
Sifa menandatangani kontrak dengan Leo Ederson, manager umum Moon Farmasi malam ini.
Perusahaan Moon Farmasi tengah memproduksi resep rahasia dan perusahaan GB menyediakan dana untuk bersama-sama mengerjakan produksi kecantikan yang diberi nama Alfa.
Sifa awalnya meminta Leo untuk pergi ke Restoran barat namun Leo memintanya untuk pergi ke club' Bugenvil untuk menandatangani kontrak.
Saat Sifa datang, Leo selalu menghindar dari topik kerja sama dan meminta Sifa dan yang lainnya untuk minum. Tak butuh waktu lama, dia utusan dari perusahaan GB mabuk.
Akhirnya Leo mengeluarkan tiga botol anggur merah dan memberi tahu Sifa jika dia selesai menghabiskan anggur merah tersebut, baru dia akan tanda tangan kontrak.
Sifa mulai melihat situasinya dan membuatnya sedikit ragu, dan dia hendak berbalik untuk pergi, tapi Sifa terlahir meneguk anggur merah dan minum dengan liar.
Pada saat itu Anna melihat, pemilik club' yaitu Gianna melemparkan pil putih dan memasukkannya kedalam botol anggur merah. Dia juga membantu Leo anggur untuk di minum Sifa.
Pada saat itu Anna ingin melangkah menuju untuk menghentikannya. Namun sayangnya Gimana tiba-tiba menghadang pintu dan langsung menampar wajahnya, dan meminta penjaga untuk melemparkan Anna keluar dari Clubhouse.
Ana ingin masuk, namun ia malah di tendang oleh penjaga keamanan. Ana kuatir dengan keadaan Sifa. Jadi dia segera menghubungi Vin untuk membantu.
"Dasar wanita Bodoh! Apa kamu tidak tau kalau kamu akan menyakiti dirimu sendiri." Sepenjang mengendarai mobil, Vin terus mengutuki Sifa.
Meskipun Vin merasa hubungan mereka akan segera berakhir, tapi Vin tidak bisa membiarkan Sifa di ganggu sebelum mereka bercerai.
Sesampainya di club' Bugenvil, Vin segera keluar dari dalam mobil dan melihat mobil BMW merah milik Sifa dan juga Anna yang terlihat sangat cemas.
"Kak Vin. Untung kamu segera datang kemari."
"Dimana mereka?"
"Mereka ada di lantai enam. Kak Vin, Leo Ederson bukan hanya manager umum Moon Farmasi, tapi dia juga adik dari Marvin Ederson. Haruskah kita menemukan lebih banyak orang untuk membantu? atau hubungi polisi?" ucap Anna dalam keadaan cemas.
"Tidak ada waktu, dia berani mengganggu Sifa, Aku akan menyelesaikannya. " Vin pun segera masuk tanpa menoleh lagi kebelakang.
Dua penjaga berusaha menghentikan Vindra dan Anna, namun dengan mudah Vin robohkan. Siapapun yang berani menghadang langkahnya Vin tak segan menghancurkannya.
Segera saja, Vin sampai di koridor yang ada di lantai enam. Tiga pria yang memakai baju penjaga, segera menghadang Vindra, namun Vin tetap berjalan maju tanpa takut, Saat mereka hendak menghadang, secepatnya Vin meninju perutnya dan membuatnya mereka Langsung roboh di lantai tanpa sempat melawan.
Setelah mengalahkan ketiga penjaga itu, Vin langsung menendang pintu hingga terbuka paksa.
Saat masuk pandangannya terlihat jelas. Vin melihat Sifa yang sedang duduk di sofa dengan pakaian acak-acakan, bernoda air mata, wajahnya memerah karena alkohol, bahkan terlihat jelas setengah betis mulus Sifa sudah terbuka. Di sisi lain Leo berdiri di samping sofa, sudah melepas celana dan kemejanya.
Melihat kedatangan Vindra dari arah pintu dengan aura membunuh, dia marah lalu berteriak. "Kamu ingin mati!"
Tanpa banyak bicara, Vin melangkah maju dan langsung menendang Leo Ederson. Leo terpental dan menabrak lemari anggur. Saat itu juga terdengar lusinan botol anggur jatuh ke tanah dan Leo pun memuntahkan darah.
