
Setelah menyisihkan ke tiga penjaga berbadan kekar dengan tangan kosong. Vin melangkah masuk melewati mereka dan berjalan untuk menghampiri Sifa yang sudah dalam kondisi tertekan. Vin masih saja mendengar Fendi terus meminta Sifa untuk menerima lamarannya.
Vindra tak habis pikir, apa yang ada di dalam benak Fendi. Sifa sudah berulangkali menolak tapi kenapa Fendi masih tidak punya malu dan terus memaksa Sifa untuk menikah dengannya. Apakah tidak ada wanita lain selain Sifa.
Melihat ekspresi dan penolakan Sifa, semua pengunjung pun berbalik menyerang Sifa dan mengatakan kalau Sifa wanita yang tidak tau diri dan mengatakan kalau Sifa tidak pantas mendapatkan laki-laki idaman seperti Fendi Karena sikapnya yang tidak punya perasaan, padahal Fendi sudah mengatakan kalau ia tidak mempermasalahkan status Sifa.
Sifa menjadi tersudut dan merasa menjadi orang yang patut disalahkan. Karena hal tersebut membuat Sifa berfikir kalau Fendi sengaja melakukan itu untuk mempermalukan dirinya dan mempermainkan perasaannya dan sengaja membayar mereka untuk terus menekan dirinya agar mau menerimanya. Namun perasaan Sifa tidak bisa di goyah hanya karena ocehan mereka, Sifa sudah tidak punya rasa pada Fendi itu artinya tidak perlu menerimanya.
Tanpa Sifa sadari Vin sudah berada di sampingnya. "Apa kamu butuh bantuan?" tanya Vin yang mengejutkan Sifa.
"Kenapa kamu baru datang? lihat apa yang dilakukan kak Fendi padaku. Dia ingin melamar ku dan sekarang aku di salahkan karena menolak lamarannya. Aku ingin kamu membantuku menyelesaikan ini. Aku tidak mau menjadi bahan tertawaan karena aku mempertahankan kamu." Bisik Sifa dengan kesal.
" Tentang saja aku akan menyelesaikannya," jawab Vin dengan santai.
Mengetahui Vin adalah pria yang di maksud Sifa sebagai suaminya langsung di lempar sindiran oleh para pengunjung.
"Hai Nona, kamu menolak pria yang melamar mu itu hanya untuk mempertahankan pria sampah ini. Sungguh menjijikkan. Apa matamu sudah buta? lihatlah tuan Fendi begitu tampan kaya dan romantis berbanding terbalik dengan lelaki kere ini." Ucap salah satu pengunjung yang sepertinya mulutnya sudah di suap oleh Fendi.
"Sifa kenapa kamu mempertahankan laki-laki ini. seharusnya sebuah kebahagiaan buat kamu, karena aku datang untuk menikahi mu dan akan memberikan apa yang tidak pernah di berikan laki-laki itu padamu. Tapi kenapa kamu malah membuatku kecewa seperti ini Sifa, semua di luar harapan ku,"ucap Fendi yang masih tak mau menyerah untuk mendapatkan Sifa.
Fendi mengeluarkan debit card dari dalam dompetnya dan melemparkan kartu tersebut ke arah Vin hingga ja
"Ambilah kartu itu di dalamnya dan lima ratus juta, ambilah tapi tinggalkan Sifa sekarang juga dan pergi dari sini," ucap Fendi dengan sombongnya.
Vin menatapnya datar lalu ia mengeluarkan kartu miliknya juga dan berbalik melemparkannya kepada Fendi.
Semua orang tercengang saat mendengar kalau Vin memiliki uang satu milyar lebih, karena dilihat dari penampilannya Vin tidak terlihat seperti orang kaya.
Melihat Vin memamerkan uangnya, Medina ingin mengungkit masalah cek tempo hari di bank yang pada akhirnya malah dirinya yang di pecat, namun belum sempat Medina buka mulut, Fendi lebih dulu bicara.
"Kamu tidak bisa menentang ku begitu saja sampah! Kamu dan aku memiliki kasta yang berbeda jadi kamu tidak punya hak untuk menentang ku. Apa kamu tau, aku memiliki kekayaan yang melimpah, pendidikan yang tinggi dan juga didukung juga dengan ketampanan. Sedangkan kamu hanya pria miskin yang menjadi benalu dalam keluarga Sifa Dasar tidak tau malu." Sindir Fendi yang tidak ingin kalah dari Vindra.
" Aku tidak perduli dengan apa yang kamu miliki, tapi pada kenyataannya kamu tetap kalah. Akulah suami Sifa sekarang dan dia juga memilih dan mempertahankan aku ketimbang menerima lamaranmu." Sindir telak Vin membuat Fendi semakin marah.
"Aku tidak butuh semua yang kamu milik, aku sudah memilih Vindra sebagai pasanganku. Aku mohon berhentilah mengejar ku. Aku benar-benar tidak bisa menerimamu." Saut Sifa mempertegas kembali.
" Benarkah?" Fendi pun langsung mengeluarkan sebuah cincin berlian sepuluh karat dan kembali menyatakan cintanya.
"Bagaimana kalau dengan yang ini. Aku yakin kamu tidak akan menolaknya. Ini aku beli dengan harga yang cukup mahal, semua wanita yang melihat ini pasti sangat iri, apakah dengan ini kamu juga masih tetap menolak ku?"
Vin menyeringai saat melihat cincin berlian itu. Vin mendekati Fendi dan menyentuh berlian itu.
" Ini bukan berlian asli, melainkan hanya sebuah maniak kaca. Itu artinya ini hanya barang palsu dan kamu membanggakannya." Ucap Vin .
" Omong kosong, jangan berusaha menipuku. Aku membeli ini dengan harga ratusan juta, mana mungkin berlian ini palsu. Kamu pikir aku kan termakan ucapan bohong itu. Dasar pria sampah, sekali sampah tetap sampah tidak akan pernah menjadi barang berharga." Hina Fendi namun Vin tak ambil pusing. Ia pun membuktikannya dengan menyentuh cincin berlian itu lalu menghancurkan menjadi serbuk.
Fendi dan semua orang terkejut dengan apa yang dilakukan Vin. Mereka tak percaya cincin berlian yang indah itu kini menjadi serbuk.
To be continued 😊😊😊