Menantu Hina Menjadi Penguasa

Menantu Hina Menjadi Penguasa
Bab 108. Tidak ingin serakah


"Jangan bergerak!"


Vin memegang tangan Ambar, saat melihat pergelangan kaki kiri Ambar merah dan bengkak.


"Kemu memutar pergelangan kakimu?"


"Dalam kecelakaan mobil, aku tidak sengaja terpelintir saat melompat dari RV. Tidak apa-apa, hanya sedikit rasa sakit dan masih bisa di bawa beraktivitas." Ambar tidak menyembunyikan apapun yang terjadi padanya.


"Bengkak begini, kamu bilang tidak apa-apa?" Vindra memelototinya.


"Sekarang mungkin kamu tidak merasakan sakit, karena kamu masih dalam pengaruh alkohol, tapi setelah itu kamu akan menangis sepanjang malam."


Dia berjongkok di samping mobil dan menarik kaki wanita itu keluar dari mobil. Melepas sepatunya dan meletakkan kakinya di lutut.


"Kamu memutar tendonmu, tapi tidak masalah, hanya dengan beberapa pijatan kamu akan baik-baik saja."


Vin tidak menyadari, melakukan hal seperti ini pada wanita lain, karena sebelumnya dia tidak pernah melakukannya, hingga membuat wanita yang kini duduk di kursi kemudi dengan kaki terjulur keluar, tengah memandanginya dengan rona merah diwajahnya. Selain itu karena kondisi Vindra yang sedikit mabuk karena alkohol, tidak terlalu memperdulikan seberapa cantik wanita yang ada di depannya itu, dia tidak memiliki pikiran lain.


"Vindra, apa yang akan kamu lakukan dimasa depan? Apa kamu akan menjadi dokter sepanjang waktu?" tanya Ambar untuk menutupi rasa malunya.


"Tentu saja untuk menjadi seorang dokter, menghasilkan uang, membeli beberapa rumah, merawat ibu, dan menemukan ayah angkat. Setelah semuanya stabil, mungkin aku akan menikahi seorang wanita dan memiliki seorang anak." Vin sudah tidak memiliki harapan lagi untuk keluarganya, bagaimanapun dia dimasa depan, dia akan tetap rendah di mata keluarga Gultom.


"Kamu memiliki banyak kontak dan juga kekayaan, sehingga bisa membuatmu melakukan banyak hal." Ambar tersenyum, lalu membelai rambut Vin dengan lembut, "Apa kamu tidak ingin berdiri lebih tinggi?"


"Semakin tinggi kamu berdiri, akan semakin banyak yang kamu tanggung. Kekayaan tidak akan menjamin bisa hidup bahagia, yang ada hanyalah keserakahan. Lebih baik menikmati hal-hal kecil, namun bisa dinikmati sepanjang waktu."


Sambil bicara, Vin mengeluarkan jarum perak dan menusuk pergelangan tangan Ambar, untuk mengeluarkan darah yang ada dan memaksanya keluar.


"Seharusnya, di usiamu kamu panik, tapi kenapa kamu begitu mudah puas sekarang."


"Karena aku tau, di usiaku yang masih muda, keserakahan tidak akan ada habisnya. Begitu niat awal tidak mampu menekan pikiran batin, yang ada mungkin akan menghancurkan diri sendiri."


"Jadi aku memutuskan untuk tidak serakah, tidak serakah, dan tidak serakah, jika tidak itu akan menghancurkanku." Imbuh Vin.


Ambar menyentuh papa Vindra dengan lembut. "Aku mengerti idemu membuka klinik medis."


Vin sedikit mendongak secara naluriah, dan tidak menyadari jika sedaritadi Ambar mengenakan rok. Pemandangan langsung menyambut matanya, dan itu adalah ****** ********.


Vin mau tidak mau tercengang, dan menggantikan pergerakan tangannya. Ambar tidak menyadari kalau Vin sudah melihatnya.


"Jika kamu pergi dari Sifa, bisakah aku ikut berbaris untuk mengejar mu?" Ambar melirik Vin sambil tersenyum kecil untuk menunggu jawaban. Namun saat melihat mata Vin yang menatap lurus, membuat Ambar terkejut. Tapi alih-alih menutup kakinya dengan tergesa-gesa dia malah membentaknya.


"Bajingan kecil." Ambar memukul kepala Vin pelan.


"Dasar mesum."


"Oke, kakiku sudah baik-baik saja, aku akan mengantarmumu pulang," ucap Ambar dan Vin mengangguk.


"Baiklah, mengemudilah perlahan."


Mulutnya menjawab, tapi pikirannya masih tentang apa yang dilihatnya secara tidak sengaja itu.


Ketika Ferarri pergi, Sebuah mobil Cayenne yang terparkir, mencondongkan kamera dan mengambil beberapa gambar Vindra dan Ambar.


" Ya tidak ada masalah dengan keluargaku." Timpal bibi David.


Vin ingat dengan muntahan paman David, lalu bertanya," Apakah paman David ada minum obat akhir-akhir ini?


"Pil." Bibi David baru ingat, " Iya, aku baru ingat kalau dia minum pil rempah ajaib.


" Mustahil."


Paman David terkejut." Bagaimana mungkin, pil penambah darah yang di bawa langsung oleh putraku langsung dari pabriknya itu beracun?"


" Bisakah kamu menunjukkannya padaku?"


"Tunggu sebentar. "


Bibi David segera pulang untuk mengambilnya dan segera kembali dengan nafas tersengal dan memberikan pil itu pada Vin.


Vin mengambilnya dan melihat kotak yang belum diberi lebel itu dan hanya bertuliskan pil tujuh rempah ajaib yang diproduksi klinik premiere.


Dia membuka kotaknya dan didalamnya ada enam kompartemen. Tiga pil hitam masih ada dan tiga kompartemen kosong, itu artinya diminum paman David.


"Darimana kalian mendapatkan pil ini?"


"Anakku bekerja di sebuah farmasi kecil, yang mengkhususkan untuk produksi pil tradisional. Pil ini dikatakan adalah produk baru yang akan di edarkan bulan depan. Dia tau darahku tidak baik, jadi dia memutuskan membawa satu kotak untukku. Aku mencobanya dan memakannya setiap pagi."


"Apakah pil ini menyebabkan keracunan?" tanya bi David.


"Aku tidak bisa menyimpulkan. Jika kalian berkenan, biarkan obat ini disini untuk di periksa untuk memastikan penyebabnya. Aku akan membayar berapa obat ini paman beli."


Vin menatap kotak tersebut dan mengingat klinik premiere adalah milik Miranda Bakti, ibu mertuanya itu.


To be continued 🙂🙂🙂