
"Aku tidak menginginkan batu giok itu. Aku hanya meminjamnya dua hari untuk melihatnya, tapi dia menolak." Gultom bicara dengan kesal. Karena Vindra tidak hanya tidak memberikan batu giok itu, tapi dia juga tidak membiarkannya melihatnya. Dalam pikiran bawah sadar Gultom, Batu giok itu adalah miliknya.
"Ayah ingin mengambil batu giok itu, walaupun kamu membayarnya aku yakin itu uang pemberian dari Sifa. Kalau tidak darimana kamu mendapatkan begitu banyak uang? Apa kamu benar-benar berpikir kami percaya bahwa Ambar Wijaya meminjamkan uang padamu." Mateo marah dan mencibir Vindra.
Sifa membuka mulutnya untuk menjelaskan, tapi dia menjadi diam ketika dia mendengar nama Ambar.
"Sifa menggunakan seratus juta untuk biaya pengobatan ibumu, membelikan mu rolex, dan memberimu uang dua puluh juta. Dia sangat baik padamu, apa balasan mu untuk dia dan ayahnya? Vindra apakah kamu miliki hati nurani? ucap Miranda dengan dingin.
"Batu giok itu adalah salah satu aset keluarga Gultom. Kamu tidak berhak mengambilnya. Kamu harus menyerahkan batu giok itu."
Sifa masih tidak bicara, wajahnya terlihat dingin, jelas kejadian ini membuatnya putus asa.
Fendi dan Medina minum teh dengan santai, sambil tersenyum menyeringai di wajah mereka.
"Ayah, ibu, Sifa, Mateo, dan Tania kalian semua salah paham.."
Vindra menghela nafas panjang, mencoba menenangkan dirinya."Aku berdebat dengan kalian di depan toko barang antik karena dua alasan. Pertama, aku memiliki efek besar pada batu giok itu. Aku akan memberitahumu nilainya dalam beberapa hari. Yang kedua karena aku ingin melindungi mu. Pada saat itu aku melihat ada yang sedang mengawasi kita. Jika aku memberikan batu giok itu pada ayah, mungkin ayah akan mengalami celaka. Itu sebabnya aku berdebat denganmu, sehingga kelompok gangster itu mengalihkan perhatiannya padaku." Jelas Vindra.
"Ha...ha... Cerita yang bagus." Gultom mencibir, "Jika aku tidak mengenalmu, mungkin aku akan tertipu olehmu. Mengorbankan diri untuk menyelamatkan orang lain. Vindra, kamu pikir kami ini anak kecil yang bisa kamu bohongi dengan ceritamu itu."
"Jangan membodohi kami Vin. Mana ada gangster di sore hari?" saut Miranda.
"Itu benar, Perampok disana sangat kejam, tidak mungkin kamu bisa kembali hidup-hidup." saut Mateo.
"Faktanya mereka memblokir ku. Mereka memiliki pisau dan senjata lain di tangan mereka. Apakah kalian tidak tahu berita penjagal yang membantai di malam hujan?" Vindra bicara dengan Sirius. "Tapi pada akhirnya, aku berhasil menggulingkan mereka dan segera menghubungi polisi. Jika kalian tidak percaya..."
"Cukup!"
Pada saat ini Sifa tidak tahan untuk tidak bicara. "Vindra cukup katakan saja jika kamu tidak mau, tidak perlu mengarang kebohongan untuk menutupinya. Semua orang tahu latar belakangmu. Jika kamu terus membual, yang ada itu akan mempermalukan kamu."
Vindra hanya bisa menghela nafas, dia tau sekuat apa memberitahu keluarga Gultom, mereka hanya akan tertawa.
"Sifa apa kamu tidak percaya padaku sama sekali?"
"Kamu menyelamatkan nyonya Santoso, dokter kamu jadi murid, dan melawan para penjagal. Bagaimana aku bisa percaya saat kamu bicara seperti ini."
Medina menyahut. " Para penjagal itu adalah membunuh kejam, kalian semuanya belum tentu bisa mengalahkan mereka."
"Aku tidak akan membicarakan masalah ini lagi, dan aku harap kamu memberikan batu giok itu pada ayah. Untuk saat ini aku tidak ada uang ratusan juta, tapi aku akan mencicilnya kalau kamu memberikan giok itu pada ayah. " Sifa menghentikan Vindra untuk tidak melanjutkan perdebatannya.
"Sifa, uang ratusan juta bahkan milyaran aku tidak menginginkannya. Aku tidak bisa memberikan batu giok ini kepada ayah. Karena batu giok ini sangat berguna untukku. Aku akan menggunakan ini sebagai jimat untuk membunuh musuh dan menghancurkan roh jahat."
"Sangat berguna? lebih berguna mana dari uang?" Saut Miranda sambil memukul meja.
Vindra melirik Gultom. "Ayah aku tidak bisa memberikan batu giok ini padamu, tapi aku bisa memberimu harta lain." Setelah bicara, Vindra mengeluarkan stupa kecil yang dia ambil dari penjagal itu. Karena Vin buru-buru dia tidak sempat membersihkan dan masih terlihat sangat kotor. Dengan lembut Vin meletakkan stupa itu di atas meja, menunjukkan kepada semua orang.
"Barang sampah." Gultom menyapu stupa itu dengan tangan hingga jatuh ke lantai. Gultom menganggap itu hanyalah barang sampah yang membuatnya semakin marah.
"Kamu berani mengambil sepotong sampah untuk membodohi ku, dan kamu berani mengatakan jika itu lebih berharga dari batu giok berdarah. Kamu memang tidak menempatkan aku di matamu. Sifa, orang seperti ini tidak layak untuk di pertahankan, dia harus diceraikan. Biarkan dia keluar dari keluarga Gultom. Aku tidak ingin melihatnya lagi. Aku sudah tidak ingin giok itu lagi, biarkan dia membawanya pergi." Gultom meluapkan kekecewaannya kepada Vindra.
"Vindra apa pendapatmu tentang kemarahan ayah? Apakah giok itu lebih penting dari ayah, dan juga lebih penting daripada aku?
"Kamu penting, ayah penting, dan giok ini juga penting." Vindra ingin menjelaskan lagi tentang nilai pagoda itu, tapi melihat kebencian keluarga Gultom, emosinya juga mulai datang. "Apakah kamu menyukai atau tidak, percaya atau tidak. Aku tidak akan memberikan giok ini."
"Pergi!" teriak Miranda.
Tania berkata, "Cepat pergi ke kelas atasmu. Jangan khawatir, kami tidak akan menegur mu saat kami melihatmu dimasa depan, dan kami tidak akan menghalangi jalanmu."
Vindra mengabaikan mereka dan dia menatap Sifa lalu berkata," Apa kamu ingin aku keluar?"
"Aku bilang berikan giok itu pada ayah, dan aku akan memberikan uang."
"Ini bukan masalah uang. Baiklah aku akan pergi." Vindra meraung, frustasi, dan berbalik menuju tangga untuk berkemas dan pergi.
"Kamu harus minta maaf, dan mengatakan sesuatu kepada paman, bibi, dan Sifa sebelum kamu pergi." Fendi yang sudah melihat tontonan, bergegas berdiri dan berteriak. "Keluarga Gultom bukan tempat untuk bermain liar."
Vindra yang sudah emosi segera mendorong Fendi menjauh. "Keluar!"
"Kamu sampah. Berani mendorongku." Fendi pura-pura marah besar dan maju untuk memberi pelajaran pada Vindra.
Vin langsung menendang perut Fendi, dan dia langsung meringkuk di lantai menahan sakit.
To be continued 🙂🙂🙂