Sifa membuka matanya sebentar dan melihat Vindra, lalu matanya kembali tertutup dan pingsan.
"Sialan! Siapa kamu?" tanya Leo, saat melihat Vindra yang sudah merusak rencananya. Saat ini Leo jatuh ketanah dan mengerang kesakitan. Dia pun berusaha bangkit berdiri dan ingin melawan Vindra, namun Vin tanpa banyak bicara omong kosong, dia melangkah maju mendekatinya dan segera menendang Leo tanpa ampun, hingga tubuhnya penuh luka. Vin menendang Leo seperti bola, bertubi-tubi penuh dengan amarah.
Leo masih berusaha bangun, dan Vin segera menendangnya lagi hingga Leo terpental ke arah pintu dan kepalanya membentur ke dinding. Darah seger pun segera mengalir di kepalanya.
Pada saat ini lusinan, anak buah Gianna muncul. Saat melihat Leo terluka, Gianna segera membantunya.
"Leo, Leo kamu kenapa?"
"Cepat panggil dokter!" perintah Gianna.
Gianna menatap Vindra dengan tajam." Kamu, siapa yang memberi keberanian untuk menyakiti orang di tempatku? Menyakiti dia, Mata mana yang kamu pakai?"
"Tuan Leo Ederson, sudah mengganggu dan memaksa sifa, apa kamu melihatnya?" jawab Vin dengan dingin.
Wajah Gianna langsung tenggelam," yang aku lihat kamu sudah melakukan kejahatan."
Leo Ederson berjuang untuk bangkit berdiri, mengambil pisau buah dan berteriak pada Vin. " Kamu sudah menggertakku, kamu selesai."
"Aku akan membunuhmu dan Sifa saat ini juga." Teriak Leo dengan amarah.
Vindra tersenyum tipis, mengabaikan tatapan semua orang. Berjalan mendekati Leo Ederson sambil menepuk dadanya.
"Ayo, tusuk disini. Aku janji tidak akan melawan," ucap Vin dengan menghina.
Melihat Vindra tidak takut mati, membuat Leo gemetar, kemarahannya tak terkendali dan kaku.
"Ayo tusuk, bukankah kamu ingin membunuhku! Aku ada di depanmu tapi kamu tetap tidak melakukannya. Apa kamu ingin aku membantumu?"
Melihat Vin meraih tangannya, membuat Leo tanpa sadar melangkah mundur dan wajahnya langsung pucat.
Dia sangat marah, sedih, dan ingin membunuh dengan pisaunya, namun dari awal hingga akhir dia tidak memiliki keberanian untuk melakukannya.
Kerumunan besar melihat, menikam orang itu adalah pelanggaran hukum, bahkan pasukan Ederson tidak bisa melindungi dirinya.
Gianna dan yang lainnya juga memiliki perasaan kompleks, tapi Meraka tidak mengira Vindra akan seberani ini.
"Tidak berani menyentuhku, jangan salahkan aku jika aku tidak memberi kesempatan padamu."
Vin tersenyum tipis dan tiba-tiba menggertak Leo dengan dekat. Mereka yang melihat, merasa Vindra sudah mengambil pisau buah dari tangan Leo Ederson saat ini.
Detik selanjutnya, Vin menusukkan pisau buah itu di perut bawah Leo Ederson. Leo merasakan hawa dingin langsung menyerang tubuhnya
Dia menundukkan kepalanya tidak percaya kalau pisau buah itu kini telah menusuk perutnya.
Darah, segera menetas, mengejutkan semua orang. Dan tak lama kemudian Leo Ederson ambruk.
Saat itu tidak ada yang bisa menghentikan Vindra lagi. Membiarkan Vindra membawa Sifa pergi dari club, di ikuti Anna dan juga Romi. Mereka segera membawa Sifa pergi ke rumah sakit.
Sedangkan Gianna hanya bisa menahan kemarahan, dan memilih untuk mengurus jasad Leo Ederson yang mati dengan sia-sia di tangan Vindra.
To be continued ☺️☺️