
Lusiana sangat marah. Saat dirinya direndahkan oleh temannya sendiri. Siapapun pasti akan sangat kecewa disaat pelanggan ingin membeli suatu barang, namun malah direndahkan.
"Kenapa sikapmu begitu tidak sopan? Kalau begini aku akan mengeluh pada perusahaan mu, karena kamu sudah merendahkan pelanggan dan kamu juga berucap kasar." teriak Lusiana dengan kesal.
"Pelanggan? Apa kamu pikir kamu adalah pelanggan kami?" Riana menyeringai. "Memangnya kamu punya uang untuk membeli pakaian disini? Pakaian di sini rata-rata harganya di atas sepuluh juta. Apakah kamu bisa membelinya? Aku rasa tidak! Lalu bagaimana kamu mengatakan kalau kamu adalah pelanggan disini." Saut Riana dan lagi-lagi merendahkan.
Keduanya pun saling menyindir dan membuat Vin muak. Akan tetapi Vin sangat malas berdebat dan berbicara omong kosong dengan Riana. Karena sama sekali tidak berguna.
Vin menarik tangan Lusiana dan berbicara dengan tenang.
"Jangan hiraukan dia. Lebih baik kamu ambil pakaian ini, agar kita bisa segera tinggalkan tempat yang sangat panas ini," ucap Vin dengan tenang.
Riana melihat setelan yang di pegang Lusiana, lalu kembali menyeringai.
"Lebih baik kamu periksa dulu lebel harganya, dan pastikan sesuai dengan kantong. Agar kamu tidak merasa malu. Asal kamu tau, itu salah satu setelah jas yang sangat mewah dan tentunya harganya tidak murah."
Lusiana segera melihat lebel harga yang tersemat di setelan tersebut. Dia pun terkejut melihat angka yang tertera.
Vin sangat malas melihat Riana, ia lebih fokus pada Lusiana.
"Apakah kamu menyukai setelan ini?" tanya Vin, namun Lusiana menggelengkan kepalanya karena tau harganya yang mahal.
"Kalian tidak punya uang kan? lebih baik segera pergi dari sini dan jangan mengganggu waktu kami dengan kalian." Riana pun ingin mengusir Mereka dari toko. Begitu juga dengan para pramuniaga yang lain juga ingin mereka segera pergi.
"Riana kami ini pelanggan! Tidak seharusnya kamu bersikap seperti ini. Kami tidak punya masalah apapun denganmu, tapi kamu memperlakukan kami begini. Aku harap kamu tidak akan menyesal nantinya." Lusiana benar-benar tidak tahan dengan sikap sombong Riana.
"Lusiana, kenapa kamu begitu naif. Kamu harus sadar diri. Kamu tidak memiliki pekerjaan dan kamu sakit parah. Darimana kamu bisa menghasilkan uang untuk membeli setelan ini. Asal kamu tau, aku adalah manager disini. Aku berhak menentukan siapa yang layak untuk datang kemari karena aku tidak ingin barang yang ada di toko ini menjadi kotor karena tangan-tangan orang miskin seperti kalian. Lebih baik sekarang keluar dari tempat ini dan carilah pakaian murah yang ada di toko lain dan jangan kembali." usir Riana sambil menunjuk ke arah pintu.
"Lusiana, taruh kembali setelan itu, kita pergi saja dari sini dan cari toko lain yang lebih menghormati pelanggan." Ajak Vin dan Lusiana pun menurut. Ia meletakkan kembali setelan tersebut dan segera mengikuti Vin pindah ke toko seberangnya yang jauh lebih besar dari toko tempat Riana bekerja.
Kejadian yang barusan terjadi membuat para pengunjung dan beberapa pramuniaga toko yang lain mengetahui apa yang terjadi.
"Selamat datang. Ada yang bisa kami bantu?" Sapa pramuniaganya.
" Tolong pilihkan setelan yang sesuai dengan ukurannya. Aku ingin setiap model yang cocok bungkuskan setiap set dan jangan lupa sekalian pakaian dalam untuknya. Aku ingin semuanya lengkap," ucap Vin, lalu ia menyerahkan kartu belanja pada Mereka. Awalnya mereka ragu tapi pada akhirnya tetap menerima dan melayani Vin dan Lusiana dengan baik.
Akhirnya mereka pun membawa keluar kurang lebih sepuluh paper bag dengan total belanja di atas tujuh puluh juta.
Pada akhirnya, hinaan berubah menjadi kekaguman dan rasa iri pada Lusiana yang bisa menghabiskan banyak uang untuk berbelanja banyak pakaian mahal dan membuat toko yang mereka kunjungi mendapatkan keuntungan lebih.
Melihat Vin yang mampu membelikan Lusiana pakaian mahal membuatnya terkejut dan tak percaya. Laki-laki yang dulu miskin bahkan mengemis untuk mendapatkan pinjaman, sekarang malah mengeluarkan uang lebih hanya untuk berbelanja.
"Bagaimana ini? Kenapa dia sekarang menjadi begitu kaya?" ucap Riana seakan menyesal telah mengusir pelanggan yang sehat bisa memberi keuntungan besar padanya.
Riana yang awalnya menghujat mereka dan di percayai para bawahannya, kini berbalik dirinya yang di hujat dan pekerjaannya menjadi di ragukan.
Pramuniaga hanya bisa menggerutu dengan sikap yang di tunjukkan Riana dan membenci sikapnya, bahkan kinerjanya seolah dipertanyakan.
Sayangnya tidak ada obat penyesalan yang bisa mengembalikan situasi sebelumnya. Riana hanya bisa pasrah mendapatkan ejekan balik dari yang lain.
"Terimakasih kak Vin, atas semua belanjaan ini. Aku benar-benar tidak bisa berkata apa-apa selain terimakasih," ucap Lusiana dan diperhatikan langsung oleh Riana.
"Tidak perlu terimakasih. Awalnya aku ingin membelikan beberapa baju di toko yang tadi, tapi sayangnya mereka tidak membutuhkan pelanggan dan juga tidak butuh uang, sampai mengusir pelanggan keluar dari tokonya. " Sindir Vin dan sangat jelas di dengar oleh Riana.
Saat hendak pergi, ponsel Vin berdering dan itu dari klinik.
"Pak. bisakah anda segera kembali ke klinik? Ada beberapa orang datang dan ingin menutup klinik CRISHAN hari ini, " ucap salah satu staf yang bekerja di klinik.
"Baiklah aku akan segera kembali." Vin pun segera membawa Lusiana pergi dan menghubungi Romi untuk menyiapkan mobil dan segera kembali ke klinik.
To be continued ☺️☺️☺️