Menantu Hina Menjadi Penguasa

Menantu Hina Menjadi Penguasa
Bab 84. Seperti domba kecil


Vin melihat keberadaan mereka, namun dia tak perduli dan mengabaikan mereka. Vin pun memesan makanan enak dan ngobrol bersama Romi.


Baru di tengah obrolan, pintu ditendang oleh sekelompok pria dan wanita arogan. Mereka lalu berjalan masuk.


Melihat kedatangan mereka, Romi berbisik pada Vin, "Tuan Vin, Dia adalah Wiliam. Bos besar dari bank BBI dan ketua dari farmasi Moon."


Vin melirik, dan tak menyangka dia akan bertemu dengan seseorang yang membuat saudara angkatnya yaitu Dewi menjadi pusing.


Beberapa pelayan menyapa, dan ingin melayani namun diabaikan. Wiliam terus berjalan dan berhenti saat melihat Martin.


" Bukankah ini anak kecil yang pura-pura kuat? Aku dengar kamu sakit, tapi kenapa sampai saat ini kamu masih hidup?"


" Ketika kamu melihatku, kenapa kamu tidak menyapaku?" Imbuh Wiliam lalu menarik kerah baju Martin. " Apa kamu benar-benar tidak ingin melihatku?' ucap Wiliam lagi sambil menggerakkan gigi.


"Ti-dak, tidak." Martin menggeleng.


Vin terkejut melihat sikap Martin yang berubah seperti domba kecil yang patuh." aku tidak melihatmu, maaf."


" Apa kamu bilang? Tidak melihat, apa kamu buta?Dan tidak bisakah kamu tersenyum, tidak cemberut?"


Martin, di masa lalu dia kaya dan berkuasa tapi sekarang dia patuh di depan William.


William menepuk pipi Martin, " Apa kamu ingin melihatku?"


" Tidak tuan, aku menyambut kedatanganmu." Martin benar-benar malu harus tunduk di depan William.


"Ini momen bahagia." ucap Martin seketika.


"Momen bahagia ya?" Wiliam pun tertawa terbahak-bahak, mendengar kata-kata itu dan melihat kepatuhan Martin, mampu memuaskan kesombongannya.


"Mereka temanmu?" tanya Wiliam saat melihat Regina dan Riana Wiston.


Martin dengan bergetar menunjuk Regina, "dia pacarku, Regina dan dia Riana, teman kelasku."


"Hallo tuan Wiliam." Sapa Kedua wanita itu.


Wiliam meletakkan satu tangan di bahu Regina. "Nona Regina, aku membawa Lafite 1982, ikut dengan ku dan kita akan menikmatinya di ruang VVIP. Sebelum kamu jawab, aku tekankan terlebih dahulu. Kalau aku tidak suka dengan penolakan apa lagi membuatku malu.


Awalnya Regina Ingin menolak, namun saat ada penekanan dalam ucapannya, membuat Regina mengurungkan niatnya untuk menolak.


"Tuan Wiliam, dia pacarku." saut Martin yang secara tidak langsung, tidak mengizinkan kekasihnya dia ajak pergi Wiliam.


Wiliam menampar Martin, hingga membuat Martin mundur dan sudut bibirnya mengeluarkan darah, karena tamparan yang cukup keras.


"Tuan William, dia pacarku." Martin masih berusaha menahannya.


"Dia pacarmu? tapi aku tertarik dengannya. Aku tidak akan melewatkannya." Wiliam kembali mendorong Martin dan segera meraih tangannya Regina.


"Nona Regina, aku sungguh-sungguh ingin mengundangmu."


Regina tidak menolak, justru dia tersenyum menerima ajakan Wiliam.


"Regina, ini sudah larut. Aku akan mengantarmu pulang..." Teriak Martin dengan cemas.


" Ini masih pukul tujuh, belum larut malam. Aku akan minum bersama tuan Wiliam. Nanti aku akan kembali." Jawab Regina.


Wajah Martin seketika berubah, "Regina kamu tidak bisa pergi." teriak Martin.


"Aku hanya menemani tuan William minum-minum. Pulanglah dan istirahat, sampai bertemu besok."


"Kamu!"


"Ini hanya minum-minum, dan itu adalah hal biasa bukan. Lagian, bukankah kamu dan tuan William adalah teman, tidak bisakah kamu percaya padanya. Jangan kuatir, aku akan menjaga Regina dengan aman, bisakah kamu percaya padaku?" saut Riana Wiston. Membuat Martin semakin marah.


"Kamu gadis yang pintar, aku suka gadis pintar. Cantik kamu juga bisa ikut bersama." Saut William sambil tertawa.


"Terimakasih tuan Wiliam, suatu kehormatan bisa minum bersama tuan." Jawab Riana dengan wajah berbinar.


"Aku besok akan kembali bekerja ke farmasi Moon, dan akan menjadikan kalian sekertaris pribadiku dan akan aku gaji sangat tinggi. Apa kalian mau?" Bujuk Wiliam.


"Dengan senang hati kami akan menuruti kata-kata tuan Wiliam."


Wiliam membawa Regina dan Riana ke dalam pelukannya dan mendaratkan ciuman bertubi-tubi pada kedua wanita tersebut.


"Aku akan mengantarkan gadis kecilmu nanti, setelah aku bersenang-senang. " Wiliam menatap Martin dengan dingin.


Martin yang sudah di kuasa oleh amarah, segera menarik bangkunya dan melakukan penyerangan kepada


Wiliam.


Wiliam dengan sigap menendang Martin sebelum Martin sempat melemparkan bangkunya.


Regina dan Riana terkejut, tak hanya itu juga, Vin yang sesekali memperhatikan, merasa terkejut dengan sosok Wiliam yang ternyata juga sangat kuat.


Tanpa menunggu perintah dari Wiliam, Mereka bergegas maju dan menyerang Martin. Tinjuan, tendangan seketika mendarat di tubuh Martin, hingga membuatnya mengerang kesakitan.


Martin berteriak, menjerit dan memuntahkan darah.


"Terlalu ceroboh," ucap Wiliam sambil menepuk-nepuk bajunya.


"Regina, kamu bajingan..." teriak Martin penuh amarah. Martin ingin bangun, namun segera di tendang hingga membantahkan tangannya. Tak hanya itu saja, Wiliam mendekati dan langsung menendang Martin lagi dengan sekuat tenaga hingg membuatnya terguling beberapa kali, hingga akhirnya berhenti dikaki Vindra.


Vin hanya melirik dengan dingin tanpa ada rasa simpati. Dan menganggap apa yang terjadi pada Martin adalah suatu pembalasan yang pernah dilakukan pada dirinya dulu. Vin melanjutkan memotong steak dan memakannya dengan nikmat.


"Vindra...." Regina dan Riana, akhirnya menyadari keberadaan Vin yang sedang menikmati makanan, tanpa perduli.


Martin terkejut, dan dia merasa sangat malu. Sangat tidak di harapkan Vin muncul dan melihat apa yang sudah terjadi padanya.


Namun pada akhirnya, Siapa yang merebut dia juga akan di rebut.


To be continued ☺️☺️☺️