wisnu pun. membiarkan Billy mencoba untuk mengobati cucunya. Sikap yang ditunjukkan Vin membuat Lusiana merasa jika Vin berbeda dengan dokter yang lain.
"Aku tau sejak awal kalau kamu memang tidak punya keahlian medis. Jadi jangan sok ingin mengobati," ucap Regina menyindir. Vin hanya tersenyum kecut dan membiarkan laki-laki yang di bawa Regina melakukannya.
Dokter Wisnu melirik Regina dengan sikap dingin."Siapapun yang bisa menyembuhkan Lusiana, klinik ini akan menjadi miliknya." Ungkap Wisnu, membuat hari Regina girang. Regina pun meyakinkan Billy kalau kata-kata kakek Wisnu itu sungguh - sungguh.
Untuk meyakinkan mereka, Lusiana pun melepaskan surat kontrak yang sudah di siapkan kakeknya untuk mereka baca.
Setelah semuanya pasti, Billy memulai pengobatannya dan segera membuka kotak jarum untuk melakukan teknik akupuntur.
" Aku ingin melakukan pengobatan untuk peremajaan dengan enam jarum akupuntur untuk mengontrol aliran darah." Billy segera menusuk titik pertama dengan jarum dan membuat Lusiana sedikit menahan sakit.
" Ah ini sedikit menyakitkan," ucap Vin.
Billy tetap diam dan melanjutkan jarum ke dua.
" Itu tidak terlalu sakit." Saut Vin membuat Billy menjadi kesal dan merasa Vin sengaja mengganggu dirinya.
"Tunggu! Jangan di situ!" tahan Vin lagi.
"Tidak bisakah kamu diam? Kamu membuat konsentrasi ku ambyar." Bentak Billy saat jarum ketiga yang hendak di tusukkan Billy terjatuh.
"Vin, apa maksudmu bicara seperti itu. Kamu tidak memiliki keahlian sama sekali dan kamu berani menggurui ya. Lebih baik kamu pergi!" saut Regina dan ingin mengusirnya.
"Aku hanya ingin memberitahu padanya kalau titik akupuntur yang ingin dia tusuk itu salah." Jawab Vin membuat mereka semakin geram.
"Tidak bisakah kamu berhenti bicara?!" tegur Billy dengan kesal. Vin pun akhirnya memilih diam dan memperhatikan apa yang di lakukan.
Enam jarum pun sudah di selesaikan dan dia pun akan melakukan tahap selanjutnya yaitu teknik Satu jarum satu pintu, membuat Vin sedikit tercengang setelah mendengar hal itu.
Vin pun tersenyum dingin lalu berkata, "Apa dokter Lin yang memberitahu tentang teknik jarum satu pintu itu?" tanya Vin membuat Billy terkejut,
"Baiklah, aku akan pergi. Tapi kamu harus ingat, setelah kamu menusuk jarum akupuntur di telapak kaki, lutut dan paha. Jangan lupa tusuk titik di bagian dada juga harus kamu tusuk. Jika kamu tidak melakukannya, maka Lusiana akan merasakan sakit yang luar biasa." Jelas Vin membuat Billy tak percaya kalau Vin mengetahui beberapa titik yang akan dia tusuk dengan jarum perak.
"Bagaimana kamu tau kalau aku akan menusuk di bagian telapak kaki, lutut, dan, paha?" tanya Billy penasaran. Sebab yang Billy tua teknik itu hanya di miliki keluarga Lin saja.
Vin belum sempat menjawab, suara teriakan menggelegar meneriaki Billy dengan penuh amarah.
"Brengsek, Sejak kapan kamu mempelajari, keterampilan medis keluarga Lin." Dokter Lin segera menampar wajah Billy cukup keras hingga tersungkur. Dan lagi-lagi mereka semua di buat terkejut. Dokter Lin segera mencengkeram wajah Billy dengan penuh kemarahan, membuat Billy meringis kesakitan.
" Apa yang kamu lakukan kek? Kenapa kamu menampar ku? Apa salahku?" tanya Billy ketakutan.
"Kamu adalah pencuri, dan kamu sudah mencuri keterampilan medis yang sudah di jaga dan kamu dengan mudah menyombongkan diri." Sekali lagi dokter Lin menampar Billy lagi.
Setelah itu dokter Lin berdiri di depan Vin dan langsung berlutut di depannya.
"Maafkan aku tuan atas sikap cucuku yang berlaku sombong dan sudah menyinggung mu. Aku pantas mendapatkan hukuman."
Dokter Wisnu tercengang, melihat dokter Lin yang terkenal hebat itu, berlutut di depan Vin. Bahkan Regina ingin teriak untuk melupakan kemarahannya namun ia tutup mulutnya agar tidak ke ceplosan.
" Kek apa yang kamu lakukan dengan berlutut didepan pria rendahan seperti dia?"
" Brengsek, jaga ucapanmu mu. Apa kamu tau? ketrampilan medis yang kamu pelajari diam diam-diam itu. Semua di ajarkan oleh Guru Vin dan kamu dengan entengnya menghinanya." Saut Dokter Lin.
"Cepat kemari dan berlutut di depan guru kecilmu dan minta maaf padanya karena kamu sudah mencuri tekniknya. Kalau tidak aku akan membunuhmu sekarang juga!" perintah Dokter Lin. Namun Billy masih enggan untuk patuh.
Dokter Lin memang diminta Dokter Wisnu untuk mengobati Lusiana, namun saat mendengar cucunya Billy datang lebih dulu, membuat Dokter Lin kuatir kalau Billy akan membuat masalah dan pada akhirnya apa yang di kuatirnya menjadi kenyataan.
Mendengar Billy yang asal-asalan mengobati dan mengancam keselamatan cucunya, membuatnya geram dan ingin sekali menghajarnya. Namun ia masih tidak enak dengan dokter Lin. Dia pun menilai Kalau Vin memang benar-benar dokter genius dan patut untuk di akui semua orang.
" Maafkan aku Tuan atas kesalahan cucuku. Aku siap menerima hukuman apapun," ucap dokter Lin penuh penyesalan.
"Baiklah, jika kamu itu maumu. Aku ingin kamu menghukum cucumu yang sombong itu dengan menamparnya sebanyak mungkin sampai dia meminta maaf dan mengakui kesalahannya. Sebagai bentuk permintaan maaf. Jika kamu tidak mau melakukannya maka akan aku tambah hukumannya, karena kamu tidak bisa menjaga keahlian medis yang aku ajari." jawab Vin dengan maksud untuk memberi pelajaran kepada Billy, agar tidak berlaku sombong yang mengakibatkan kerugian pada orang lain."
Billy yang masih dengan sombong tidak mau berlutut di depan Vin, akhirnya harus menerima tamparan terus menerus dari kakeknya sebagai hukuman.
To be continued ☺️☺️☺️